I'Ll Became A Villain'S Daughter

I'Ll Became A Villain'S Daughter
Bab 78. Stempel raja


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Di ruangan khusus tamu kerajaan Gamarcus, disanalah saat ini Alfonso, Asteorope dan Cain berada. Mereka bertiga berbincang masalah kedua negeri juga masalah Roselia.


Cain menyinggung soal Roselia yang tak lain adalah anak mendiang sahabatnya Alexander dengan kata lain Cain akan menjadikan Roselia sebagai putrinya. Walaupun memang sebenarnya Roselia adalah Ariana putri kandungnya. Namun orang-orang hanya tau Roselia adalah putri Alexander, putri seorang kstaria sekaligus pengkhianat di medan perang bertahun-tahun yang lalu.


"Jadi kau sudah mengenal Alexander, tuan Cain?" tanya Alfonso sambil meneguk air minum didalam cangkirnya pelan-pelan.


"Iya, beliau cukup dekat dengan saya karena saat itu saya adalah orang yang pernah beliau selamatkan ketika perang antara Albarca dan Gamarcus karena kesalahpahaman." jelas Cain menyerang titik lemah raja Gamarcus yang memberikan hukuman mati pada Alexander padahal setelah kematian Alexander terungkap bahwa semua itu hanyalah kesalahpahaman dan Alexander adalah kambing hitam.


Raja Alfonso dan hanya beberapa orang saja yang tau tentang kebenaran Alexander. Bahwa pria itu adalah kambing hitam, tapi karena Raja tak mau disalahkan. Dia tetap menetapkan Alexander sebagai penjahat yang mengkhianati negara.


Asteorope yang tidak tahu apa maksud ucapan Cain, merasa bingung. Apalagi mereka membicarakan tentang ayah Roselia yang ia tau pria itu adalah pengkhianat negara dan itu sebabnya Roselia disebut pengkhianat negara.


"Oh begitu ya." Alfonso tidak merespon lebih banyak karena ia takut pembahasan akan melebar dan mengorek tentang dirinya yang tidak adil di masa lalu.


Kenapa penyihir agung tiba-tiba mengungkit soal Alexander?


"Yang Mulia, ini sudah bertahun-tahun...jangan biarkan orang tidak bersalah menanggung nama jelek bahkan jika orang itu sudah tiada." Cain menatap Raja Gamarcus itu dengan atensi tajam dan tanpa rasa takut.


"Apa maksud--" tiba-tiba saja Alfonso menggantung ucapannya di sana. Dia sadar bahwa tidak hanya ada dirinya saja yang berada disana tapi juga Asteorope dan dia harus menjaga image didepannya.


Sial! Kenapa dimatanya aku seperti seorang penjahat? Sepertinya dia adalah salah satu orang yang mengetahui bahwa aku menjadikan Alexander sebagai kambing hitam.


Alfonso merasa terhina, sebab dimata orang-orang ia seperti malaikat yang dihormati semua orang dengan keadilannya. Tapi didepan seorang Cain dia seperti penjahat busuk yang sangat buruk. Itulah arti tatapan Cain padanya.


"Maaf, aku sedang tidak enak badan... sepertinya aku harus menyudahi pembicaraan ini." ucap Alfonso buru-buru mengalihkan pembicaraan ke arah yang lain sebelum merembet kemana-mana, ia memilih pamit.


"Baiklah kalau begitu Yang Mulia, silakan anda beristirahat." ucap Cain dengan suara datar.


"Silahkan beristirahat Yang Mulia." kata Asteorope yang terlihat prihatin dengan kondisi Raja. Namun disisi lain dia merasa curiga mengapa sang Raja tiba-tiba pergi begitu saja.


"Kalau begitu silahkan nikmati waktu kalian, maaf aku harus pergi lebih dulu." kata Alfonso lalu tersenyum sopan pada Cain dan Asteorope yang sudah bangkit dari kursinya.


"Tidak apa-apa Yang Mulia raja, kesehatan anda adalah yang terpenting, jangan sampai anda sakit." kata Cain seraya menundukkan kepalanya dengan hormat. Arti kata-kata manis Cain adalah bentuk peringatan kepada Raja Alfonso untuk menjaga dirinya dari kemungkinan terburuk yang akan terjadi karena ketidakadilan yang di masa lalu. "Ingatlah Yang Mulia, setiap perbuatan yang anda lakukan pasti ada balasannya dari Tuhan." bisik Cain pada Alfonso yang membuat raut wajah pria itu memucat.Tangannya mengepal erat menahan amarah.


"Aku akan selalu mengingat nasehat anda penyihir agung." balas Alfonso dengan salah satu sudut bibirnya yang terangkat.


"Gerald! Kau bertugas untuk mengantarkan kedua tamu kita apabila mereka ingin beristirahat," titah Alfonso pada salah satu ajudan terbaiknya.


"Ya, Yang Mulia!" jawab Gerald patuh, pria itu memiliki rambut coklat dan salah satu tangan kanan Alfonso.


Alfonso pun pergi dari sana dengan sekretarisnya, kemana-mana dia selalu bersama sektretarisnya itu. Dia pergi dengan perasaan kesal dan terancam karena Cain.


"Sial! Benar-benar sial!" Alfonso menumpahkan semua kesalahannya begitu dia sampai di kamarnya. "Raine Caine Alvra! Apa kau sedang menaruh genderang perang diantara kita?!"


Alfonso tidak terima dengan ucapan Cain yang menyindirnya, dia melempar barang-barang yang ada di atas mejanya.


Belum surut amarahnya itu, seseorang datang menemuinya. "Siapa yang berani menggangguku?!" teriak Alfonso pada orang yang berada di depan pintu.


"Yang Mulia, maafkan saya...tapi--"


"Aku kan sudah bilang aku tidak mau diganggu oleh siapapun juga, apa kalian TULI hah?" hardik pria itu dengan marah dan suara meninggi. Sebelumnya Alfonso sudah mewanti-wanti para pengawal yang berjaga didepan kamarnya agar tidak seorang pun mengganggunya. Termasuk anggota keluarganya sendiri karena ia ingin menenangkan diri. Namun apa ini? Baru saja dia masuk ke kamar dan sekarang dia diusik?

__ADS_1


"Yang Mulia, ini tentang Jennifer." bisik seorang pria didepan pintu dengan suara kecil yang membuat Alfonso tercekat dan langsung membuka pintu.


CEKLET!


"Kau? Beraninya dirimu datang ke kamarku dan menggangguku!" sorot mata sang Raja begitu tajam pada sosok yang kini berdiri didepan pintu kamarnya. Sosok pria tampan bak dewa Yunani itu memegang amplop di tangannya.


Namun pria itu malah menaikkan satu sudut bibirnya dengan satu alis yang terangkat. "Selamat siang Baginda Raja." sapa Javier sopan dengan senyuman ramah namun mematikan.


"Kau...mau apa kau kemari?" tanya Alfonso tajam.


"Apa Baginda tidak akan mempersilahkan saya untuk masuk terlebih dahulu?" tawar Javier sambil melihat-lihat ke dalam kamar itu.


Tanpa bicara apapun dan hanya menampakkan wajah kesal, Raja membuka lebar pintu kamarnya untuk Javier kemudian dia menutupnya lagi.


"Langsung saja kau mau apa kemari?" tanya Raja tanpa ba-bi-bu lagi.


"Yang Mulia, saya ingin membuat kesepakatan dengan Anda."


"Apa itu?"


Kenapa aku merasakan firasat buruk?


"Yang Mulia, tolong lihat ini..." Javier membuka kertas di dalam amplop coklat itu lalu menunjukkannya kepada sang raja.


Alfonso membaca apa yang berada disana, lalu dia tersenyum menyeringai dan matanya memicing. "Apa maksudnya ini? Kau...kau menginginkan Putri Mahkota untuk berpisah dari Putra mahkota? Apa kau bercanda?"


"Kenapa Yang Mulia raja? Apa anda tidak bisa mengabulkan permohonan saya? Atau Anda ingin rahasia anda mengenai Jennifer dan Duke Alexander saya buka di muka umum? Lalu mereka akan tau bahwa Rajanya ini hanyalah tukang fitnah dan berlaku tidak adil, belum lagi memiliki wanita simpanan..."


"Ah...atau perlu saya bongkar juga masalah ratusan orang yang mati karena keputusan anda yang salah dua tahun yang lalu di penambangan itu?" Javier melancarkan aksi mengancamnya demi membantu Roselia berpisah dari Michael. Walaupun tindakan nyata ini pasti membuat hidupnya terancam karena Alfonso tak akan tinggal diam.


"Cukup Marquez Martinez! Kau sudah keterlaluan, beraninya dirimu mengancam seorang RAJA!" hardik Alfonso pada pria itu, kemarahannya mendidih sejak tadi dan sekarang semakin panas saja saat mendengar ocehan Javier.


"Kenapa saya harus takut? Saya tidak salah apa-apa. Saya hanya memberi yang mulia pilihan, yang mulia ingin saya membongkar rahasia atau mengabulkan satu permintaan saya?" tanya Javier seraya tersenyum dengan nada bicara tegas.


Alfonso benar-benar gusar, kenapa hari ini begitu sial untuknya? Diancam sana-sini dari berbagai macam pihak. Termasuk Michael, putranya sendiri. Mungkin Michael bukan mengancam tapi memberikan penawaran.


"Ayah, jangan pernah ayah menyetujui perpisahanku dan putri Mahkota. Ayah...baru kali ini aku memiliki sesuatu yang benar-benar aku inginkan dan aku menginginkan dia bersamaku sampai akhir hayat."


"Jika Ayah melakukan apa yang kuminta, aku tidak akan mengambil tahta kerajaan ini dengan cepat dan masalah Jennifer akan aku tutup rapat."


Kata-kata Michael terngiang-ngiang di kepalanya, sungguh dia ingin meledak saat ini. Ancaman dari putranya mungkin masih bisa dia handle tapi tidak dengan Javier, sedikit saja dia membuat masalah dengan pria di depannya ini. Maka masa depan perdagangan dan perekonomian kerajaan Gamarcus yang bergantung kepadanya akan terancam.


Ya, itu karena keluarga Martinez ibaratkan jantung dan hati dari kerajaan Gamarcus dari sejak dahulu kala.


Setelah lama berpikir, akhirnya Alfonso beranjak dari tempat duduknya dan mengambil sesuatu di tempat lain dalam kamar itu. Tak lama kemudian Alfonso kembali duduk bersama Javier.


Tanpa bicara banyak, Alfonso membubuhkan tanda tangan dan juga stempelnya pada kertas perceraian yang dibawa oleh Javier.


Javier tersenyum menyeringai melihat surat itu, baginya ada surat dengan stempel raja, telah membuat Roselia terbebas dari ikatan pertunangan dan tentunya bebas dari Michael.


Satu musuh telah kusingkirkan, tinggal satu lagi.


Pria itu tersenyum menyeringai, lalu dia menyimpan kembali kertas tersebut ke dalam amplop. Sementara sang raja terlihat depresi setelah berhadapan dengan beberapa orang yang membuatnya pusing.

__ADS_1


****


Di depan kamar Roselia, Doris dan Peter sedang asyik memakan cupcake coklat dan strawberry di sana. Mereka bahkan suap-suapan meski Peter masih terlihat jaga image.


Namun dia sangat nyaman dengan sikap Doris yang hangat dan cerewet padanya. Akhirnya tekad untuk mengakhiri masa lajangnya, semakin bulat dan dia ingin memberikan pelabuhan terakhirnya itu kepada Doris.


"Bagaimana? Enak kan?"


"Enak, tapi... Apa kau juga bisa memasak makanan yang asin-asin?" tanya Peter sambil mengunyah cake coklat buatan Doris.


"Bisa, aku ini jago memasak...aku selalu memasak bersama yang mulia Putri mahkota. Tapi masakan yang mulia Putri mahkota jauh lebih enak dariku."


"Apa? Putri Mahkota juga bisa memasak?"


"Ya, dia sangat jago memasak. Apa kau lupa bahwa dulu saat yang mulia Putri mahkota berada di mansion Sullivan, Yang Mulia di perlakukan dengan tidak adil dan semena-mena. Dia bahkan dikurung di ruang bawah tanah yang gelap dan kotor, ingin makan saja yang mulia Putri mahkota selalu masak sendiri, dia...dulu sangat kasihan. Aku berharap kalau Yang Mulia Raja Asteorope benar-benar mencintai Putri Mahkota."


Mendengar cerita tentang Roselia dari Doris membuat Peter merasa bersalah karena sikapnya selama ini yang selalu berusaha menjauhkan gadis itu dari Rajanya. "Kau tenang saja, Baginda raja sangat mencintai Putri Mahkota dan dia adalah tipikal pria yang setia. Kau tidak usah khawatir!"


"Benarkah? Awas saja kalau dia sampai mengambil selir seperti raja-raja lainnya!" gerutu Doris mulai membayangkan yang tidak-tidak. Dia takut Roselia yang sudah seperti kakaknya sendiri disakiti setelah lama hidup menderita di mansion Sullivan.


Peter mengelus lembut rambut Doris, dia pun tersenyum. "Eh? Kenapa kau mengelus rambutku?"


Peter buru-buru menyingkirkan tangannya dari kepala Doris. "Euh... siapa yang mengelus rambutmu? Itu... tadi aku menyingkirkan daun di rambutmu." sangkal Peter atas perbuatannya.


Doris hanya tersenyum dengan penyangkalan Peter. Ketika suasana di rasa bagus dan aman, pelan-pelan Peter mulai merogoh saku celananya. Dia berniat untuk melamar Doris.


Namun saat itu Asteorope dan Cain datang menghampiri Doris dan Peter. Hingga Peter pun mengurungkan niatnya.


"Salam Yang Mulia Raja, salam tuan Cain." sapa Doris dan Peter seraya menundukkan kepala mereka dengan penuh hormat di depan 2 pria itu.


"Apa Putri Mahkota masih ada di dalam?" tanya Asteorope pada Doris seraya melihat pintu kamar Roselia yang tertutup rapat.


"Ya, Yang Mulia." jawab Doris.


"Doris, katakan padanya bahwa Tuan Cain ingin bertemu dengannya." titah Asteorope pada Doris.


Gadis berkepang dua itu segera masuk ke dalam kamar Roselia setelah mengetuk pintunya lebih dulu. Sementara Cain, Asteorope dan Peter menunggu di luar.


"Peter, kuperhatikan dari tadi kau seperti terlihat kesal? Ada apa? Apa kau tidak suka dengan kedatanganku kemari?" tanya Asteorope terheran-heran melihat wajah Peter yang ditekuk dan bibirnya mau memanyun saat kedatangannya.


"Ti-tidak Yang Mulia." Peter menggelengkan kepalanya.


Iya Yang Mulia, saya kesel karena anda tiba-tiba datang di saat saya akan melamar Doris.


"Hem..." Asteorope lalu melihat ke arah Cain yang tampak gugup. "Tuan Cain tenanglah, aku yakin Roselia akan percaya pada ucapanmu dan dia akan senang dengan kehadiranmu."


"Iya Yang Mulia, aku benar-benar sangat gugup karena aku akan berbicara dengan Ariana." Cain gelisah, sudah banyak kata yang dirangkai di kepalanya untuk bicara dengan Roselia.


...πŸ€πŸ€πŸ€...


Hai Readers, maaf kemarin aku gak up...karena author lagi kurang sehat 🀧🀧 ini babnya udah aku panjangin ya...☺️ aku akan up lagi malaman lagi kalau review cepet 😍


Guys mampir juga dong ke novel baruku, Angel for the devil, masih sepi nih

__ADS_1


__ADS_2