
Tomi membuka tutup kap mobilnya. Asap keluar dari mesin mobil hitam ini hingga pria itu mengibaskan tangan di depan wajah.
“Ah sial! Saya ‘kan tidak mengerti mesin,” gerutunya sambil melihat-lihat mesin-mesin di dalam sana.
Tomi menutup kembali kap mobil. Kemudian mengambil tas dan kunci mobil yang masih ada di dalam kendaraan roda empat ini.
Pria itu melirik arloji yang ada di pergelangan tangannya, “sudah jam satu, saya harus sampai sepuluh menit lagi di kantor. Bisa-bisa klien dari Australia itu pergi."
Ia menurunkan tangan dan merogoh ponsel dari saku dalam jasnya. Tomi menghubungi bengkel langganannya, lalu pergi dari sana menuju jalanan yang lebih ramai.
“Taksi! Taksi!”
Tomi berlari mendekati taksi yang kebetulan sedang berhenti. Namun, ia tidak menyadari kalau seseorang lebih dulu menghentikan taksinya.
“Jalan, Pak!” Tomi menoleh ke sebelahnya saat mendengar seorang wanita juga berucap yang sama dengan dirinya.
“Loh?” kaget wanita paruh baya yang membawa beberapa kotak antarannya.
“Maaf, Bu. Saya duluan yang naik ke taksi ini,” ujar Tomi dengan sopan.
“Saya yang duluan menyetop taksi ini, Pak. Ngalah dong sama perempuan.”
Mendengar wanita ini sewot, Tomi menghela napas dan melirik arlojinya lagi. Waktunya sudah terbuang banyak.
“Bu, saya sudah sopan ini. Tolong Anda cari taksi yang lain. Saya sedang buru-buru akan bertemu klien.”
“Memangnya Anda saja yang punya klien mentang-mentang pakai jas? Saya juga punya klien.” Wanita yang hampir seumuran dengan Tomi itu mengangkat kotak yang ia bawa, “saya mau ketemu sama klien saya yang memesan kue-kue ini.”
Tomi mengalihkan wajah dan tertawa pelan.
“Kenapa Anda tertawa? Sana keluar dari taksi saya!” usir wanita itu.
“Harusnya Anda yang keluar. Karena saya lebih dulu masuk taksi ini. Anda bisa cari taksi yang lain.”
“Enak aja ngaku-ngaku duluan. Jelas-jelas saya duluan yang berhentiin ini taksi. Coba aja tanya sama sopirnya.” Ibu dengan rambut dikuncir itu menepuk-nepuk bahu sopir, “Pak saya duluan ‘kan yang manggil Bapak?”
Sopir taksi itu mengangguk, “iya benar, Pak.”
“Saya bayar lebih dari harga tarifnya, tapi harus antarkan saya.”
__ADS_1
“Tidak bisa begitu!” ujar Wanita ini tak terima, “mentang-mentang Anda banyak uang semuanya mau diselesaikan pakai uang. Saya yang duluan, berarti saya yang berhak naik taksi ini.”
Tomi ingin memprotes lagi. Wanita yang di sebelahnya ini benar-benar membuat kesabarannya habis. Ia jadi telat ke kantor karena terlalu lama berdebat. Namun, sopir taksi itu menyelanya.
“Memangnya ibu dan bapak ini mau ke mana?”
“Ke jalan kijang,” ucap mereka dengan kompak.
“Lah itu, tujuannya sama. Sudah Pak-Bu saya antarkan bersama saja.” Sopir itu kembali menghadap ke depan dan mulai menyalakan mesin mobilnya lagi.
Tomi dan Wanita itu terdiam dan duduk dengan benar di sisi pintu masing-masing.
Selama lima menit taksi berjalan kedua orang itu masih saja diam. Hingga Tomi mencoba mencairkan suasana.
“Maaf sebelumnya, Bu. Saya tadi itu buru-buru.”
Wanita yang sedang menatap jalanan melalui jendela pintu mobil menoleh ke Pria berjas ini.
“Ibu-ibu, saya bukan ibu kamu.”
“Anda terlihat seperti mempunyai anak berusia sekitar 17-an makanya saya panggil ibu. Memangnya salah?”
“Baiklah, dari pada saya memanggil ibu terus. Kita berkenalan saja. Saya Tomi Pradipta.” Tomi mengulurkan tangannya.
Sebelum menyambut tangan itu, wanita ini memperhatikannya agak lama, “Winda.”
Tomi tersenyum saat mengetahui nama wanita cantik di depannya ini. Winda cepat menarik tangannya lagi.
“Mau nganter kue? Punya toko kue?”
Sopir taksi tersenyum dari spion tengah melihat penumpangnya sudah akur.
Winda menggeleng, “cuma katering kue di rumah, Mas.”
“Banyak juga ya antarannya?” Tomi melihat-lihat kotak yang di pegang Winda, “pasti enak.”
“Kata yang udah pesan sih enak banget, Mas.”
Tomi mengangguk-angguk mengerti, “berarti kalau saya ada acara di kantor pengen pesan kue ke Mbak Winda bisa dong?” tanyanya.
__ADS_1
“Bisa.” Winda bergegas membuka sling bag-nya. Mengambil kartu nama dari dalam sana, “ini, ada nomor teleponnya di situ kalau mau pesan.”
Ia memberikan kartu nama ke Tomi. Dengan senang hati pria ini mengambilnya.
“Oke, nanti saya hubungi kalau sudah butuh.”
Winda tersenyum dan mengangguk.
Tomi tersenyum-senyum memperhatikan kartu nama yang ia pegang. Sampai telat ke kantor saja dia tidak menyadari kalau salah satu karyawannya tidak mengingatkan.
“Pak, sudah ditunggu klien di ruang rapat.”
Tomi tersentak dan menyimpan kartu itu ke dalam saku, “oh iya, saya hampir lupa.”
Setelah itu ia berjalan cepat dengan karyawannya yang mengikuti dari belakang.
Sedangkan di tempat lain. Winda sudah sampai di sebuah toko. Toko kue yang biasa Winda datangi untuk menitip kue buatannya.
“Maaf koko kuenya sedikit terlambat.” Winda meletakan kotak-kotak bawaannya di atas telase.
“Haiya, lu olang ke mana aja? Udah banyak pelanggan oe yang nanyain kue lu.”
“Tadi saya rebutan taksi sama bapak-bapak kantoran gitu, Ko. Gara-gara dia jadi telat ke sini,” jelas Winda.
Koko Lim si punya toko kue itu menaikkan kacamatanya yang menurun, “kantor di depan sini?”
Winda menoleh, melihat gedung tinggi yang megah di depan sana. Ia melihat ke orang tua turunan cina ini, “iya yang itu.”
“Lu pepet ajalah kalau begitu. Kan lumayan lu bisa nikah lagi sama olang kaya.”
“Huss, koko ngomongnya.” Winda mengibaskan tangan sambil tersenyum malu, “siapa tahu dia sudah punya istri, Ko. Kalau dilihat dari tampangnya udah punya anak besar.”
“Kalau jodoh nggak ke mana.” Koko Lim mengambil kotak kuenya, “oe bawa belakang ya. Tunggu sebentar.”
Winda mengangguk. Ia menunggu yang punya toko itu kembali keluar untuk memberikan uangnya pembeliannya.
__ADS_1