
Sinar dari lampu yang tergantung menerpa wajah adik dan kakak yang sedang berbaring ini. Wajah mereka diselimuti oleh masker muka. Ini saran dari sang adik yang mau wajah kakaknya juga glowing seperti dirinya.
“Bagaimana pernikahan lo setelah satu bulan ini?” tanya Dimas yang berbaring di sebelah Dira. Lelaki ini melipat kedua tangan di atas perut dan memejamkan sepasang matanya.
Adira yang juga memejamkan mata sambil menikmati dingin masker yang menempel di wajah seketika menjawab, “baik, kami akur-akur aja. Semua terkendali. Gue bersyukur banget sih Kak karena teman Sam yang namanya Tania itu udah minggat nggak tahu ke mana.”
“Memang itu orang ganggu banget?” tanya Dimas dengan mata terbuka menatap langit-langit kamar.
Adira juga ikut membuka matanya, “lumayan, dia mencuri perhatian Sam dari aku. Sam itu care banget sama teman-temannya. Gue takutnya itu cewek baper.”
“Yang pentingkan itu Sam nggak menyimpan perasaan juga. Kalau sampai begitu lihat aja bakal gue habisin dia. Sampai muka gantengnya nggak bisa saingi muka ganteng gua lagi.”
Adira tertawa melihat tangan dan kaki Dimas bergerak seperti orang berkelahi.
“Jadi gue ini ganteng ya, Kak?” celetukkan itu datang dari depan pintu.
Dengan susah payah bersamaan kakak dan adik ini menoleh ke sumber suara. Abrisam berdiri di depan pintu kamar yang terbuka lebar.
Malam ini Adira dan Abrisam menginam di rumah Winda. Ini permintaan Dira yang sangat merindukan mamanya itu. Sam sebagai suami hanya bisa menuruti agar istrinya ini selalu bahagia. Maka dari itu sekarang mereka ada di kediaman Adira.
“Sedikit,” jawab Dimas acuh tak acuh. Ia membenarkan letak batalnya, “ini sampai kapan dipakai?”
Sam hanya tertawa dengan tanggapan kakak iparnya. Adira bangun dan duduk di kasur. Ia melepas maskernya.
Dira menepuk-nepuk wajah, “udah bisa dilepas Kak.”
Dimas langsung mencopot masker yang masih terpasang di wajah. Ia menghela napas.
“Ayo sayang ke kamar kamu!” Sam mengulurkan satu tangan, “waktunya tidur.”
Adira mengangguk, lalu lekas berdiri dan menggenggam sebelah tangan suaminya.
Sam tersenyum pada Dira. Baru saja mereka akan keluar dari kamar itu Dimas bersuara.
“Inget ya Sam jangan pernah sakitin hati adek gue!” Lelaki yang mempunyai tinggi hampir sama dengan Sam ini sudah duduk di atas kasurnya.
Sam mengangguk, “beres kak. Selama ini gue nggak pernah ingkar janji ‘kan ke lo?”
“Iya, bagus.” Dimas mengacungkan ibu jarinya, “satu lagi.”
“Apa lagi sih? Banyak benar pesan-pesannya kayak orang mau mati,” sambar Dira yang sedikit kesal.
“Sialan!” Dimas melempar guling pada adiknya. Dira yang terkena lemparan guling itu tertawa, lalu menunduk untuk mengambil guling yang jatuh ke lantai.
“Cuma mau bilang tolong jangan berisik atau menimbulkan suara aneh-aneh. Pengertianlah sama jomblo ini.” Dimas memegang dada dan menunjukkan ekspresi sedih.
__ADS_1
Kedua orang yang berdiri di depan pintu itu tertawa. Sam mengangguki, lalu menjawab, “oke, Kak.”
“Makanya cari jodoh. Pakai aplikasi Mencari Cinta aja. Udah banyak loh Kak orang yang dapat pacar dari situ,” tambah Adira menyarankan.
“Gue nggak sengenes itu!”
Ketika Dimas bangun dan akan mendekati kedua adiknya. Kedua orang di depan pintu ini lekas berlari menjauh sambil tertawa keras. Lelaki ini menutup pintu kamarnya.
•••
“Pakai uangku dulu aja!”
Adira mengulurkan sebuah amplop coklat tebal ke depan Abrisam. Lelaki itu menundukan pandangan dan menatap lekat ke arah amplop.
Gadis itu mengambil sebelah tangan Sam. Kemudian memaksa suaminya ini untuk menerima bantuan dari dirinya.
“Pakai aja, aku nggak masalah. Yang penting bengkel kamu nggak jadi ditutup.”
Sam dengan terpaksa menerima uang itu. Ia tersenyum tipis pada sang istri.
“Terima kasih. Kalau bengkel sudah maju seperti awal, uang ini akan aku ganti.”
Jalan dua bulan ini bengkel memang semakin menurun penghasilannya. Sudah banyak barang yang harus di beli, seperti oli dan lainnya. Sedangkan kemarin Sam baru dikhianati teman sekaligus pegawai bengkelnya. Temannya itu kabur dengan membawa keuntungan bengkel. Apes sekali. Namun, mau bagaimana lagi. Semua sudah terjadi.
“Mana ada yang begitu. Yang aku tahu uang suami uang istri. Uang istri ya uang istri.”
“Itu kata orang dulu. Kalau kataku berbeda. Ini tugasku untuk selalu support kamu.”
Dira mengerakan kaki maju selangkah. Ia melingkarkan tangan ke pinggang Sam. Lelaki yang dipeluk itu membalas pelukan istrinya. Sam selalu merasa beruntung mendapatkan gadis seperti Dira.
“Terima kasih ya.” Sam menepuk-nepuk pelan punggung gadis dipelukannya, “aku sangat beruntung dapat istri yang pengertian sepertimu.”
Adira tersenyum dan memperkuat pelukan, “sama-sama.”
Setelah mendapat dana tambahan. Abrisam dan satu karyawan yang tersisa membelanjakan kebutuhan bengkel mereka. Sekarang bengkelnya sudah nggak kosong seperti kemarin.
“Ini gaji lo, Yo.” Sam memberikan amplop berisi uang, “maaf terlambat, lo tahu sendiri ‘kan pemasukan kita nggak sebanding sama pengeluarannya.
Rio menerima amplop itu, “iya gue tahu, Sam. Nggak apa-apa, terima kasih gajinya, gue terima. Maafkan Dani yang udah mencuri uang lo.”
Lelaki ini memperhatikan suasana bengkelnya, “nggak apa-apa itu sudah terjadi. Mungkin Dani membutuhkan uangnya.”
“Gue yang juga temannya jadi nggak enak. Lo udah baik ngajak kita berdua kerja eh si Dani bisa-bisanya berkhianat.”
Sam tertawa pelan, “sudahlah jangan dipikirkan lagi!” beberapa kali bahu Rio, Sam tepuk, “semangat kerja lagi!”
__ADS_1
Lagi asyik-asyik berbincang sebuah mobil hitam berhenti di depan bengkel. Abrisam yang sangat mengenal mobil itu lantas mendekati.
Benar saja yang turun dari mobil mewah itu adalah Tomi. Baru pertama kali ayah tiga anak ini menginjakan kakinya ke tempat usaha Sam.
“Papi!” Sam lekas menyalami Papinya, “tumben sekali Papi ke sini. Ada apa?”
Bukannya menjawab Tomi masih serius memperhatikan bengkel yang tidak seberapa besar itu.
“Papi ke sini mau tambal ban.” Tomi menunjuk salah satu ban mobilnya yang kempes, “Papi pikir dari pada ke bengkel lain. Mending ke tempatmu yang kebetulan searah.”
“Oh begitu.” Sam memanggil Rio. Memberikan intruksi pada pengawainya. Rio mengangguk saat sudah paham. Ia mengambil peralatan dan menghampiri sopir pribadi Tomi yang berdiri di sebelah mobilnya, “duduk dulu, Pi!”
Anak dan ayah itu berbincang-bincang ringan sambil menunggu mobil selesai dikerjakan.
“Bagaimana usahamu ini? Maju dan mendapat keuntungan banyak?” tanya Tomi.
Abrisam yang mendapat pertanyaan itu tersenyum tipis. Ia bingung harus berkata bohong atau jujur saja.
“Kenapa? Untungnya nggak seberapa ya?” tebakan Tomi tidak meleset, “kamu disuruh mengurus perusahaan yang udah ada nggak mau. Malah molih usaha kecil ini, Papi hanya memikirkan nasibmu dan Dira aja.”
“Namanya juga usaha, Pi. Kadang naik, kadang turun. Sam masih yakin sih kalau bengkel ini bisa maju.”
Tomi menepuk pundak anak sulungnya itu, “saran Papi, kamu fokus-fokuslah kuliah. Selesaikan skripsimu itu! Kalau kamu sudah wisuda Papi akan ajak kamu kerja di kontor. Papi ajarkan sampai kamu bisa mandiri.”
Pria tua ini menurunkan tangannya. Mata dengan iris hitamnya menatap Abrisam begitu lekat.
“Perusahaan itu walau kamu menolak tetap milikmu. Papi ini sudah tua, Sam. Nggak mungkin bekerja terus. Kalau bukan kamu siapa lagi yang mengurus perusahaan itu? Nggak mungkin Papi kasih ke kedua adikmu. Mereka masih terlau kecil. Yasmin aja baru mau masuk SMP. Apa lagi Farel yang masih batita. Cepat selesaikan tugas-tugas kuliahmu itu dan lulus.”
“Sam masih mau memajukan usaha Sam sendiri, Pi. Bukannya Sam nggak bersukur dengan semua fasilitas yang Papi kasih. Maafkan, Sam.”
Tomi tersenyum, “mengurus perusahaan bukan berarti kamu nggak bisa memajukan bengkel ini. Bengkelmu akan maju kalau kamu mengikuti kata, Papi.”
“Maaf, Om. Mobilnya sudah siap,” ucap Rio yang memberitahu.
“Terima kasih.” Tomi berdiri dan Sam juga ikut berdiri. Pria itu merogoh saku jasnya, lalu memberikan uang pada sang anak, “Papi pergi ke kantor dulu. Ini sudah terlalu siang.”
Sam mengangguk dan melihat jumlah uang yang Tomi kasih, “Pi!”
Pria yang sudah melanjutkan langkahnya itu menoleh kembali, “ini kebanyakan,” ucap Abrisam menunjukkan pemberian ayahnya.
“Ambil aja! Bagi tip pada pekerjamu!” kemudian pria itu masuk ke dalam mobilnya.
Mobil hitam itu melaju meninggalkan kawasan bengkel. Sam tersenyum, ia membagi sedikit uang yang dia punya pada Rio.
•••
__ADS_1