
Winda buru-buru berlari kecil mendekati seseorang yang berdiri di pinggir danau.
“Mas!”
Orang yang Winda panggil menoleh sambil tersenyum.
“Maaf, saya terlambat. Tadi harus mengurus pesanan dulu.”
“Tidak apa-apa. Kalau kamu lagi sibuk kenapa minta bertemu?” Tomi menatap wajah Winda yang ingin sekali mengunggapkan sesuatu.
“Karena saya rasa ini nggak baik kalau harus ditunda-tunda lagi.”
“Kamu ngomong apa sih Win? Saya tidak mengerti.”
Winda bergerak membenarkan posisi beridirinya. Kini dia menghadap ke Tomi. Dengan jelas menatap wajah lelaki itu.
“Langsung saja, Mas. Saya mau pernikahan kita dibatalkan. Anggap saja sekarang hubungan kita sebatas pelanggan dan penjual kue. Saya tidak mau terlibat hubungan serius denganmu.”
Dahi Tomi berkerut, “memangnya kenapa, Win? Soal anak-anak kita lagi?”
“Iya, yang pertama memang itu. Aku nggak mau liat Adira terus bersedih.”
“Bukannya saya sudah bilang ke kamu. Saya akan mengurus masalah ini. Anak-anak pasti akan setuju.” Tomi mengambil sebelah tangan Winda dan mengenggamnya, “apa kamu nggak cinta sama saya? Tolong jangan batalkan Winda.”
Ibu dua anak itu menghempaskan tangannya yang digenggam Tomi dengan kasar, “kamu masih bisa menanyakan cinta pada saya, Mas? Setelah kamu membohongi saya?”
“Membohongi apa maksudmu?”
“Nggak usah berpura-pura nggak tahu! Kamu yang ngakunya sayang dan cinta sama saya malah menipu saya. Saya nggak abis pikir sama kamu. Mas pikir saya nggak tahu bagaimana Anna dan istrimu yang lainnya? Anna sudah menjelaskannya pada saya.”
“Win, saya bisa jelaskan soal itu.” Tomi berusaha mengambil kembali tangan Winda. Namun, wanita itu mengelak dan mundur selangkah.
“Nggak ada yang harus kamu jelaskan lagi, Mas! Semuanya di sini sudah jelas. Saya kecewa sama kamu.” Air mata wanita ini menetes sedikit demi sedikit, “tega-teganya kamu bilang istrimu itu matre dan tidak mempedulikanmu. Padahal kamu yang tidak peduli pada mereka.”
“Tapi saya ke kamu nggak akan begitu, Win. Percaya dengan saya!”
Winda tersenyum tipis dan menghapus air matanya dari sebelah pipi.
“Kamu pikir dengan begitu hati saya akan luluh kembali? Nggak, Mas.” Winda menggeleng pelan.
Adira memperhatikan orang-orang di sekitarnya sedang sibuk menyantap nasi bungkus yang tadi Sam beli bersama Emran.
“Nggak dihabiskan?” tanya Sam melihat makanan Dira masih ada di mejanya.
“Nggak deh, aku udah kenyang.” Dira tersenyum.
“Buat aku?” tanya Sam membuat Adira tertawa, “mubazir kalau dibuang.”
“Iya deh ambil aja. Bilang aja kamu masih lapar.”
Abrisam tertawa malu, “itu juga sih.”
Selagi Sam dan yang lain masih menyantap makan siang mereka Adira berjalan menjauh. Gadis itu mengeluarkan ponselnya. Ia tidak bisa membiarkan Sam terus tinggal di tempat itu. Apa lagi pesan mamanya tadi suruh mengubungi Anna. Orang tua Sam juga pasti khawatir pada anaknya.
__ADS_1
Dira menyalin nomer pemberian Winda dan mencoba mengubungi nomer tersebut.
“Halo, ini tante Anna?” Dira bersuara kecil agar tidak ada yang mendengar percakapannya.
“Iya, ini Adira?”
“Iya tante.”
“Adira kata mamamu kamu tahu di mana Sam. Sekarang Sam ada di mana sayang?”
Adira masih ragu untuk mengatakannya. Namun suara Anna yang terdengar begetar membuat gadis itu tida tega.
Akhirnya Dira memberi tahu di mana Sam tinggal sekarang. Gadis itu lekas mmatikan sambungan telepon setelah urusannya dengan Anna selesai.
“Kamu lagi ngapain di sini?”
Pertanyaan seseorang yang tiba-tiba membuat Adira terhenjat kaget. Ia lekas menoleh. Itu Sam, untung saja ia telah selesai menelepon.
“Cari angin, panas.” Dira memasukan ponselnya ke dalam saku rok abu-abunya.
“Di sini memang panas. Banyak polusi lagi.” Gadis itu mengangguki ucapan Sam.
Abrisam memutar tubuhnya menghadap ke belakang, “kamu liat anak di sana?” tunjuk Sam ke salah satu anak jalanan yang sedang makan bersama teman-temannya.
Dira mengangguk.
“Dia namanya Alif. Salah satu anak jalanan yang waktu itu uangnya diambil pereman. Aku yang mengejar pereman itu sampai harus berkelahi. Saat yang bersamaan kamu lewat sama Kak Dimas. Kamu mikirnya aku malak orang.”
Sam tertawa pelan sambil menggelengkan kepala setelah menceritakan kesalahpahamannya dengan Dira.
“Percuma.” Sam mengedikkan kedua bahunya, “karena saat itu kamu tidak suka sama sekali sama aku. Akan sia-sia menjelaskan sesuatu kepada orang yang membenci kita.”
“Maafin aku.” Adira memajukan bibir, “harusnya aku nggak menyimpulkan sendiri.”
Cowok di hadapan Dira ini tersenyum. Tangannya naik mengusap sebelah pipi Adira.
“Nggak apa-apa. Itu sudah lewat. Aku cuma mau kamu tahu aja kalau senakal-nakalnya aku di sekolah. Nggak mungkin ngambil punya orang lain.” Dira tersenyum malu.
“Win, kasih saya kesempatan. Ini terakhir kalinya saya menikah lagi.” Sedari tadi Tomi masih membujuk Winda.
“Sudah ya, Mas. Saya nggak mau kita punya hubungan dekat lagi. Apa lagi menjadi istrimu. Saya masih bisa mengusahakan kuliah untuk Adira.”
“Biaya kul—“
Ucapan Tomi terpotong saat handphone di saku jasnya berdering. Ia lekas mengangkatnya dan berbicara dengan orang yang ada di seberang sana.
Tidak lama Tomi menyimpan ponselnya kembali.
“Anna meminta saya untuk menjemput Sam. Lain kali kita omongin lagi soal ini.”
“Mas tunggu!”
Saat Tomi akan melangkah Winda menghentikannya.
__ADS_1
“Kata Adira, dia sedang mencari Sam. Kemungkinan Dira juga ada di sana. Boleh saya ikut Mas?”
Tomi mengangguk, lalu berjalan lebih dulu. Winda mengikutinya dari belakang.
Sekitar 20 menit Tomi dan Winda sudah sampai di lokasi yang Anna berikan. Anna dan Siska juga sampai di tempat itu. Mereka melihat Winda tidak suka. Terutama Anna yang sudah mengenal Winda.
“Mas, ngapain kamu masih jalan sama Mbak Winda?” tanya Anna yang mulai memaki suaminya.
“Tenang Ann, saya hanya menumpang. Saya ingin menjemput Adira. Saya sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi dengan Mas Tomi.”
“Win?” Tomi menatap Winda dengan raut wajah sedih.
“Mas, kita pikirkan dulu masalah anak-anak.”
Tomi mendengus, lalu pergi begitu saja. Anna dan Siska berjalan lebih dulu menyusul Tomi. Winda pun setelahnya membuntuti mereka.
“Sam!” Siska berteriak saat sudah sampai di rumah kardus tempat tinggal Sam sementara.
Sang empunya nama menoleh. Cowok itu begitu terkejut melihat kedatangan keluarganya. Dira juga kaget saat melihat mamanya juga ada di rombongan itu.
Abrisam menoleh pada teman-temannya. Ia mencurigai mereka yang memberitahu semua ini. Adira hanya diam dan memperhatikan saja.
“Sam, ayo kita pulang, Nak!” ajak Siska yang memegangi tangan anak tirinya itu.
“Sam nggak mau pulang, Bun. Sebelum Papi membatalkan niatnya.”
“Tante sudah membatalkan pernikahan itu, Sam.” Winda membantu membujuknya.
“Winda kamu jangan bilang seperti itu. Saya tidak terima ini dibatalkan.”
Suasana di kolong jembatan itu mulai panas. Anak-anak jalanan itu hanya menonton pertengkaran dari Sam sekeluarga.
“Liat! Lelaki ini masih mementingkan nafsunya. Silakan kalau Papi masih ngotot. Sam tidak akan pernah restui!”
“Sam...” Siska menangis sambil terus memegangi tangan anaknya.
“Lepasin Sam, Bun. Sam belum mau pulang.” Cowok itu menghempaskan tangannya yang dipegang siska. Siska hampir saja jatuh kalau Anna tidak menahannya.
“SAM!”
“Sam kalau kamu masih mau kabur-kaburan seperti ini. Papi tidak akan memberikan warisan padamu!”
Ancaman dari Tomi tidak menghentikan tekat Sam untuk pergi dari tempat itu. Ia menghidupkan mesin motornya, lalu pergi dengan kecepatan diatas rata-rata.
Sambil menangis siska meneriaki nama Sam.
Tomi berlari mengejar Sam. Begitu juga dengan Siska dan Anna yang ikut menyusul. Saat Adira ingin ikut mengejar kekasihnya tangannya ditahan oleh Winda.
“Ayo, kita pulang!”
“Tapi, Ma?”
“Nggak ada tapi-tapian. Ayo ikut Mama pulang!”
__ADS_1