
“Mbak!” Anna memanggil Siska yang sedang sibuk menata meja makan.
Tanpa menoleh Siska bertanya, “ada apa?”
“Sam dari selamalam nggak pulang?”
Siska menghentikan pekerjaannya. Menatap Anna dengan mata teduhnya. Ibu satu anak itu mengeleng pelan.
“Tadi mbak periksa kamarnya nggak ada. Dia tidak pulang semaleman.”
Siska kembali jalan memasuki dapur dan Anna membantu membereskan meja makan lagi, lalu duduk. Siska datang dengan masakan di tangannya.
“Mbak sudah coba hubungi, Sam?” tanya Anna lagi.
“Belum sih Ann. Coba kamu telepon. Mudah-mudah dia angkat. Mbak ini sebenarnya khawatir dengan dia. Sam itu orangnya nekat.” Siska meletakkan makanan yang ia bawa ke atas meja.
Anna mengangguk dan mengeluarkan ponsel dari tasnya, “aku juga khawatir mbak sama anak itu.” Kemudian wanita karier ini menggulurikan layar ponsel untuk mencari kontak Abrisam. Beberapa detik kemudian benda pipi itu ia tempelkan ke telinga.
Nomer yang anda tuju sedang tidak aktif atau diluar jangkauan. Mohon coba beberapa saat lagi.
Hanya suara operator yang Anna dapatkan. Wanita itu menyimpan handphone-nya kembali.
Anna menatap Siska yang duduk berhadapan dengan dirinya, “sepertinya HP-nya dia matikan, Mbak.”
“Ya ampun Sam kamu kemana sih?” gumam Siska yang cemas dengan anak tirinya itu.
“Sudahlah kalian tidak perlu repot-repot mencari anak itu. Kalau uangnya sudah habis dia pasti pulang,” ucap Tomi yang baru bergabung di ruang makan.
“Kamu sama anak sendiri nggak punya perasaan ya, Mas.” Anna menggeleng tidak percaya.
Tomi tersenyum tipis, meletakkan tas kerjanya dan menarik kursi untuk duduk.
“Untuk apa sama anak durhaka seperti itu pakai perasaan? Kalian liat sendiri sikapnya sama saya kemarin ‘kan?”
“Sam itu tidak durhaka, Mas. Dia hanya bicara yang benar dan menuntut haknya. Sebagai ayah harusnya kamu lebih paham sama perasaan anakmu,” ucap Siska yang menambahkan.
“Yang kayak begini nih.” Tomi menunjuk-nunjuk ke dua istrinya. Anna dan Siska jadi saling tatap, “kalian selalu membela Sam. Anak itu ‘kan jadi membangkang.”
“Ucapan Sam itu nggak ada yang salah Mas. Aku juga nggak setuju kamu menikah lagi.” Anna kembali membantah.
“Saya ‘kan sudah bilang. Saya tidak butuh restumu. Winda itu wanita yang tepat untuk saya nikahi. Kalau kalian masih protes saya akan ceraikan kalian!”
Anna tertegun. Hatinya serasa disayat-sayat oleh pisau pemotong daging.
Tomi menghela napas, “saya jadi tidak nafsu makan.” Pria itu mengambil tasnya dan berdiri.
“Saya sarapan di kantor saja.” Setelah itu Tomi melangkah pergi menuju pintu utama.
__ADS_1
Siska memperhatikan Anna yang menutup wajahnya dengan telapak tangan.
“Yang sabar Anna. Mbak juga sakit hati dengan ucapan Mas Tomi.”
Anna mengusap wajahnya cepat dan berdiri dari kursinya, “aku berangkat ke butik ya, Mbak.” Ia mengambil tas miliknya yang ada di kursi sebelahnya duduk.
“Kamu nggak sarapan dulu Ann?”
“Nggak usah, Mbak. Anna pergi.” Wanita itu lekas melangkah keluar dari rumah.
Siska menatap punggung Anna yang menjauh dari pandangannya hingga anak kecil berseragam SD mengejutkannya.
“Bunda!”
“Siska menoleh dan menunduk melihat anak perempuannya, “eh Jasmin udah siap berangkat sekolah?”
Jasmin mengangguk.
“Kita sarapan dulu ya! Nanti Bunda antar.” Siska membimbing anaknya untuk duduk.
“Lo tahu kenapa hari ini Sam nggak masuk?” tanya Adira pada Kanaya, langsung ke meja sahabat cowok itu.
Naya menggeleng, “lo ‘kan pacarnya Sam. Kok bisa nggak tahu?”
“Sam udah seminggu nggak ada komunikasi lewat handphone sama gue. Paling ketemu di sekolah doang. Kemarin gue perhatiin anak itu masih happy-happy aja.”
“Maka itu...” Dira meletakakn dagunya di kepala kursi.
“Apa kalian berantem?”
“Nggak.” Adira menggeleng, “gue ke toilet dulu ya.”
Naya mengangguk. Dira berjalan menjauhi meja Kanaya. Gadis itu keluar kelasnya. Namun bukan ke toilet, tapi ke rooftop sekolah.
Angin menghempaskan rambut Adira yang tergerai dan hanya memakai bandana. Sofa kucel dan reot itu Adira tatap cukup lama.
Dia bingung dan sekaligus khawatir dengan Sam. Sekarang ia tidak tahu cowok itu ke mana. Kenapa tiba-tiba menghilang dari sisi Adira. Padahal ia bilang ia dan Dira tidak akan berpisah.
“Kalian tahu ke mana, Sam?”
Pertanyaan dari seseorang membuat Emran dan Manha yang sedang makan di warung Mang Suep mendongak.
“Dira?” gumam Emran yang sempat terpaku.
__ADS_1
“Kalian tahu nggak?”
Manha menggeleng, “tadinya selesai makan ini kita berdua mau ke kelas lo. Mau nanya, tapi lo udah nanya duluan.”
“Jadi kalian nggak tahu juga.” Dira terlihat lemas, lalu duduk di sebelah Emran.
“Kita udah coba telepon, tapi HP-nya mati,” ucap Emran menambahkan.
“Gue juga udah telepon dia. Dia kemana ya? Apa jangan-jangan sakit?” Adira menoleh pada kedua cowok itu.
“Masa sih?” Manha berpikir, “perasaan kemarin sehat-sehat aja.”
Adira mengedikkan kedua bahunya.
“Gimana pulang sekolah kita langsung ke rumahnya aja?” usul Emran, menoleh ke kanan dan kiri untuk melihat kedua temannya itu.
“Boleh tuh. Soalnya gue khawatir kalau dia benar-benar sakit,” jawab Dira yanh setuju.
“Gue ikut aja deh,” kata Manha.
“Ah!” Sam membanting kartu ATM-nya saat uang yang ia ingin ambil tidak keluar juga, “ini pasti di blokir, Papi.”
Beberapa orang diluar sudah meneriakinya karana sudah terlalu lama di dalam ATM.
Abrisam mengalah, cowok ini memilih keluar dari box kaca itu.
“Lama banget sih, Mas. Umroh dulu?” tanya seorang ibu-ibu.
“Ya maaf, Bu. Kartu saya ngadat.”
“Bilang aja nggak ada isinya.”
Sam mengerutkan bibirnya tanpa melawan lagi. Ia kembali ke rumah kardus tempat sementara ia tinggal. Ia tidak sendiri, tapi bersama anak jalan yang sering ia tolong.
“Bagaimana kak dapat uangnya?” tanya salah satu anak jalanan yang melihat Sam duduk di sebuah kursi dari kayu usang.
Cowok yang ditanya itu menggeleng, “nggak, Lif. Kartu ATM-nya di blokir. Maaf ya kakak nggak jadi beliin kalian makan enak.”
Sam menyesali ia tidak menyimpan uang tunai lebih banyak pada dompetnya. Uang itu sudah abis membeli bensin untuk motor dan makan anak-anak tadi malam.
Alif tersenyum, “nggak apa-apa, Kak. Mending kakak ikut kita ngamen. Lumayan buat makan.”
“Ayo, siapa takut.” Sam terlihat bersemangat.
__ADS_1