He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
Bagian 23


__ADS_3

Abrisam sudah sadarkan diri dari tiga jam lalu. Sekarang Siska sedang menyiapkan susu untuk anak laki-lakinya itu agar bertenaga dan cepat pulih.


“Mama mana, Bun?” Siska menoleh sekilas saat Sam bertanya.


Karena pasalnya hanya ada Siska yang menunggukan Sam di rumah sakit.


“Mama pulang sama Yasmin tadi sesudah subuh. Adikmu ‘kan mau sekolah terus Mama Anna juga mau kerja di butiknya,” jelas Siska mengeluarkan sendok dari dalam gelas.


“Papi nggak jenguk Sam, Bun?”


Mendengar pertanyaan Abrisam. Siska bingung harus menjawab apa. Tangan Siska yang ingin meraih piring berisi sarapan untuk Sam berhenti sebentar.


Siska mengulas senyum, “Terakhir Bunda pergi ke sini, Papi belum pulang. Bunda telepon juga nggak aktif ponselnya. Sampai sekarang juga Mama Anna belum ada ngabarin tentang Papi.”


Sam menatap langit-langit kamarnya, “mungkin Sam udah nggak penting bagi Papi. Mau Sam mati Papi juga mungkin nggak akan datang untuk melihat Sam.”


“Kamu jangan ngomong begitu sayang!” Siska mengusap sebelah lengan anak sulungnya, “bagi Papi, Sam itu sangat penting. Prioritas Papi cari uang yang pertama itu ‘kan untuk Sam. Mungkin Papi lembur di kantor. Ponselnya mati lupa dicharger. Kalau dia sudah tahu Sam di sini Papi pasti langsung tengokkin Sam.”


Cowok yang sedang berbaring tanpa selang oksigen itu lagi, menoleh pada wanita berhijab yang ada di sebelahnya.


“Makasih ya, Bun. Bunda masih ada buat Sam. Sam beruntung mendapatkan dua ibu yang sangat baik. Walau status kalian itu ibu tiri buat Sam.”


Siska tersenyum lagi, “kan nggak semua ibu tiri itu jahat sayang.”


Wanita itu beralih ke nakas yang terdapat makanan serta minuman untuk Sam. Siska mengambil piring yang berisi bubur, lalu duduk di bangku samping ranjang Sam.


“Kamu makan dulu ya. Bunda suapin,” ujar Siska bersiap untuk mengulurkan sendok ke mulut Sam.


“Sam nggak suka makanan itu Bunda.” Ia menggelengkan kepala pelan.


“Ini ‘kan makanan rumah sakit buat orang yang sakit. Ya, kayak begini adanya. Kamu harus habiskan agar cepat sembuh. Kamu mau sekolah lagi ‘kan?” rayu Siska agar Sam mau menyantap sarapannya.


Sam mengalah, ia menganggukkan kepala dan menatap Siska. Wanita itu tersenyum dan berdiri mendekati Sam. Ia menyuapi anaknya ini.


Siska senang Sam mau memakan sarapannya sampai habis. Setelah itu wanita paruh baya ini membantu anaknya itu untuk duduk di ranjang.


“Masih sakit?” tanya Siska yang melihat Sam meringis.


Cowok itu mengangguk pelan, “sedikit, Bun.”


“PAGI SOBAT UGAL-UGALAN!” teriak Manha saat masuk ke ruangan Sam.


Abrisam tersentak mendengar sapaan dari temannya itu. Ia melihat ke arah pintu, ada Emran dan Manha yang baru datang.


"Stttt, berisik!" Siska meletakkan jari telunjuknya ke depan bibir. Menyuruh Manha untuk mengecilkan suaranya. “Minum dulu susunya.” wanita itu memberikan gelas berisi susu yang ia buat tadi pada Sam.


Manha yang terkena tegur, menciut dan senyumnya juga memudar.


“Enaknya yang dilayani sama Bunda,” goda Emran yang duduk di pinggir ranjang Sam.


Manha menarik kursi kosong dan mendekat ke Sam. Ia duduk dengan kursi yang sengaja dipakai terbalik.


“Iya dong.” Sam memberikan kembali gelas yang isinya tinggal setengah itu pada Siska, “inilah enaknya punya dua ibu.”


“Btw, kalian nggak sekolah?” lanjut Sam bertanya.


“Kita memang nggak sekolah. Dari semalam udah sepakat bakal jenguk-in lo lagi,” jawab Manha.


“Tapi sebelum ke sini si Leo telepon katanya yang ikut tawuran kemarin diskors seminggu.” Emran menaikkan satu kakinya ke atas kasur, “oh iya anak MANJAL juga ada yang ke tangkap polisi.”


“Terus gimana?” tanya Abrisam yang penasaran.


“Udah bebas sih. Dijemput sama orang tuanya,” balas Emran.


“Makanya kalian jangan tawuran, bahaya tahu,” sambar Siska yang ikut bergabung dalam percakapan.


“Ini demi sekolah juga kok, Tante. Karena kalau anak nusa bangsa nggak mau datang ke lokasi tawuran kemarin mereka akan serang sekolah,” jelas Manha melipat tangan di atas kepala kursi.

__ADS_1


“Seram juga musuh kalian itu. Harusnya kalian adukan ke pihak sekolah,” ujar Siska menanggapi.


“Udah, Tante. Percuma di bilang kita mengada-ada,” balas Emran dan diangguki Manha.


“Ngomong-ngomong kita bakal boring ini di skors seminggu. Sam enak masih di rumah sakit pasti nggak berasa kalau diskors.”


“Enak mata lo! Bosen gue di sini mana makanannya nggak enak,” sambar Sam.


“Kita main playstation atau pergi hang out aja deh biar nggak boring,” ucap Emran.


“Terpaksa mau gimana lagi.” Manha mengedikkan bahu.


“Kalian berdua masih mau di sini?” tanya Siska.


“Iya, Tante.” Emran dan Manha menjawab dengan serempak.


“Kalau begitu bisa tante tinggal pulang ‘kan? Titip Sam. Takut si Om balik ke rumah nggak ada orang.” Siska berkemas barang-barangnya.


“Tenang aja Tante, Sam akan aman kalau ada kita berdua. Tante pulang aja,” jawab Manha.


“Baiklah, Tante tinggal. Nanti paling Mama Anna yang ke sini.” Wanita dengan hidung mancung layaknya turunan orang arab ini meraih tasnya dan memakainya di bahu.


“Hati-hati di jalan, Bun!” seru Abrisam.


Siska mengangguk dan tersenyum. Wanita itu melangkah keluar dari ruangan bercat kebiruan ini.



Bel pulang sekolah sudah berbunyi dari tiga menit yang lalu. Namun, 12 IPS 1 masih lengkap di dalam kelas. Ada Pak Yuhdi sebagai guru BK, Bu Sukma guru sejarah merangkap sebagai wali kelas juga, dan Guntur ketua kelas. Mereka bertiga berdiri di depan kelas.


Guntur memberi tahu pada teman-temannya kalau mereka akan bersama-sama menjenguk Abrisam.


“Karena nggak mungkin ikut semua. Saya mohon pada teman-teman untuk menyisihkan sedikit uang jajannya untuk membelikan buah tangan.”


Adira dan satu temannya lagi memunguti sumbangan dari teman sekelasnya. Lumayan banyak uang yang terkumpul.


“Terima kasih untuk partisipasi teman-teman semoga apa yang kita berikan ke Sam bisa menjadi obat penyembuhnya.”


“Untuk yang datang ke rumah sakit. Cukup, Bu Sukma, Pak Yuhdi, saya, Adira, Amel dan Adam. Maaf, kami tidak bisa mengajak kalian yang lain. Tolong doa ‘kan saja agar Sam, teman kita cepat sehat dan kembali ke sekolah. Amin ya robbal alamin.” Guntur mengakhiri perkataannya dan kembali duduk.


“Silakan, baik yang lain boleh pulang,” ujar Bu Sukma.


Dengan beraturan siswa dan siswi 12 IPS 1 melangkah keluar kelas. Terakhir disusul dengan orang-orang yang akan menjenguk Abrisam.


“Untuk yang perempuan-perempuan naik mobil saya saja.” Pak Yuhdi mengarahkan ketika di parkiran, “untuk yang laki-laki pada bawa motor?"


“Saya nggak bawa, Pak. Biasanya naik angkot,” jawab guntur.


“Tapi saya bawa kok, Pak.” Adam, si wakil ketua kelas itu bersuara.


“Kalau begitu Adam bonceng guntur ya.” Adam mengangguk, “hati-hati jangan ngebut!”


Adam tersenyum, “baik, Pak. Ayo, Tur!” Ia mengajak Guntur untuk mengikutinya mengambil motor.


“Ayo Bu, anak-anak. Mobil saya di situ.” Tunjuk Pak Yuhdi pada mobil putih yang terparkir.


Tidak perlu waktu lama mereka berenam sampai di rumah sakit tempat Abrisam di rawat. Karena Adira sudah tahu tempatnya ialah sebagai petunjuk jalan.


Tok... tok... tok...


Anna menoleh ke pintu saat mendengar ketukan berkali-kali. Sam, Emran, dan Manha yang sedang MABAR juga ikut menengok. Wanita dengan rambut dicepol itu segera berdiri dan mematikan televisi yang sedang ia tonton.


“Silakan masuk Pak, Bu, adik-adik!” Anna membukakan pintu dan menyapa sangat ramah.


Emran dan Manha menyingkir dari ranjang Sam. Mereka berpindah tempat ke sofa. Sam juga berhenti memainkan ponselnya.


“Terima kasih, Bu. Ini ibunya Sam?” tanya Pak Yuhdi.

__ADS_1


“Iya, Pak. Kenalkan saya Anna, ibu Sam.” Anna mengulurkan tangannya, lalu dengan senyuman Pak Yuhdi menyambutnya.


“Yuhdi, guru BK di sekolah Sam.” Anna mengangguk mengerti.


“Ekhem! Jangan lama-lama ditatap bukan muhrim,” celetuk Sam, membuat guru pria itu lekas menarik tangannya lagi.


“Hati-hati, Ma. Pak Yuhdi itu duda. Pasti lagi modus cari calon istri,” ujar Sam yang ceplas-ceplos.


“Huss, kamu nggak boleh ngomong gitu. Nggak sopan!” Anna memarahinya. Namun, Sam terlihat santai.


Adam dan Guntur terlihat tertawa pelan mendengar candaan yang terdengar serius itu.


“Kamu ini sakit-sakit masih berani sama Bapak?” tanya Pak Yuhdi mendekati ranjang Sam.


“Saya bercanda, Pak. Pantes bapak cepat tua kebanyakan serius.” Pak Yuhdi tersungut-sungut mendengarnya.


Sedangkan yang lain terkekeh. Kecuali Bu Sukma dan Anna.


“Bagaimana keadaanmu?” Bu Sukma meletakan parsel buah dan sebungkus makanan dalam plastik di atas nakas, “sudah mendingan?”


Sam mengangguk, “sudah, Bu. Lumayan enakan.”


“Dengar-dengar lo begini gara-gara nolongin Dira?” tanya Guntur.


Sam tidak menjawab. Ia malah menatap Dira yang berdiri di ujung kakinya. Gadis itu malah menunduk.


“Bukan.” Pak Yuhdi menyela, “ini gara-gara ikut tawuran. Makanya jangan bandel. Udah kena skors gara-gara tawuran juga masih diulang.”


Lelaki usia 40an itu menoleh ke Emran dan Manha yang sedang asik bermain dengan handphone.


“Dua orang ini juga nih. Bandel, tetap aja tawuran. Kalian ngapain di sini?” tanya Yuhdi.


“Jenguk-in Sam dong, Pak. Lagi pula kita diskors terserah kita mau ke mana,” jawab Manha.


Bu Sukma menggelengkan kepala, “anak zaman sekarang kalau ngomong kurang sopan.”


Emran menyikut Manha. Cowok dengan rambut sedikit pirang itu memberi kode.


“Maaf, Bu. Keceplosan hehe...” Manha cengar-cengir dan kembali bermain.


Jam cepat berlalu tidak terasa rombongan dari sekolah akan pulang.


“Bapak, Bu Sukma dan teman-temanmu balik ya. Cepat sembuh. Jangan nakal lagi kalau udah sembuh,” pesan Pak Yuhdi.


“Oke, Pak. Makasih semua udah datang.”


“Sama-sama.”


Satu-persatu pamit pada Anna dan keluar ruangan. Namun, Adira jalan lebih dekat ke Sam.


“Gue cuma mau bilang terima kasih. Berkat lo gue nggak apa-apa sekarang.”


Sam menatap manik-manik hitam di mata perempuannya itu, “sama-sama, lain kali nggak usah kepo buat ikut ke lokasi tawuran.”


“Gue ‘kan tujuannya buat bawa lo pulang dan nggak ikut tawuran. Ini sebenarnya salah lo. Lo membahayakan diri lo sendiri.”


“Baru minta terima kasih sekarang udah marah-marah lagi. Lo nggak ikhlas?”


“Gue kesel sama lo, nggak mau ikut aturan yang udah gue tetapkan.”


“Gue bilang gue nggak mau diatur ‘kan? Lo nggak tahu masalahnya. Lo ke lokasi juga membahayakan diri lo sendiri. Jadi, bercermin dulu sebelum menilai seseorang.”


“Adira kamu mau pulang tidak?” teriak Pak Yuhdi.


Dira mendengus karena ia harus segera keluar sebelum membalas ucapan Sam.


“Ngomong apa dia Sam?” tanya Emran yang tidak mendengar. Karena Sam dan Dira berbicara dengan suara dikecilkan.

__ADS_1


Abrisam hanya mengedikkan kedua bahunya sekali sambil mencibir. Seakan itu tak penting.



__ADS_2