
...🍀🍀🍀...
"Itu terlalu cepat!" Ariana menggelengkan kepalanya, masa iya mereka menikah besok. Bahkan tanpa persiapan sama sekali.
"Tapi aku sudah tak sabar, Ariana." protes Asteorope dengan bibir yang mengerucut.
"As, pernikahan itu tidak bisa dilakukan mendadak seperti ini. Semuanya perlu persiapan,"
"Kita tinggal siapkan pakaian, undang orang terdekat dan mengucapkan sumpah! Sudah kan beres?"
"Itu memang benar, tapi kau adalah seorang Raja. Apa kau lupa? Pernikahanmu akan menjadi sorotan orang-orang, terutama rakyatmu dan aku juga akan menjadi permaisuri. Bukankah semua orang harus tau tentang itu? Atau--kau memang tidak berniat untuk menjadikanku permaisuri dan kau berniat menjadikanku selir?"
Cup!
Ariana terkesiap manakala ia merasakan serangan kiss dari calon suaminya. Bahkan Asteorope mengigit bibir bawah Ariana dengan gemas.
"ACK! Hey As!" pekik Ariana dengan kening berkerut.
"Itu akibatnya karena kau bicara sembarangan! Siapa juga yang akan memiliki selir? Aku hanya memiliki satu Ratu, kau seorang. Aku tidak mau pusing, seperti raja-raja yang lain dan mereka memiliki selir. Aku hanya ingin memilikimu dan hanya kau seorang, paham?" jelas pria itu tegas.
"Oh baiklah kalau begitu." Ariana ber oh saja.
"Jadi kau mau pernikahan kita seperti apa?" tanya Asteorope. "Kau ingin pernikahan yang mewah?"
Asteorope sangat mengenal bagaimana sifat Ariana yang sederhana, bahkan saat di dunia modern. Walaupun Ariana adalah seorang artis papan atas yang mempunyai banyak uang, tapi penampilan dan juga rumah yang dimiliki oleh Ariana tampak sederhana.
"Tidak! Bukan pernikahan yang mewah, tapi aku ingin pernikahan kita diketahui oleh semua orang. Terlebih lagi kau adalah seorang Raja, ya mau tidak mau pernikahan kita harus dirayakan secara mewah dan besar-besaran." kata Ariana menjelaskan.
Apa yang dikatakan Ariana sepenuhnya memang benar. Asteorope adalah seorang raja dari sebuah negeri yang besar, otomatis pernikahannya pun harus dirayakan secara besar-besaran dan semua orang harus tahu bahwa dia memiliki seorang permaisuri.
"Kau benar juga."
"Baguslah kalau kau mengerti, kau adalah seorang Raja dari sebuah negeri, As. Semua orang berhak tau tentang pernikahanmu dan juga pernikahan itu membutuhkan persiapan."
"Baiklah mari kita ikuti caramu, persiapan atau apalah itu...mari kita lewati semuanya. Apakah 1 Minggu cukup?" tanya Asteorope seraya menggenggam tangan gadis itu.
Ariana menganggukkan kepalanya, kemudian ia tersenyum. "Iya, satu Minggu bisa."
"Kau dan Doris akan mengatur segalanya, aku serahkan pada kalian."
"Iya baiklah As."
Lagipula dia adalah seorang pria, mana bisa dia mengerti masalah pernikahan.
Cup!
Asteorope mengecup kening Ariana, lalu mengusap kepalanya. "Tidurlah! Sampai jumpa besok pagi,"
"Iya As."
Setelah itu Asteorope keluar dari kamar Ariana, padahal ia ingin tidur bersama disana. Tapi dia sudah berjanji untuk menjaga komitmennya terhadap Cain dan Ariana untuk tidak melewati batasan sebelum mereka salah menjadi pasangan suami istri.
Apalagi di Albarca, rakyat di kerajaan itu sangat mengutamakan tata krama.
****
5 hari kemudian, awalnya Ariana tidak mendapat sambutan hangat dari beberapa pelayan dan juga penghuni istana Albarca tersebut. Sebab mereka mengira bahwa Ariana adalah wanita sembarangan yang dibawa oleh Raja mereka.
Namun perlahan-lahan mereka semua menyadari bahwa Ariana adalah calon permaisuri di kerajaan itu. Sikap mereka berubah drastis menjadi baik dan melayani Ariana dengan sepenuh hati.
Mereka percaya bahwa Ariana akan menjadi Ratu yang baik untuk kerajaan mereka. Gadis itu bahkan sudah terlatih menjadi pemimpin, sama seperti Roselia. Satu hal yang tidak mereka sadari bahwa Roselia dan Ariana adalah orang yang sama. Tapi biarlah tidak ada orang yang tahu tentang ini kecuali Doris dan juga orang-orang terdekat Ariana.
Javier juga masih ada di istana itu karena Cain memintanya untuk sekalian menghadiri pesta pernikahan Ariana dan Asteorope.
Siang itu Ariana tengah mencoba gaun pengantin di ruang rias. Doris dan beberapa dayang istana disana memujinya.
Ariana mengenakan gaun berwarna putih dengan tali pita ditengahnya, gaun itu menunjukkan bahu mulus dan agak seksi.
"Woah nona...anda sangat cantik!"
"Benar, nona. Anda benar-benar seperti peri."
"Yang Mulia Raja pasti akan senang melihatnya dan tidak akan bisa memalingkan tatapannya dari nona." kata seorang dayang yakin.
Pujian dari mereka benar-benar pujian dan tidak dibuat-buat, sebab Ariana bisa melihat ketulusan mereka. "Terima kasih, kalau begitu aku akan menunjukkan gaun ini padanya."
Tirai ruang ganti itu dibuka lebar, Asteorope tertegun dan atensinya tertuju pada Ariana yang sudah mengenakan gaun pengantin yang menurutnya terbuka itu.
__ADS_1
"Yang Mulia, bagaimana? Kata Doris dan yang lainnya, gaun ini cantik dan cocok untukku. Iya kan? Aku juga merasa bahwa aku sangat cocok ketika memakainya!"
Asteorope masih diam membeku, namun tatapannya menelisik pakaian itu dan Ariana seolah sedang menelanjanginya. "A-as...kau kenapa?" bisik Ariana para pria yang tengah berdiri didepannya itu.
"Kalian semua keluarlah! Jangan ada yang masuk sebelum aku perintahkan!" seru Asteorope pada pengawal dan beberapa dayang yang ada disana.
"Baik yang mulia,"
Ariana bingung, kenapa Asteorope tiba-tiba saja menyuruh mereka semua keluar sedangkan ia dan Asteorope belum selesai memilih baju pengantin mereka.
"Eh! Kenapa kau menyuruh semua orang pergi?" Ariana keheranan dengan Asteorope yang meminta semua orang pergi dari sana.
Pria itu semakin mendekat pada Ariana, lalu satu tangannya merengkuh tubuh Ariana. "As...ada apa?"
"Aria, apa kau suka gaun ini?" tanyanya dengan suara yang tajam dan membuat Ariana berdebar. Apa dia ada salah dengan pria itu? Pikirnya dalam hati.
"Iya aku suka!"
"Oh."
Ariana semakin heran sampai menelan ludahnya saat melihat raut wajah Asteorope yang awalnya lembut kini berubah seperti bongkahan es. "As..."
"Kau suka gaun ini kan? Baiklah!"
Asteorope tiba-tiba saja menggendong wanita itu tanpa aba-aba, gaun putihnya yang di desain robek bagian kirinya membuat paha mulusnya terekspos. "KYAAKK! AS, apa yang kau lakukan?!" seru Ariana terkejut bukan main.
Pria itu membawa Ariana masuk ke ruang ganti, dimana ada cermin besar disana. Asteorope memperlihatkan pada Ariana, bagaimana wanita itu di cermin. Ariana terlihat cantik dan seksi.
"Lihatlah kau sangat suka gaun ini bukan? Aku juga suka!" cetus Asteorope dengan nada bicara yang tajam.
"Ta-tapi kenapa dari nada bicaramu sepertinya kau tidak suka ya?" kata Ariana jujur, ia menangkap pria itu tersenyum tapi di marah.
Ariana terkejut, manakala tangan Asteorope meraba-raba paha dan bagian dadanya. "Ahhh...As!"
"Aku suka sekali...gaunmu ini memperlihatkan paha mulusmu, belahan dadamu dan juga..." Asteorope kemudian menelusupkan tangannya ke atas paha Ariana dan membuat gadis itu ketakutan.
"KAU MESUM! Lepaskan tanganmu itu, geli!"
"Kau suka gaun ini kan? Bagus, aku juga suka karena mudah dibuka!" kata Asteorope lalu memperlihatkan bagaimana terbukanya gaun itu pada Ariana. Sedangkan wajah Ariana sudah merah seperti kepiting rebus.
"As...aku paham, aku paham, aku tak akan pakai gaun ini..tidak!"
"Iya, aku tidak akan pakai! Jadi hentikan semua ini dasar Raja cemburu!" ketus Ariana sebal dengan sentuhan dari Asteorope yang mendominasi ditubuhnya.
Asteorope kemudian tersenyum dan mengangkat tubuh Ariana ke atas meja panjang disana. Gadis itu menekuk wajahnya sebal, ia sangat tidak suka pada sikap Asteorope.
"Sayang jangan marah, aku cuma mau mengingatkanmu kalau kau tidak boleh mempertontonkan kecantikan dan tubuhmu didepan orang banyak,"
"Bukankah bagus kalau aku tampil cantik? Kau juga akan bangga padaku, bukan?" pikir Ariana dengan bibir yang mengerucut.
"Cantik didepanku saja sudah cukup Aria sayang, aku tak mau kalau pria lain ikut melihat kecantikanmu juga!"
"Ah ya baiklah dasar kau posesif raja pencemburu,"
Cup!
Kecupan manis dari Asteorope membuat Ariana terdiam, setidaknya bibir yang mengerucut itu sudah berganti menjadi senyuman dibibir Ariana.
"Sudah jangan marah lagi, aku akan memilihkan gaun yang cocok untukmu,"
"Terserah kau saja, aku menurut saja padamu." kata Ariana manggut-manggut, daripada nantinya berbuntut panjang dengan cemburunya pria itu lebih baik ia menurut.
"Bagus sayang," Asteorope senang dengan keputusan Ariana.
******
Usai memilih gaun untuk pernikahan mereka yang hanya tinggal 2 hari lagi, akhirnya Ariana bisa sedikit santai karena semua persiapan telah selesai.
Ariana mulai bosan karena Asteorope dan Cain sibuk dengan urusan negara. Sebelum hari h pernikahan, Asteorope dan Cain sengaja mengerjakan pekerjaan mereka dulu agar tak terlalu menumpuk. Bahkan Asteorope memiliki banyak pekerjaan yang menumpuk karena sudah lama ia meninggalkan Albarca.
Kini gadis itu tengah bersama Doris dan Daisy, dayang yang selalu ada disampingnya selama berada di Albarca.
"Nona, apa nona bosan?" tanya Daisy pada Ariana yang melamun sendiri.
"Iya."
"Bagaimana kalau kita melihat para ksatria yang sedang berlatih memanah?" tawar Doris pada nonanya yang sebentar lagi akan berganti status menjadi Yang Mulia.
__ADS_1
"Boleh juga!" Ariana kembali bersemangat dengan ajakan Doris dan Daisy padanya.
Mereka bertiga pun pergi ke base camp kstaria white knight yang tengah berlatih memanah. Ariana terlihat menikmati apa yang ia saksikan disana.
Atensi Ariana teralihkan pada beberapa dayang istana yang tengah melihat sesuatu dengan tatapan berbinar-binar. Mereka bahkan berbisik-bisik saat melihat sosok itu.
Apa yang mereka lihat sampai seperti itu ya? Aku jadi penasaran.
Ariana mendekat ke arah para dayang itu dan berada di belakang mereka. Doris dan Daisy juga mengikuti Ariana.
"Hey apa aku sudah cantik? Bagaimana make up ku? Apa bagus?"tanya seorang dayang pada temannya.
"Kau sangat cantik! Apa kau benar-benar akan menggodanya?" tanya temannya itu.
"Bukan menggoda tapi dia sendiri yang akan tergoda padaku,"
"Unch dia sangat hot! Benar-benar hot!" kata seorang dayang yang tidak bisa memalingkan wajahnya dari Javier yang tengah berlatih pedang bersama Theo. Mereka yang berkeringat itu tidak memakai baju dan menampakkan pemandangan yang indah bagi kaum hawa.
Semua dayang pun berlomba untuk mendapatkan perhatian Javier dan Theo. Mereka terpesona pada kedua pria tampan itu.
"Eh...tapi kita belum tau apakah tuan Marquez sudah punya istri atau belum. Bukankah kita harus bertanya lebih dulu?"
"Dia belum punya istri," jawab Ariana sambil tersenyum, tampaknya para dayang itu masih belum menyadari kehadirannya disana.
"Benarkah? Kau tidak bohong kan?" tanya si dayang yang paling centil diantara semua dayang disana.
Daisy kesal melihat para dayang itu, sebab mereka bukannya bekerja tapi malah menikmati roti sobek. Jika bukan karena Ariana, Daisy pasti sudah menegur mereka semua.
"Aku tidak berbohong, dia adalah orang yang sulit jatuh cinta." ucap Ariana sambil tersenyum, ia menahan tawa melihat para dayang itu.
"Lalu apa kau tau tuan Javier menyukai wanita yang seperti apa?"
"Yang jelas bukan wanita pemalas seperti kalian!" sentak Daisy kesal dan akhirnya semua dayang itu melihat kebelakang mereka.
"Nona!" semua dayang itu menundukkan kepalanya didepan Ariana, wanita yang sebentar lagi akan dinobatkan sebagai Ratu negeri itu.
"Maafkan kami nona, kami tidak bermaksud untuk lalai!" kata dayang dayang itu kompak.Suara mereka sampai membuat Javier dan Theo menghentikan latihan pedang mereka.
Ariana? Javier melihat ada Ariana disana bersama para dayang.
"Aku memaafkan kalian kali ini, kemudian pergilah untuk menyelesaikan tugas kalian masing-masing. Ketika tugas kalian sudah selesai, kalian bisa menemui Javier...cobalah untuk mengirimkan surat cinta padanya, hehe."
"Surat cinta?"para dayang itu saling melirik satu sama lain.
"Ya, siapa tau dia bisa merasakan ketulusan hati kalian. Cobalah untuk melakukannya!" saran Ariana.
Para dayang itu menganggukkan kepala mereka sambil tersenyum, mereka setuju dengan saran Ariana. Kemudian mereka pun pergi ke dalam istana untuk melakukan pekerjaan mereka masing-masing.
"Nona kenapa anda memberikan saran seperti itu? Kita tau bagaimana sikap tuan Javier, mungkin saja surat cinta itu akan di robeknya atau mungkin yang lebih buruk akan dia akan membunuh dayang dayang itu nona,"
"Ayolah! Dia sudah berubah, dia tidak akan begitu haha." Ariana menepis semua ucapan Doris padanya.
Raut wajah Doris dan Daisy tiba-tiba saja berubah menjadi pucat, mereka menundukkan kepala mereka. "Hey! Ada apa?"
Ariana bingung mereka berdua tiba-tiba saja begitu, kemudian ia pun menoleh ke belakangnya. Terlalu sosok pria bertubuh tinggi dengan belahan otot dada yang terlihat dibalik baju yang kancingnya yang terbuka itu.
"Javier!"
Javier langsung tersenyum ramah menyambut kehadiran Ariana disana. Sementara itu Daisy dan Doris malah berbisik-bisik.
"Doris kau lihat itu? Tadi tatapannya begitu menyeramkan seperti ingin memakan orang, tapi saat ada nona Ariana, raut wajahnya langsung berubah." Daisy takjub akan perubahan wajah Javier saat ada di depan Ariana.
"Percayalah, tuan Javier sudah jinak didepan nona Ariana." bisik Doris pada Daisy. Ia sudah tau benar bagaimana Javier kalau didepan Ariana. Pada wanita lain Javier sangat dingin, tapi tidak pada Ariana.
****
Gamarcus, istana Raja.
Pierre datang tergesa-gesa sambil membawa surat undangan yang berlogo kerajaan Albarca. Pierre masuk ke dalam ruangan sang Raja, yaitu ruangan Mikhael.
"Ada apa Pierre?"
"Yang Mulia, ada undangan untuk anda. Katanya Raja Albarca akan segera menikah."kata Pierre sambil menyimpan surat undangan itu ke atas meja kerja Mikhael.
"Apa? Dengan siapa Raja Asteorope dari Albarca akan menikah?" tanya pria berambut merah sambil melihat surat undangan ditangannya.
"Ariana Moane? Siapa gadis ini?" Mikhael penasaran, siapa gadis yang sudah mencuri hati Asteorope secepat itu dari Roselia yang katanya sangat ia cintai.
__ADS_1
...*****...