I'Ll Became A Villain'S Daughter

I'Ll Became A Villain'S Daughter
Bab 87. Terima kasih Javier


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Javier punya pekerjaan sendiri, kali ini dia


memiliki misi untuk membunuh wanita pezina, peselingkuh. Javier begitu senang dengan tema misi ini. Namun kali ini dia tidak menyiksa dulu Korbannya dan langsung membunuh. Itu karena dia harus segera kembali dan bertemu Roselia.


"Tuan, apa urusan anda sudah selesai?" tanya salah seorang anak buah kepercayaan Javier selain Darius, yaitu Theo. Theo heran karena urusan Javier akhir-akhir berlangsung cepat, biasanya dia akan menyiksa dulu korbannya sebelum membunuh. Sekarang Javier main tebas saja dan selalu buru-buru.


"Sudah, kau pergi singkirkan dia dengan rapi! Aku mau pulang." Javier mengusap darah di wajahnya, darah wanita yang baru saja dia bunuh. Wajahnya dingin dan datar seperti biasa.


Semenjak tuan Javier menahan wanita itu, tuan Javier banyak berubah. Dia bahkan tau bagaimana caranya mengatakan pulang. Mungkin sekarang dia sudah punya rumah.


"Baik Tuan...tapi apa saya boleh mengatakan sesuatu."


Javier menoleh ke arah Theo yang biasanya cenderung diam, kini pria itu malah mau mengatakan sesuatu kepadanya. "Ada apa?"


"Tuan, saya tau anda sangat menyukai nona Roselia. Namun bukan begitu caranya memperlakukan wanita yang anda cintai."


"Apa?" Javier mengernyitkan dahinya.


"Maafkan saya tuan, saya hanya ingin memberikan sedikit saran untuk tuan. Bukankah tuan selama ini kesulitan untuk mendapatkan hati nona?"


Javier masih terus memperhatikan wajah Theo dengan dingin. Namun Theo yakin bahwa Javier mendengarnya. "Tuan, wanita itu harus diperlakukan dengan lembut dan penuh perhatian."


"Aku sudah melakukannya, tapi kau tau kan dia sangat keras kepala! Aku bahkan memberikan semua yang dia inginkan, tapi dia selalu marah-marah kepadaku." sela Javier mengingat perlakuan Roselia selama ini padanya.


"Tuan, mungkin nona marah-marah karena nona belum mengerti maksud hati tuan. Apa--mungkin tuan belum mengatakan cinta pada nona?"


Raut wajah Javier terlihat bingung, dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Eungh--tapi aku selalu menunjukkannya. Memangnya harus dikatakan? Bukankah tanpa dikatakan pun dia sudah tau?"


Theo tersenyum tipis. "Tuan...tuan harus tetap menyatakan cinta pada nona agar nona tau, karena menurut saya sikap tuan kurang meyakinkan. Dan cobalah untuk meminta maaf dengan sopan pada nona, saya yakin kalau tuan bersikap baik...nona Roselia pasti akan bersikap baik juga pada Tuan." jelas Theo memberikan saran.


"La-lalu apa yang harus aku lakukan? Meminta maaf dengan cara apa? Apa aku harus membelikan sesuatu untuknya?" tanya Javier polos. Ya, dalam hal asmara Javier nol besar. Dia kan tak pernah berhubungan dengan wanita.


"Hem...coba tuan belikan makanan kesukaan nona atau bunga, mungkin nona suka itu?" tawar Theo memberikan saran.


"Hah? Apa?" Javier memijit pelipisnya, ia terlihat tak fokus. Apalagi membeli bunga? Seumur hidup dia tak pernah melakukan itu pada siapapun.


"Iya tuan, cobalah!" Theo memberikan dukungan pada Javier untuk membelikan sesuatu.


Javier menghela nafas, dia terlihat berfikir. "Baiklah, kita beli bunga atau apalah itu! Antarkan aku ke tokonya."


"Siap tuan!" sahut Theo sambil tersenyum.


Javier dan Theo pun pergi ke toko bunga, lalu membelikan juga makanan manis untuk Roselia. Baru kali ini Javier membelikan semua ini untuk seseorang, pada wanita.


"Awas saja kalau kau tidak menyukainya! Aku akan membunuhmu, huh!" gerutu Javier sambil melihat buket bunga rose merah dan juga sekotak cemilan coklat ditangannya. "Tapi...dia pasti tidak akan menolak coklat ini...dia kan suka coklat." gumamnya yakin.


Theo tersenyum melihat raut wajah Javier yang menyunggingkan senyuman kecil dibibirnya. "Aku sangat bahagia tuan, bila tuan benar-benar ingin menjadi manusia normal."


Kemudian Javier dan Theo bergegas kembali ke penjara sangkar emas, tempat dimana Roselia berada.


...🍀🍀🍀...


Di penjara sangkar emas Roselia.


Darius membawa Roselia keluar dari ruang bawah tanah itu, dia berhasil pergi ke dunia luar bahkan melihat sinar matahari.


Roselia bahagia karena dia bisa melarikan diri dari Javier dan orang-orangnya berkat bantuan Darius. Tapi begitu dia sampai di luar, terlihat serigala liar yang muncul dari hutan dan mengeram. Roselia tau bahwa kawanan serigala itu mungkin adalah serigala serigala peliharaan Javier yang dia latih untuk menangkap musuh yang mencoba kabur dari sana.


"Silahkan puaskan mereka dengan tubuhmu nona! Mereka tidak makan selama tiga hari." Darius menutup pintu ruang bawah tanah itu, dia tersenyum menyeringai melihat Roselia panik ketika melihat serigala serigala lapar itu.


"Kau! Kau bukan orang baik, kau menjebakku!" tukas Roselia marah.


"Aku memang bukan orang baik karena kau telah merebut perhatian Tuan Javier, maka rasakan lah neraka dariku!" seru Darius, lalu dia meninggalkan Roselia disana sendirian bersama para serigala yang lapar.


Mata merah serigala itu menatap Roselia dengan tajam. "Sialan kau Darius! Kenapa aku begitu bodoh percaya padanya? Jadi apa yang aku baca di novel itu salah, bahwa Darius tidak benar di paksa oleh Javier, namun dia memang mencintai Javier. Aih....lalu apa pentingnya itu sekarang? Aku harus pikirkan cara untuk--"


Serigala lapar itu mulai mendekati Roselia dengan mata tajam dan lidah menjulur keluar. "Anjing baik...tolong jangan sakiti aku. Aku kurus, aku tidak enak! Dagingku tak akan membuat kalian kenyang. Percayalah padaku...bahwa--"


Kyaakk!!!


Roselia berteriak manakala salah satu serigala itu telah mendekat ke arahnya. "AS! AYAH! Tolong aku!!"


Salah satu serigala itu membuka mulutnya lebar-lebar, mata merahnya begitu tajam dan membuat Roselia bergidik ngeri, ia ketakutan bahkan sampai dia terduduk diatas tanah karena kakinya mendadak lemas.


"Ahhh! TIDAK!"


Begitu serigala itu lompat dan hendak menerkam Roselia, seseorang menghadang serigala itu dan mengigit tangannya.


Eh? Kenapa aku tidak merasakan sakit?

__ADS_1


Roselia membuka matanya dan melihat seseorang didepannya sedang melawan serigala serigala itu dan melindunginya. Terlihat juga kelopak bunga mawar merah berserakan di tanah.


"Ja-Javier...kau...."


Javier menyelamatkanku?


Javier tidak bicara, dia langsung menggunakan sihirnya untuk menghabisi 4 serigala itu. Menebas leher mereka dengan pedang hingga terlepas dari tubuhnya. Roselia meringis melihat tangan Javier yang terluka karena kawanan serigala itu. Bahkan tangannya sampai bolong.


"Javier...maafkan aku, maaf..." tanpa sadar air mata Roselia luruh melihat luka ditangan Javier karena menyelamatkannya. Dia jadi merasa bersalah.


"Apa kau berencana kabur? Kau sudah gila, bar-bar!" Javier menatap tajam pada gadis itu.


"Ta-tanganmu...i-itu..." Roselia gagap.


"Apa kau terluka?" tanya Javier dengan suara yang penuh kecemasan, tatapannya tajam dan menelisik Roselia.


"Serigalanya... serigalanya...hiks..."


Serigala serigala itu adalah teman Javier dari kecil, mengapa dia membunuh mereka? Demi aku kah?


Javier menatap mayat 4 serigala itu, lalu dia meminta Theo untuk mengubur mayat mayat serigalanya. "Theo! Kubur mereka dengan layak!"


"Baik tuan!" sahut Theo patuh.


Theo dan dua pengawal Javier yang lain membawa kawanan serigala yang mati tanpa kepala itu untuk dikuburkan.


"Ja-Javier maafkan aku...aku..." mata Roselia menatap pada tangan Javier yang mengeluarkan darah dan terluka cukup dalam.


"Aku bertanya dan kau belum jawab! Apa kau baik-baik saja?!" tanya Javier sambil memegang kedua tangan Roselia, ditatapnya wanita itu dengan cemas.


"APA KAU TERLUKA?" tanya Javier dengan suara meninggi sebab Roselia tak kunjung menjawab pertanyaannya.


Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya, dengan mata berair dia menatap luka ditangan Javier. Dia juga melihat ada kesedihan di mata Javier saat membunuh 4 serigala peliharaannya itu.


Javier menarik tangan gadis itu, ia membawanya kembali ke dalam istana penjara emas Roselia. Gadis itu terlihat lemas dan masih menangis.


"Kenapa kau menangis? Bukankah kau harusnya senang melihatku terluka? Ah ya...tenang saja, aku tetap tidak akan melepaskanmu meski kau membunuhku sekalipun!"


"Meski.. meski...begitu, meski aku ingin melarikan diri dari sini...tapi aku tidak mau kau mati...sungguh.." gadis itu terus menggelengkan kepalanya sambil menangis.


"Hentikan tangisanmu itu, atau aku akan menghukummu!" ancam Javier dengan mata berembun, hatinya luluh melihat gadis itu menangis.


Beruntung kau baik-baik saja, bila terjadi sesuatu padamu...aku mungkin akan bunuh diri!


Theo bergegas pergi dari sana untuk memanggil Risha. Beberapa menit kemudian, Theo dan Risha tiba disana, mereka melihat suasana tidak baik diantara keduanya.


Tapi mereka merasakan keduanya saling mencemaskan satu sama lain. Javier juga menghela nafas sedari tadi, melihat Roselia masih menangis.


"Kau periksa dia! Dari ujung kepala sampai ujung kakinya, apabila ada luka seujung kukunya pun...kau harus katakan padaku dan obati lukanya." Titah Javier pada Risha, seraya menoleh pada Roselia.


"Ya Tuan,"


Entah apa yang dipikirkan oleh Javier, tangannya masih berdarah-darah namun dia berjalan pergi dari sana.


Roselia bukan wanita tidak tahu diri ataupun tidak tau berterimakasih, walaupun dia tak suka di kurung oleh Javier. Tapi Javier telah menyelamatkan nyawanya, bayangkan bila pria itu terlambat sedikit saja. Mungkin tubuhnya sudah tercabik-cabik menjadi makanan empat serigala lapar itu.


"Kau mau kemana?"


"Bukan urusanmu,"


"Tapi tanganmu terluka, kau tidak boleh kemana-mana! Kau harus tetap disini!" kata Roselia sambil memegang tangan Javier. Ini pertama kalinya dia menahan tangan Javier dan membuat hati Javier sukses berdebar secara normal.


Normal dalam artian, berdebar pada seorang wanita. Dan Javier semakin yakin bahwa dia mencintai Roselia.


"Aku baik-baik saja,"


"Tidak! Kau tidak baik-baik saja, kau harus diobati. Nyonya Risha, tolong obati lukanya!" titah Roselia pada Risha memohon pertolongan.


"Hey! Kau--" Javier melotot, namun Roselia menarik tangannya dan duduk di samping gadis itu.


Risha hendak menyentuh tangan Javier, namun Javier melotot padanya dan membuat Risha mundur.


"Nyonya Risha hanya mengobatimu! Kau diamlah!" Roselia menahan tangan Javier, hingga pria itu tak bisa kemana-mana.


"Aku tidak mau!" tolak Javier.


"Maaf nona, tapi tuan Javier tidak biasa disentuh oleh wanita. Lebih baik nona saja yang mengobatinya." bisik Theo seraya mendekat pada Roselia.


"Tapi saya juga kan wanita, tuan." sahut Roselia dengan wajah polosnya.


"Anda berbeda, di mata tuan Javier terutama di hatinya. Jadi saya mohon nona, jika anda berniat membalas rasa terimakasih...anda harus mengobati tuan." Theo tegas.

__ADS_1


Tuan, hanya ini yang bisa saya lakukan untuk anda. Saya berharap kalian bisa bersama-sama.


"Hey! Apa yang kau bisikan padanya?" tegur Javier seraya menatap Theo dan Roselia dengan tajam.


"Bukan apa-apa...nyonya Risha, bolehkah saya pinjam kotak perawatan itu?" tanya Roselia pada Risha.


"Oh...untuk apa nona?" tanya Risha bingung.


"Saya kan mengobati tuanmu!" seru Roselia.


"Tidak perlu, ini hanya luka kecil." seru Javier keras kepala tapi Roselia menolak mendengarkannya.


Theo pun memberikan kode pada Risha untuk memberikan kotak obatnya. Risha menurut dan memberikan kotak obatnya pada Roselia. "Ini nona."


"Terima kasih, kau boleh pergi nyonya Risha..."


Javier mendongak, dia terlihat kesal karena Roselia berani memerintah orangnya. "Dia pikir dia siapa?" gumam Javier pelan.


"Tuan Theo, kau juga bisa pergi! Biar aku yang mengurus pria keras kepala ini." kata Roselia sambil tersenyum, dengan mata yang sedikit merah karena habis menangis.


"Tunggu Theo!"


"Javier kau mau kemana?" Roselia begitu posesif sampai memegang tangannya.


"Aku mau pergi,"


"Kau tidak akan kemana-mana sampai tanganmu di obati, paham?" tegas Roselia pada pria itu.


"Baiklah aku tidak akan pergi, cerewet! Aku akan bicara dengan Theo sebentar." Javier menepis tangan Roselia, dia mendekat pada Theo dan berbisik pada pria itu. "Bawa Darius ke tempat penyiksaan dan tunggu kedatanganku disana!"


"Baik tuan," Theo mengangguk, lalu pergi dari sana bersama dengan Risha.


Kini Roselia dan Javier berada di kamar itu berdua saja. Tanpa banyak bicara, Roselia mengobati luka di tangan Javier. Meski tidak semahir tabib, tapi dia bisa melakukannya.


Miris hati gadis itu melihat luka Javier, pasti rasanya sakit. "Javier.... terima kasih."


"Untuk apa?"


"Karena kau sudah menyelematkan aku."


Hati Javier bahagia hanya mendengar kata terima kasih saja dari Roselia. Dia tersenyum tipis, tapi Roselia dapat melihat senyuman tulus di bibir si gay psikopat. "Ya sudah kau minum dulu," ucap Javier lembut.


"Minum?"


"Ya, kau baru saja hampir mati karena serigala itu dan kau belum minum apapun." ucap Javier lalu menyerahkan segelas minuman pada Roselia.


"Kau... ternyata kau baik juga, bagaimana kalau kau jadi kakakku saja? Kebetulan aku tidak punya kakak!" saran Roselia seraya tersenyum, lalu meneguk minuman itu.


Javier mengangkat kedua alisnya, dia tak senang dengan ucapan Roselia. "Ah...baiklah, kalau kau tak mau jadi kakak ku mungkin kita bisa jadi teman?"


"Beristirahatlah." kata Javier dingin tanpa menanggapi tawaran menjadi kakak atau berteman dari Roselia.


Pria itu melangkah dan wajahnya terlihat marah saat memikirkan Darius. Ya, dia bisa menebak Roselia pergi dari sana karena bantuan Darius.


"Tunggu, Javier!" Roselia beranjak dari ranjangnya lalu dia merasakan kakinya lemas. "Akhh...kenapa kakiku? Kenapa kakiku tidak bisa digerakan? Kakiku...Javier apa yang terjadi pada kakiku? Kenapa aku tidak bisa merasakannya?" Roselia panik sebab kakinya tak bisa bergerak, dia bahkan kembali duduk diatas ranjang.


"Tenang saja, kau bisa berjalan kembali dalam waktu 24 jam." seringai tampak di wajah tampan Javier. Ia menunjukkan senyum psikonya.


"A-apa yang sebenarnya kau lakukan pada kakiku?!"


"Aku mencampurkan obat yang bisa membuatmu lumpuh sementara."


Roselia terbelalak mendengarnya. "KAU!" dia menatap tajam pada pria itu dengan marah.


"Aku tidak mau kau kabur, mengertilah..."


"Kau sudah gila JAVIER!"


Demi agar Roselia tidak kabur, Javier membuat gadis itu lumpuh. Dan selama Roselia tak bisa berjalan, dia bisa mengurus Darius dan Roselia tidak bisa kabur. Memang Javier sudah tidak waras.


*****


Di dalam perjalanan ke gunung larangan, Asteorope mendapatkan surat dari burung pesannya. Surat dari Peter di Albarca.


Asteorope membaca surat itu, wajahnya terlihat tegang dan terkejut. Namun akhirnya seulas senyum terlihat dibibirnya. "Tuan Cain, kita tak perlu menemui Aragon!"


"Apa maksudnya Yang Mulia?"


"Aku rasa aku tau dimana Roselia berada." jawab Asteorope seraya tersenyum dengan mantap.


...****...

__ADS_1


Bentar lagi As sama Rose bakal ketemu 🤧🤧 tapi gimana sama Javier dan Roselia ya? Kayaknya benih bucin mulai tumbuh ..


__ADS_2