I'Ll Became A Villain'S Daughter

I'Ll Became A Villain'S Daughter
Bab 104. Siapa yang egois


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Javier dan Asteorope sama-sama panas, mereka ingin sekali menyingkirkan Thomas yang sengaja mendekati Ariana. Tidak disini dan tidak disana, begitu banyak pria yang mendekati Ariana.


Setiap kalinya Asteorope merasa resah, Javier belum usai sudah ada Thomas. Melihat Thomas ia jadi teringat dengan Michael, wajah dan rambut pirangnya mirip dengan putra mahkota Gamarcus itu.


"Ini tidak bisa dibiarkan!" Asteorope melangkah maju, namun Javier menahan tubuhnya. "Minggir Javier!"


"Percayalah...aku juga sama marahnya denganmu. Tapi aku tidak mau mengingkari janjiku padanya. Kau ingat apa katanya sebelum kita datang kemari?" Javier kembali mengingatkan Asteorope tentang janji mereka berdua pada Ariana sebelum datang kemari.


...Kalian berdua boleh ikut, tapi kalian tidak boleh membawa pedang, belati, atau benda tajam lainnya dan yang paling penting kalian tidak boleh membuat masalah. Jika ada masalah di tempat syuting, aku bisa menyelesaikannya sendiri tanpa kalian ikut campur. Paham? Berjanjilah!...


Asteorope pun terdiam setelah teringat dengan janjinya pada Ariana. Tapi dia juga kesal karena harus menahan diri melihat kekasihnya berdekatan dengan pria lain.


"Lalu aku harus bagaimana? Apa aku harus diam saja, saat ada seseorang yang mendekati wanitaku?" Asteorope mengigit bibir bagian bawahnya, ia gemas melihat Thomas masih memegang tangan Ariana meski gadis itu telah menampiknya. Apa maksudnya, coba?


"Jangan gegabah! Kita lihat dulu saja bagaimana si bar-bar menangani ini. Kalau pria itu sudah kelewat batas dan tidak bisa dia tangani olehnya sendiri....barulah kita turun tangan." Javier bijak.


"Oh...tumben kau sangat bijak, biasanya kau mudah berapi-api tentang Ariana." Raja Albarca itu heran.


"Bukankah Ariana suka pria yang tenang, aku sedang mencoba begitu." cetus Javier sembari tersenyum.


Namun senyuman dan kata-kata Javier malah membuat Asteorope emosi. "Kau...apa kau masih berpikir untuk mendapatkan wanitaku?"


"Benar." jawab Javier jujur tanpa ada manipulasi. Dia sadar masih belum melepas rasa pada Ariana begitu saja. Meski ia terikat janji pada Cain, tapi rela dan ikhlas itu sulit baginya.


"Kau sangat jujur! Hah, aku tidak percaya ini..." serka Asteorope tak terima dengan ucapan Javier.


"Ya begitulah." kata Javier cuek.


"Haah...aku malah kehilangan ketenanganku saat cemburu." gumam Asteorope sambil mendesah pelan.


Kedua pria itu masih memperhatikan gerak-gerik Ariana dan Thomas dari kejauhan sebelum mereka bertindak.


"Maaf, tolong jangan memegang tangan saya sembarangan." tukas Ariana tak terima, sambil tangannya menampik pelan tangan Thomas.


Thomas mengerutkan kening. Ia tersenyum sinis, heran, kenapa bisa ada wanita yang menolak pesonanya. "Huh! Kenapa? Bukankah nanti saat syuting kita juga berpegangan tangan, malah kita akan berciuman."


Ariana terkejut mendengar ucapan Thomas yang begitu vulgar baginya. Ariana langsung hilang feeling melihat pria tampan yang terlihat berwibawa itu, bisa bicara seenak jidat.


"Iya saya tau, tapi kita hanya berpura-pura saja. Pada saat adegan ciuman nanti, aku harap anda profesional tuan Thomas."


"Haha... baiklah, aku tidak akan benar-benar menciummu. Lagipula aku orangnya pemilih." jelas Thomas sambil terkekeh.


Huh! Dewi Hollywood ini sangat sombong. Beraninya dia menolak diriku. Padahal semua wanita berbondong-bondong ingin perhatian dariku, tapi dia? Ah!


Ariana menatapnya dengan dingin, tidak menunjukkan respon baik dan hangat pada lawan mainnya nanti. Dia tidak mau Asteorope cemburu padanya dan malah membuat kekacauan disana.


"Kalau begitu mari kita bekerja sama dengan baik nona Arana." Thomas mengulurkan tangannya pada Ariana.


"Ariana." ralat Ariana dengan tegas, dia tak suka ada yang main-main dengan namanya. Ariana membalas uluran tangan Thomas dengan dingin.


Thomas dan Ariana pun duduk dan berlatih naskah terlebih dahulu untuk membangun chemistry. Selain itu Ariana juga berlatih dengan Luna dan Stacy, juga ada satu pemain lagi bernama Diego.


"Come on! Sekarang kita mulai syutingnya ya, waktu sudah mulai siang." seru Emerick pada semua pemeran di dalam filmnya.


Semua orang telah bersiap dengan posisinya masing-masing, pertama-pertama akan ada adegan Ariana, Thomas dan Luna yang ceritanya terlibat cinta segitiga dalam film tersebut.


Sebelum Asteorope salah paham, Ariana berusaha mengatakan kepada pria itu untuk mengerti dirinya tentang adegan mesranya dengan Thomas nanti.


"As..."


"Apa?" sahut Asteorope sambil memandang kekasihnya.


"Nanti aku akan ada adegan mesra dengan pria itu." ucap Ariana sembari melirik Thomas yang sedang di touch make up oleh asistennya.


"APA?" kata pria itu sedikit berteriak.


"As jangan marah, aku tidak benar-benar bermesraan dengannya. Ini hanya akting dan bagian dari pekerjaanku." jelas Ariana seraya memohon pengertian dari kekasihnya.


Pria itu mendesah, berusaha untuk sabar dan mengerti kekasihnya. "Baiklah, aku akan coba."


"Terima kasih As, i love you!" Ariana memberikan kecupan singkat di pipi Asteorope.


"I love you more than, Ariana." balas Asteorope sambil memegang pipinya yang bersemu merah.


"Aku pergi dulu," Ariana tersenyum ceria.

__ADS_1


Asteorope melihat kepergian kekasihnya dengan hati yang gelisah. Rasa yang paling ia takutkan adalah rasa cemburu. Semoga saja ia bisa mempertahankan ketenangannya nanti saat melihat Ariana syuting.


Take one!


Syuting pun di mulai.


Ariana dan Thomas berada di sebuah taman. Mereka saling bertatapan penuh rindu. Ariana terlihat seperti akan menangis. Ceritanya mereka adalah sepasang kekasih yang telah lama berpisah dan bertemu lagi.


Semua orang memperhatikan syuting itu, termasuk Javier dan Asteorope. Mereka berdua memuji akting Ariana yang sangat mendalami perannya.


Ternyata ini duniamu Ariana, aku baru sadar. Batin Asteorope seraya menatap kekasihnya yang tengah beradu akting dengan Thomas.


"Danzel? Kau--" lirih Ariana.


Thomas berlari mendekat pada Ariana dan memeluk tubuh gadis itu. Thomas juga mendalami perannya sebagai pria yang tengah merasakan kerinduan mendalam pada Ariana.


Gigi Asteorope gemertak menahan rasa cemburu pada adegan didepannya itu. Javier menepuk pundak Asteorope dan dia mendadak jadi pria bijak. "Sabar sabar..."


"Javier sepertinya kau sakit, kau menjadi bijak. Atau ajalmu sudah dekat?" sindir Asteorope sarkas, sambil menyingkirkan tangan Javier dari bahunya. Dia menggelengkan kepalanya, tak menyangka bahwa Javier yang biasanya emosian jadi bijak.


"Jangan bicara sembarangan!" tukas Javier kesal dengan bibir memonyong kedepan.


Aku juga kesal sama sepertimu, tapi aku punya rencana untuk menjahilinya.


Thomas melepas pelukannya pada Ariana lalu kedua tangannya membelai pipi gadis itu. Rasanya hati Asteorope dan Javier terbakar melihatnya.


Ingatlah Asteorope, ini hanya akting! Akting!


Berulang kali pria itu menekankan pada dirinya bahwa semua ini hanya akting.


Thomas menatap Ariana dengan dalam, dibalas dengan tatapan dalam yang sama oleh Ariana.


"Jenny, aku merindukanmu...Jenny.." Thomas semakin mendekatkan wajahnya pada Ariana dan saat itulah kedua pria yang telah bucin pada Ariana menyadari adanya bahaya.


Disela-sela syuting itu, Asteorope ikut nimbrung dan mendekat ke tempat Ariana dan Thomas berada.


Asteorope berada ditengah-tengah dan memisahkan dua orang yang syuting itu. "Hentikan! Kalian tidak boleh bermesraan di tempat umum, hush..hush... pergilah. Atau aku akan bawa kalian ke kantor polisi!" seru Asteorope pada kedua orang itu.


"As, kenapa kau disini?" bisik Ariana tercengang melihat Asteorope tiba-tiba datang kesana dan mengacaukan syutingnya.


Javier menepuk keningnya dan geleng-geleng kepala melihat kelakuan Asteorope. "ASTAGA! Bodoh!"


Teriak Emerick menghentikan syuting itu dan otomatis kamera pun dimatikan terlebih dahulu.


Emerick berjalan ke depan dan menghampiri para artisnya. "Kau kenapa masuk? Bukan giliranmu untuk masuk!" tegur Emerick pada Asteorope.


Asteorope menjawab dengan marah. "Aku tidak bisa membiarkan pria ini untuk--"


"Pak! Biar saya bicara dengannya sebentar." Ariana menarik tangan Asteorope.


Mereka berdua pun berbicara di ruang ganti, Ariana langsung menegur sikap Asteorope, bahkan dia tak sengaja mengucapkan kata-kata yang menyakiti hati pria itu.


"As, kenapa kok muncul tiba-tiba seperti itu? Bukan giliranmu untuk muncul." tegur Ariana pada kekasihnya.


"Lalu aku harus diam saja begitu?" tanya Asteorope dengan tangan menyilang didada.


"Kau ini kenapa? Kau cemburu? Aku sudah bilang kan kalau aku hanya akting." jelas Ariana retoris.


Tatapan Asteorope menjadi tajam pada kekasihnya. "Apa aku tidak boleh cemburu? Apa aku harus diam saja melihatmu dan pria itu hampir berciuman? Apa aku harus diam saja seperti orang bodoh?" decih Asteorope mulai kesal dengan sikap Ariana yang menurutnya sangat egois. Tak paham perasaannya.


"Kami tidak akan berciuman, kami hanya pura-pura saja. As..." suara Ariana masih begitu lirih.


"Tapi aku tau kalau PRIA ITU sungguhan akan mencium dirimu, Ariana!" hardik Asteorope kesal.


"Itu tidak akan karena dia pasti akan bersikap profesional!"


"Oh...apa kau yakin begitu?" pria itu tak percaya.


Ariana mulai kesal juga. "As, kenapa kau jadi egois begini? Hanya karena cemburu kau jadi begini."


"Aku? Egois? Siapa yang egois, hah?"tukas Asteorope tak terima dibilang egois.


"Kau egois, seharusnya kau memahami bagaimana pekerjaanku dan kau percaya padaku! Aku tidak akan berbuat apa-apa."


"Baiklah...aku egois karena aku cemburu, aku tak berhak untuk cemburu. Baiklah, aku egois." Asteorope menganggukan kepalanya, ia terlihat kecewa dengan kata-kata Ariana padanya.


Astaga! Apa yang sudah aku katakan pada As?

__ADS_1


Gadis itu panik melihat raut wajah sedih kekasihnya dan kecewa. "As...maafkan aku, bukan maksudku untuk--"


"Kau tidak tahu Ariana, walaupun diluar aku terlihat tenang...tapi jauh didalam lubuk hatiku, aku cemburu! Hatiku juga bisa sakit karena terus kau injak-injak begini." Asteorope memegang dadanya yang terasa sesak.


"Aku tidak bermaksud menginjak-injak hatimu As...tidak!" serka Ariana merasa bersalah.


"Kau selalu saja meremehkan hatiku, kau tidak tahu bagaimana rasanya cemburu. Selalu saja kau begitu...sekarang aku jadi ragu, apakah kau mencintaiku atau tidak?"


Ariana tertohok mendengar pertanyaan itu terlontar dari mulut kekasihnya. Bagaimana bisa Asteorope mempertanyakan hatinya?


"Apa hanya aku sendiri saja disini yang merasakan cemburu? Apa hanya aku yang jatuh cinta?" Asteorope terlihat marah dan kecewa.


"As...dengarkan aku dulu." Ariana memegang tangan Asteorope dan dengan cepat pria itu menepisnya dengan dingin. "As!"


"Pergilah! Bukankah kau akan kembali syuting? Jangan biarkan keegoisanku menghalangimu, Ariana." ucap Asteorope begitu ketus dan mengusik hati Ariana.


"As...aku tidak akan pergi sebelum--"


Sebelum Ariana menyelesaikan ucapannya dan ingin memberikan penjelasan, seseorang datang ke sana dan meminta Ariana untuk segera pergi ke lokasi syuting.


Sebenarnya Ariana merasa tidak tenang meninggalkan kekasihnya yang masih diliputi oleh amarah. Tapi dia juga harus pergi untuk syuting dan tak bisa meninggalkannya begitu saja.


Ariana dan Thomas kembali ke lokasi syuting, mereka melanjutkan syuting dari awal karena Asteorope mengacaukannya. Dan benar saja apa yang dikhawatirkan oleh Asteorope, Thomas memang memanfaatkan situasi dengan mencium Ariana.


Ariana tidak bisa menampar Thomas didepan umum karena bisa mengacaukan syuting. Sungguh ia merasa dilema dan merasa bersalah pada Asteorope.


CUTTT!!


"Bravo! Bagus!"


Semua kru disana bertepuk tangan melihat adegan itu berlangsung lancar. Sementara Asteorope terlihat dingin dan buang muka saat melihatnya. Javier melihat raut wajah Asteorope yang marah tapi anehnya pria itu diam saja setelah bicara dengan Ariana.


Apa mereka bertengkar? Pikir Javier dalam hatinya.


Ariana menatap Thomas dengan nyalang. "Kenapa? Kau mau menamparku?" tanya Thomas menyebalkan.


"Kau...awas saja." Ariana mengusap bibirnya yang basah karena lumattan dari Thomas.


As maafkan aku...


"Bibirmu manis juga, hanya saja kau tak menjulurkan lidahmu." Thomas tersenyum lebar setelah berhasil mencium bibir Ariana yang selama ini membuatnya penasaran.


"Kerja bagus semuanya! Ayo kita istirahat makan siang sebentar," ujar Emerick pada semua kru dan juga para artisnya.


Ariana mengambil makanan yang dibawa Liam untuk makan siang bersama Javier dan Asteorope. Ia langsung pergi untuk menemui Asteorope tapi dia hanya melihat Javier disana. "Javier, dimana As?"


"Aku tidak tahu, dia pergi begitu saja. Sepertinya dia benar-benar marah padamu." ucap Javier kesal juga pada Ariana. Jujur Javier juga tak kesal dengannya.


"Tapi aku tidak sengaja..."


"Sengaja atau tidak, bukankah harusnya kau segera menjelaskan padanya? Cepat cari dia dan minta maaf padanya, berharaplah dia tidak terlalu lama marahnya. Sebab aku juga kesal padamu. Siapapun pasti akan kesal melihat kekasihnya berciuman dengan pria lain." tutur Javier pada Ariana.


Ariana tertegun, wajahnya terlihat sedih. "I-iya aku salah, aku sadar...dan aku akan memberikannya penjelasan. Aku harus meminta maaf padanya." ucap Ariana menyesal.


"Ya, kau harus." jawab Javier cuek.


Ariana pun memberikan sekotak nasi untuk Javier. "Makanlah disini bersama Liam, aku akan mencari As."


"A-apa? Dengan pria jadi-jadian itu? No!" tolak Javier tegas.


Tiba-tiba saja si pria yang disebut sebagai pria jadi-jadian itu datang dan menggandeng tangan Javier.


"Ayo cin...kita makan bersama." kata Liam genit.


"Idih! Lepaskan aku! Akan ku kuliti kau!" ancam Javier kesal sambil menampik tangan Liam dengan jijik.


"Sudahlah kau disini saja bersama eike, syin."


Ariana tersenyum tipis, kemudian dia pergi begitu saja dari sana untuk mencari Asteorope sambil membawa kotak makan untuknya dan Asteorope.


Dia merasa bersalah karena sudah mengeluarkan kata-kata yang begitu menyakiti hati kekasihnya itu. Ia akan meminta maaf begitu bertemu dengannya.


Langkah Ariana terhenti saat ia melihat Asteorope bersama seorang wanita berambut sebahu di dalam salah satu tenda ganti. "Ini kan tenda Luna." gumam Ariana.


Ariana menyingkap tenda itu, lalu di melihat pemandangan yang menyakiti hatinya.


Asteorope tengah memeluk dan berciuman dengan Luna.

__ADS_1


...****...


__ADS_2