I'Ll Became A Villain'S Daughter

I'Ll Became A Villain'S Daughter
Bab 54. Ramuan cinta


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Peter terpana melihat Doris, seketika jantungnya berdegup begitu kencang seperti genderang yang mau perang. Wajah polos Doris, kedua rambutnya yang dikepang, matanya yang berbinar-binar dan bibirnya yang tipis, membuat Peter terdiam.


Kemudian dia pun melepaskan pegangannya dari Doris, hingga gadis itu terjatuh ke lantai dengan posisi b*kong terlebih dahulu.


"Auh!! Sakit!" Doris memegang bagian belakang tubuhnya sambil meringis kesakitan.


Peter cuek saja dan malah memalingkan wajahnya ke arah lain seperti sedang mencari-cari sesuatu. "Hey tuan! Kau sangat tidak sopan, bukan yang membantuku kau malah cuek saja! Apa kau manusia?" Doris merasa kesal sebab Peter tidak membantunya dan dia malah berdiri sendiri.


"Kenapa aku harus membantumu? Kau sendiri kan yang menubruk tubuhku?" kata Peter dengan ketus.


Selama ini Peter memang tidak pernah memiliki seseorang yang dia cintai, sebab dia selalu mementingkan pekerjaan dan juga keselamatan dari Asteorope. Hidupnya penuh dengan pengabdian hingga dia tidak pernah merasakan cinta dan kurang merasakan bagaimana perasaan orang lain.


"Hah! Dasar pria berdarah dingin, tidak heran yang mulia Raja Asteorope mengatakan bahwa kay adalah jomblo abadi!" cetus Doris kesal sambil memegang bokongnya yang masih tersisa sakit.


Peter dengan atensi yang begitu tajam, dia tidak suka Doris bicara seperti itu tentangnya.


"Apa kau bilang?"


Kini giliran Doris yang mengabaikan pria itu, dia berjalan pergi begitu saja dan berniat untuk pergi ke dapur istana. Namun Peter memegang tangannya seraya menghentikan wanita itu.


"Ada apa?" Doris langsung menepis tangan Peter dengan kesal.


"Apa yang mulia raja berada di kamar yang mulia putri mahkota?" tanya Peter dengan kening berkerut dan mata yang selalu tajam kalau membahas tentang Putri mahkota.


"Ya, yang mulia Raja memang berada di kamar yang mulia putri mahkota. Lalu kenapa?"


"Haaahh... lagi-lagi karena wanita itu," gumam Peter kesal.


"Hey tuan Peter! Jangan bicara tidak sopan tentang yang mulia putri mahkota! Berani sekali kau memanggil yang mulia putri mahkota dengan panggilan wanita itu? Apa kau pikir yang mulia putri mahkota adalah seseorang yang bisa kau panggil dengan seenak jidatmu!" tegur Doris sambil mendekati bertubuh tinggi itu , Doris mendongakkan kepalanya dan menatap Peter dengan tatapan sinis.


"Oh begitu ya? Walaupun dia adalah putri mahkota, tapi bagiku dia tetaplah seorang putri penjahat." Balas Peter sinis.


Kedua orang itu pun akhirnya berdebat dengan sengit. Doris tak mau kalah begitu juga dengan Peter, akhirnya niat Peter yang tadinya akan pergi kepada Rajanya menjadi batal karena sibuk berdebat dengan Doris.

__ADS_1


Sebenarnya Doris sengaja berdebat dengan Peter agar Peter tidak pergi menganggu Asteorope dan Roselia yang baru bertemu. Mereka pasti akan melepaskan rindu dan rasa cemas satu sama lain.


"Hey pelayan putri mahkota! Aku benar-benar...yang mulia Raja itu pantas.. mendapatkan wanita yang lebih baik dari putri mahkotamu." kata Peter dengan nafas yang tersengal-sengal, sebab dia terus bicara pada Doris dan dia lelah.


"Sudahlah! Kau pasti lelah bukan bicara terus menerus? Lebih baik kau ikut saja aku ke dapur, aku mau makan..." kata Doris sambil tersenyum dan mengajak pria itu pergi ke dapur.


Ya, lebih baik aku segera membawanya pergi dari sini. Aku harus membuat si menyebalkan ini tidak menganggu pertemuan yang mulia putri mahkota dan Baginda Raja.


Peter terdiam sejenak lalu dia memegang kerongkongannya, memang dia juga merasakan haus. "Sial! ini gara-gara di pelayan itu, aku jadi harus bicara banyak."


"Hey ayo! Nanti aku buatkan makanan di dapur."


"Tidak usah, aku tidak lapar." jawab Peter ketus, namun beberapa detik kemudian terdengarlah suara memalukan.


Krukkk...


"Katanya tidak lapar? Tapi..." Doris terkekeh sambil melihat ke arah perut datar Peter.


Peter langsung memalingkan wajahnya dan menyembunyikan wajahnya yang tersipu itu. "Astaga! Bisa tidak kau diam dulu! Ya ampun, memalukan."


"A-apa kau menyumpahi ku untuk mati?" Peter langsung melotot mendengar ucapan Doris.


"Mana ada...aku tidak bilang begitu, kau sensitif sekali tuan Peter." Kata Doris tanpa merasa bersalah.


Kemudian mereka berdua pun pergi ke dapur untuk makan bersama, sementara Asteorope dan Roselia bermesraan didalam kamar.


****


Keesokan harinya, keadaan Roselia sudah lebih fresh. Pagi itu dia tidak merasakan keberadaan Michael disana, apa karena semalam dia meminta agar Michael tidak perhatian lagi padanya makanya dia marah? Ah apapun itu Roselia tidak peduli.


Waktu pun bergulir begitu cepat, tak terasa hari sudah menjelang siang. Kini semua anggota keluarga kerajaan berkumpul di taman kerajaan untuk makan siang bersama . Tak lupa ada Asteorope dan Peter juga disana.


Derrick dan Javier juga hadir di sana sebagai kebanggaan dari kerajaan Gamarcus. Tak lupa Derrick pergi bersama Stella juga untuk mengenalkan Stella pada semua orang sebagai adiknya. Penampilan Stella kini tampak cantik dan menawan,dengan gaun indah yang dia kenakan.


Rambut peraknya dan juga mahkota berlian yang memukau di kepala Stella memperlihatkan kecantikannya.

__ADS_1


Namun penampilan Stella malah mengundang cibiran dari orang-orang di sekitarnya. "Apa yang kau lakukan nona Volton?" tanya Ratu retoris dengan tatapan begitu tajam pada Stella.


Astaga! Stella membuat ulah, selain anggota keluarga kerajaan tidak boleh ada yang memakai mahkota. Gumam Roselia didalam hatinya.


"Memangnya apa yang saya lakukan yang mulia?" tanya Stella dengan wajah polosnya yang membuat Doris ingin muntah saat melihatnya, namun ia tahan.


"Earl Volton, kau ajari adikmu yang sepertinya belum tau sopan santun ini agar tidak bersikap seenaknya." kata Ratu ketus.


"Maafkan saya yang mulia, saya akan memberitahukan padanya." Derrick menatap Stella dengan tajam, sebelumnya dia sudah mengingatkan kepada Stella untuk tidak memakai perhiasan yang berlebihan apalagi mahkota hanya di peruntukan untuk anggota kerajaan.


Tiba-tiba saja Roselia berdiri dari tempat duduknya dan dia menatap sang ratu. "Yang mulia Ratu, tolong di maklumi...maafkan kesalahan nona Volton, dia seperti ini karena dia belum belajar tata Krama." Roselia tersenyum menyeringai, matanya menatap Stella tajam.


Anggap saja ini 1-1 Stella, saat itu kau yang memberikan minuman kepadaku hingga aku mabuk dan ini balasannya, rasa malu...walau balasan ini belum cukup. Batin Roselia cukup puas melihat raut wajah Stella saat ini


Stella mengepalkan tangannya dengan kesal, matanya menatap penuh kemurkaan pada Roselia.


Sialan kau Roselia jal*ng! Kau ini sok membelaku padahal kau sedang merendahkan diriku. Lihat saja , setelah ini kau akan menangis darah karena sebentar lagi tunanganmu akan menjadi milikku.


Ketika Roselia sedang memandang Stella dan melihat pertunjukan yang terjadi, tanpa dia sadari ada 3 mata pria yang memperhatikannya. Javier dengan mata elangnya penuh kebencian, Michael dengan tatapan penuh harap dan Asteorope menatap penuh cinta. Tatapan yang tidak jauh berbeda dengan tatapan Michael padanya.


Beruntung sekali wanita sialan ini! Dia mendapatkan cinta dari penguasa dua kerajaan. Haaa... bagaimana ya jika aku membongkar semuanya? Apa yang akan terjadi dengan dua kerajaan?. Pikir Javier dalam hatinya.


Setelah mendapat teguran dari Ratu, Stella melepaskan mahkota yang terpasang di kepalanya. Dia pun bergabung bersama semua orang disana tapi dia tidak bisa berbaur dengan mereka. Sekuat apapun dia menunjukkan kepolosan dan senyuman manisnya, tidak ada yang dekat dengannya. Bahkan dia mencoba untuk mendekati Putri Viona, tapi tidak berhasil karena Viona dekat dengan Roselia.


Belum selesai makan siang, tiba-tiba saja Michael merasakan pusing kepala dan izin pamit terlebih dahulu. Sebagai tunangan, Roselia berniat untuk mengantar Michael ke kamarnya tapi pria itu menolak dan meminta Roselia untuk menghabiskan makanannya. Dia tidak mau kalau Roselia sampai telat makan dan akhirnya dia jatuh sakit.


*****


Tak lama setelah Michael pergi, Stella pun ikut pergi. Dia melihat Michael di lorong berjalan sempoyongan. Stella pun menarik Michael masuk ke dalam salah satu ruangan dan dia mengunci ruangan itu dengan cepat. Beruntung di tempat itu tidak ada pengawal Karena mereka sedang pergantian shift jaga.


"Stella? Kau..." Michael memegang kepalanya, sama-sama dia melihat Stella disana.


"Sepertinya ramuan cinta itu berhasil," Stella tersenyum menyeringai melihat Michael yang terlihat seperti kepanasan.


Ramuan cinta? Apa yang wanita ini katakan?

__ADS_1


...****...


__ADS_2