
...🍀🍀🍀...
Albarca, istana kerajaan.
Disinilah kini Ariana berada dengan tubuhnya sendiri, di istana Albarca. Istana yang selalu ingin dia kunjungi selama ini. Sayang, saat itu dia sempat mengunjungi istana Albarca saat sedang sekarat. Kini dia sehat dan ia bertekad untuk melakukan tour ke istana Albarca.
Ariana meninggalkan semua kehidupannya di dunia modern dan memutuskan untuk tinggal di dunia novel, dunia fantasi yang malah membuatnya lebih nyaman daripada tinggal di dunia modern. Setidaknya berada di dunia fantasi akan membuat Ariana dikelilingi dengan orang-orang yang mencintainya dan orang-orang yang dia cintai. Gadis itu sama sekali tidak merasa keberatan ketika meninggalkan dunianya dan pindah kemari.
Mereka sampai di Albarca pada malam hari, yang membuat semuanya harus segera beristirahat. Apalagi Ariana yang kondisinya masih sedikit sakit karena kecelakaan itu.
"Peter, antar tuan Marques Martinez dan juga Theo ke kamar mereka." Titah Asteorope pada orang kepercayaannya, untuk mengantar Javier dan Theo ke salah satu kamar yang ada di istana Albarca.
"Tidak perlu, kami tidak akan menginap. Kami akan langsung pergi ke Gamarcus." kata Javier menolak untuk tinggal lebih lama disana.
Bagi Javier, melihat Ariana kembali dalam keadaan selamat dan baik-baik saja, itu sudah cukup. Kini tugasnya sudah selesai, rasa bersalahnya perlahan mulai menghilang. Javier yakin bawa setelah ini Ariana akan hidup bahagia bersama orang yang dia cintai.
Kini sudah waktunya bagi Javier untuk pergi sebelum rasa cinta dan posesif di dalam dirinya untuk Ariana kembali bangkit. Menjauh, mungkin adalah jawaban dari semuanya. Javier yakin dengan menjauh, perlahan-lahan dia akan melupakan Ariana sepenuhnya, menghapuskan gadis itu dari dalam hatinya.
"Tapi ini sudah malam, alangkah baiknya jika kau dan juga Theo untuk menginap terlebih dahulu disini." ucap Asteorope pada kedua pria itu.
"Tidak, kami akan langsung pergi," ujar Javier.
Kini Ariana yang bicara."Javier, tinggallah disini untuk malam ini. Hari sudah malam dan--"
"Baiklah, aku akan tetap tinggal untuk malam ini."
Ketika Ariana yang bicara, Javier langsung setuju untuk menginap di istana itu. Jujur saja , Asteorope sedikit cemburu sebab ia tau bahwa Javier masih memiliki perasaan pada calon istrinya.
__ADS_1
Peter memandu Javier dan Theo pergi ke kamar tempat mereka akan menginap di istana itu. Kini di ruangan itu hanya ada Ariana, Cain dan Asteorope. Ariana melihat wajah sang ayah yang begitu pucat pasi setelah dia menggunakan kekuatannya untuk membawa mereka datang kemari.
"Ayah, apa ayah baik-baik saja?" tanya Ariana seraya mengusap pipi Cain yang terasa dingin.
"Ayah baik-baik saja nak, ayah hanya butuh istirahat saja untuk memulihkan kondisi tubuh ayah." jelas Cain yang tidak mau membuat Ariana cemas. Sebenarnya ada efek lain setelah perjanjiannya dengan Aragon, setelah dia menggunakan sihir teleportasinya untuk pergi ke dunia modern, semakin dia menggunakan kekuatan sihirnya maka tubuhnya akan semakin melemah dan usianya pun akan semakin berkurang. Tapi, Cain tidak mau anaknya mengetahui kondisinya saat ini, sebab hal itu hanya akan membuat Ariana cemas.
"Ayah, kenapa ayah melamun? Apa yang ayah pikirkan, ayo katakan padaku?!" sentak gadis itu yang merasakan ada sesuatu pada ayahnya, yang jelas sesuatu itu disembunyikan.
"Ariana putriku, ayah baik-baik saja dan sebaiknya kau pergilah beristirahat karena kondisi tubuhmu masih belum pulih." Cain mengusap lembut rambut Ariana.
"Ariana, tenang saja...ayahku tidak apa-apa. Dia hanya butuh istirahat." ucap Asteorope untuk meyakinkan Ariana bahwa ayahnya baik-baik saja.
"Hah? Kenapa kau manggil ayahku dengan sebutan ayah?" tanya Ariana mendelik pada Asteorope.
"Bukankah bentar lagi kita akan menjadi suami istri? Artinya ayahmu juga akan menjadi ayahku dan aku harus membiasakan diri untuk memanggilnya dengan sebutan ayah." tutur Raja Albarca itu menjelaskan. Cain hanya tersenyum tipis saat mendengarnya.
"Sejujurnya, gerakanku ini tergolong lambat, sebab aku harusnya menikahimu sejak lama." ucap Asteorope dengan senyuman manisnya pada Ariana.
Ya, kalau bukan karena semua masalah ini dan penculikan Javier yang menjadi cikal dari perpisahan Ariana dan Asteorope. Mungkin mereka sudah menjadi pasangan suami-istri sekarang.
Cain memegang kedua bahu Ariana dan menatap gadis itu dengan dalam. "Ariana, kau harus ingat kata-kata ayah! Jangan pernah kau gunakan kekuatanmu disini, ayah tidak mau kau berada dalam bahaya. Jika kau merasa ada yang aneh pada tubuhmu, kau harus melaporkannya pada ayah."
"Iya ayah, aku bahkan tidak tau bagaimana cara menggunakan sihir." ucap Ariana seraya tersenyum.
"Ya sudah, pokoknya kau harus bilang pada ayahmu ini bila kau merasakan sesuatu! Apapun itu dan sekecil apapun!" seru Cain tegas.
Ariana menjawabnya dengan anggukan yang patuh. Kemudian Cain pun pergi ke kamarnya untuk beristirahat, ia meminta Asteorope untuk mengantar Ariana ke kamarnya.
__ADS_1
Di lorong istana, semua orang melihat seorang gadis cantik yang dibawa oleh Raja mereka. Mereka pun mulai berbisik-bisik di belakang tentang Ariana.
"Hey, bukankah yang mulia Raja masih belum melupakan nona Roselia?"
"Benar juga. Lalu siapa wanita itu? Kenapa Yang Mulia membawanya?"
Para pengawal dan dayang di istana Albarca mulai bergosip tentang wanita yang dibawa oleh raja mereka. Pasalnya yang mereka tahu selama ini bahwa sang raja sangat tergila-gila dengan Roselia dan dipastikan bahwa pria itu tidak akan bisa melupakan cinta pertamanya.
Lalu sekarang tiba-tiba saja rajanya membawa seorang wanita pulang di waktu malam seperti ini. Mereka terheran-heran sebab Raja Asteorope terlihat sangat menyayangi wanita yang di bawanya itu, bahkan Ariana sampai diantar ke kamarnya oleh ia sendiri. Jangan lupakan bahwa Ariana masih memakai pakaian modern yang terlihat aneh bagi mereka yang disana.
"Ini kamarmu sementara Ratuku dan setelah kita menikah, kita akan tinggal satu kamar." Asteorope sendiri yang membuka pintu kamar yang berlapis emas itu.
Dilihat dari luarnya pintu kamar itu terlihat sangat besar apalagi didalamnya. Ariana tersenyum kemudian melangkah masuk perlahan-lahan ke dalam kamar tersebut, diikuti oleh Asteorope.
Ariana melihat ke setiap sudut kamar itu, kamarnya didominasi cat berwarna merah muda, nuansa ceria, ranjang yang memiliki kelambu seperti ranjang tuan putri. Bahkan di meja rias sudah ada beberapa peralatan make up, hiasan rambut dan berbagai barang-barang keperluan wanita di sana.
"Ariana? Apa kau suka?" tanya Asteorope padanya. Sebab pria itu melihat raut wajah Ariana yang terkagum-kagum.
Dia pasti menyukai dekorasi kamar ini.
"Suka sekali, kamar ini sangat indah dan juga seperti dekorasi kamarku yang berada di apartemen. Namun bedanya kamar ini sangat luas, mungkin 10 kali lipat luasnya dari kamar di apartemenku." jelas Ariana jujur dan ia menyukai kamar ini.
"Ya sudah, kalau begitu kau beristirahatlah. Kalau kau butuh apa-apa, ada seorang dayang didepan ruanganmu. Dia yang akan melayani semua keperluanmu selama keadaan Doris hamil."
Asteorope memeluk Ariana dengan erat, seakan tak mau melepaskannya. Tak hentinya ia mengecup pucuk kepala Ariana penuh kasih sayang. "Ariana, kita akan segera menikah...besok bagaimana?"
"HAH?!" Ariana tercengang dengan pertanyaan berupa pernyataan dari Asteorope tentang pernikahan mereka.
__ADS_1
...****...