
Adira dan teman-temannya yang lain berdiri di pinggir lapangan outdoor Hari ini class meeting. Ada beberapa lomba yang diadakan guru-guru setelah ujian selama lima hari sebelum pembagian rapor.
Sekarang Adira dan teman perempuannya satu kelas sedang menyaksikan lomba basket antara kelas 12 IPS 1 melawan 12 IPA 2. Abrisam dan teman laki-lakinya yang lain mewakili kelas Adira dan kawan-kawan.
“Sam semangat!” teriak Adira sambil bertepuk tangan dan tersenyum lebar.
Cowok yang dipanggil namanya itu menoleh, melihat dengan ekspresi datar, lalu kembali mengacuhkan.
Adira menghela napas dan menoleh ketika sosok Afraz berdiri di sebelahnya.
“ngapain lo nyelip diantara cewek-cewek gini?” tanya Adira.
Afraz tersenyum, “mau deket lo. Nggak masalah kalau harus terjepit asal terjepit ke lo.”
Adira mengalihkan pandangannya dan menjulurlan lidah, “gombal lo garing.”
Peluit sudah ditiup oleh wasit yaitu guru olehraga SMA Nusa Bangsa sendiri. Permainan basket pun dimulai. Perhatian Dira hanya tertuju pada Sam yang sedang menggiring bola. Sampai Afraz bertanya pun tidak ia jawab.
“Dir, bagaimana jawabannya?” Afraz terpaksa sedikit berteriak karena Dira terus mengacanginya.
Dira menoleh lagi, “jawab apa?” ia malah bertanya balik.
Violet yang mendekat itu mulai kepo. Ia bergeser lebih dekat dengan Adira agar percakapan dua orang itu terdengar olehnya.
Bola berhasil masuk ke dalam ring. Siswi 12 IPS 1 bersorak. Sam berhasil mencetak 1 angka untuk kelasnya. Adira ikut bertepuk tangan dan bersorak. Ia terlihat bahagia. Sedangkan Afraz kesal dengan sikap gadis itu.
“Adira!” Afraz memegang kedua bahu Dira dan menghadapkan ke arahnya. Senyum Dira memudar.
“Lo mau ‘kan jadi pacar gue?” Mata Dira mengedip berkali-kali setelah mendengar pertanyaan itu.
__ADS_1
“Udah terima aja, Dir.” Violet menyikut pelan pinggang sahabatnya, “bukannya ini impian lo selama ini?”
Afraz memiringkan kepalanya untuk melihat Vio yang ada di belakang Dira, “maksud lo, sebenernya Dira mau jadi pacar gue udah lama?”
Violet tersenyum sambil mengangguk. Yara yang mendengar itu menggelengkan kepala.
Cowok di depan Adira ini menatap gadis dengan rambut sepundak itu, “benar itu Dira.”
Dira hanya diam. Ia bingung harus jawab apa. Mau bilang iya, tapi perasaannya itu ragu.
“Lo diam aja. Berarti artinya benar.” Afraz tiba-tiba menarik Adira ke pelukannya, “hari ini kita jadian.”
Tanpa ada yang tahu Abrisam memperhatikan itu. Hatinya bertambah hancur melihat gadis yang ia suka sangat dekat dengan cowak lain, yang Sam tahu ia gebetan Dira dari lama.
“Au...” ringis Abrisam.
Sorakan dari terkejutnya penonton bersamaan dengan bola yang melayang mengenai kepala Sam. Cowok itu terjatuh.
“Lepasin gue!” Dira memberontak hingga pelukan Afraz terlepas, “sekali lagi lo peluk gue. Jangan anggap gue teman!"
Adira menatap Sam yang dibantu berdiri oleh teman setimnya. Namun, saat matanya dan lelaki itu bertemu. Sam membuang muka dengan cepat.
“Kenapa, Dir? Bukannya kita jadian?” Tanya Afraz.
“Siapa bilang? Gue belum jawab apa-apa. Jangan asal menyimpulkan!”
Adira melangkah menjauhi kerumunan orang-orang. Ia tidak memperdulikan Afraz lagi.
Violet yang melihat Afraz hanya mematung, menepuk bahu cowok itu. Afraz menoleh pada gadis yang memegang kipas itu.
__ADS_1
“Kenapa bengong? Kejar!”
Disemangati begitu, segera Afraz berlari menyusul Dira. Violet mengikuti dari belakang. Yara yang merasa nggak bisa membiarkan Violet terlalu ikut campur dengan masalah percintaan Dira. Juga ikut menyusul ketiga orang itu.
“Dira tunggu!” Afraz meraih pergelangan tangan Dira.
Adira berhenti dan berbalik ke belakang, “apa lagi sih?”
“Gue mau tanya sekali lagi jadi lo udah nggak mau jadi pacar gue?”
“Terima aja, Dir. Lo cerita sama gue dan Yara bukannya lo suka banget sama Afraz,” ucap Violet memaksakan untuk Dira memilih Afraz.
“Udah cukup Vio!” bentak Yara yang baru tiba di tengah-tengah mereka, “mungkin, perasaan Dira sudah berubah. Biarkan Dira memutuskan sendiri.”
“Lo lebih dukung Dira sama pembuat onar itu? Gue bengini karena sayang sama Dira,” ujar Violet yang sewot.
“Gue nggak dukung siapa-siapa. Gue lebih membiarkan Dira memilih cintanya sendiri tanpa campur tangan kita,” balas Yara membela diri.
“Udah, Stop!” Adira membentak. Kedua temannya itu berhenti bicara.
Dira melepas genggaman di pergelangan tangannya perlahan, “gue pikir, gue emang suka sama lo.” Adira mendongak menatap Afraz yang lebih tinggi darinya, “jadi pacar lo emang impian gue sejak lama, tapi perasaan itu rasanya mulai menipis. Hingga untuk menjawab iya aja itu susah. Gue nggak mau memberi cinta yang nggak utuh buat lo. Sekarang ini gue nggak mau pacaran dulu.” Adira tersenyum dengan mata berlinang.
Adira menunduk dan air bening itu terjun bebas di pipinya. Ia dengan cepat mengapusnya. Mendongak kepala dengan senyum yang lebar.
Tangan Adira menepuk-nepuk pelan lengan Afraz, “lo pasti dapat orang yang akan benar-benar cinta sama lo. Gue mohon jangan paksa gue untuk jadi pacar lo lagi!”
Afraz tertegun dan diam meresapi ucapan dari Adira. Selama ini ia juga tidak peka dengan perasaan gadis itu dulu. Afraz harus ikhlas dengan pilihan Adira.
Dira berjalan beberapa langkah, lalu menoleh ke belakang kembali.
__ADS_1
“Jangan ikutin gue! Gue mau sendiri dulu.” Setelahnya ia berlari menjauhi ketiga orang yang masih berdiri di tempat.