
“Kita mau duduk di mana? Rame benget.” Violet memperhatikan sekeliling kantin.
Mata Adira juga ikut menyapu kantin. Benar-benar ramai, tapi wajar karena saat ini jam istirahat.
“Udahlah, kita lesehan aja yok!” ajak Yara sedikit tertawa.
“Nggak! Udah kayak gembel aja,” ucap Violet menolak keras.
Adira tersenyum. Kemudian melihat ke kedua teman-temannya.
“Kalian tenang aja. Gue udah dapat tempat. Ikutin gue!” Adira melangkah lebih dulu.
“Dimana?” tanya Yara.
Violet yang mengikuti saja tiba-tiba mengerutkan dahi dan menautkan alis melihat langkah Dira mendekati Abrisam yang duduk sendirian.
“Kok sama dia sih?” tanya Vio seakan tidak terima.
“Terima aja cuma itu yang kosong,” jawab Yara menatap ke depan.
Dengan terpaksa Violet menurut dari pada makan lesehan di lantai. Nanti dikatain gembel sama murid satu kantin.
“Malamun aja.” Tegur Dira pada Sam yang sedang memutar-mutar botol minumnya sambil menopang dagu.
Sam mendongak dan memperhatikan gadis itu sedang bersiap akan duduk di sebelahnya.
“Gue sama teman-teman boleh ‘kan duduk di sini?” tanya Adira menoleh ke sampingnya.
Sam tersenyum tipis dan mengangguk. Yara dan Violet sudah mulai menyantap makanan mereka sedangkan Dira masih memperhatikan cowok di sebelahnya. Menurutnya, Sam agak berbeda hari ini. Lebih banyak diam.
“Lo kenapa?”
Sam menggelengkan kepala, lalu membuka tutup botol. Kemudian mendeguk air yang tersisa di dalamnya.
“Pasti ada masalah ya? Cerita aja.” Adira mengalihkan padangannya pada soto ayam yang ada di depannya. Ia mengaduk makanan itu dan menyantapnya.
“Misal, kalau gue dijodohin gimana?”
Pertanyaan Sam membuat ketiga gadis yang satu meja dengannya itu terbatuk-batuk.
“Kalian kenapa? Kompak bener batuknya.” Sam menatap mereka bingung.
Adira segera menyeruput es tehnya. Begitupun dengan yang lain.
“Lo dijodohin? Gimana sama Dira?” pertanyaan Yara membuat Sam menoleh ke Dira. Gadis itu juga menatapnya.
“Gue kaget, ada ya yang mau dijodohin sama lo?” sambar Violet, “siapa sih cewek yang apes itu?”
“Vio!” Dira melihat tidak suka pada Violet.
“Gue serius guys.” Sam memajukan kepalanya. Yara dan Dira mendekat. Sedangkan Vio hanya melirik-lirik saja, “Papi mau jodohin gue sama Kanaya.”
“Hah, Naya?” Dira kembali memundurkan tubuhnya.
“Stttt..” Sam meletakkan satu telunjukknya di depan bibir, “jangan keras-keras.”
“Terus lo bakal terima itu Sam?” Abrisam menoleh pada Yara dan menggeleng.
“Nggak.” Ia menatap Adira sekarang. Tangannya menyentuh pipi gadis yang membeku di tempatnya ini. Sam begitu dalam memandanginya hingga Violet kesal melihat itu, “gue tolak perjodohan itu demi Adira.”
“Lo benar sayang sama gue, Sam?” tanya Dira dengan suara pelan.
__ADS_1
Sam kembali menarik tangannya, “ya iyalah, selama ini kita pacaran gue sayang sama lo.”
Hati Dira terenyuh. Adira nggak tahu ia juga suka apa masih komitmen sama rencananya selama ini.
“Lo tenang aja gue akan batalin perjodohan itu. Gue cuma mau nikah sama lo.”
“Uhh, so sweeet!” seru Yara menempelkan kedua tangannya dan meletakkan di bawah pipi sambil memandangi kedua orang itu dan tersenyum-senyum.
Adira tertawa melihat respon temannya itu.
“Lebay lo!” bentak Violet dengan wajah sewotnya.
“Sirik aja lo,” balas Yara kembali makan.
“Makasih ya Sam,” ujar Dira beralih menatap cowok di sebelahnya lagi.
“Buat apa?” Sam mengerutkan dahinya.
“Untuk rasa sayang lo ke gue.”
“Nggak perlu terima kasih.”
“Gue merasa beruntung aja. Nggak nyangka seorang Sam bisa sayang sama Adira yang suka marah-marah sama dia.” Adira cekikikan membuat Abrisam menggarut kepalanya yang tidak gatal. Sam jadi malu.
Adira kembali mengabiskan makanannya dengan Sam yang tidak berhenti memandanginya. Sesekali Dira menoleh dan tersenyum untuk menutupi kecangungannya.
“Oh iya, gue lupa nanya. Waktu itu lo kenapa? Masalah kuliah keluar negeri itu?”
Adira menegakkan tubuhnya, “gue nggak bisa kuliah di sana. Sudahlah, gue akan lupain semua mimpi itu.”
“Nggak boleh! Lo nggak boleh lupain mimpi lo. Lo harus kejar! Biaya kita bisa cari beasiswa.”
Sam menatap lurus ke depan, “gue kan nggak sepintar lo.”
“Lo itu juga bisa kejar itu semua, tapi lo berhenti karena satu orang tidak menyetujuinya.” Adira menatap Sam, “gue masih bisa kuliah tata boga di sini.” Dira tersenyum.
Sam melihat ke Dira, “kita nggak perlu berjauhan. Masih bisa sering ketemu.” Lanjut Dira.
“Gue cuma mau lo menggapai cita-cita itu, Dir.”
“Udah deh, mama bilang dia nggak bisa jauh dari gue. Emang lo bisa jauh dari gue?” goda Dira menunjuk Sam dengan garpu yang ia pegang membuat Violet bergidik melihatnya.
Sam mengulum bibir dan tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya pelan. Jawabannya itu membuat Adira tertawa.
Mobil putih keluaran Jerman itu menepi di sebuah kafe. Sam segera melepas sabuk pengamannya.
“katanya mau nongkrong di Kafe yang ada di mall? Kok malah ke kafe ini?” tanya Manha melihat-lihat kafe yang ada di depannya.
“Nanti kita ke sana. Sekarang gue ada urusan. Kalian tunggu di sini aja.” Sam menatap Emran dan Manha bergantian.
“Urusan apa? Jangan lama-lama loh nanti ketampanan Manha luntur,” ujar Emran mendapat pukulan di lengannya oleh Manha.
“Ketampanan gue permanen ya,” ucapnya tidak terima.
“Udah jangan berantem! Nanti gue ceritain kalau urusannya sudah kelar. Gue pergi dulu.”
Abrisam membuka pintu mobilnya, lalu keluar dari sana. Kaki panjangnya melangkah memasuki kawasan kafe. Manha dan Emran memperhatikan dari dalam mobil.
__ADS_1
Baru masuk ke teras Sam sudah melihat Kanaya yang duduk di antara pengunjung lain. Ia segera mendekat ke gadis itu.
“Sorry, lo udah lama nunggu?” tanya Sam sambil menarik kursinya dan duduk.
“Baru lima menitan.” Kanaya tersenyum, “aku nggak nyangka kamu ngajak aku ketemuan Sam.”
“Udah nggak usah basa-basi langsung aja. Jadi, tujuan gue ngajak lo ke sini, gue mau bahas perjodohan yang diatur orang tua kita.”
Kanaya tertegun, “aku tahu kamu menolak ‘kan?”
“Ya jelas, gue ‘kan sudah punya Adira.”
“Aku juga udah nolak kok Sam, tapi orang tua kita tetap memaksa.”
“Terus lo mau aja gitu?” Sam menegakkan tubuhnya, “dengar ya Kanaya gue nggak mau dijodohin. Walaupun itu sama lo yang sudah gue kenal baik.”
Kanaya menggelengkan kepalanya pelan. Wajahnya terlihat sendu.
“Terus bagaimana? Ayah dan Om Tomi masih bahas ini. Mereka malah sudah mengatur tanggalnya. Katanya, libur sekolah kita tunangan.”
Sam menggebrak meja sampai Kanaya tersentak dan pengunjung lain menatap ke arah mereka.
“Papi nggak cerita apa-apa ke gue. Dia cuma bilang akan menjodohkan kita, sudah itu aja.” Dada cowok ini naik-turun mengatur emosinya, “Papi itu selalu memutuskan semuanya sendiri.”
“Sam ketemuan sama Naya?” ucap Manha dengan suara pelan.
“Ngomong apa sih mereka? Nggak kedengaran,” keluh Emran yang menempelkan telinga di kaca mobil.
Manha menoleh ke temannya itu, “percuma lo begitu. Nggak akan kedengaran.”
“Gue penasaran banget.”
“Kenapa tuh Sam kayaknya marah-marah?" tunjuk manha membuat Emran fokus melihat ke Sam.
Kanaya menghela napas, “aku selalu usaha buat gagalin ini. Aku tahu sebagai orang yang sudah melukai hatimu. Aku nggak pantas untuk minta cintamu lagi. Aku juga nggak mau ini terjadi. Maafin aku, Sam.”
Abrisam menatap Kanaya tajam. Ia masih menutup mulutnya rapat-rapat.
“Sudah, gue udah luapain itu. Bagaimanapun lo tetap sahabat lama gue.” Tiba-tiba Sam melunak, “dulu kita masih sama-sama anak kecil yang nggak terlalu mengerti cinta.”
Kanaya tersenyum lebar. Baginya mendapat maaf Sam adalah hal yang luar biasa. Akhirnya Sam bisa melupakan itu. Ia tidak menanggung rasa bersalah itu lagi.
“Makasih ya, Sam. Aku nggak nyangka kamu mau maafin aku.”
Sam mengangguk, “ tapi gue minta tolong sama lo. Tetap usaha mengagalkan keinginan orang tua kita. Gue maunya nikah sama Adira.”
“Ternyata segitu sayangnya kamu sama Adira sekarang Sam.” Kanaya berbicara dalam hatinya.
“Nay, lo dengar nggak? Malah melamun.”
Kanaya tersadar saat sahabat lamanya ini menjentikkan jari di depan wajahnya.
“Baiklah, kalau kamu maunya itu. Aku akan terus berbicara pada Ayah. Biar Ayah yang bilang ke Om Tomi.”
“Semoga dengan cara ini rencana itu dibatalkan.” Sam melipat kedua tangannya yang ada si atas meja.
“Gue juga akan bilang ini lagi ke bokap,” lanjut Abrisam.
Naya terdiam menatap cowok yang duduk di depannya ini. Sebenarnya ada rasa senang di hati Naya saat mendengar mereka dijodohkan. Namun, ia sadar cinta Abrisam sudah tidak ada untuknya. Ia sendiri yang membuat cinta itu pergi dan tergantikan dengan orang lain.
__ADS_1