
Winda sibuk di dapur dari tadi siang. Kuenya sudah jadi beberapa loyang. Waktu terus berjalan hingga sekarang sudah malam sedangkan pesanan masih banyak.
“Mama sudah makan?” tanya Adira mengantarkan piring dan gelas ke wastafel.
“Sudah sayang.” Winda melihat ke arah anaknya sekilas, “itu Kak Dimas sudah makan?”
Adira melihat piring yang belum dicuci oleh Winda. Ia sudah yakin kalau mamanya itu telah makan dan tidak hanya sibuk dengan pekerjaan.
“Tadi udah Dira suruh makan.” Adira menjawab sambil mencuci piring dan gelas yang tergeletak kotor, “tapi Kak Dimas cuma jawab iya-iya doang. Masih aja main game.”
“Kebiasaan itu anak kalau udah main game susah disuruh makan.” Suara bising dari mixser membuat Adira kurang jelas mendengar ucapan Winda.
“Malam bidadari-bidadari Dimas. Masih ada makanan nggak?” sorak Dimas yang bergabung masuk ke dapur.
“Masih banyak Dimas. Cepat makan! Mama nggak mau kamu sakit.” Winda masih sibuk dengan adonan kuenya.
“Baik mamaku sayang.” Dimas mencari piring dan alat makan lainnya di rak.
Adira mematikan keran air setelah selesai mengerjakan tugasnya. Ia berjalan ke dekat Winda. Memperhatikan wanita ini bekerja.
“Lagi dapat pesanan banyak ya, Ma?” tanya Adira berdiri di sebelah Winda.
“Alhamdulillah sayang, ada yang pesan sampai 10 kotak. Untuk acara kantor.”
“Wow, pasti mau ngadain acara gede-gedean kantornya.”
“Sepertinya begitu. Ternyata mama baru tahu orang yang pesan kue itu CEO di PT. Pradipta Jaya.” Winda tertawa pelan sebentar, “padahal mama sama CEO-nya pernah rebutan taksi.”
Dira terdiam berpikir, “Pradipta? Namanya sama kayak nama belakang Sam. Mungkin cuma mirip kali ya. ‘Kan nama gitu bebas siapa aja yang pakai.” Ia bergumam di dalam hati.
“Hei, Dira!” Winda melambaikan tangan di depan wajah anknya sampai ia tersadar kembali, “kamu melamun?”
Adira mengedipkan matanya berkali-kali.
“Ada apa?” tanya Winda.
“Kemarin ayam tetangga ngelamun hari ini udah wasalam,” celetuk Dimas disela-sela makannya.
Gadis itu menoleh ke belakang, lalu mendengus. Ia menatap Winda kembali dan menggeleng.
__ADS_1
“Nggak apa-apa, Ma. Malam ini Dira boleh bantu Mama?” tanya Adira mengalihkan pembicaraan.
“Nggak usah. Lebih baik sekarang kamu masuk kamar, belajar! Kalau kamu ikut begadang bisa-bisa kesiangan lagi.”
“Makanya mama jangan begadang juga dong. Besok aja lanjutin buat kuenya.”
“Nggak bisa Dira. Acara kantor itu besok. Mama harus menyelesaikannya pagi ini. Lebih baik kamu saja yang tidur lebih dulu.”
Adira menghela napas. Mamanya ya seperti itu demi anak sampai melupakan kesehatan sendiri.
“Benar kata Dira, Ma. Mama juga ‘kan butuh istirahat. Dimas sebenernya mau ikutan bantu. Sayang, Dimas nggak bisa buat kue.”
“Nggak apa-apa anak-anak.” Winda tersenyum lebar, “mama masih kuat. Kalau Mama tidak terima pesanan besar ini ‘kan sayang uangnya. Rezeki tidak boleh ditolak.”
Dimas bangun dari duduknya dan berjalan ke dekat wastafel. Ia sudah mengabiskan makanannya.
“Asal Mama tidak lupa meminum vitamin. Nanti kalau Dimas sudah lulus kuliah dan punya kerjaan. Mama nggak boleh kerja lagi.”
Adira mengangguk, “benar kata Kak Dimas.”
Winda berhenti dari mengaduk adonan kuenya dan menoleh pada Dimas.
“Mama bikin kue bukan hanya sekedar menutupi biaya hidup kita, tapi ini juga hobi mama. Jadi, kalian tidak bisa menyuruh Mama untuk berhenti membuat kue begitu saja."
“Mama memang susah dilarang. Dimas balik ke kamar deh.” Setelah itu anak sulung Winda ini pergi keluar dari dapur.
“Jangan lupa belajar Dimas!” teriak Winda, setelah itu ia menoleh ke Dira, “kamu juga belajar sana!”
“Iya mamaku sayang.” Adira memegang kedua bahu Winda, lalu mengecup pipi sang ibu, “Dira belajar dulu.”
Winda tersenyum menatap punggung anak gadisnya yang perlahan menjauh.
Adira berlari-lari masuk ke dalam sekolahnya setelah turun dari angkot. Ia kesiangan dan hampir telat. Semalam ia keasikan membalas pesan Sam sehabis belajar. Cowok itu sungguh membuat emosinya memuncak. Namun, harus terlihat manis demi misinya berjalan lancar.
Tin...tin...
Klakson dari motor membuat Adira terkejut dan refleks menyingkir dari jalan. Sedangkan orang yang mengerjai Adira itu tertawa.
__ADS_1
“Sam!” teriak Adira murka.
“Haha... kocak banget muka lo kalau kaget.”
“Nggak lucu ya!”
Sam menghentikan tawanya, “ayo bareng gue sampai parkiran.”
“Ogah, dikit lagi juga sampai. Udah sana parkir motor lo itu!"
“Baik, honey!” Sam menggas motornya kembali dan berlalu menuju parkiran.
Adira bergidik, “geli banget sih gue. Sampai kapan harus pura-pura suka sama itu orang.”
Dira menghela napas dan melanjutkan langkahnya.
“Halo ketemu lagi!” sapa Sam yang sekarang berjalan di samping Adira.
Gadis itu menoleh sekilas, “lo jangan bareng gue deh ke kelasnya. Lo duluan aja sana.”
Alis Abrisam menempel, “kenapa?”
“Bosen gue. Tiap hari liat muka lo,” jawab Dira tanpa menatap Sam. Gadis ini terus melangkah dan melihat ke jalan.
“Bagaimana sih lo. Harusnya seneng tiap hari bisa ketemu sama pacar.” Sam memeluk leher Adira, “banyak diluaran sana orang LDR-an pengen kayak kita. Lo nggak bersyukur.”
Adira memutar bola matanya, bosan dengan celotehan Sam. Mana tangannya yang berat itu mengapit leher Dira.
“iya, gue bersyukur.” Dira tersenyum terpaksa ke arah Sam.
Sam ikut tersenyum menatap Adira yang lebih rendah darinya, “gitu dong. Gue ‘kan makin sayang.”
Setelah mengucapkan itu Sam menoleh ke arah lain dan menjulurkan lidahnya. Namun, ia tidak tahu kalau ekspresi Adira juga berubah.
“ABRISAM!”
Panggilan dari seseorang membuat Dira dan Sam menoleh bersamaan.
Seorang gadis berambut panjang sepunggung dengan sedikit ikal di ujungnya berdiri tidak terlalu jauh dari Sam dan Dira. Gadis itu tersenyum lebar dan matanya terlihat berseri-seri.
__ADS_1
“Lo kenal?” Adira mendongak menatap Sam yang hanya diam.