He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
(season 2) Bagian 11


__ADS_3

Abrisam melangkah keluar dari kelasnya saat jam pelajaran telah usai. Sambil berjalan ia melihat banyak panggilan masuk dari Adira.


Baru saja ia ingin menelepon balik Adira tiba-tiba Sam melihat Tania berlari-lari melewatinya. Tidak seperti biasanya.


Cowok itu mengurungkan niatnya untuk menghubungi Dira lagi. Ia menoleh ke belakang dan mendapati Jodi berjalan di belakangnya.


“Tania kenapa?” tanya Sam.


Jodi mengedikkan kedua bahunya. Sam mendengus, ia menyimpan kembali ponselnya, lalu berlari untuk menyusul Tania.


“Sam mau ke mana? Kita masih ada kelas!” teriak Jodi.


“Nyusul Tania!” balas Sam yang juga berteriak.


Abrisam mengambil motor dan mengendarainya menyusul Tania yang berlari-lari menuju gerbang kampus.


Ketika tiba di samping cewek itu ia memelankan laju kendaraannya. Sam tambah khawatir saat melihat gadis itu menangis.


“Lo kenapa, Tan?” tanya Sam dengan mata melihat jalan dan gadis itu bergantian.


“Ibu masuk rumah sakit.” Tania mengusap matanya yang menangis, “gue harus ke tempat ibu sekarang.”


Abrisam lekas meletakkan motornya melintang di depan Tania. Gadis itu terpaksa menghentikan langkahnya.


“Sam, apa-apan ini? Gue buru-buru,” ucap Tania sedikit kesal dengan kelakuan pemuda itu.


“Lo buru-buru ‘kan? Ayo, naik!” Sam menunjuk jok belakangnya yang kosong.


Tania bergeming. Ia memperhatikan Sam dan motor di depannya itu.


“Kebanyakan mikir lo.” Sam menarik satu lengan Tania. Gadis ini tidak sengaja menabrak lengannya.


Tania tersadar dari lamunannya. Ia menatap wajah Sam, kemudian mengalihkan pandangan ke jok motor. Ia menarik tangannya yang digemggam Sam dan lekas dududuk di boncengan.


“Ayo cepat jalan!” Tania menepuk pelan pundak Abrisam.


Sam segera melajukan motornya keluar dari kampus. Sekitar 15 menit mereka sampai di rumah sakit yang Tania beri tahu saat di jalan tadi. Abrisam dan Tania terburu-buru mencari ruangan Kasih. Ternyata wanita tua itu masih ada di ruang UGD.


“Ibu...” Tania menjatuhkan tubuhnya, memeluk sang ibu, “Tania khawatir sama Ibu. Ibu kenapa bisa sampai pingsan?”


Kasih menatap sayu pada Tania yang sudah berdiri tegak kembali di sampingnya. Sam diam memperhatikan di belakang Tania.

__ADS_1


“Maafkan Ibu sudah membuatmu khawatir. Kamu dari kampus jadi kemari. Ibu tadi pusing dan batuk Ibu makin parah huk... huk...” Kasih bicara dengan terbatuk-batuk.


“Nggak apa-apa, Bu. Ibu nggak perlu minta maaf. Ini udah tugasnya Tania.”


Abrisam masih berdiri diam di samping brankar dengan terus memperhatikan ibu dan anak itu berbincang. Ternyata Kasih menyadari keberadaan Sam.


Ia bertanya, “itu siapa?”


Tania menoleh ke belakang, lalu menatap ibunya lagi.


“Ini Abrisam, Bu. Dia teman sekelas Tania. Dia juga yang beri tumpangan biar Tania cepat sampai sini,” jelas gadis ini pelan-pelan.


“Oh, Abrisam yang sering kamu ceritain itu?” Tania mengedip-ngedipkan matanya memberi kode agar ibunya tidak membongkar apa yang ia ceritakan, “nak, Sam. Terima kasih banyak.sudah sering membantu Tania. Kata anak saya ini kamu sering bantu dia.”


Sam tersenyum dan mengangguk, “sama-sama, Bu. Sesama teman ‘kan harus saling membantu.”


•••


Sam dan Tania berjalan di koridor rumah sakit. Mereka akan mendatangi tempat pembayaran rumah sakit. Kasih harus dirawat untuk beberapa hari di sana maka Tania harus mengurus administrasi.


Kedua orang itu berhenti di depan meja administrasi. Tania berbicara dengan suster yang menjaga. Sedangkan Sam mengeluarkan handphone yang ia simpan di dalam ransel.


Cowok ini membaca pesan dari Dira yang memberitahunya kalau gadis itu dan Gabriel mendaftar menjadi satu regu di lomba memasak minggu depan.


“Kenapa nggak tunggu jawaban Aku dulu sebelum daftar?” tanya Sam yang langsung melemparkan pertanyaan.


“Kamu, Aku telepon nggak diangkat. Aku takut kuota pesertanya penuh. Jadi, Aku dan Gabriel memilih untuk mendaftar. Aku sama Gabriel nggak ada apa-apa sayang. Jangan cemburuan gitu!”


“Oke, karena sudah terlanjur daftar juga, Aku izinin. Aku dukung Kamu. Kamu harus berjuang dan menang,” ucap Sam yang tampak pasrah sekerang.


“Demi kamu aku akan berusah keras biar menang. Makasih sayang udah izinin Aku sama Gabriel satu kelompok.”


Sam berusaha tersenyum, “sama-sama sayang. Ingat, jangan terlalu nempel sama Gabriel!”


Di seberang sana Adira tertawa, “iya sayang, aku bakal jaga jarak.”


“Satu meter,” celetuk Sam.


Adira tertawa lagi, dengan nada gemas ia menjawab, “iya sayang.”


“Sam ayo!”

__ADS_1


Abrisam menoleh saat Tania sudah ada di sebelahnya lagi. Gadis itu memegang amplop putih dan menunduk murung.


“Sam kok kayak ada suara cewek?” pertanyaan Adira membuat cowok ini fokus pada teleponnya.


“Oh, ini Tania, teman Aku itu. Waktu itu ‘kan udah aku ceritain ke Kamu. Udah dulu ya. Kita lanjut kalau Aku udah di rumah.”


Telepon mati begitu saja. Sedangkan Adira masih ingin bertanya.


“Sam? halo Sam? Sam?” Dira menghela napas dan berjalan ke arah dapur apartemennya.


Abrisam menatap ke Tania. Gadis yang lebih pendek darinya itu menunduk menatap amplop putih di tangannya.


“Udah di bayar?” Tania mendongak mendengar dan pertanyaan Sam.


Tania menggeleng pelan dengan raut wajah sedih, “uangnya kurang. Gue ada uang 2 juta. Sedangkan gue harus bayar 4 juta. Kayaknya ibu, gue bawa pulang aja deh.”


“Jangan! Kata dokter tadi ibu lo harus dirawat.” Sam mengulurkan tangannya dan membuat Tania mengerutkan dahi, “sini amplopnya.”


Tanpa curiga Tania memberikannya ke atas tangan Sam. Cowok itu memutar arah dan kembali ke meja administrasi.


“Sam, lo mau ngapain?” teriak Tania saat lelaki itu menjauhinya.


Gadis dengan rambut dikuncir kuda itu berlari menyusul Abrisam.


“Sus, Saya akan melunasi semua pembayar Ibu Kasih.” Sam memberikan amplopnya lagi.


Suster itu mengambil amplopnya, “tunggu sembentar, Mas!”


Sam mengangguk. Tania berdiri di sebelah cowok ini dan mendongak menatapnya.


“Lo nggak perlu bayarin ibu gue. Nanti biar gue yang cari tambahan biayanya.”


“Sutttth!” Sam meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Tania. Apa yang ia lakukan berhasil membuat gadis itu bergeming, “lo nggak usah banyak protes. Lagi pula lo mau bayar pakai apa? Lo ‘kan nggak kerja.”


Abrisam menarik jarinya lagi saat suster bicara padanya.


“Totalnya 4 juta, Mas.” Sam mengeluarkan dompetnya dari saku dan memberikan kartu ATM.


“Nanti kalau punya uang. Uang lo, gue ganti ya,” ujar Tania membuat Sam menoleh padanya.


“Nggak usah, gue ikhlas kok. Lo nggak boleh nolak rezeki.”

__ADS_1


Karena Sam berbicara begitu Tania tidak bisa melawannya lagi. Tanpa sepengetahuan cowok ini, gadis itu tersenyum dengan mata menatapnya.


•••


__ADS_2