He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
(season 2) Bagian 49


__ADS_3

Hari libur Sam dan Dira manfaatkan untuk mengajak Yasmin dan Farel bermain ke taman bersama Siska juga. Karena Ibu tiri Abrisam ini khawatir anak dan menantunya kerepotan apa lagi perut Dira sudah makin membesar.


Dira tampak senang memangku Farel yang sekarang umurnya hampir 2 tahun. Batita ini memang terlihat menggemaskan.


“Nih minumnya.” Abrisam duduk di sebelah Adira. Ia memberikan botol air mineral berukuran kecil.


Wanita ini menerimanya karena dari tadi adik bungsu Sam itu kehausan. Si kecil Farel mendeguk banyak airnya. Melihat Farel, Dira makin tidak sabar menyambut kelahiran anaknya sendiri.


“Bang, ayo main baket di sana!” Yasmin datang dan menarik-narik tangan Abrisam sambil menunjuk lapangan basket yang tidak jauh dari mereka duduk.


“Bolanya nggak ada sayang,” balas Sam dengan lembut ke gadis kecil yang ingin beranjak remaja ini.


Yasmin berpikir dan memperhatikan sekelilingnya. Ia mendapatkan ide, lalu menarik lagi tangan lelaki yang dia panggil abang ini.


“Pinjam bola anak itu aja yuk, Bang. Disewa pasti boleh.”


Sam melihat ke arah tunjuk Yasmin. Ia lekas berdiri dan tidak lupa pamit dengan sang istri.


“Aku temani Yasmin dulu ya sayang.” Adira hanya mengangguk dengan mengulas senyum.


Dira memperhatikan Sam dan adik iparnya yang berlari-lari ke arah lapangan. Siska juga memperhatikan ke arah yang sama.


Setelah bersepakat dengan anak laki-laki yang membawa bola akhirnya kakak-adik itu bisa bermain.


“Aduh...” Adira memegang perut yang tiba-tiba terasa sakit. Mendengar rintihan menantunya Siska menoleh.


“Kenapa Dira?”


Adira menggeleng, “nggak apa-apa, Bun.”


Baru saja Siska menatap Yasmin dan Sam kembali. Dira sudah merintih lagi, kali ini lebih sering dan kuat.


“Aduh, Bun... perut Dira sakit.” Adira memengangi perut dengan sebelah tangan dan tangan satunya memegangi tubuh Farel.


“Sini!” Siska mengambil alih Farel yang ada di pangkuan Dira. Ia melihat ke arah kaki Dira yang sudah basah, “sayang kamu mau melahirkan.”

__ADS_1


Sedari tadi Dira merentih dan merusaha mengatur napasnya. Siska menoleh le belakang dan berteriak kencang.


“Abrisam istrimu mau melahirkan! Sam cepat kemari!”


Yasmin yang menjadari ibunya memanggil menarik-narik baju yang Sam pakai, lelaki yang ingin memasukkan bola ke ring itu menghentikan aksinya.


“Ada apa?”


“Itu Bunda manggil-manggil abang.”


Sam menoleh ke arah di mana Siska dan Dira duduk. Bola mata Sam membesar saat melihat istrinya kesakitan.


“Ini kembalikan bolanya.” Sam memberikan bola basket itu ke Yasmin, “ayo cepat Yasmin ikuti abang!”


Abrisam cepat berlari menghampiri kedua wanita itu. Yasmin pun menyusul setelah mengembalikan bola pinjamannya.


“Ada apa ini, Bun.”


“Itu istrimu mau melahirkan. Air ketubannya sudah pecah.” Siska menepuk-nepuk pundak anak lelakinya, “cepat bawa ke rumah sakit!”


“Iya-iya!” Sam lantas mengangkat tubuh Adira, “sabar ya sayang. Kita kerumah sakit sekarang.”


“Yasmin ayo cepat masuk mobil!” Siska berteriak gemas pada sang putri yang masih saja terlihat main-main.


Sam berlari masuk dari pintu sebelahnya. Mobil segera akan dijalankan.


“Agghhh...uh..uh.. sakit Sam!” Adira memegangi perut yang merasakan sakit.


“Sabar ya sayang. Ini kita mau jalan.” Sam mengelus-elus perut Dira, “tahan sayang jangan keluar sekarang.”


Pria itu melirik spion tengah mobil. Merasa semua telah masuk dia lekas melajukan kendaraan roda empat ini dengan kecepatan cepat.


Sepanjang perjalanan rambut Sam kadang ditarik-tarim Dira atau lengannya dipukuli wanita yang ingin melahirkan itu.


Sampai di rumah sakit Sam harus membopongnya lagi hingga perawat datang membawa brankar. Siska dan Yasmin berlari-lari mengikuti dari belakang.

__ADS_1


Abrisam diperbolehkan ikut masuk ke ruang persalinan untuk menemani sang istri. Sedangkan Siska yang menggendong Farel dan Yasmin menunggu di luar. Wanita itu terpikir untuk mengabari keluarga yang lain.


•••


Abrisam yang menemani Dira di dalam juga tidak sanggup melihat proses kelahiran. Ia hanya menatap wajah Dira dan mengenggam tangannya.


Tidak lama Sam ikut berteriak pula saat rambutnya ditarik Adira.


Persalinan berjalan sampai satu jam. Selesai bayi dimandikan Sam sebagai ayah, lekas mengazani dan mengomatkan putra dan putrinya.


“Silakan, disusui dulu anaknya, Bu!” suster membaringkan satu bayi ke dekat Dira. Sedangkan yang satunya masih digendong oleh Sam.


Keluarga yang dari tadi menunggu di luar lantas masuk setelah dibolehkan dokter. Winda sangat antusias mendapati cucu-cucunya.


“Sini, mama gendong.” Winda mengambil bayi laki-laki yang sudah Dira beri asi, “duh, cucu nenek.”


Tomi dan Siska mendekat ke Winda untuk melihat bayi itu. Antusias juga terlihat di wajah Tomi yang berusaha menyentuh pipi cucunya.


Dira tersenyum melihat mama serta mertuanya yang sangat bahagia menyambut sang cucu.


Sam membaringkan bayi digendongannya ke kasur yang Dira tempati, “ini belum dikasih asi, sayang.”


Adira tidur sedikit miring dan sembunyi-sembunyi memberi bayinya susu. Sam mengusap-usap rambut istrinya sambil memperhatikan si bayi diberi asi.


“Aku nggak mau punya anak lagi ya.”


Dahi Sam berkerut mendengar ucapan sang istri, “kenapa?”


“Sakit tahu... kamu enak buat doang. Aku rasanya mau mati.”


Anna yang mendengar itu tertawa geli, “namanya juga melahirkan Dira. Mama juga merasakan yang sama. Mungkin yang kamu keluarkan dua kepala sakitnya jadi dua kali lipat. Nikmati saja proses menjadi ibu.”


“Tahu ‘kan kamu rasanya sakit?” Adira menoleh pada Winda, “begitu mama ngelahir kamu. Jangan durhaka sama orang tua!”


“Hm, jangan durhaka. Dengar tuh!” celetuk Dimas yang berdiri di samping brankar.

__ADS_1


Adira mencebikkan bibirnya.


•••


__ADS_2