
...🍀🍀🍀...
"Apa ini? Aku bahkan belum melakukan apa-apa tapi dia sudah mengompol, lihatlah!" seketika tawa Javier pecah manakala dia melihat cairan berwarna oranye mengalir dari tubuh Frans.
Frans sangat takut dengan darah, saat dia tahu bahwa lehernya berdarah dia amat ketakutan dan tubuhnya gemetar hebat. Tak lama kemudian dia pun jatuh pingsan.
Brugh!!
"Hey Javier, kau berbuat apa padanya?" tanya Asteorope tak paham mengapa pria bernama Frans itu tiba-tiba pingsan. Padahal ia belum melakukan apapun.
"Aku tidak melakukan apa-apa, bahkan aku belum sempat mengasah belatiku ini!" Javier mengernyitkan keningnya melihat Frans jatuh pingsan.
"Ini sangat tidak benar, kecoa mati sebelum diinjak." cetus Asteorope merasa sangat kecewa ketika ia belum menyerang Frans.
"Aku pikir dia tidak mati!" Javier menendang-nendang tubuh yang terkapar di atas aspal itu. Javier merasakan bahwa pria itu masih bernafas.
"Astaga... apa yang kalian lakukan? Cepat bawa dia ke dalam rumah!" titah Ariana kepada kedua pria yang berasal dari dunia lain itu. Dia takut kalau ada petugas keamanan yang datang kemari dan melihat Frans terluka juga tak sadarkan diri. Mereka pasti akan berpikir macam-macam. Apalagi kalau sampai wartawan, bisa bahaya untuk public figur seperti dirinya.
"Ariana, kenapa kita harus membawa sampah ke dalam rumah?" Asteorope begitu ketus dan menetap sinis kepada Frans.
"Benar, kali ini aku setuju dengan Albarca... sampah itu harusnya dibuang ke tempat sampah bukan dibawa ke dalam rumah." ucap Javier setuju dengan Asteorope.
"Kalian... cepat turuti saja apa perkataanku dan bawa dia masuk!" tegas Ariana dengan wajah paniknya.
"Tidak mau!" kata Asteorope dan Javier bersamaan, dia menolak mematuhi ucapan Ariana.
Ariana langsung melayangkan tatapan tajam dan mata melebar menatap kedua pria itu. Ia berkacak pinggang dan membuat kedua pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Bawa dia masuk, kalau tidak--aku akan membuat kalian masuk ke kantor polisi lagi. Mau?"
Dengan kompak, Asteorope dan Javier menggelengkan kepalanya dengan terpaksa. Mengingat kantor polisi, Asteorope, Javier tidak mau kembali ke sana lagi.
Mereka pun membawa Frans masuk dengan cara menyeretnya bukan digendong. Javier menyeret kaki kanan Frans dan Asteorope menyeret kaki kiri Frans. Ariana, Theo, Doris dan Peter langsung melongo begitu melihatnya.
__ADS_1
"Sayang, kau sedang hamil, kau tidak boleh melihat adegan seperti ini! Tidak baik untuk bayi yang ada di dalam kandunganmu, ingat itu!" kata Peter sambil menutup mata istrinya dengan satu tangan.
"Iya suamiku." Doris patuh dan menutup matanya.
Warning! Adegan ini tidak untuk dilihat dan tidak cocok untuk anak dibawah umur.Ya seperti itulah sikap Peter pada Doris.
"Oh my Gosh... apa yang kalian lakukan? Aku meminta kalian membawanya ke dalam bukan menyeretnya seperti karung beras begitu!" tegur Ariana tak habis pikir kelakuan kedua pria itu yang semakin konyol saja.
"Memang begini cara menyeret sampah, sudahlah kau diam saja dan jangan protes!"
"Benar, yang penting sampah Ini dibawa ke dalam rumah... tidak peduli caranya seperti apa." kata Asteorope sambil menatap pria yang tidak sadarkan diri itu dengan penuh dendam.
"Baiklah...tapi berhati-hatilah jangan sampai kalian melukainya!" kata Ariana sambil menghela nafas.
Kata-kata Ariana nampaknya disalah artikan oleh Javier dan Asteorope. Mereka menganggap bahwa Ariana masih perhatian pada mantan pacarnya. Padahal sebenarnya bukan seperti itu, Ariana mengatakannya berdasarkan rasa kemanusiaan tidak lebih dari itu.
Mereka tak tahu saja prinsip Ariana, gadis itu tidak akan pernah jatuh ke lubang yang sama. Dan ketika dia akan berenang, dia akan mengukur kedalamannya terlebih dahulu sebelum menceburkan diri. Artinya dia bukanlah wanita bodoh yang akan kembali dengan pria sampah seperti Frans.
Kini Frans sudah berbaring di atas sofa dalam keadaan tak sadarkan diri, disertai bau pesing di tubuhnya. Bahkan saat pria itu tak sadarkan diri, Javier dan Asteorope masih jahil padanya. Kedua pria itu menjelek-jelekkan Frans pada Ariana.
"Ya, kau benar...dan masa ada pria yang mengaku dirinya pria tapi takut dengan darah." cetus Asteorope dengan nada cemburu.
Setelah mendengar penjelasan dari Ariana, jika Frans memiliki phobia darah. Asteorope dan Javier semakin menjelekkan pria itu.
Mereka cemburu melihat Ariana merawat Frans. Hingga kecemburuan Asteorope sudah melebihi kadar batasnya. "Ariana, ikut aku!"
"Sebentar, aku sedang membalut lukanya." Ariana sedang memasangkan perban pada leher Frans.
"Ariana!"
"As.... apa kau tidak lihat kalau aku---" belum sempat Ariana menyelesaikan kata-katanya, Asteorope sudah menarik pergi gadis itu menjauh dari sana dan membawanya ke kamar untuk bicara.
__ADS_1
Brak!
Pintu kamar itu dikunci. "As.... sebenarnya kau kenapa?"
"Apa kau masih cinta padanya?" tanyanya langsung tanpa basa-basi.
"Apa kau pikir begitu? Kau pikir aku mencintainya?" Ariana malah bertanya balik ketika Asteorope beratnya kepadanya.
"Kau kebiasaan, selalu menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Menyebalkan!"
Ariana tersenyum lalu membelai lembut kedua pipi Asteorope, guna meredakan amarahnya. "Apa kau melihatku masih mencintainya?" tanya Ariana.
"Eungh--itu..."
Cup!
Ariana mengecup pipi Asteorope dengan lembut. "Seperti yang kau bilang, dia hanya sampah...aku pun berpikir begitu. Jangan salah paham hanya karena aku menolongnya. Hanya ada rasa kemanusiaan saja! Percayalah padaku..."
"Tapi kau begitu perhatian padanya dan aku tak suka!" Asteorope merajuk.
"Kau cemburu?"
Asteorope langsung menatap Ariana dengan tatapan yang sulit diartikan. "Si-siapa juga yang cemburu?" sangkalnya.
"As...cemburu bukanlah dosa. Akui saja, kalau tidak mengaku...maka aku akan perhatian lagi pada Frans."
"Jangan!" pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya, matanya menatap tajam pada Ariana.
"Ya, kalau begitu kau akui saja kalau kau--"
"Kyaaakk!! Tidak! Jauhan itu dariku, dasar manusia bar-bar!"
__ADS_1
Teriakan Frans membuat Ariana dan Asteorope yang berada didalam kamar, langsung pergi keluar dari kamarnya.
...****...