
...🍀🍀🍀...
Peter terus memprovokasi Asteorope agar mereka kembali ke Albarca, tidak perlu bujuk dan rayuan yang keras. Asteorope memang sudah membulatkan tekadnya untuk kembali ke Albarca, dan dia memiliki rencana tersendiri untuk merebut Roselia dari Michael dan membebaskannya dari pertunangan kontrak.
Ketika Asteorope dan Peter berada dalam perjalanan kembali ke kerajaan Albarca, mereka berpapasan dengan Anthony dan trio Jackie Chan alias murid-murid Roselia.
"Tuan--maksud saya, yang mulia Raja!" kata Gerry sambil memberikan hormat pada Asteorope. Dia dan ketiga laki-laki disana kompak memberikan hormat pada Asteorope.
Asteorope tampak terkejut karena Anthony dan trio Jackie Chan itu tiba-tiba saja bersikap hormat padanya,padahal selama beberapa kali pertemuan. Mereka bersikap seperti teman padanya. Apa mungkin identitasnya sudah ketahuan? Bahkan Gerry memanggilnya raja.
"Maafkan kami atas ketidaksopanan kami selama ini pada yang mulia Raja," ucap Rowan yang masih menundukkan kepalanya.
"Be-benar, apalagi saya pernah mengajak yang mulia raja untuk sparing. Tolong ampuni nyawa saya!" seru Gerry memohon ampun pada Asteorope.
"Sa-saya juga pernah mengejek yang mulia, maafkan saya!" kata Erik dengan suara gemetar.
"Maafkan saya juga karena saya pernah memanggil yang mulia dengan sebutan kakak!" kata Anthony, anak remaja paling muda diantara trio Jackie Chan itu.
Asteorope mengerutkan keningnya, dia pun menoleh pada Peter lalu bertanya apa yang terjadi padanya. Peter pun menjawab dan memohon maaf karena Peter tak sengaja membongkar identitas Asteorope yang adalah seorang raja saat ia sedang mencari Asteorope ke daerah kumuh di pusat kota.
"Aku mohon jangan bicara seperti ini padaku, aku benar-benar tidak terbiasa! Bersikaplah seperti biasa dan jangan panggil aku Raja." bisik Asteorope pada ke empat pria yang belum juga berani untuk mengangkat wajah mereka.
Mereka berempat selalu bersikap tidak sopan padanya selama ini karena mereka tidak tahu bahwa Asteorope adalah seorang raja.
"Tapi yang mulia--" Rowan gelagapan dan takut.
"Aku banyak waktu untuk bicara pada kalian, karena aku harus segera kembali ke kerajaanku. Ada banyak rakyat menungguku di sana. Kalian tenang saja, Aku sama sekali tidak marah, atas perlakuan kalian semua kepadaku selama ini. Aku malah bahagia, karena kalian memperlakukanku sebagai seorang manusia dan teman. Jadi--Jangan panggil aku sebagai raja. Jika orang-orang yang di sini tahu bahwa aku adalah raja dari kerajaan musuh, maka akan menjadi masalah untukku, bukan?"
Keempat pria itu pun mengangguk-anggukan kepala mereka dan membenarkan semua ucapan Asteorope. Bila orang-orang yang berada di negeri Gamarcus tau Asteorope seorang Raja negeri musuh, pasti akan menjadi masalah besar baginya.
"Yang mulia, sekali lagi tolong maafkan kami karena telah bersikap sembrono!" kata Gerry memelas.
"Astaga! Sudahlah, kalian santai saja. Setiap aku datang kemari, tolong panggil aku dengan nama seperti biasa. Jangan panggil aku dengan panggilan Raja ya? Juga didepan nona Jackie Chan, kalian jangan pernah panggil aku begitu...."
"Kenapa yang mulia? Apakah guru belum tahu identitas yang mulia yang sebenarnya?" tanya Erik penasaran.
"Iya, jadi kumohon pada kalian untuk merahasiakan ini terlebih dahulu darinya. Aku akan menjelaskannya nanti!"
Mereka berempat kembali menganggukkan kepala dengan patuh. Sebenarnya Asteorope tidak nyaman dengan sikap mereka berempat yang biasanya selalu santai dan kini tiba-tiba menjadi formal karena mengetahui identitasnya.
Keempat orang itu mendadak diam dan hanya mendengarkan ucapan Asteorope. Suasana pun jadi hening dan membuat Asteorope resah.
"Ehm... aku boleh meminta sesuatu pada kalian? Aku ingin meminta tolong."
"Katakan saja yang mulia!" kata Rowan yang bersiap membantu pria itu. Diikuti dengan ketiga temannya yang mengangguk juga.
"Kalian tau kan kalau Roselia sudah bertunangan dengan putra mahkota, nah...aku ingin kalian menjaga Roselia karena ada seseorang yang mengincar nyawanya."
Keempat pria itu terlonjak kaget begitu mendengar penuturan dari Asteorope tentang adanya seseorang yang mengincar nyawa guru mereka. "Siapa orang yang berani mengincar nyawa guru?" tanya Erik dengan suara yang meninggi.
"Biar aku habisi dia sekarang juga!" Seru Gerry marah, sambil mengepalkan tangannya seperti akan memukul seseorang.
Roselia sangatlah di hormati oleh keempat pria yang mengklaim sebagai muridnya itu. Sementara itu Peter tidak suka dengan mereka semua yang mengagungkan Roselia, bahkan dia berpikir semua orang buta karena memuja gadis itu.
"Aku juga tidak tahu siapa orangnya, namun aku hanya tau bahwa seseorang yang ingin mencelakai Rosalia memiliki ilmu bayangan sihir. Nah, tugas kalian adalah mencari tahu siapa orang yang memiliki ilmu bayangan sihir itu dan beritahu padaku secepatnya!"
__ADS_1
"Yang mulia tenang saja, kami pasti akan memberitahukan pada yang mulia jika kami tahu siapa orangnya!"
"Lagipula... siapa orang yang ingin mencelakai guru? Apa dia tidak takut mati di tanganku!" kata Rowan dengan gigi yang retuk dan tangan yang siap untuk memukul.
Bukk!
Tiba-tiba saja Erik menjitak kepala Rowan.
"Heh! Jangan sok hebat kau! Bahkan ilmu bela dirimu saja masih jauh dibawah guru dan yang mulia raja!"
"Hiiih! Kau ini!" dengus Rowan kesal lalu balas memukul kepala Erik.
"Yang mulia, mohon abaikan saja mereka...anda sudah tau kan, kalau saya yang paling normal disini." Gerry nyengir dan mengklaim bahwa dirinya adalah paling normal di antara teman-temannya.
Asteorope hanya terkekeh geli melihat kelakuan 4 pria dari karangan rakyat jelata yang menjadi teman baiknya. Setelah dia menyelesaikan urusan membangun negerinya kembali, dia akan membawa empat pria itu untuk tinggal di Albarca, tentunya bersama Roselia juga.
Asteorope pun pergi bersama Peter setelah mempercayakan mereka berempat untuk menjaga Roselia sementara waktu dan untuk mencari tahu tentang orang yang memiliki bayangan sihir.
*****
Sementara itu di sebuah ruangan gelap entah dimana, terlihat ada dua orang wanita paruh baya dengan posisi terikat tali dan berada di penjara. Seorang pria berpakaian hitam-hitam diikuti dengan 3 orang pria dibelakangnya berjalan menghampiri dua orang wanita itu.
Mereka berdua tampak ketakutan dengan kehadiran sosok pria berpakaian hitam itu, ia memiliki mata yang menyala-nyala dan senyum menyeringai dan ya pria itu adalah Javier.
Wajah tampannya mampu menyihir kaum hawa dan itulah salah satu kelebihannya untuk memperoleh mangsanya. Setiap ada klien memintanya membunuh, pasti dia akan membuat mangsanya terpikat dengan pesona yang ia miliki. Dia yang sama sekali tidak tertarik pada wanita, tidak mau berlama-lama kalau kliennya menyuruh membunuh wanita.
"Kau...jadi kau yang membawa kami kemari? Kenapa kau tega sekali tuan Javier?!" kata seorang wanita dengan raut wajah yang sudah tidak dapat dikendalikan lagi.
"Aku pikir kau mencintaiku, ternyata kau..."
Tanpa banyak bicara, Javier langsung menancapkan pedangnya pada salah satu wanita yang berbicara padanya sampai melotot itu. Hingga pedang yang tadinya bersih menjadi kotor berlumuran darahnya. Bahkan darahnya muncrat kemana-mana dan si wanita yang satunya terlihat sangat syok melihat pembunuhan oleh Javier.
"Sial! Berisik sekali! Sungguh, aku tidak menyukai suaramu itu dasar wanita busuk!" ucap Javier sambil mengusap darah wanita itu yang terciprat ke wajahnya. Javier tampak datar walaupun dia telah membunuh seseorang dengan sadis.
"Kau...kau..." mata wanita itu terbelalak menatap Javier.
"Tenang, giliranmu akan segera tiba nyonya. Tapi, aku mau bersenang-senang dulu denganmu,"
"Dasar brengsek! Bajingan! Lepaskan aku dari sini, kau sampah! Aku kira Kau adalah pria baik-baik karena Kau berasal dari bangsawan kelas atas, tapi nyatanya kau--"
Belum sempat si wanita itu mengumpat Javier, tangannya sudah mendapatkan timah panas dari Javier. "AKHHH!! Panas...panas...Tolong!"
"Bagaimana? Apakah terapinya enak? Bukankah dengan tangan ini kau selalu menyentuh diriku!" tanpa wajah berdosa, Javier tega membakar tangan wanita itu dengan besi panas hingga kulitnya melepuh dan tulangnya terlihat.
Wanita itu meringis kesakitan bahkan sampai mengeluarkan butiran-butiran bening dari matanya. "Panas...ahh.... SAKIT!"
"Sakit? Lalu apa kabar denganku, saat kau memegang tanganku...aku juga merasa sakit dan jijik!" Seru Javier saat menyingkirkan besi panas itu dari tangan si wanita yang wajahnya tampak sudah berkeringat dingin.
"Ja-jadi...kau benar-benar seorang gay?"
"Ya! Dan beraninya kau melecehkan aku! Disinilah sekarang kau akan dapat balasannya." Pria itu tersenyum menyeringai dan ketiga pria yang sudah ditarik berada di belakangnya tidak berkomentar ataupun melakukan sesuatu dan mereka hanya diam saja.
Javier menyiksa wanita yang sudah merintih kesakitan itu dengan besi panas, sekujur tubuh wanita yang pernah menyentuhnya dia akan menyiksanya lebih dulu sebelum membunuh wanita itu.
"Kumohon...ahh....ini menyakitkan! Aku mohon padamu! A-aku akan lakukan dan akan berikan apapun yang kau mau, tapi kau harus melepaskan aku dari sini dan mengampuni nyawaku...kumohon..." wanita itu sudah tak berdaya karena di siksa habis oleh Javier, tubuhnya bahkan sudah penuh dengan luka bakar, hingga menampakkan tulang-tulang, darah, bahkan wajah cantiknya kini sudah tak terlihat.
__ADS_1
"Maaf, tapi--aku harus melakukan tugas ini!" Javier tersenyum menyeringai, lalu dia membawa besi panjang dan menusuk-nusuk perut wanita itu sampai dia menghembuskan nafas terakhirnya dalam keadaan melotot.
Setelah wanita itu tiada, Javier tertawa bahagia. "Ya, wanita memang makhluk merepotkan dan harus dimusnahkan dari muka bumi ini! Mereka hanya bisa menyakiti seseorang dan tidak peduli pada perasaan seseorang." gumam Javier sambil membersihkan tangannya yang terkena darah. Entah kenapa di mata Javier kini terlihat kesedihan dan kemarahan yang bercampur jadi satu.
"Kalian bawa mayar mayat busuk itu dan berikan mereka pada peliharaanku! Jangan biarkan kematian mereka sia-sia, biarkan mereka berguna sedikit!" titah Javier pada dua anak buahnya.
"Baik tuan!" sahut mereka patuh.
Kedua pria dibelakang Javier segera membawa dua mayat wanita yang mati mengenaskan di tangan Javier ke tempat yang diperintahkan oleh tuannya. Sementara ada satu orang lagi yang ada dibelakang Javier.
"Dan tugas untukmu--"
Pria itu menantikan apa yang akan dikatakan Javier selanjutnya.
"Cari tau tentang Roselia Mariana Edenbell! Semua tentangnya, terutama orang-orang terdekatnya."
"Maaf tuan, apa saya harus mencari informasi tentang Putri mahkota? Apa nama itu--"
"Benar, aku memintamu untuk mencari informasi tentang Putri mahkota kerajaan ini!"
"Ta-tapi tuan..."
"Tidak ada tapi-tapian, cari informasi tentangnya dengan rapi. Aku punya sesuatu yang baru untuk dipermainkan." Terlihat seringai di wajah Javier yang begitu menyeramkan.
Orang yang mengetahui rahasiaku, dia harus MATI. Tapi sebelum kematiannya aku akan mempermainkannya terlebih dahulu.
Anak buahnya hanya bisa patuh, dia tidak bisa melawan perintah dari tuannya. Bisa-bisa kalau melawan, nyawanya yang akan melayang.
****
Keesokan harinya, pagi itu Roselia sedang bersiap menghadiri kelasnya. Kelas-kelas yang harus dia ikuti selama dia menjadi putri mahkota.
Didalam perjalanan menuju ke ruang belajar bersama Doris dan Stella, dia melihat putri Viona yang kini sudah tidak diasingkan lagi, sedang duduk di tanah. Pakaian Viona kita sudah lebih baik dan tubuhnya juga bersih, tidak seperti terakhir kali dia bertemu dengannya.
"Putri Viona, kau sedang apa?" tanya Roselia sambil menepuk pundak Viona.
"Yang mulia putri mahkota!" Viona langsung berdiri dan memberikan hormatnya kepada gadis itu.
"Aku kan sudah bilang padamu, kalau kita sedang berdua, kau panggil saja aku kakak." Kata Roselia ramah pada Viona.
Putri mahkota sangatlah baik padaku, dia tidak seperti orang lain yang menjauhiku dan bahkan mereka tidak mau bicara padaku.
"Putri Viona, apa kau baik-baik saja?" tanya Roselia yang cemas Viona yang terlihat tidak begitu baik.
"Saya tidak apa-apa yang mulia, sa-saya menemukan ini..."
Viona menyerahkan sebuah kalung dengan liontin berbentuk hati pada Roselia, kalung yang dia temukan di dekat semak-semak di istana itu.
Mata Roselia terbelalak saat dia membuka liontin berbentuk hati. "Tidak...mungkin... bagaimana bisa...kenapa bisa..." gadis itu menutup mulutnya sendiri.
Brugh!
Tubuh Roselia tiba-tiba ambruk ke tanah dan membuat Stella, Viona dan Doris terkejut. "Yang mulia!!"
Roselia tidak sadarkan diri disana dan membuat yang melihatnya jadi panik.
__ADS_1
...*****...