
...🍀🍀🍀...
Setelah Ariana pulang dan mengurung dirinya di dalam kamar, tak lama kemudian Javier dan Asteorope juga pulang ke rumah.
Mereka langsung mencari keberadaan Ariana dengan wajah panik.
"Peter, dimana Ariana?" tanya Asteorope pada Peter yang berada di ruang tengah.
"Nona ada di kamarnya...tapi Yang Mulia, ada apa dengan wajah Anda kenapa lebam-lebam begitu?" tanya Peter heran melihat wajah rajanya lebam-lebam. Asteorope tidak menjawab dan dia langsung pergi ke kamar di mana Ariana berada.
Peter juga melihat wajah Javier yang lubang-lubang sama seperti wajah Asteorope. kurang lebih mereka sama. Hingga ia pun bertanya-tanya apakah Javier dan rajanya berkelahi.
Tok,tok,tok!
Asteorope berdiri di depan pintu dan mengetuk pintu kamar itu. "Ariana! Keluarlah! Aku ingin bicara padamu... aku akan menjelaskan sesuatu."
Didalam sana Ariana tengah melanjutkan tangisannya yang tadi sempat tertahan di lokasi syuting karena takut ketahuan orang-orang disana. Hanya Javier yang tau dirinya menangis. Ariana berbaring dengan posisi tengkurap, tangannya meremass bantal dengan kesal.
Bayangan yang ia lihat tadi, terus saja berputar-putar di kepalanya. Seperti kaset yang terus diputar berulang-ulang.
Muak!
Marah!
Kecewa!
Meski Asteorope marah kepadanya dan juga Thomas, tak seharusnya Asteorope membalasnya dengan wanita lain. Apalagi wanita itu adalah Luna, orang yang selalu membuatnya sakit hati dan merebut apa yang menjadi miliknya.
"Ariana, buka pintunya! Aku ingin bicara, kumohon...kita butuh bicara!" seru Asteorope yang masih menggedor-gedor pintu kamar tersebut tapi tak kunjung dibuka oleh Ariana.
Sementara itu Javier, Theo, Peter dan Doris. Melihat Asteorope dan Ariana seperti sedang bertengkar hebat. Pertengkaran ini sungguh tidak biasa.
"Ada apa dengan Baginda Raja dan juga Nona Ariana? Kenapa aku merasa pertengkaran ini begitu serius?" gumam Doris cemas, dia tidak pernah melihat nonanya bertengkar dengan kekasihnya sampai seperti ini.
"Benar, aku pikir juga begitu. Padahal waktu dulu di Gamarcus dan Albarca, yang mulia Raja tidak pernah bertengkar sampai seperti ini dengan Nona Ariana." Peter juga ikut merasakan kegelisahan yang dirasakan oleh Doris perihal pertengkaran ini.
Bukan pertengkaran biasa dan menuju pada hal yang serius. Padahal tujuan Asteorope datang ke dunia ini adalah untuk membawa Ariana kembali ke dunia dan negeri yang damai bernama Albarca. Ia sudah mempersiapkan segala sesuatu di sana untuk melamar Ariana dan juga membangun masa depan mereka berdua sebagai raja dan ratu. Sebagai pasangan suami istri yang hidup bahagia. Tapi kenapa pertengkaran ini harus terjadi?
Javier yang melihat pertengkaran itu, tidak ikut memanasi ataupun banyak berkomentar. Dia tidak membela Ariana maupun membela Asteorope. Baginya, pasangan kekasih itu sama-sama salah. Dan entah kenapa Javier tidak mau terlalu ikut campur dalam urusan pasangan kekasih itu. Hanya saja dia tidak suka melihat Ariana menangis. Ah... apakah ini pertanda bahwa hatinya telah ikhlas menerima Ariana bersama dengan pria lain?
__ADS_1
Anehnya, dia tidak ikut memanasi seperti biasanya. Inilah yang patut digarisbawahi.
"Hey King Albarca! Sudahlah, mungkin dia perlu waktu sendiri untuk menenangkan dirinya...jangan kau ganggu dia." Javier menepuk pundak Asteorope.
"Tapi--"
"Percuma saja bicara dengan orang yang sedang tersebut emosi, dia tidak akan mendengar apapun." ucap Javier bijak dan Asteorope setuju dengan itu.
Namun Javier yang menjadi sosok bijak dalam sekejap, tentunya membuat Theo, Doris dan Peter terperangah tak percaya.
"Hey Theo! Apa ada iblis yang bersemayam di tubuh tuanmu?"
"Entahlah... aku juga jadi berpikir begitu. Bagaimana bisa Tuan Javier begitu bijak." Theo orang terdekat Javier juga merasa keheranan dengan sikap pria itu.
Javier mendadak bijaksana dan dewasa, Asteorope mendadak emosional dan kekanakan. Apakah jiwa mereka tertukar?
Di dunia novel mungkin mereka terlihat bertengkar dan bermusuhan. Tapi kini kedua orang itu malah terlihat
"Lebih baik kau ikut aku, kita bicara diluar. Tapi--apa kau punya uang?" tanya Javier pada Asteorope.
"Uang? Ada..."
Asteorope menunjukkan sesuatu dari saku celananya, ada beberapa lembar uang di sana. "Tadi pak Sutra..sutra...itu memberikanku uang upah syuting. Aku tidak tahu benar jumlahnya berapa, tapi pasti kita bisa membeli sesuatu dengan ini. Memangnya kau mau beli apa?" tanya Asteorope pada Javier.
"Sesuatu yang bisa menyenangkan wanita...itu untukmu juga."
"Sesuatu apa itu?"
Dua orang bodoh yang tidak berpengalaman dalam hal percintaan, terlihat bingung sendiri dan bertanya-tanya apa yang membuat wanita bisa senang? Mereka pun bertanya pada Peter, yang memang statusnya sudah menikah dan tentunya dia pasti tahu apa yang disukai wanita.
Setelah berbincang dengan Peter dan Doris, Asteorope dan Javier pergi ke supermarket yang pernah mereka kunjungi bersama Ariana.
Dengan uang hasil syuting tadi, Asteorope dan Javier belajar berbelanja di supermarket itu. Tadinya Asteorope dan Javier ditawari untuk bermain film oleh sutradara itu di film yang lainnya.
"Ariana suka yang manis-manis, jadi belilah coklat yang banyak." ucap Javier sambil menaruh banyak coklat di troli.
"Ah...iya." Asteorope bingung dengan sikap Javier yang mendukungnya bersama Ariana padahal sebelumnya pria itu sangat menentang.
"Berikan juga bunga mawar tanda cinta, seperti apa kata si Peter. Kau harus berbaikan dengannya, jangan sampai masalah kalian berlarut-larut." nasihat Javier.
__ADS_1
Asteorope mengerutkan keningnya. "Javier...apa kau sakit? Kenapa kau tiba-tiba bersikap seperti ini?" tanya Asteorope.
"Oh anggaplah aku begitu."
"Javier...apa kau sudah rela bila aku bersama Ariana?" tanya Asteorope langsung. menembak pada intinya.
"Lebih tepatnya aku sadar."
"Sadar?" Asteorope menatap Javier dengan tajam.
Langkah kedua pria itu berhenti ketika mereka sampai di bagian tempat menjual sabun cuci.
"Aku sadar bahwa hanya kau yang bisa membuat Ariana menangis, bahagia dan merasakan cinta. Makanya aku mencoba untuk rela."
"Hah? A-apa kau..." Raja Albarca itu bingung dan sampai kehabisan kata-kata karena Javier.
"Aku akan mencoba menjadi kakaknya, sesuai janjiku pada tuan Cain. Aku hanya berharap dia bahagia dengan pilihannya, yaitu KAU." tegas Javier yang membuat kedua mata Asteorope membulat.
Deg...
Sejujurnya, Asteorope tidak percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh Javier. Ia berusaha menemukan kebohongan di dalam raut wajahnya dan juga tatapan mata Javier, namun dia tidak menemukan sedikitpun kebohongan di dalam raut wajah maupun tatapan matanya.
Javier kembali melanjutkan perjalanannya untuk berbelanja dan meninggalkan Asteorope yang mematung disana.
Ketika tengah berjalan, atensi Javier tiba-tiba saja tercuri pada seorang wanita yang tengah di jambret oleh dua orang pria yang mempunyai senjata tajam. Wanita itu terlihat lemah.
Javier berlari dengan cepat keluar dari supermarket itu untuk menolongnya. Namun alangkah kagetnya Javier begitu melihat si wanita itu dengan mudahnya mengalahkan dua orang pria tersebut.
Wanita itu dia seperti...
"Kalian! Beraninya macam-macam padaku! Akan kubunuh kalian!" wanita berambut pendek itu memelintir tangan kedua pria itu dengan satu tangannya.
"A-ampun nona..." kedua pria itu berada di bahwa kaki si wanita itu dan merintih kesakitan.
Javier terperangah dan terpana melihat sosok wanita hebat itu.
"Hey tuan yang disana! Tolong telepon polisi!" ujar wanita itu pada Javier yang berdiri mematung di depan pintu supermarket.
...****...
__ADS_1