I'Ll Became A Villain'S Daughter

I'Ll Became A Villain'S Daughter
Bab 89. Pergi selamanya?


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Apakah aku salah membawanya kemari? Aku hanya merasakan cinta, aku hanya ingin menunjukkan cintaku padanya. Kenapa malah aku yang menjadi penyebab luka di tubuhnya? Apa benar ini cinta ataukah hanya obsesi? Sungguh tuhan...aku hanya ingin melindunginya dan menjaganya disisiku setiap waktu. Itu saja! Tapi ternyata...mungkin aku salah.


"Sekarang berikan kami jalan, kalau kau masih punya hati!" teriak Asteorope emosi pada pria yang sudah menjadikannya kekasihnya sebagai tawanan. Bahkan sampai dibuat lumpuh, kenapa Asteorope bisa tau? Ia mencium aroma bubuk yang melumpuhkan syaraf itu di dalam tubuh Roselia. "Saat ini aku tidak akan mempermasalahkan tindakanmu, tapi keselamatan wanitaku lebih penting!" imbuhnya lagi dengan suara setengah berteriak.


"Aku akan mengawal kalian keluar dari tempat ini." ucap Javier dengan berat hati, sebenarnya ia sangat tak rela bisa Roselia dibawa pergi oleh Asteorope dan Cain. Tapi apa boleh buat? Dia telah membuat gadis itu terluka berada disisinya. Dia sadar bahwa selama ini dia begitu egois.


Apa mungkin cintanya memang harus merelakan tanpa harus memiliki? Oh! Pastinya ini sangat berat.


Asteorope masih stay menggendong Roselia yang masih membuka matanya walau sayup-sayup, tapi denyut nadinya melemah dan Cain bisa merasakan itu. Javier mengawal Asteorope dan Cain keluar dari penjara itu. Bahkan Javier menggunakan sihirnya untuk memanggil mahluk yang menjadi bawahannya.


"Kalian pergilah dengan ini, akan lebih cepat." ucap Javier seraya menunjukkan kuda terbang yang lengkap dengan kereta yang nyaman dinaiki oleh 2 orang bahkan lebih.


"Kami tidak akan mengucapkan terimakasih! Dan bersiaplah, bila terjadi sesuatu pada wanitaku....aku akan membawamu ke neraka!" sarkas Asteorope pada pria itu, lalu dia membawa Roselia masuk ke dalam kereta itu.


Javier terdiam mendengar ancaman Asteorope. Para anak buah Javier bahkan terheran-heran melihat Javier yang pemarah menjadi pendiam didepan Asteorope. Tapi mereka kenapa Javier seperti itu dan itu bukan karena takut pada Asteorope melainkan takut terjadi sesuatu pada Roselia dan rasa bersalahnya akan semakin menumpuk.


Theo orang terdekat dengan Javier selain Darius, dapat melihat kilatan rasa bersalah di raut wajah tuannya itu. Wajah sedih, wajah sendu yang tak pernah ditunjukannya selama ini. Yang mereka tau, Javier itu dingin, datar dan tidak berperasaan.


Namun walaupun begitu, Javier tetaplah manusia, kan? Dia bukan iblis. Manusia punya hati dan perasaan, hanya saja perasaan Javier tertutupi oleh masa lalu kelamnya. Kini Theo dapat melihat kesedihan yang selama ini disembunyikan oleh tuannya dan itu terlihat kentara begitu Javier bertemu dengan Roselia.


Tuan...malang sekali masih anda, baru pertama kali jatuh cinta dan merasa kasih sayang, sekarang anda harus terluka lagi. Batin Theo iba.


Ketika Cain, Asteorope dan Roselia akan pergi menuju ke Albarca dengan kuda terbang itu. Javier menghentikan keretanya sejenak.


"Tunggu!"


"Ada apa? Apa kau ingin melihat Roselia mati?" sindir Asteorope sarkas dan tajam.


"Tolong kabari aku tentang keadaannya," ucap Javier pada Asteorope dengan nada memohon. Seumur hidup dia tidak pernah meminta maaf ataupun memohon, karena kehadiran Roselia telah merubah segalanya bahkan sikapnya.


Asteorope dan Cain tidak membalas permohonan Javier, mereka langsung pergi dengan sihir Cain untuk mengendalikan kuda terbang itu.


Tidak disangka-sangka, Javier si pembunuh bayaran dan psikopat itu bisa meneteskan air mata. "Apa begini akhirnya? Hahaha..."


Senyum, tangis dan tawa bercampur perih menjadi satu. Tau bagaimana rasanya sakit tak berdarah? Itulah yang Javier saat ini. Kehilangan satu-satunya orang yang merubah hidupnya.


"Tuan..." lirih Theo mencoba bicara pada


"Baiklah...semoga kau baik-baik saja. Semoga..." gumam Javier dengan wajah menyiratkan luka dalam.


Terima kasih bar-bar, kau telah mengajarkanku arti sakit hati.

__ADS_1


Tangis itu pun berhenti, ia menyeka air matanya, menyingkirkan wajah sedihnya dan berubah menjadi wajah psikonya. "Siapa yang sudah melakukan ini? Selidiki!" titah Javier pada anak buahnya. Ia akan menyelidiki tentang insiden ini dan ia akan membalas dendam.


🍀🍀🍀


Dengan kereta kuda terbang itu, Asteorope, Cain dan Roselia sampai dalam waktu beberapa menit ke kerajaan Albarca. Haruskah mereka berterimakasih pada Javier? Tidak! Ini semua terjadi karenanya.


"Cepat panggilkan tabib kemari!" ujarnya pada Peter yang kebetulan sedang berada di lorong istana bersama Doris.


Doris melihat nonanya dengan cemas dan rindu bercampur menjadi satu. Asteorope diikuti oleh Cain membawa Roselia ke sebuah ruangan dengan ranjang besar. Ya, disinilah Roselia berada sekarang. Istana bersama istana mawar, rose. Istana yang sudah Asteorope siapkan untuk Roselia ketika gadis itu menjadi permaisurinya nanti.


Pria itu membaringkan Roselia dengan hati-hati ke atas ranjang. Tubuh Roselia teras dingin dan gadis itu sampai kesulitan bicara karena menahan bicara. "Tenanglah...kau akan baik-baik saja!"


Cain juga mengambil perannya, ia berusaha untuk menekan pendarahan yang ada didalam tubuh Roselia akibat racun yang tidak diketahui namanya itu. Mulutnya mengeluarkan darah terus menerus tanpa henti.


Peluh keringat membasahi wajah Cain, disertai dengan raut wajah cemas. Melihat Roselia masih sama saja, walau ia sudah menggunakan sihirnya semaksimal mungkin.


Beberapa tabib terbaik juga dipanggil oleh Asteorope untuk mengobati Roselia yang terus muntah darah dan wajahnya semakin pucat.


Sakit...ini sangat sakit....dadaku seperti ditusuk-tusuk.


"As..."


"Kau jangan banyak bicara!"


"Jika...aku mati..."


"As...ayah...dengarkan aku..." nafas Roselia tersengal-sengal. "Uhuk...uhuk...." lagi-lagi gadis itu memuntahkan darah, kali ini darah hitam yang pekat. Dada Roselia naik turun dan nafasnya semakin putus putus, sesak rasanya.


"Ini...sihir hitam! Pantas saja aku tidak bis menghentikan pendarahannya." Cain melihat darah berwarna hitam pekat itu.


"Sihir hitam! Jadi si Javier gila itu yang--"


Roselia menggenggam tangan Cain dan Asteorope seakan hal itu bisa merasakan rasa sakitnya. Matanya terbuka menutup selama beberapa kali. "Maafkan...aku....dan terimakasih...atas sega...lanya...aku mencintai...kalian...."


Ya, mungkin ini adalah akhir dari hidupku.


"Kau...jangan bicara..." Tangan Asteorope menggenggam erat tangan Roselia, dia menatap gadis yang sekarat didalam pelukannya itu. Cain menangis


"Aku mencintaimu...As...aku mencintaimu...maafkan aku...aku benar-benar...me...ngantuk..." lirihnya terbata-bata.


"Tidak! Kau tidak boleh..."


Sayang sekali, padahal aku ingin melihat senyumanmu untuk yang terakhir kali, tapi aku malah melihat air matamu.

__ADS_1


Maafkan aku Ayah, maafkan aku As.


Tangan Roselia terkulai lemah, nafasnya yang tersengal tadi mendadak diam. Lalu matanya menutup rapat. Gelang giok yang ada ditangan Roselia juga terlepas dengan sendirinya. Semua orang yang berada di ruangan itu tercengang melihat Roselia tidak sadarkan diri di pelukan Asteorope. Cain menangis, namun dia berusaha tetap tenang dan memeriksa kondisi tubuh Roselia.


Tabib juga ikut membantu sebisa mereka. Lalu salah satu dari tabib itu berkata. "Maaf Yang Mulia, nona sudah tidak bisa diselamatkan....dia telah kehilangan nyawanya."


Seketika air mata yang dibendung sedari tadi itu tumpah ruah semua membasahi wajah Asteorope dan Cain. Tubuh Asteorope gemetar, ia memeluk Roselia yang kini telah menjadi jasad itu.


Cain menatap putrinya yang belum lama ia temui. Padahal ia telah membayangkan hal-hal indah bersama putrinya, namun Tuhan berkehendak lain dan mengambil nyawanya dengan cepat.


Apa gunanya menjadi penyihir agung yang hebat? Bila dia tidak bisa menyelamatkan nyawa putrinya sendiri. Cain melihat Roselia dengan sedih.


"Tidak! Cepat periksa sekali lagi! Bukankah barusan kalian dengar sendiri jika dia ingin tidur? CEPAT periksa?!" teriak Asteorope pada tabib tabib itu.


Tabib tabib itu kembali memeriksa Roselia atas perintah Asteorope. Namun hasilnya tetap sama, gadis itu telah TIADA, pergi selamanya.


"Maaf Yang Mulia, nona memang sudah meninggal dunia." kata seorang tabib dengan berat hati.


"Kalian benar-benar tidak berguna! Kalian tidak berguna!" Teriak Asteorope frustasi. Ia memeluk Roselia dengan erat, tangannya menggoyangkan pipi gadis itu yang sudah menjadi dingin. "Sayang bangunlah....sayang...aku merindukanmu. Bukankah kita sudah berjanji akan hidup bahagia bersama? Bagaimana bisa kau tinggalkan aku seorang diri? Bagaimana bisa setelah membuatku jatuh hati begitu dalam, lalu kau meninggalkanku? Kau tega?"


"Lihatlah...aku bahkan sudah menyiapkan istana untuk tempat tinggal mu. Kau suka mawar bukan? Di istana ini ada banyak mawar... aku juga menyiapkan kolam ikan yang indah dibelakang istana ini. Kau harus melihatnya, jadi kumohon...bangunlah...kumohon... AAAARGGGGH!!!.TIDAK!!"


"Nona...Peter...nona...hiks..." Doris terisak di dalam pelukan Peter, ia menangisi kepergian Roselia.


Peter juga sedih, dia mengelus lembut tubuh Doris seraya menenangkannya. Percayalah, air mata Peter juga luruh saat melihat air mata Asteorope mengalir. Dia pernah melihat ini ketika Asteorope berusia 5 tahun, kalau itu Asteorope kehilangan ibunya.


Asteorope mengamuk ingin ikut dengan ibunya, dia menangis histeris dan tak mau ditinggal oleh ibunya. Sekarang ditinggalkan Roselia juga sama terlukanya seperti ditinggal ibunya dulu.


"AAAARGGGGH! Tidak!! Jangan!!! Kumohon, jangan tinggalkan aku!! JANGAN!!"


Semua orang di ruangan itu ikut menangis melihat Raja mereka yang agung berduka kehilangan wanita yang sangat dicintainya.


****


Sementara itu Javier di sebuah ruangan penyiksaan, dia tengah menyiksa Darius. Pria yang dulu pernah menjadi teman tidurnya. Entah kenapa teringat semua itu membuat Javier jijik. Istilahnya masih banyak perempuan cantik, mengapa pria itu memiliki menyukai pria?


Sungguh bodoh dan sesat! Jika dia tak jatuh cinta pada Roselia, mungkin selamanya dia akan tersesat dengan menjadi seorang gay.


"Katakan padaku! Siapa yang sudah meracuninya?"


"Saya sudah mengatakannya pada tuan, kalau saya tak tahu." ucap Darius dengan kondisi mengenaskan.


Tangan, kaki terikat, bertelanjang dada dan penuh darah akibat penyiksaan yang dilakukan Javier.

__ADS_1


"Apa kau mau timah panas ini menembus kedua bola matamu itu?" Javier mengangkat besi dari tungku api yang panas, dia mengarahkannya pada Darius.


...****...


__ADS_2