He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
(season 2) Bagian 9


__ADS_3

Abrisam membuka pintu kamarnya, lalu masuk. Cowok itu terus berjalan ke arah meja belajar dan duduk di sana. Sam terlihat seperti mencari sesuatu.


Karena tidak menemukannya laki-laki ini bangun dari duduknya dan meraih ponsel yang tergeletak di nakas.


Sam mencari nomor Jodi dan menghubungi cowok itu.


“Apa sih Sam? Ganggu aja, gue lagi ngegame nih.”


“Sorry, gue cuma mau tanya buku gue yang merah itu di lo bukan?” tanya Sam sambil berdiri menunggu Jodi menjawabnya.


“Nggak ada tuh. Oh iya, seingat gue dipinjam Tania. Kayaknya masih di anak itu.”


“Ah, lo kalau minjemin orang bilang gue dulu. Jadi, gue nggak pusing nyarinya.”


“Maaf, gue lupa. Tania emangnya nggak bilang apa-apa?”


Ditanya balik, Sam jadi berpikir.


“Kayaknya nggak deh. Ya sudah, makasih.”


Abrisam memutuskan sambungan teleponnya sepihak. Ia mencari nomor Tania sekarang. Namun, saat ditelepon Tania tidak mengangkatnya. Handphone-nya juga tidak aktif.


“Aneh banget ini cewek. Tiap malam ditelepon nomornya selalu nggak aktif.” Sam menggerutu dengan menatap ponsel di tangan.


Ketika sedang berbicara sendiri, ponsel di tangan Sam berbunyi. Tertera nama Pacar Bawel di sana. Yang berarti itu telepon dari Adira.


Tanpa berpikir panjang Sam menjawabnya.


“Iya, sayang. Apa kabar?” Sam berjalan mendekati kursinya lagi. Ia duduk di depan meja belajarnya, “kamu belum tidur?”


“Aku baik Sam. Seharian ini nggak dengar kabarmu jadi Aku belum bisa tidur. Kamu bagaimana keadaannya? Maaf, Aku sangat sibuk di sini.”


“Aku baik juga. Aku juga lagi sibuk nih, banyak tugas. Aku pengen ketemu kamu. Kangen banget tahu.”


Adira yang sedang bersandar pada ranjangnya tersenyum, “Aku juga kangen. Libur semester ini aku nggak bisa pulang juga.”


“Kenapa? Kamu lebih betah di sana? Katanya kangen sama aku. Apa karena ada cowok bule itu ya?” Cowok yang memutar-mutar kursinya ini seketika berhenti dan melipat sebelah tangan di meja.


Gadis yang mendengar tutur kata pacarnya tertawa geli. Ia gemas kalau Sam sudah cemburuan begini.


“Kamu ini cemburuan banget. Hm, bukannya kamu juga ada penggantiku di sana?” Adira mencoba menyindir lelaki ini.

__ADS_1


“Siapa? Nggak ada yang bisa gantiin kamu di hati aku.”


“Gombal. Kamu lagi dekat sama cewek yang namanya Tania ‘kan?”


Dahi Sam berkerut, “itu cuma teman kampusku. Aku dekat dengan dia sebagai teman kayak Aku ke Kanaya. Kamu tahu Tania dari Naya ya?”


“Iya, kenapa masalah? Aku sengaja suruh Naya buat laporin apa pun yang ia tahu tentang kamu. Termasuk orang yang lagi dekat denganmu.”


“Nggak apa sih, tapi segitu nggak percayanya kamu sama aku.”


“Kamu juga sama aja. Kamu curigaan mulu sama Gabriel.”


“Habisnya itu cowok kayaknya selalu ada di mana pun kamu ada.” Sam bersandar pada kursi belajarnya.


“Memangnya kamu yakin Tania itu jarang dekat-dekat kamu? Kata Naya dari yang dia lihat cewek itu selalu di sampingmu.”


Abrisam bergeming. Ia memikirkan apa yang selama ini dia kerjakan bersama Tania.


“Maaf, tapi Aku berani sumpah. Kalau Aku nggak punya perasaan apa-apa sama dia.” Cowok ini mengangkat jari telunjuk dan tengahnya bersamaan.


“Iya, aku percaya sama kamu. Bagiku hubungan kita yang jauh ini berat banget. Jadi, tolong saling jaga percayaan ya, Sam.”


Adira menyentuh pipinya yang terasa memanas. Untung saja Sam tidak bisa melihat wajah Dira yang memarah itu. Dulu saja kalau Sam menggodanya dan mengombali, gadis ini serasa ingin muntah dan segera menjauh dari cowok itu. Namun, berbeda dengan sekarang. Rayuan itu selalu Dira tunggu.


“Sayang kamu masih di situ ‘kan?” Sam mencoba memanggil karena Adira tidak bersuara lagi.


“Hah? Iya, aku masih di sini.”


“Aku kira ketiduran. Oh iya, kenapa liburan semester ini nggak bisa pulang?”


Dira membenarkan posisi duduknya dan memeluk bantal berkarakter bebek itu.


“Kamu ‘kan tahu Aku di sini ngambil studi singkat. Jadi, liburan ini kami KKN. Setelah itu susun skripsi, mungkin sekitar setahunan lagi Aku bisa kembali ke Indonesia.”


“Berarti udah nggak lama lagi dong. Aku nggak sabar nunggu kamu balik ke sini dan nggak pergi ke sana lagi.” Abrisam terlihat berbunga-bunga.


“Sabar ya, sayang. Nggak akan lama lagi. Nanti kalau udah pulang Aku akan masakin makanan yang enak buat kamu.”


“Oke, Aku selalu nunggu waktu itu datang.”


“Sam udahan dulu ya. Aku ngantuk, besok harus ke kampus lagi. Di sini sudah pukul 11 malam.”

__ADS_1


Abrisam mengangguk walau Dira tidak dapat melihatnya, “iya, Aku juga harus belajar. Good night baby, have a nice dream.”


“Heem.” Adira berdeham, “sekarang kamu udah ranjin belajar ya nggak perlu aku suruh-suruh lagi. Aku senang kamu banyak berubahnya.”


“Nggak Kamu nggak Papi selalu terheran-heran lihat Aku yang berubah jadi baik. Aku ‘kan makin dewasa nggak mau seperti zaman SMA. Harus ada kemajuan.”


Adira tertawa, “yang udah dewasa beda ya?”


“Jangan meledek deh!”


Dira tertawa lagi, “ya sudah, Aku tidur dulu. Semangat belajarnya!”


Setelah telepon terputus, Sam segera meletakkannya. Ia tersenyum-senyum sambil memilih buku yang akan dibaca ulang.


•••


Tania meletakkan kembali gelasnya setelah ibu tua yang rentan selesai meminum obatnya.


“Bagaimana Bu sudah mendingan?” tanya Tania yang terlihat cemas.


“Ibu nggak apa-apa, Tania. Kamu tidak usah khawatir. Sekarang, huk..huk... Kamu lebih baik berangkat kerja. Nanti bosmu marah.”


Ibu berumur 50 tahuan itu berbicara sambil terbatuk-batuk. Tania iba melihatnya. Sudah lama ibunya mengidap penyakit TBC yang tidak pernah sembuh.


“Tania izin dulu deh, Bu. Tania nggak mungkin tinggalin Ibu lagi sakit begini.”


Ibu bernama Kasih itu menggeleng pelan, “Jangan! Bukannya kamu putuh uang untuk biaya kuliah? Pergilah, Nak! Ibu baik-baik saja.”


Rasa air mata ingin menetes dari pelupuk matanya. Namun, Tania lebih memilih untuk menahan itu semua. Ia tidak mau Kasih ikut bersedih.


“Ibu yakin?”


Kasih mengangguk dan tersenyum, “sudah sana berangkat! nanti kamu terlambat.”


Tania mengangguk, lalu berdiri dengan membenarkan tali ranselnya yang tersangkut di satu bahu.


“Tania pergi dulu, Bu.” Gadis ini mencium punggung tangan sang ibu.


Dengan masih merasa ragu untuk meninggalkan ibunya, Tania tetap melangkah keluar dari kamar. Ia berharap ibunya baik-baik saja sampai ia pulang nanti.


•••

__ADS_1


__ADS_2