
Lapangan cukup ramai saat Adira melintasinya bersama Yara dan Violet. Ada beberapa siswa yang sedang main sepak bola.
“Afraz tuh yang main, Dir. Nonton dulu yuk!” ajak Violet.
Namun, Yara dan Dira hanya diam di tempatnya. Violet yang melihat kedua temannya ini tidak bergerak segera menarik lengan keduanya.
“Ayo!” Violet berjalan sambil menarik Yara dan Dira.
“Yeeee...” Violet bertepuk tangan terlihat begitu bersemangat, “Afraz Dira dukung lo nih!”
Dira seketika mendelik dan menoleh ke Vio, “apaan sih, Vi?”
“Udah deh, Dir. Gue tahu lo sukanya sama Afraz, tapi yang masih gue bingung kenapa lo malah jadian sama tukang onar itu.”
“Afraz liat ke sini, guys.” Yara menyenggol lengan Dira.
Adira pun menoleh untuk melihat itu. Cowok yang sedang bermain sepak bola itu melambaikan tangan sambil tersenyum. Namun, yang sangat bersemangat membalasnya Violet.
“Apa sih kurangnya Afraz? Udah cakep, pintar, dan yang penting nggak pembuat masalah dalam hidupnya.”
“Cukup, Vi! Gue tahu Sam sama Afraz bedanya antara bumi dan langit. Mereka memang nggak sama. Jangan dibanding-bandingin lagi!” setelah itu Adira memilih meninggalkan lapangan.
Yara melihat kepergian Dira, lalu menoleh ke Violet yang masih aja menggerutu.
“Orang begitu masih aja dibelain, heran.”
“Sudah, siapa pun pasti nggak suka denger pacarnya di jelekin orang lain,” ujar Yara.
Adira berjalan terus ke arah kantin. Sampai di depan pintu masuk kantin, gadis itu memilih duduk di bangku putih yang panjang. Biasa bangku itu dipakai Sam dan kawan-kawan untuk nongkrong. Namun, sekarang sedang tidak digunakan.
“Dira!”
Adira yang sedang melamun menoleh ke sumber suara. Orang yang menyapanya lekas duduk di sebelah.
“Kamu nggak makan atau udah makan?” tanya gadis yang membawa jajanan di tangannya.
“Nggak nafsu makan, Nay.” Jawab Adira tanpa melihat Kanaya.
“Sam mana? Nggak sama Sam?” tanya Naya lagi.
Dira menoleh ke kiri dan ke kanan, lalu mengedikkan kedua bahunya.
“Nggak tahu. Mungkin main sama dua temannya itu.”
Kanaya mengangguk-angguk sambil memakani jajanannya. Dia sudah menawari Adira, tapi gadis itu tetap menolak.
“ADA YANG BERANTEM DI PARKIRAN!” teriak salah satu siswa.
Siswa-siswi yang penasaran dengan perkelahian itu berlari ke arah parkiran yang ada di depan gedung sekolah. Sampai yang bermain bola saja ikut bubar.
“Ayo kita liat, Nay!” Kanaya mengangguki ajakan Dira.
Kedua gadis itu berlari-lari di antara murid lain yang berbondong-bondong menuju TKP.
Adira dan Kanaya berhenti. Di depan mereka terlihat Sam yang sangat emosi menonjoki seorang siswa.
Tidak lama Pak Yuhdi meniup peluitnya. Membuat Sam berhenti melakukan hujaman pada lelaki yang sudah terlihat pasrah itu. Tidak hanya Sam yang wajahnya memar. Emran san Manha juga babak belur. Sepertinya ada masalah yang tidak sepele membuat ketika cowok itu memilih jalan kekerasan.
Perkelahian berakhir di ruang BK. Adira dan beberapa murid lain mencoba mengintip di depan ruang BK.
“Dia masih nggak berubah ‘kan, Dira? Apa kamu masih sanggup?” pertanyaan Afraz yang tiba-tiba membuat Adira tertegun.
“Pasti ada alasan.” Sambar Kanaya yang berdiri tidak jauh dari Dira, “setahu Naya, Sam tidak mungkin melakuakan sesuatu tanpa adanya sebab.”
__ADS_1
“Siapa lo?” tanya Afraz yang baru melihat Naya.
“Ini Kanaya, siswi baru di kelas gue. Dia juga teman kecilnya, Sam.” Adira mengenalkan Kanaya pada Afraz.
“Oh, temannya Sam? Pantesan belain anak itu. Yang gue tahu dia memang pembuat masalah di sekolah ini sejak dulu. Kalau bukan bokapnya sangat berefek terhadap sekolah mungkin dia sudah lama ddikeluarkan.” Afraz melipat kedua tangannya di dada.
“Aku lebih lama mengenal Sam. Jadi, kamu jangan sok menilai orang begitu saja,” ucap Naya yang mulai tinggi nada suaranya. Tampak ia tidak suka sekali pada Afraz.
Adira menoleh ke belakangnya saat pintu ruang BK terbuka. Sam dan yang lainnya keluar. Dengan cepat gadis itu mendekatinya.
“Sam,” lirih Dira memperhatikan wajah memar Sam, “ayo ikut gue!” gadis itu menggenggam pergelangan tangan Sam.
“Mau ke mana? Kita masih harus ngerjain hukuman,” tanya Sam dengan dahi berkerut dan alis tertaut.
“Udah itu nanti aja. Sekarang ikut gue dulu!” kemudian ia menoleh ke Emran dan Manha, “kalian juga ikut gue!”
Setelah itu Adira menarik Sam menjauh dari kerumunan orang-orang. Kanaya juga mengikuti dari belakang. Sedangkan Afraz hanya melihat kepergian mereka.
“Adira!” teriak Violet yang baru saja datang, “mau kemana sih dia?”
“Pergi sama pembuat onar,” sambar Afraz.
“Selalu mentingin Sam. Makin ke sini Adira itu makin aneh. Awalnya bilang kesel dan nggak mau dekat Sam, tapi sekarang udah kayak prangko sama surat. Nempel terus,” gerutu Violet yang melihat kelima orang itu tambah jauh.
“Dira pasti sudah memikirkan semuanya, Vi. Kita sebagai sahabatnya hanya bisa dukung dia,” ucap Yara yang coba menenangkan Vio.
“Jadi teman lo deket sama berandalan itu di diemin aja? Teman yang nggak benar juga dong lo?” Afraz tertawa pelan sambil menggelengkan kepala. Cowok itu melangkah pergi.
“Iya, lo gimana sih? Adira itu harus di jauhin dari orang kayak Sam.” Violet berlalu begitu saja meninggalkan Yara.
Yara terdiam di tempatnya. Sedangkan orang-orang sudah pada bubar dari tempat itu.
“Aw... pelan-pelan dong!” ringis Sam saat tidak sengaja Adira yang sedang mengobatinya menekan luka terlalu kuat.
Mereka semua ada di UKS. Dira sengaja menarik cowok-cowok itu ke sana untuk mengobati luka mereka. Kanaya pun ikut membantu mengobati Emran dan Manha.
Sam memandangi gadis di depannya itu tanpa sengaja bibirnya tertarik sedikit. Namun, senyum tipisnya luntur saat Adira ngomel-ngomel kembali.
“Kenapa sih lo berantem lagi? Padahal udah lama lo nggak buat ulah. Gue kira lo udah berubah,” ujar Adira menatap Sam.
“Anak itu menghina lo.”
“Maksudnya?”
“Dia bilang, lo nggak waras nerima gue jadi pacar lo. Dia juga bilang, mungkin gue pelet lo. Dia bilang lagi, kalau lo gila dan nggak gunain otak lo saat mau jadi pacar gue gitu aja. Gue nggak suka siapa pun menghina orang yang gue sayang.”
Adira mematung saat mendengar penjelasan Sam.
“Sam bilang dia sayang gue? Perasaan Sam ini beneran? Gue jadi merasa bersalah mau pura-pura terima dia jadi pacar.” Adira berdebat dengan hatinya.
Kanaya tertegun dan lebih mengalihkan perhatian dengan membereskan kotak obat.
“Sam bener, Dir. Lo harus percaya sama dia. Kita saksinya, anak-anak itu hina lo dan Sam. Karena mereka ada berlima kita berdua jadi ikut bantu,” timpal Emran yang diangguki Manha sambil meringis.
Dira masih diam menatap Abrisam. Ia sebenarnya jadi tidak enak saja membohongi Sam selama ini tentang perasaannya.
“Lo nggak marah lagi ‘kan?” tanya Sam membuat Dira tersadar.
Adira menggeleng, “nggak, tapi lain kali menyelesaikan masalah jangan selalu pakai otot.”
Sam mengangguk. Adira menatapnya lagi sebentar, lalu buru-buru menglihkan perhatian dengan membereskan obat dan meletakkan kembali ke tempatnya.
__ADS_1
“Kalian mau ikut nggak?” tanya Adira sambil memasang ranselnya ke pundak.
“Ke mana?” tanya balik Yara.
“Shopping sama Kanaya. Tadi dia ngajak gue. Katanya boleh ngajak kalian,” jawab Adira tersenyum.
“Boleh, deh.”
“Gue balik duluan aja.” Violet berjalan keluar dari kelas.
“Kenapa dia?” tanya Dira yang bingung dengan satu temannya itu.
“Kayaknya dia masih marah sama gue.”
“Kok bisa? Kenapa kalian?”
Yara membenarkan tali ranselnya, “tadi dia protes gara-gara lo dan Sam yang sangat dekat, tapi gue tegur dia dan lebih bela lo ke Sam. Dia marah deh.”
“Oh, masalah itu. Ya sudah besok kita minta maaf.”
“Kalian udah siap?” Yara dan Dira menoleh saat Kanaya sudah ada di depan mereka.
“Sudah,” jawab Dira.
“Yok!”
Ketiga gadis itu berjalan keluar dari kelas dan menyusuri koridor sampai di depan gedung. Sesekali mereka berbicang ringan.
“Untung gue lagi nggak bawa motor, tapi gue nggak bawa uang banyak nih. Abis dadakan shopping-nya,” ujar Yara memeriksa sakunya.
“Dira nggak bilang ya?” tanya Kanaya. Yara hanya menggelengkan kepala.
“Aku yang akan teraktir.” Kanaya tersenyum.
“Beneran, Nay?”
“Iya.”
“Lo baik banget sih, Nay.”
Naya tertawa kecil mendengar pujian yang terlontar dari mulut Yara. Gadis yang terlihat sedikit tomboi itu kegirangan.
Tiba-tiba motor Sam menghadang jalan ketiga gadis ini. Padahal gerbang sudah di depan mata. Sam membuka kaca helmnya.
“Ayo, Dir. Pulang bareng gue!” ajak Sam.
“Gue mau main dulu sama Kanaya. Kan gue udah izin lewat whatsapp kalau nggak belajar dulu,” jawab Adira menyipitkan mata karena silau terkena matahari terik.
“Ngapain sih main sama Naya. Nanti ketularan PHP,” ujar Sam yang mengalihkan pandangannya.
“Kamu masih marah sama aku sampai sekarang, Sam?” tanya Naya.
“Menurut lo?”
“Sam itu ‘kan sudah lama. Maafkan Naya, nggak baik menyimpan dendam.” Adira mencoba meluluhkan hati beku milik cowok itu.
“Bacot! Sudahlah, kalau nggak mau pulang. Besok ingat kita harus belajar lagi. Sekalian ajarin gue pelajaran yang lain. Bentar lagi ‘kan ulangan semester.” Sam menutup kaca helmnya dan mengendarai kendaraan roda dua itu keluar melewati gerbang.
Adira tersenyum, Sam bilang dia mau belajar juga? Ada kemajuan. Dia sudah peduli pada nilainya sendiri.
“Ya sudah ayo!” ajak Yara.
__ADS_1
Adira dan Kanaya mengangguk. Gadis itu melanjutkan langkahnya sampai ke mobil hitam yang mewah milik Naya.