
Sebuah motor hitam berhenti di depan kediaman Winda. Sosok lelaki yang familier melepas helmnya, lalu masuk menghampiri wanita yang sedang menyiram tanaman pagi ini.
“Permisi Tante.” Orang yang disapa itu menghentikan aktivitasnya, “Adiranya ada?”
Winda mengangguk, “ada sedang sarapan. Mau pergi ke sekolah bareng?”
“Iya Tante.” Afraz tertawa pelan, “Saya tahu kalau Dira nggak ada yang menjemput jadi inisiatif aja sih.”
Winda meneruskan siram bunganya, “tidak apa-apa. Sering-sering aja kamu main sama Dira, Fraz.”
Sedang berbincang-bincang Adira keluar dari rumah dengan membawa ranselnya.
Mata Winda tertuju pada putri semata wayangnya itu, “nah itu Diranya. Gih, kalian berangkat nanti terlambat.”
“Adira pergi sama Kak Dimas, Ma.” Gadis itu berkata sambil membenarkan tali ranselnya dan seperkian detik Dimas keluar dari rumah.
“Udah sama Afraz aja. Kalian ‘kan satu tujuan. Kasihan kalau Kak Dimas terlambat gara-gara nganter kamu.”
“Nggak akan terlambat, Ma. Kampus Kak Dimas sama sekolah Dira searah. Iya kan, Kak?”
Dimas yang ditanya seperti itu oleh adiknya hanya mengangguk sambil duduk di atas motor.
“Gue udah jauh-jauh jemput lo, Dir. Ayo pergi sama gue aja,” ujar Afraz memasang wajah memohonnya.
Dira melihat ke arah Kakaknya dan Afraz bergantian. Dimas masih setia menunggu keputusan Dira di atas jok vespanya. Winda lekas mematikan keran air.
“Udah sana berangkat aja sama Afraz!” wanita itu mendorong anaknya hingga menabrak tubuh Afraz, “kelamaan mikir nanti telat.”
“Mama...” Keluh Dira segera memberi jarak antara ia dan Afraz kembali.
“Kamu berangkat, cepat! Nanti telat kuliahnya.” Winda menghampiri Dimas dan mendorong-dorong pemuda itu untuk segera pergi.
Dimas terpaksa menghidupkan motornya karena dorongan dari sang mama hampir membuat dirinya dan vespa kesayangan terjatuh.
“Kakak duluan dek!” sorak Dimas melajukan motor meninggalkan rumah.
Hati Winda lega. Sekarang pilihan Dira hanya Afraz.
“Udah pergi sana! Nunggu apa lagi?” tanya Winda membuat kedua remaja itu saling tatap.
“Ayo!”
Afraz memberi Dira jalan terlebih dulu. Tidak lama mereka ikut pergi meninggalkan rumah Winda.
Kelas 12 IPS 1 baru saja membubarkan diri dari ruang Lab. Komputer. Adira sambil memegang buku dan alat tulisnya buru-buru mengambil sepatu dari rak yang tersedia, lalu duduk di samping Kanaya.
__ADS_1
“Nay, lo ke rumah sakit nggak kemarin?” tanya Dira sambil memasang sepatunya.
Kanaya mengangguk, “iya, lo kok nggak ke sana? Padahal Sam nanyain lo.”
Gadis itu menyerongkan duduknya menghadap Naya, “Sam udah sadar? Terus gimana keadaannya?”
“Udah, dia sadar sore kemarin. Lo tahu yang pertama ia cari itu lo. Kata dokter keadaannya udah stabil. Palingan nyembuhin kaki dan cideranya itu.”
Dira mendadak lemas kembali. Ia membenarkan duduknya menghadap ke depan lagi.
“Gue itu pengen banget liat Sam, tapi Mama nggak bolehin.”
“Kenapa?”
Adira menoleh pada Kanaya, “sampai sekarang Mama masih marah sama bokapnya Sam.”
“Gara-gara Om Tomi mau nikah sama nyokap lo itu?” Adira mengangguk mengiyakan pertanyaan Naya.
“Yang sabar Dir.” Kanaya mengusap-usap punggung temannya itu, “lo bisa telepon atau video call sama Sam. Sam udah pegang HP-nya lagi.”
Adira yang tertegun kembali mendongak, “iya juga.”
Senyum Dira merekah.
“Gitu dong senyum.” Naya mencolek dagu Dira bermaksud menggoda gadis itu.
“Ayo balik ke kelas!”
Dira mengangguk sambil memakai sepatunya yang satu lagi. Selesai itu mereka lekas kembali ke kalasnya.
Sambil berjalan menuju kelas Dira mengeluarkan ponselnya dan mengetikan sebuah pesan, lalu mengirimkan pada Abrisam.
KLINGGG
Handphone yang tergeletak di atas nakas itu berbunyi. Cowok yang sedang membaca komik ini menoleh dan lekas meraih benda pipih itu.
“Dira.” Gumam Sam dengan senyum mengembang.
Ia segera membuka pesan itu.
Sekretaris Resek
Sam, Maafin aku. Aku belum bisa datang jenguk kamu. Mama larang kita buat ketemu. Dia kecewa sama sikap Papimu. Aku kangen kamu, Sam ♡
Pemuda itu menghela napas panjang sambil menurunkan tangannya yang memegang ponsel.
__ADS_1
Suara bising dari luar ruangan membuat Abrisam menoleh ke arah pintu.
“Coba masuk dulu, Mas. Sam pasti senang kalau kamu datang.” Siska meyakinkan Tomi untuk masuk ke ruang rawat itu.
“Saya takut kalau dia masih marah.” Tomi memegang kuat parsel buah yang sengaja ia beli untuk anaknya, “saya nggak mau dia kembali drop karena melihat saya.”
“Mas, Sam itu sudah sehat. Ia sudah bisa duduk dan mengobrol bersama kami. Bukannya tujuan kamu ke sini untuk meminta maaf pada Sam? Kalau dia masih terlihat membencimu itu wajar Mas.”
Siska mengusap-usap lengan suaminya ini.
Tomi menatap Siska dan istrinya itu mengangguk mantap. Akhirnya langkah Tomi berlanjut dan pintu ruang rawat itu terbuka.
Abrisam mendengus melihat siapa yang masuk ke dalam kamarnya.
“Siang Sam!” Sapa Tomi gugup, “bagaimana kesehatanmu?”
Pria itu meletakkan parsel buah ke atas nakas, “Papi bawain kamu buah agar lebih cepat sembuh.”
Abrisam masih saja diam. Ia hanya memandangi layar handphone-nya. Tomi berjalan mendekat ke brankar tempat Sam duduk.
“Papi tahu kamu masih marah. Papi minta maaf.”
Sam menoleh saat mendengar kata maaf terlontar dari bibir Tomi. Biasanya pria itu paling anti mengucapkan maaf pada Sam dan kedua ibunya.
Ketika mata mereka bertemu Sam dengan cepat memalingkan wajah.
“Tolong maafkan Papi, Sam.” Tomi menundukkan kepala, “Papi tahu, papi terlalu banyak salah dengan kamu. Papi juga melanggar pesan Mami agar menjagamu selalu, tapi papi malah membuatmu seperti ini.”
Sam meletakkan ponselnya di samping. Ia menatap Tomi yang tampak tulus memohon maaf.
“Papi benar menyesal dan mau berubah?” pertanyaan Sam membuat Tomi mendongak, “lalu mengangguk cepat.
“Iya, iya, nak. Papi sangat menyesal dan akan berubah. Bunda dan Mamamu juga sudah memaafkan Papi. Papi janji nggak akan bikin kalian menderita lagi.”
Anak laki-laki itu tersenyum tipis, “Sam senang akhirnya Papi berubah. Sam akan berikan Papi kesempatan, tapi tolong jangan kecewakan Sam, Bunda, Mama dan adik Jasmin lagi.”
Tomi mengangguk cepat, “Papi nggak akan melakukan kesalahan itu lagi, Nak.”
Anak dan bapak itu berpelukan. Abrisam begitu senang, walau ia harus kecelakaan dulu demi melihat perubahan sang ayah. Sam tetap bahagia.
“Pi, Sam boleh minta tolong?”
Perlahan Tomi melepas pelukannya. Menatap wajah yang masih pucat itu, “tolong apa Sam?”
“Papi mau minta maaf sama Tante Winda? Soalnya, Tante Winda marah sama Papi sampai nggak bolehin Sam dan Dira bertemu.”
__ADS_1