I'Ll Became A Villain'S Daughter

I'Ll Became A Villain'S Daughter
Bab 116. Keras kepala Javier


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Ariana tercengang mendengar jawaban dari kekasihnya bahwa kelak dia ingin mempunyai 5 orang anak.


"Kenapa kau ingin memiliki 5 orang anak? Kenapa tidak dua saja?" tanya Ariana penasaran dengan perkara 5 anak itu.


"Hem... karena aku tidak mau di hari tua kita nanti kita kesepian. Istana terlalu megah untuk kita tinggali hanya berdua saja."


"As, kita tidak tinggal berdua di dalam istana. Bukankah ada para pengawal dan pelayan juga? Kita tidak hanya tinggal berdua!"


"Jadi kau tidak mau mempunyai 5 orang anak?" tanyanya balik kepada Asteorope.


"Aku bukannya tidak mau, hanya saja... dua anak lebih baik." jawab Ariana.


"Lalu bagaimana bila Tuhan memberikan kita 10 orang anak?" Asteorope mulai berandai-andai. Betapa ramainya istana nanti, bila dia memiliki 10 orang anak.


"Apa kau bilang? As, jangan pernah kau bercanda seperti itu!" tukas Ariana seraya menepuk lengan pria itu dengan gemas.


"Aku tidak bercanda, aku serius... sangat serius."


"Haaahh...baiklah, kita sepakat untuk memiliki 5 orang anak saja? Okay?" Ariana mendesah, namun pada akhirnya dia menyetujui usulan dari kekasihnya. Untuk mempunyai 5 orang anak.


Jujur, dia juga kesepian menjadi anak tunggal dan dia ingin memiliki banyak anak-anak untuk mengisi hari-harinya yang sunyi.


"Baik, lima orang anak atau tidak sama sekali!" seru Asteorope dengan senyuman tipis di bibirnya.


"Kau bercanda kan?"


"Aku serius, 5 orang anak kan?" tanyanya lagi.


"Hem...baik--hmphh--"


Untuk kesekian kalinya, Asteorope membenamkan bibirnya pada bibir cantik Ariana sekilas.


"As..."


"Aku mencintaimu, Jachan."


"Kau..."


Ketika mereka hendak menyatukan kembali bibir mereka, tiba-tiba saja seseorang datang dan membuat suasana menjadi kacau.

__ADS_1


"Yang Mulia! Nona Ariana!" teriak Peter yang membuat Asteorope dan Ariana berpisah. Nafas pria itu terengah-engah dan wajahnya terlihat panik.


"Peter, apa kau tidak mengerti situasi?!" hardik pria itu marah, karena suasana romantisnya diganggu oleh Peter.


"As, kau jangan marah dulu... aku yakin tuan kita memiliki alasan kenapa dia mengganggu kita. Apa kau tidak melihat raut wajahnya saat ini?" atensi Ariana tertuju pada Peter yang wajahnya panik itu. Semburat merah terlihat jelas pada kulitnya yang bersih itu.


"Peter, awas aja kalau kau tidak punya alasan yang jelas kenapa kau mengganggu kami! Akan aku patahkan lehermu sekarang juga!" lugas Asteorope dengan sorot mata yang tajam dan suara bariton beratnya.


"Yang Mulia, nona...tolong saya. Doris... dia menghilang!"


Sontak saja Ariana dan Asteorope, saling melirik satu sama lain dengan bertanya-tanya. Apa maksudnya Doris hilang?


Ariana bertanya lebih dulu kepada Peter, apa yang terjadi sebenarnya. Peter menjelaskan semua yang terjadi dan Doris belum lama. Asteorope dan Ariana langsung panik mendengarnya.


Bahkan gadis itu syok, ia jadi berpikir yang bukan-bukan. Bagaimana bila nanti Asteorope dan dia berpisah? Bagaimana bila kisah cintanya akan sama seperti Cain dan Anika? Tidak, ini tidak boleh terjadi. Ariana takut dan tidak bisa membayangkan bila hal itu terjadi.


"Ariana, kau tidak apa-apa?" Asteorope memegang kedua tangan Ariana, begitu menyadari bahwa Ariana lemas.


"A-aku baik-baik saja. Le-lebih baik kita cari Doris, mung-mungkin Doris menghilang dan kembali ke rumah...a-tau kita pergi ke tempat pertama kalian datang kemari." saran Ariana terbata-bata.


Ariana kenapa ya? Ah...dia pasti sedih karena Doris menghilang.


Sayangnya, Asteorope belum tau bahwa yang membuat Ariana sedih bukanlah itu saja dan masalah tidak sesederhana itu.


"Kau tenanglah, aku dan Ariana akan membantumu mencari Doris." kata Asteorope seraya menepuk pundak Peter. Berharap pria itu sedikit tenang.


"Ya, Yang Mulia." sahut Peter sendu.


"Tapi, kemana Javier dan Theo?"


"Apa jangan-jangan mereka menghilang juga?" pikir Ariana yang membuat Peter dan Asteorope ikut berpikir. Ketidakhadiran dia orang pria itu membuat mereka cemas. Apa mungkin mereka menghilang sama seperti Doris?


****


Club malam.


Setelah insiden penusukan yang dialami oleh Javier, Sheila merasa sangat bersalah dan cemas melihat kondisi Javier yang terluka. Ia memaksa pria itu untuk pergi ke rumah sakit atau memeriksakan dirinya ke dokter. Kalau perlu dia akan membawakan dokter bedah terbaik untuk merawat Javier.


Sheila sangat protektif dan posesif kepada pria yang bukan siapa-siapa itu. Bahkan pria itu baru dua kali bertemu dengannya. Namun Javier mampu membuat Putri manja ini berubah, menjadi peduli pada orang lain.


"Aku sudah bilang, kalau aku tidak mau dirawat olehmu! Atau pergi kemanapun! Luka ini, hanyalah luka kecil!" untuk kesekian kalinya Javier menepis tangan gadis itu. Ia sangat tidak suka bila ada gadis yang menempel padanya, kecuali Ariana.

__ADS_1


"Nona, biarkan kami pergi...saya akan membawa tuan saya pergi dari sini. Dia tidak bisa disentuh wanita lain kecuali nona Ariana." Theo bermaksud untuk membantu tuannya yang merasa tidak nyaman.


Degg!


Jantung Sheila berdegup kencang saat mendengar nama wanita lain disebutkan oleh Theo. Ariana, nama itu membuat Sheila iri. Tapi Sheila coba berpikiran positif.


"Apa Ariana adalah kekasihmu? Atau dia saudaramu?" tanya Sheila sambil memegang tangan Javier.


Javier seperti biasa, dingin dan tidak menanggapi Sheila.


"JAWAB AKU! SIAPA ARIANA?!" Sheila berteriak menanyakan siapa Ariana. Ya, dia memang selalu begitu dan keras kepala. Kepada siapapun juga.


"Beraninya kau berteriak padaku!" Javier akhirnya bicara, tapi dia emosi. Theo langsung memegang tangan Javier seraya menenangkannya, dia takut Javier akan membunuh orang.


Sheila langsung terdiam mendapat tatapan mata seram dari Javier. Ia sadar bahwa pria dingin itu sulit di luluhkan. Tadinya Javier memang sedikit kagum pada Sheila karena dia seperti Ariana yang barbar, tapi ia merasa bahwa Sheila keras kepala dan mengganggu. Kekagumannya pun hilang seketika.


"Tuan...tenanglah..."


"Akkhhh..." Javier merasakan punggungnya sakit dan masih berdarah.


"Belva! Cepat panggil dokter kemari," ujar Sheila pada salah satu bodyguardnya.


"Baik nona." jawab Belva, lalu membuka ponselnya yang ada di saku celana jeansnya.


"Dan kau, bawa tuanmu ke dalam ruangan VVIP. Kita akan mengobati lukanya." titah Sheila pada Theo yang sedang membopong Javier. Wajah Javier semakin pucat.


"Siapa kau berani memerintahku dan bawahanku?!" hardik Javier emosi.


"Kau jangan kerasa kepala! Saat ini kau terluka!" sergah Sheila cemas.


"DI-AM!!" teriak Javier sambil menahan sakit.


"Tuan, kita ke ruangan yang di sediakan oleh nona ini."


"Tidak! Aku tidak mau."


"Saya akan memanggil nona Ariana, tapi saya mohon tuan...tolong jangan keras kepala."


Bujukan Theo berhasil membuat Javier luluh, akhirnya ia mau diajak ke ruangan VVIP di dalam club' malam itu. Sheila sebenarnya kesal karena nama Ariana ini, berhasil menjadi pawang untuk Javier.


Setelah membaringkan Javier di sofa ruangan VVIP, Theo segera meminta pada Sheila untuk meminjam ponselnya dan menghubungi Ariana. Untungnya Theo mengingat nomor ponsel Ariana, sebagai nomor ponsel darurat. Tapi sayangnya Theo tidak membawa ponsel yang diberikan oleh Ariana karena ponsel itu dibawa oleh Peter.

__ADS_1


...****...


__ADS_2