
Keramaian mengelilingi Adira dan Abrisam sekarang. Seperti rencana kemarin, hari ini mereka akan mengabiskan waktu bersama. Kedua orang itu sudah ada di Luna Park. Yaitu taman hiburan yang letaknya ada di kota Sydney.
Angin yang cukup kuat dari arah laut menerbangkan rambut Dira yang tergerai. Tangan sepasang kekasih itu terus bergandengan menuju setiap tempat permainan.
Sekarang mereka memutuskan untuk bermain dodgem city, mirip bom-bom car di Indonesia. Adira memeluk lengan Sam saat mobil kecil yang mereka kendarai menabrak mobil pengunjung lain.
Dira tidak berhenti tertawa atau berteriak selama permainan itu. Ini membuat hati Sam begitu senang. Karena bisa secara langsung menyasikkan ciptaan tuhan paling indah yang berhasil ia miliki.
Selesai mencoba dodgom city mereka beralih untuk mencoba permainan lainnya.
“Sam, aku capek.” Adira berhenti melangkah dan menarik lengan cowok di sebelahnya itu agar ikut berhenti berjalan.
“Baru main satu udah capek?” tanya Sam yang heran gadis itu cepat sekali mengeluh.
Adira menarik tanganya yang digenggam pacarnya itu. Ia merentangkan kedua tangan ke atas. “Gendong!”
Abrisam menghela napas, lalu memutar tubuhnya membelakangi Adira. Cowok itu sedikit membungkuk dan menepuk punggungnya.
“Ayo naik!” suruh lelaki itu saat menoleh ke belakang.
Gadis ini tersenyum, lantas melompat naik ke punggung kekasihnya. Dengan sigap Sam menahan tubuh Adira saat dia berdiri dengan tegak.
“Ayo ke sana!” tunjuk Adira. Gadis ini melingkarkan kedua tangannya ke leher Abrisam.
Sam segera berlari melewati banyaknya pengunjung. Wajar saja sekarang ramai karena ini musim libur sekolah. Adira mengulurkan tangannya kedepan bak superman yang sedang terbang di langit. Tawa gadis itu dapat Sam dengar dengan jelas.
Pemuda ini menghentikan larinya dan mengatur napas yang serasa mulai menipis.
“Naik itu ayo!” tunjuk Adira pada satu wahana spider.
“Nggak deh yang lain aja,” tolak Sam ingin melangkah pergi.
“Aaaa...” Dira merengek dengan menggoyangkan kedua kakinya yang menggantung, “aku mau naik itu!”
“Iya, iya.” Sam berjalan ke arah penjual tiket.
Adira begitu gembira karena keinginannya selalu dituruti Sam. Gadis itu memeluk erat leher kekasihnya dan mengecup pipi lelaki itu sekilas.
Sam mengembuskan napas panjang saat sudah duduk di tempat yang telah tersedia. Cowok ini terlihat tegang berbeda dengan Adira yang antusias ingin cepat permainan di mulai.
Beberapa detik kemudian wahana spider bergerak. Makin lama putarannya semakin kencang. Semua orang berteriak, sedangkan Sam dengan kuat berpegangan dengan pengaman tempat duduknya. Permainan pun selesai setelah 5 menit berputar-putar.
Abrisam cepat berlari menjauh dari kerumunan orang-orang. Adira yang melihat itu mengejarnya. Ternyata Sam berdiri di depan laut dan menjulurkan lidahnya mengeluarkan isi perutnya.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Adira khawatir. Gadis itu mengelus-elus punggung Sam.
Sam terus membuka mulutnya dan menjulurkan lidah, tetapi tidak ada yang keluar dari dalam tubuhnya. Cowok itu berdiri tegak dan mengusap peluh di pelipis.
__ADS_1
Adira tertawa melihat wajah Sam yang memerah. Ia menepuk lengan cowok itu sekilas. “Mantan pereman sekolah diajak main wahana yang begitu aja udah mabok.”
Sam tidak membalasnya. Ia masih sibuk mengatur napas. Dari pada ditantang naik wahana yang berputar atau mengguncang isi perutnya. Sam lebih terima kalau ditantang balapan motor.
Dira tersenyum menatap Sam yang terlihat BT sehabis menaiki permainan tadi. Gadis ini menangkup pipi Sam, “uluh-uluh, kasihannya pacar aku. Tunggu di sini ya!”
Adira berlari meninggalkan Sam. Lelaki ini berjalan sedikit mencari tempat yang nyaman untuk ia duduk. Tidak lam Dira datang membawa dua cap minuman bersoda.
“Minum dulu!” Gadis yang sudah duduk di sebelah Sam memberikan satu cap minuman padanya.
“Makasih.” Sam menerimanya dan menyerut minuman itu melalui pipet.
“Sama-sama.” Adira mengusap pelipis Sam yang mengalir keringat, “Nanti main itu, yuk.”
Abrisam mendongak mengikuti arah tangan Adira yang menunjuk. Dira menujuk wahana Ferris Wheel. Permainan ini mirip bianglala.
Dira menatap Sam, “Kamu masih takut ketinggian?”
“Yang lain aja deh,” jawab Sam menyeruput minumannya lagi.
“Padahal itu paling bagus. Bisa liat pemandangan kota sydney. Sayang banget kamu sudah jauh-jauh ke sini nggak naik itu.”
Sam menggeleng, “Kamu ‘kan tahu aku takut. Aku nggak akan mengulang yang dulu.”
Lagi Adira tertawa. Ia teringat kalau Sam begitu ketakutan menaiki permainan berputar itu. “Kamu harus lawan ketakutan itu. Kalau nggak kamu akan melewatkan hal yang nggak pernah kamu bisa dapatkan di tempat lain.”
Untuk kesekian kalinya Sam mengalah lagi. Ia mengikuti langkah Adira. Benar saja saat sampai di atas pemandangan begitu indah dengan laut di bawahnya. Dira melihat ke arah tangannya yang digenggam Sam begitu kuat. Sedangkan mata lelaki itu melihat keluar.
•••
“Bagaimana seru ‘kan?” tanya Adira memasukan popcorn ke dalam mulutnya.
Sam yang berjalan bersebelahan dengan dirinya, menganggukan kepala.
“Seru, tapi bikin pusing.” Mendengar jawaban Sam gadis ini tertawa.
“Kalau sudah terbiasa nggak pusing kok.” Dira menyuapi popcorn ke mulut Sam. Lelaki ini dengan senang menerima suapan itu.
Sekarang mereka sedang berjalan di trotoar tepat di atas jembatan pelabuhan sydney. Dari sana mereka bisa melihat matahari yang mulai menurun akan tenggelam.
“Moment-nya tepat nih, Sam.” Adira memberikan popcornnya ke tangan cowok itu. Mengeluarkan ponsel dari sling bag, “sini ikut aku!” Gadis itu menarik sebelah lengan Sam dan mengajaknya lebih ke pinggir jembatan.
Adira mengulurkan handphone ke atas dan bersiap akan mengambil foto. “Senyum.”
Gadis ini kembali menurunkan tangannya, lalu melihat hasil potretnya. Dahi Sam berkerut melihat matanya terpejam di foto itu.
“Jelek-jelek ulang lagi!” suruh Sam yang ingin mengambil alih ponsel Dira. Namun, gadis ini segera menjauh.
__ADS_1
“Nggak ada ulang-ulang! Ini udah bagus.” Dira menyimpan benda pipih itu.
“Akunya merem di situ.”
“Bodo.” Adira menjulurkan lidah, “yang penting aku cantik.”
Setelah itu Adira berlari meninggalkan Sam. Pemuda ini terus berteriak memanggil nama Dira, tetapi Dira malah meledeknya dan terus menjauh. Karena kesal Sam memutuskan untuk mengejar pacaranya itu.
•••
Pukul tujuh malam Adira dan Abrisam baru sampai di apartemen. Seharian mereka hanya pergi bermain. Ketika menginjakan kaki di tangga paling atas mereka sama-sama melihat Gabriel yang duduk di depan pintu apartemen Dira.
Mereka mendekati Gabriel. Cowok yang duduk termenung itu mendongak saat mendengar langkah kaki. Ia lekas berdiri.
“Udah lama, El?” tanya Adira sesekali menoleh pada Sam.
“Lumayan, dari tadi siang.”
Betapa terkejutnya Dira saat mendengar jawaban temannya ini.
“Lama sekali. Ada urusan apa?” tanya Adira lagi.
“Kamu melupakan sesuatu?” Alis Dira tertaut. Ia benar tidak ingat kalau ada janji sesuatu dengan pemuda itu, “ini buku yang kamu pesan kemarin.”
Gabriel mengulurkan buku tebat yang ternyata itu Adira titipkan pada cowok ini minta dicarikan sebagai penunjang skripsinya.
“Terima kasih.” Adira mengambil buku itu, “aku sampai lupa.”
“Lo bisa bahasa indonesia?” tunjuk Abrisam pada Gabriel yang menatap Sam. Dira yang ada di depan Sam menoleh ke belakang.
“Kamu kenal?” tanya Adira yang merasa belum mengenalkan mereka.
“Dia yang bantu aku kemarin nunjukin kamarmu.” Sam menurunkan tangannya, “aku pikir dia nggak bisa bahasa indonesia.”
Adira merubah posisi berdirinya sekarang menyamping dengan Sam. “Ini Gabriel, teman yang sering aku ceritain ke kamu. Gabriel ini Sam, pacar aku.”
Gabriel mengulurkan tangannya dan tersenyum. Sam bukannya membalas uluran itu lelaki ini membuang muka. Cowok bule itu menarik tangannya kembali.
“Kamu pasti lapar ‘kan? Sudah menungguku setengah hari di sini. Mau makan bersama?” Adira mengalihkan pembicaraan mereka, “aku baru saja berbelanja.” Gadis ini menunjukan kantung plastik yang ia jinjing.
“Boleh,” jawab Gabriel.
“Let’s go! Kita masuk.” Adira mengeluarkan kunci dan membuka pintu apartemennya.
Adira dan Gabriel masuk lebih dulu. Walau kesal Sam tetap ikut masuk. Ia tidak akan membiarkan laki-laki itu berduaan dengan kekasihnya.
•••
__ADS_1