I'Ll Became A Villain'S Daughter

I'Ll Became A Villain'S Daughter
Bab 44. Miss Jachan


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Melihat Asteorope diam saja membuat Doris menghentikan ceritanya tentang putra mahkota.


Putra mahkota Gamarcus, kau takkan pernah bisa merebut wanitaku! Aku akan segera mengambil kembali cintaku! Lihat saja!


Doris melihat wajah Asteorope yang suram dan tangannya seperti siap untuk memukul seseorang. Matanya memancarkan kemarahan dan cabut emosi yang mendalam.


Hatinya terbakar oleh api yang bernama cemburu, tidak senang jika nama putra mahkota disebut-sebut dekat dengan Roselia. Dia merasa wanita yang dia cintai akan direbut oleh pria itu.


"Ehm...maaf tuan As, apa Anda baik-baik saja?" tanya Doris dengan sedikit ragu-ragu.


"Aku baik-baik saja." jawab Asteorope sambil kembali duduk di dekat Roselia. Dia mengambil handuk kecil di atas kening gadis itu, lalu menceburkannya ke dalam baskom berisi air.


"Tuan, biar saya saja yang melakukannya." kata Doris sambil mendekat pada Asteorope.


"Tidak perlu, aku akan merawat Roselia selama aku disini." ucap Asteorope sambil meletakkan kembali handuk basahi itu di atas kening Roselia.


"Tuan...tapi anda--" Doris tampak ketakutan, dia sangat takut bila


"Ya, aku tahu bahwa aku tidak boleh berlama-lama berada di sini. Kau tenang saja, aku akan tahu jika ada seseorang yang akan datang kemari." jelas pria itu dengan mata yang tidak pernah berpaling dari wanita yang masih tidak sadarkan diri itu.


Doris hanya menurut dan ikut membantu merawat Roselia, walaupun sebenarnya di dalam hati dia merasa was-was, takut akan ada seseorang yang masuk ke dalam kamar Roselia dan mengetahui ada seorang pria yang di kamarnya. Apa yang akan terjadi nantinya dengan reputasi Putri mahkota kerajaan tersebut? Lalu apa yang akan terjadi bila Michael mengetahui ada seorang pria di kamar tunangannya?


Raja dari Albarca itu merawat Roselia dengan penuh kasih sayang, dia berharap agar gadis itu cepat siuman dan Michael tidak segera datang ke kamar itu. Beruntungnya Michael tidak cepat kembali kesana karena dia sedang menemui sang raja.


"Oh ya Doris..."


"Iya, tuan?" sahut Doris yang sedang memijat kaki Roselia.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada Roselia? Kenapa dia bisa jatuh pingsan dan sakit seperti ini? Apa mungkin putra mahkota kerajaan ini menyiksanya?"


"Ti-tidak tuan! Anda salah paham kepada yang mulia putra mahkota. Walaupun yang mulia putra mahkota terkadang bersikap kasar dan suka marah-marah, tapi beliau tidak pernah menyakiti yang mulia putri." jelas Doris.


Mata Asteorope menatap Doris dengan atensi yang begitu tajam dan dingin. "Bukan tentangnya yang ingin aku dengar! Aku ingin mendengar tentang bagaimana Roselia bisa jatuh sakit seperti ini?"


"I-iya tuan, sebenarnya...tabib mengatakan bahwa yang mulia Putri mahkota mengalami tekanan darah yang rendah, hingga beliau jatuh pingsan. Padahal sebelumnya yang mau dia Putri mahkota terlihat baik-baik saja sampai ia bertemu dengan Putri Viona."


"Putri Viona? Siapa dia? Apa dia yang menyakiti Roselia?" tanya Asteorope tajam.

__ADS_1


Doris menelan salivanya dalam-dalam, melihat raut wajah pria itu yang menatapnya dengan atensi tajam, membuat jantung yang berdebar dan mendadak keringat dingin mulai terasa di wajahnya.


"Eungh-- beliau adalah adik tiri dari putra mahkota Michael, putri tidaklah jahat dan dia tidak melakukan sesuatu yang membuat yang mulia Putri mahkota celaka. Tapi--sesuatu yang dibawanya lah yang membuat putri mahkota terkejut hingga jatuh pingsan." Tutur Doris menjelaskan situasi yang terjadi.


Asteorope pun mengambil kalung yang dimaksud oleh Doris, terlihat foto seorang wanita dan anak perempuan yang cantik. Ia pun Jadi bertanya-tanya siapa wanita dan anak kecil yang berada di foto itu karena dia sama sekali tidak mengenal mereka.


Kemudian Asteorope bertanya kepada Doris tentang sosok Ibu dari wanita yang dia cintai. Sebab wanita itu dari tadi mengigau tentang ibunya dan mengatakan bahwa dia sangat membencinya. Doris yang tau tentang Roselia dari kecil, menjelaskan semuanya kepada pria itu.


Masa lalu Roselia dan kedua orang tuanya juga kakak laki-lakinya. Tentang ibu Roselia, dia sudah tiada sejak usia Roselia menginjak 5 tahun karena sakit parah dan setelah itu kakak juga ayahnya menyusul sang ibu karena di hukum mati oleh sang Raja.


Lalu Roselia di bawa oleh Amber dan dijadikan pembantu di rumah itu.


Mendengar cerita tentang Roselia dari Doris, membuat Asteorope terhenyak. Dia berjanji akan menjaga Roselia setelah perjanjian perdamaian di lakukan dengan kerajaan Gamarcus.


"Sepertinya aku harus pergi sekarang," ucap Asteorope sambil beranjak dari tempat duduknya. Dia merasakan ada seseorang yang akan datang ke sana. Doris menjawab perkataan pria itu dengan sebuah anggukan kecil.


Asteorope mendekati untuk mencium kening wanita itu, namun saat itu akan terjadi, ada yang menarik tangannya. "As..." lirih Roselia memanggil pria itu.


"Miss Jachan? Kau sudah bangun?" Asteorope terlihat lega melihat wanita itu telah sadarkan diri. Lalu dia duduk di sampingnya dan mengurungkan niatnya untuk pergi.


"Miss Jachan? Apa itu..?" suara Roselia mendesah pelan dan terdengar lemas.


Sudah lebih baik.


Pria itu sambil mengusap dadanya, setelah dia merasakan demam Roselia tidak separah tadi.


Roselia terkekeh mendengar candaan dari pria itu, kemudian dia mengulas senyum sendu penuh rindu. "As...aku merindukanmu."


Entah dari mana keberanian itu muncul, entah mungkin karena dia masih sakit. Kata-kata rindu itu lolos dari bibirnya begitu saja dan membuat Asteorope bahagia.


"Syukurlah yang mulia sudah sadar," ucap Doris merasa lega, ia menyeka air matanya sendiri. Lalu Roselia tersenyum pada Doris seraya menenangkannya.


"Kau sedang demam, jadi kau tidak mengucapkannya dengan sungguh-sungguh tidak percaya kalau kau merindukan aku." kata Asteorope sambil menyiapkan segelas air minum. Kemudian dia membantu Rosalia untuk duduk di atas ranjang tersebut.


"Jadi--menurutmu aku sedang tidak waras sekarang?"


"Apa aku ada bilang begitu?" Asteorope tersenyum lalu dia meneguk air minum yang ada di dalam gelas itu.


"Tapi perkataanmu barusan mengisyaratkan kalau aku tidak waras karena aku sedang sakit---umph--"

__ADS_1


Belum sempat Roselia menyelesaikan kata-katanya, bibirnya sudah dibungkam oleh Asteorope dan terlihat butiran air menetes dari bibir keduanya.


Melihat adegan itu membuat Doris sontak menutup matanya. Tidak ada penolakan dari Roselia, malah gadis itu mengalungkan tangan di leher Asteorope. Mereka seakan lupa bahwa ada orang lain di sana dan dimana tempat mereka berada.


Sekarang sudah jelas, bahwa hati yang mulia Putri mahkota telah berada pada tuan As.


Roselia mengurai ciuman itu lebih dulu, dia mendorong Asteorope dengan pelan karena dia tidak ada tenaga lebih ditubuhnya. "Kau...kau cari-cari kesempatan dalam kesempitan." Wajah gadis itu kini bersemu merah, dia terlihat malu setelah membalas ciuman dari Asteorope.


Ya Tuhan! Aku tidak menolak apa yang dilakukan olehnya, itu tandanya aku telah jatuh cinta kepadanya.


"Hey! Aku hanya membantumu untuk meminum obat. Apa salahnya?" kata Asteorope sambil mengusap air di sudut bibir Roselia. "Kalau kau sakit aku akan sakit, kalau kau meminum obat pahit ini... maka aku juga akan meminumnya."


"Hem...kalau aku pergi ke neraka...."


"Maka aku akan ke neraka juga." Asteorope tersenyum manis, menyiratkan bahwa dia benar-benar mencintai gadis itu dan dia tidak main-main.


Roselia balas tersenyum juga, dia terlihat tidak ragu untuk membalas perasaan Asteorope. Mungkin didalam dunia novel ini, hanya pria itu yang dapat dia percaya.


"Aku akan pergi, aku akan menemui lagi nanti." Asteorope buru-buru berpamitan karena dia merasakan Michael semakin dekat ke sana.


"Ta-tapi..."


"Doris, tolong jaga dia baik-baik..." pesan pria itu sebelum menghilang menggunakan gulungan sihir yang dia pegang.


Wush~~


"Haaahh.... mengapa kau menghilang begitu saja padahal banyak yang ingin ku tanyakan dan aku ceritakan padamu?" gerutu Roselia kesal karena Asteorope pergi begitu saja.


Benar saja, tak lama setelah itu Michael sudah membuka pintu kamar tersebut dan berjalan menghampiri Roselia dengan cemas.


"Putri mahkota, kau sudah siuman?" tanya Michael dengan wajah leganya.


"Eh...i-iya.."


Pria itu buru-buru menghampiri tunangan ya lalu memeluknya dengan erat.


Apa yang dia lakukan? Tidak ada orang disini, lalu kenapa dia memamerkan kemesraan didepan Doris dan tuan Pierre saja?


Roselia tidak membalas pelukan Michael dan ia malah tampak bingung.

__ADS_1


...****...


__ADS_2