
...🍁🍁🍁...
Viona menyerahkan sebuah kalung dengan liontin berbentuk hati pada Roselia, kalung yang dia temukan di dekat semak-semak di istana itu.
Mata Roselia terbelalak saat dia membuka liontin berbentuk hati. "Tidak...mungkin... bagaimana bisa...kenapa bisa..." gadis itu menutup mulutnya sendiri.
Kenapa kalungku bisa ada disini?
Kalung itu berisikan foto seorang wanita cantik dengan putrinya yang masih kecil yaitu Ariana. Ariana jadi teringat dengan tujuannya menjadi bintang papan atas, yaitu menemukan ibunya. Perlahan air mata pun jatuh membasahi wajahnya, dia jadi terbawa perasaan saat mendapati kalungnya ada disana.
Ada rasa mustahil juga mengapa kalung dari dunia modern bisa berada disana.
Brugh!
Tubuh Roselia tiba-tiba ambruk ke tanah dan membuat Stella, Viona dan Doris terkejut. "Yang mulia!!"
Roselia tidak sadarkan diri disana dan membuat yang melihatnya jadi panik.
"Yang mulia! Yang mulia!" Doris panik, sementara Stella pura-pura panik.
"Yang mulia putri mahkota!" teriak Viona sambil duduk menghampiri Roselia yang tidak sadarkan diri dengan tangan yang menggenggam kalung berbentuk hati itu.
Ada apa? Kenapa yang mulia putri mahkota pingsan saat melihat kalung yang ku temukan? Apa aku telah melakukan kesalahan?
Viona kemudian meminta Doris dan Stella untuk menjaga Roselia dan dirinya akan pergi mencari bantuan. Baru lari beberapa langkah, ia melihat Michael, Pierre, Derrick dan beberapa bangsawan sedang berjalan di lorong istana. Mereka tampak berbincang-bincang.
"Kak...maksud saya yang mulia Putra mahkota!" Viona berusaha mengatur nafasnya yang tersengal karena berlari-lari. Tak lupa Viona memberi hormat pada kakaknya itu.
Semua orang yang ada dibelakang Viona menatap Viona dengan sinis. Ya , memang beberapa dari mereka sangat tidak senang dengan kehadiran Viona disana, yang statusnya adalah anak haram pelayan dan Raja.
"Putri, anda benar-benar tidak tahu tata Krama! Bagaimana bisa anda berlarian di istana?"
"Sungguh tidak elegan dan keturunan RENDAHAN." ucap seorang pria dengan ketusnya.
Tapi Viona tak marah, dia memang terbiasa dihina dan saat ini ia tidak mau memperpanjang masalah karena Roselia membutuhkan bantuan.
Michael pun mengangkat tangannya dan membuat semua orang bungkam, kemudian ia menatap adik tirinya dengan dingin seperti biasanya.
"Ada apa putri Viona?"
__ADS_1
"Yang mulia putra mahkota, saya mohon maaf telah menganggu perjalanan anda. Ta-tapi saat butuh bantuan anda, yang mulia." Viona mengatupkan kedua tangannya seraya memohon pada Michael untuk membantunya.
"Bantuan apa?" tanya Michael datar.
...Yang mulia kau harus sering berinteraksi dengan putri Viona, dia adalah adikmu. Dia adalah gadis yang baik....
Alasan Michael mulai perhatian dan simpati kepada Viona adalah kata-kata Roselia padanya.
"Tolong saya...putri mahkota... terjadi sesuatu padanya..." ucap Viona dengan kening berkerut dan matanya berkaca-kaca.
Derrick, Pierre dan Michael langsung terperangah dengan ucapan Viona tentang Roselia.
"Apa yang terjadi pada putri mahkota?" tanya Michael dengan retoris dan perasaan was-was.
"Yang mulia putri mahkota jatuh pingsan di taman!" jawab Viona tanpa jeda.
Michael, Derrick, Pierre dan semua orang yang berada disana sangat terkejut mendengar hal itu. Tanpa bicara apa-apa, Michael langsung berlari ke arah taman yang dimaksud. Dia tau bahwa jam segini adalah jadwal Roselia belajar dan dia pasti melewati taman istana mawar.
Beberapa saat kemudian, Michael sampai di dekat taman mawar. Dia melihat Roselia berada di pangkuan Doris yang sedang menangis. Seketika wajah Michael menjadi panik melihat gadis yang biasanya kuat itu kini jatuh pingsan, jangan lupakan Derrick dan Pierre yang ada dibelakangnya juga.
"Rose..." lirih Derrick cemas. Dia ingin menjadi orang yang membantu Roselia tapi sayangnya disana ada Michael yang lebih berhak atas dirinya.
Apa yang terjadi padamu? Mengapa kau bisa jatuh pingsan?
Kedua tangannya menangkup lalu menggendong gadis itu ala bridal. Padahal dia tidak pernah menggendong seorang wanita sebelumnya. Roselia adalah yang pertama kali.
Orang-orang yang berada disana juga terkejut melihat sikap Michael yang begitu peduli pada Roselia.
"Pierre! Cepat panggilkan tabib ke istanaku!" titahnya pada Michael.
"Ba-baik yang mulia!" Pierre patuh dan dia pun bergegas pergi memanggil tabib yang ada di ruang perawatan istana.
"Yang mulia, biar saya yang menggendong--"
"Kau diamlah! Aku sendiri yang akan mengurus wanitaku!" Serka Michael yang langsung memotong ucapan Derrick dan membuat pria itu menjadi bungkam.
Michael membawa gadis yang tidak sadarkan diri itu ke kamar yang ada di istananya yang tak jauh dari sana. Dia membaringkan Roselia di sana, sungguh Michael sangat panik melihat Roselia tidak sadarkan diri.
Selagi menunggu tabib, Michael menemani Roselia di kamarnya bersama dengan Viona, Derrick dan Doris disana, sementara Stella pergi mengambil kompres air dingin untuk Roselia.
__ADS_1
"Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa putri mahkota bisa tiba-tiba pingsan? Jawab aku pelayan!" tanya Michael pada Doris dengan intonasi yang meninggi.
Doris pun mendongakkan kepalanya. "Izin menjawab yang mulia, saya tidak tahu... tiba-tiba saja yang mulia putri mahkota pingsan setelah melihat kalung."
"Kalung? kalung APA?!" tanyanya tak sabar.
"Kalung ini, yang mulia." Kali ini Viona lah yang bicara, dia menyerahkan kalung berbentuk hati pada Michael.
Michael mengambil kalung itu dan melihat foto seorang wanita dan seorang anak perempuan yang lucu didalam sana. Michael bertanya-tanya siapa mereka yang ada di foto itu dan membuat Roselia jatuh pingsan?
"Yang mulia! Saya sudah membawa tabib!" seru Pierre terburu-buru, dia datang bersama seorang tabib wanita.
"Cepat, periksa putri mahkota!" titah Michael pada tabib wanita itu.
"Ya, yang mulia."
Tabib wanita itu menganggukkan kepalanya, kemudian dia mendekat pada Roselia yang tengah tertidur diatas ranjang. Ia memeriksa Roselia dengan hati-hati, apalagi putra mahkota memperhatikannya begitu tajam. Jika salah sedikit, mungkin nyawanya akan melayang saat itu juga.
*****
Di negeri Albarca, Asteorope sedang melihat-lihat rakyatnya di pasar. Keadaan sudah mulai membaik sejak dia memimpin Albarca dibandingkan kakaknya Liam.
Tiba-tiba saja ia merasakan permata ditubuhnya berdenyut denyut. Artinya terjadi sesuatu pada Roselia, mungkin bahaya.
Beberapa saat yang lalu, Asteorope menelan permata batu giok itu ke dalam tubuhnya agar ia bisa merasakan sesuatu yang terjadi pada Roselia dengan cepat dan ia takut jika permata kecil itu hilang.
"Yang mulia! Anda mau kemana?" tanya Peter yang heran saat melihat Asteorope tiba-tiba saja melangkah pergi dari pasar itu.
"Peter....aku akan pergi ke Gamarcus."
"Yang mulia anda baru saja kembali dari sana."
"Peter tolong! Aku tau kau tidak suka pada Roselia ,tapi sekarang mungkin sedang terjadi sesuatu pada Roselia dan aku harus pergi. Kalau terjadi sesuatu padanya, maka aku juga akan sama karena permata ini terhubung pada tubuhnya!" tegas Asteorope yang mulai kesal dengan sikap Peter.
"Baiklah yang mulia,"
"Tolong jaga istana selama aku pergi!" pesannya pada Peter sebelum dia pergi meninggalkan pria itu sendiri disana.
Peter tampak kecewa dan kesal,dia merasa Roselia adalah racun untuk Asteorope. "Tidak bisa begini, aku harus mencarikan wanita untuk yang mulia! Wanita yang pantas mendampingi yang mulia di singgasananya...agar dia bisa melupakan wanita bar-bar itu."
__ADS_1
...*****...