I'Ll Became A Villain'S Daughter

I'Ll Became A Villain'S Daughter
Bab 117. Ariana Dewi Hollywood


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Dengan senang hati Sheila meminjamkan ponselnya itu dan ia berharap bahwa wanita yang bernama Ariana segera datang ke sini, untuk memecahkan keras kepala pria itu yang tidak mau disentuh oleh siapapun juga selain Ariana.


"Halo nona Ariana!" Theo merasa sangat bersyukur karena Ariana langsung mengangkat teleponnya.


"Ini siapa?"


"Nona, ini saya Theo."


"Theo? Kau ada dimana? Dimana pula Javier? Apa kalian masih ada di dunia ini?" tanya Ariana dengan suara yang cemas dari seberang sana.


"Hah? Pertanyaan nona begitu aneh, tentu saja kami masih ada di dunia ini dan kami masih hidup." Theo merasa ambigu dengan pertanyaan Ariana.


"Serius? Lalu--kalian ada di mana sekarang?"


"Tuan Javier terluka dan kami berada di club xxx." jelas Theo.


"Baiklah, aku dan As akan pergi kesana sekarang juga."


"Iya nona, cepatlah kemari!" Theo berucap buru-buru.


Tut...Tut...


Setelah itu panggilan telepon diputus secara sepihak oleh Ariana. Theo mengusap dada dan merasa lega, lalu dia pun menyerahkan kembali ponsel Sheila kepada pemiliknya.


"Bagaimana?" tanya Javier seraya menoleh pada Theo.


"Nona Ariana akan segera datang kemari, tuan."


"Sambil menunggu, bagaimana bila kau diobati dulu oleh dokter keluargaku!" seru Sheila memberi saran. Disana sudah ada seorang dokter pria yang ingin mengobati Javier, lalu ditolak oleh pria keras kepala itu.


"Diamlah..." ucap Javier lemas.


Beberapa menit kemudian, Ariana dan Asteorope datang ke club malam itu. Mereka berdua langsung masuk ke dalam ruangan VVIP. Ariana memakai masker dan topi agar tidak ada yang mengenalinya.


"Apa yang terjadi?" Ariana melihat Javier begitu pucat. Tatapan Asteorope juga tertuju pada Javier.


"Apa kau yang bernama Ariana?" tanya Sheila begitu retoris pada gadis yang memakai setelan celana jeans, jaket hitam, topi dan masker hitam itu.


"Iya,"


"Silahkan kau obati dia, dia terluka dan dia tidak mau disentuh oleh siapapun juga." ucap Sheila jutek.


"Hah?"

__ADS_1


"Nona, tolong tuan!" Theo merengek pada Ariana.


Ah...tuan Javier, bukankah Anda bilang ingin melupakan Nona Ariana? Lalu kenapa anda masih ingin diperhatikan olehnya? batin Theo yang masih merasakan Javier merasakan cinta untuk Ariana alias belum ikhlas sepenuhnya.


"Ada apa denganmu, bodoh?" tukas Asteorope pada Javier, ketika melihat punggungnya terluka.


"Diam kau brengsek!" Javier mengumpat Asteorope.


"Kau masih sempat mengumpat disaat terluka seperti ini? Lebih baik diobati dulu, kan?" omel Ariana pada Javier.


"Nona...tuan Javier tidak mau disentuh oleh siapapun." jelas Theo.


"Apa? Jadi kau ingin calon istriku yang mengobatimu?" tanya Asteorope kesal.


Oh, jadi gadis ini sudah punya kekasih. Kenapa si kepala batu ini menyukai gadis yang sudah mempunyai calon suami?


Sheila tersenyum mendengar ucapan Asteorope yang mengatakan bahwa dia adalah calon suami Ariana.


"As... tenanglah!" Ariana memegang lengan Asteorope. "Aku akan mengobatinya, tidak apa kan?" bisik Ariana.


"Tapi..."


"Kau tau kan dia tidak bisa sembarangan menyentuh orang lain?"


"Sayang." lirih Ariana pelan dan membuat Asteorope mengangguk dengan terpaksa. Walau sebenarnya hatinya sangat jengkel.


"Aku menyetujuinya karena aku ingin masalah cepat selesai! Kau jangan mengambil kesempatan pada kekasihku!" ujar Asteorope emosi.


"As..." lirih Ariana pelan.


Dengan terpaksa Ariana duduk di samping Javier dan dia berperan sebagai dokter dari pria itu. Dengan telaten Ariana mengobati luka di punggung Javier, bahkan mereka tidak percaya bahwa Ariana juga bisa menjahit luka seperti sudah berpengalaman.


Asteorope juga takjub pada Ariana, kekasihnya ini serba bisa. Tidak hanya akting, memasak, cantik, jago beladiri, bisa merangkap menjadi dokter pula. Theo dan Sheila juga merasakan kekaguman yang luar biasa pada gadis multitalenta itu.


Wanita ini benar-benar hebat, apakah dia dokter? Tapi aku penasaran ingin melihat wajahnya, apa dia cantik? Apa dia lebih cantik dariku? Kalau dia Ariana Moane, jelaslah aku tak bisa bersaing dengannya. Tapi mana mungkin dia adalah Ariana yang itu? batin Sheila penasaran.


"Nona, apa anda seorang dokter?" tanya seorang pria yang berprofesi sebagai dokter, dia itu yang sebelumnya dibawa oleh Sheila.


"Tidak, aku hanya pernah sekolah kedokteran. Tapi tak selesai." kata Ariana santai, usai membalut luka di punggung Javier dengan perban. "Rupanya kau juga manusia dan bisa terluka." gumam Ariana pelan pada Javier.


"A-apa? Jadi anda belum berpengalaman?" tanya dokter pria itu sambil menelan ludahnya.


"Tenang saja, orang ini tidak mudah mati meski aku menanganinya asal-asalan." ucap Ariana begitu santai, padahal menurut si dokter hal ini adalah hal serius. Pasalnya bagaimana bisa seseorang yang tidak memiliki lisensi sebagai seorang dokter bisa melakukan operasi kecil?


"Kau--"

__ADS_1


"Javier kau diam!" serka Asteorope yang melarang Javier untuk bicara dengan Ariana.


Tak lama kemudian Sheila membawakan segelas air minum yang diberikan oleh Belva padanya. Lalu dengan sengaja Sheila menyiram wajah Ariana dan membuat maskernya basah.


"Ma-maafkan aku, aku tak sengaja." kata Sheila meminta maaf.


"Jelas-jelas kau sengaja!" kata Asteorope dan Javier kompak, melirik sinis pada Sheila.


"Tidak apa-apa, tapi kalau kau ingin melihat wajahku seharusnya bilang saja." Ariana membuka maskernya kemudian memperlihatkan wajah cantiknya.


Beberapa bodyguard Sheila, terpana melihat Ariana. Sheila juga terpana dan tidak percaya bahwa Ariana yang ada di depannya adalah Dewi Hollywood.


"Kyaaakk!! Ariana Moane!"


"Ariana, apa kau benar-benar Ariana? Ini keren sekali...aku fans mu!" kata Belva sambil mengeluarkan ponselnya, ia ingin meminta berfoto dengan Ariana.


Astaga, Ariana sangat cantik...lebih cantik dari foto aslinya. Pantas saja Javier menyukainya.


Seketika Sheila merasa insecure karena Ariana lebih segalanya darinya. Tidak heran bila Javier menyukainya.


"Ariana, aku minta tanda tangannya!"


"Ariana aku minta foto!"


Para bodyguard Sheila memuja Ariana, Sheila menjadi semakin insecure kalau bersaing dengannya.


"Hanya perempuan saja yang boleh berfoto dengan kekasihku," kata Asteorope tegas dengan bibir yang monyong.


Terjadilah sesi foto dan tanda tangan di club itu. Setelahnya, Ariana meminta semua orang yang mengetahui keberadaannya di sana untuk merahasiakannya karena bisa berbahaya kalau para wartawan tahu.


"Ayo kita pulang, ada yang harus kita bicarakan di rumah." ucap Ariana pada Javier dan Theo.


"Ada apa? Dari tadi aku melihat raut wajahmu tidak baik." Javier tidak sabar untuk bertanya. Dia melihat Ariana dan Asteorope terlihat gelisah.


"Doris menghilang." sahut Asteorope.


Javier dan Theo terperangah mendengarnya. "Menghilang bagaimana?"


"Sepertinya dia kembali ke dunia kita." kata Asteorope menjawabnya lagi.


"La-lalu kita?" tanya Theo bingung.


"Bisakah bicara nanti saja saat di rumah, Ariana sedang sedih." bisik Asteorope kepada dua pria itu. Ia melihat kesedihan di wajah Ariana. Nanti setelah sampai di rumah, ia akan bicara dengannya.


...****...

__ADS_1


__ADS_2