
Motor vespa milik Dimas menepi di SMA Nusa bangsa. Adira turun dari boncengan dan melepas helmnya.
“Makasih ya Kak Dimas ganteng.” Dira mengembalikan helm ke tangan Dimas.
“Halah, lo. Ditebengin aja bilang ganteng. Coba tadi kalau gue nolak pasti mulut lo itu bakal ngeluarin sumpah serapah. Iya ‘kan?”
Bukannya menjawab gadis 17 tahun itu cengar-cengir di depan Kakaknya. Fokus Dira menjadi bercabang saat melihat Kanaya baru saja turun dari mobil super mewahnya.
Mata Dira mengikuti pergerakan Naya yang melangkah melewati gerbang sekolah.
Adira melihat ke Dimas kembali, “sudah ya, Kak. Dira masuk dulu, bye!”
Gadis itu lekas berlari sambil meneriaki Kanaya. Dimas mendengus, lalu menjalankan motornya lagi.
“Kanaya! Kanaya tunggu!”
Akhirnya Naya berhenti dan menoleh ke belakang. Sama seperti kemarin, gadis ini masih terlihat anggun dengan rambut sebahu yang digerai. Namun, hari ini ada tambahan bandana di kepalanya.
“Dira. Namamu Dira ‘kan?” tanya Naya yang masih kurang kenal.
Yang ditanya mengangguk, “Adira Verbena.”
Naya tersenyum, “Adira.” Ia mengulang kembali menyebut nama Dira.
“Ayo ke kelas bareng!” ajakan Dira diangguki Naya.
Mereka beringingan jalan menyusuri koridor menuju kelas yang lumayan jauh. Menurut Dira ini kesempatan untuk dia bertanya lagi prihal Sam dan kedekatan Naya dan Sam.
“Nay sebenernya lo sama Sam itu dulu hubungannya apa sih?”
Naya yang mendengar itu menoleh. Sebelum menjawab ia berpikir dahulu.
“Nggak apa-apa kali Nay. Ceritain aja, lo kan tahu gue pacarnya Sam. Gue cuma pengen tahu Sam dulunya bagaimana.”
“Aku sama Sam itu teman sekelas. Aku sangat gencar mendekati Sam. Walau teman-teman bilang Sam bukan anak yang baik. Aku masih ngotot mau lebih dekat sama dia. Padahal aku sendiri juga liat, Sam suka berkelahi di sekolah, sering telat, dan masih banyak lagi ulahnya.” Kanaya bercerita sambil terus berjalan menuju kelas, “akhirnya Sam terbuka denganku. Dia mau menceritakan masalahnya. Kami menjadi teman hingga saat akhir-akhir kelulusan Sam menyatakan kalau dia suka denganku.”
“Terus kalian jadian?” tanya Dira yang begitu penasaran.
Kanaya menggeleng dan tersenyum miris, “nggak, aku tidak terima cintanya Sam. Saat itu aku harus pindah ke rumah nenek yang ada di Seoul. Aku pikir kalau kami terpisah jauh kami nggak akan bisa melewatinya. Apa lagi umur kami yang masih terlalu kecil. Aku takut kalau aku tidak bisa kembali ke sini untuk bertemunya.”
Kanaya berhenti berjalan saat sedikit lagi sampai di depan pintu kelas. Adira juga ikut menghentikan langkahnya.
“Sam itu cowok yang baik Dira. Kamu beruntung bisa mendapatkan hatinya. Semoga kalian langgeng ya.” Naya menepuk-nepuk bahu Dira, lalu masuk lebih dulu ke dalam kelas.
__ADS_1
Mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Kanaya. Adira jadi berpikir akan mengenal Sam lebih dalam.
Dira menghela napas dan lekas masuk ke dalam kelasnya.
Sudah setengah jam dari pelajaran di mulai. Namun, Sam belum juga ada di tempat duduknya. Gadis itu dari tadi menoleh ke belakang. Ia khawatir takutnya Sam tidak masuk karena masih marah soal kemarin.
Tidak lama saat Dira kembali mengerjakan tugasnya jendela belakang dekat dengan meja Sam duduk berbunyi. Adira segera menoleh lagi.
Adira melihat Sam yang sedang berusaha masuk lewat jendela. Dira melihat ke depan. Guru yang mengajar sedang tertidur.
“Sam, kamu telat? Nggak berubah ya kamu dari dulu.” Naya menggeleng-gelengkan kepala.
“Sssttt, bacot.” Sam meletakkan jari telunjuknya ke depan bibir, “jangan berisik!”
“Si Sam kelakuannya masih sama aja,” ujar Violet dengan suara yang dikecilkan.
“Biarin aja. Biar dia bisa ikut pelajaran,” sambar Adira yang ikut memperhatikan pergerakan cowok itu.
Sam berhasil masuk dan sudah duduk di kursinya. Dira legah karena lelaki itu berhasil masuk tanpa ketahuan.
“Udah selesai belum?” pertanyaan dari guru membuat sebagian murid terkejut begitu juga Adira.
“Belum, Pak!” jawab siswa-siswi serempak.
Sam yang lagi mengerjakan tugasnya mengangkat kepala yang tertunduk.
“Dari tadi saya ada kok, Pak. Bapak lupa kali. Tanyain aja sama teman-teman. Iya ‘kan woi gue dari tadi di sini?”
Dengan takut-takut murid kelas 12 IPS 1 mengangguk dan menjawab, lalu ditegaskan oleh guntur, “iya, Pak. Sam sudah datang dari tadi.”
Guru itu mengangguk percaya, “mungkin iya saya yang lupa. Lanjutkan mengerjakan tugasnya!”
Sam menghela napas dan mengusap dadanya. Ia terbebas dari hukuman berkat teman yang mau diajak kerja sama.
“Memang kamu banyak tidak berubah. Teman sekelas saja masih pada takut sama kamu.” Ucapan dari Kanaya membuat Sam menoleh.
“Nggak usah inget-inget yang dulu. Diam, jangan berisik!”
“Gue boleh duduk di sini?” tanya Adira berdiri di samping meja kusam tempat Abrisam dan kedua temannya berkumpul.
Sam melihat sekitarnya, “lo sendirian aja?” tanya Sam menatap Dira.
__ADS_1
“Mang Suep, nasi uduk sama es teh satu!” teriak Dira pada pemilik warung.
Gadis itu duduk terlebih dulu di depan ketiga cowok yang sudah ia kenal.
“Iya, gue sendirian.”
“Ketagihan makan di sini lo?” tanya Emran.
“Begitu deh, nasi uduk Mang Suep ternyata enak juga.” Senyum Adira terukir di bibirnya.
Sam yang masih mengunyah bicara lagi, “katanya di sini risih banyak cowoknya, tapi masih ke sini juga.”
“Kan gue mau makan sama lo, Sam. Lo masih marah soal kemarin?” tanya Adira melihat sikap Sam yang dingin padanya.
“Nggak, biasa aja.”
“Maaf, kalau gue yang terlalu kepo ini bikin lo nggak nyaman.”
“Kalian berantem?” Sam menoleh ke Manha saat temannya itu bertanya.
“Iya, Ha. Biasa bumbu-bumbu cinta,” jawab Adira sambil tersenyum-senyum.
“Ini pesanannya eneng geulis.” Mang Suep meletakkan piring dan gelas berisi pasanan Dira di meja.
“Makasih, Mang.”
Setelah mengantarkan pesanan Mang Suep kembali ke tempatnya.
Adira mencondongkan tubuhnya ke depan Sam. Cowok yang ditatap itu melihat curiga pada Dira.
“Sam hari ini belajarnya jangan di sini ya.”
“Terus lo maunya di mana?”
“Cari tempat lain gitu. Gue bosen, ya, ya mau ‘kan?”
Sam mengangguk dan Adira kembali duduk dengan benar dengan senyum mengembang.
“Udah baikan nih?” goda Manha. Emran hanya memperhatikan sambil tersenyum.
“Kita itu nggak marahan ya. Jangan lebay deh kalian.”
Adira hanya mesem-mesem sambil menyantap makanan yang ada di hadapannya.
__ADS_1