
...🍀🍀🍀...
Semua orang di istana sudah mengetahui bahwa Roselia di culik dan Doris terluka. Sedangkan Asteorope dan Cain berpura-pura tidak peduli pada kejadian ini seolah mereka tidak dekat dengan Roselia. Ya, itu karena mereka tak mau membuat masalah bagi Roselia.
Michael yang mengetahui Roselia di culik, segera mengerahkan kstaria terbaiknya untuk mencari Roselia, walaupun dia telah berpisah dengan gadis itu. Tapi Michael masih mencintai Roselia, terlepas dari status mereka sekarang.
Doris juga dibawa pergi dari istana itu oleh Peter dengan alasan bahwa Peter kenal dengan keluarga Doris. Meski sudah di obati oleh Cain, keadaannya masih belum membaik. Dia masih belum sadarkan diri dan lukanya cukup parah. Sudah semalaman Peter menjaganya, dia sangat mencemaskan Doris.
Mereka berada di sebuah penginapan yang berada ditengah-tengah negeri Albarca dan Gamarcus. "Doris... cepatlah sadar, aku menunggumu Doris...kau harus baik-baik saja." air mata Peter luruh seketika dia melihat wanita yang pertama kali ia cintai terluka begini.
Tak lama kemudian, jari-jari tangan Doris yang berada dalam genggaman Peter mulai bergerak. Seketika membuat Peter tercekat dan melihat ke arah Doris. "D-Doris...kau sudah siuman?" Peter melihat kedua mata Doris mulai terbuka walau perlahan, wajah Doris begitu pucat.
"Tanganku basah karenamu Peter," Doris tersenyum tipis, kemudian Peter memeluknya dengan bahagia.
Apa si es batu ini menangis karena ku?
"Syukurlah kau sudah siuman...aku tidak bisa hidup tanpamu Doris, aku tidak bisa..." Peter terisak penuh haru melihat Doris sudah siuman setelah lebih dari 24 jam gadis itu tidak sadarkan diri.
"Maaf...maaf karena aku membuatmu cemas, tapi...rupanya es batu juga bisa menangis ya." Doris berusaha untuk tertawa, namun tubuhnya masih terluka.
"Benar, es batu di dalam hatiku meleleh karenamu Doris." Peter memegang dadanya, meyakinkan bahwa hatinya memang telah jatuh dan luluh pada gadis sederhana berwarna Doris.
"Idih! Kau ternyata bisa berkata gombal juga, aku tidak menyangka Peter." celetuk Asteorope yang tiba-tiba saja sudah berada di ambang pintu kamar itu bersama Cain juga. Wajah Raja Albarca itu tampak kacau, jantung matanya tebal dan acak-acakan adalah definisi dari penampilannya saat ini.
Cain juga sama, walau tidak seacak acakan Asteorope, wajahnya lebih semrawut dari Raja Albarca itu. Dia juga tertekan memikirkan putrinya yang tidak tahu berada dimana.
Padahal dia sudah menggunakan sihir penerangannya untuk mengetahui keberadaan Roselia. Akan tetapi sihir penerangan yaitu tidak sampai mengetahui keberadaan putrinya, dari sana dia yakin bahwa putrinya berada dalam lingkaran sihir hitam yang tidak bisa dijangkaunya.
Sihir hitam yang berkaitan dengan Aragon, salah satu petinggi sihir yang paling kuat di seluruh benua itu. Dan kekuatan sihir putih yang dimiliki oleh Cain, tidak bisa menembus kekuatan sihir hitam tersebut. Sekalipun itu penerawangan.
"Aku akan memeriksamu Doris," ucap Cain sambil mendekati Doris dan memeriksa kondisi tubuhnya. Setelah memeriksa kondisi tubuh Doris, Cain mengatakan hasil diagnosanya. "Kau hanya butuh pemulihan untuk saat ini, beristirahatlah satu sampai dua minggu dan kau pasti akan segera sembuh jika luka tusuk di perutmu sudah mengering." turut Cain menjelaskan kondisi Doris.
"Terima kasih tuan Cain." Peter dan Doris bersamaan mengucapkan terima kasih kepada penyihir agung itu.
"Sama-sama." balas Cain seraya tersenyum walau wajahnya tampak lesu.
Ariana, dimana kau nak? Siapa pria berilmu tinggi yang telah menculik mu?. Cain kembali merenung, dia dan Asteorope telah mengupayakan segala cara untuk mencari Roselia, namun hasilnya nihil. Gadis itu seperti hilang ditelan bumi.
"Kalau begitu kau disini saja menjaga Doris, aku dan tuan Cain akan kembali melakukan pencarian." kata Asteorope pada Peter, lalu dia menepuk pundaknya dan berlalu pergi dari sana bersama dengan Cain.
Doris dapat melihat bagaimana raut wajah lesu kedua pria itu, dia dapat menyimpulkan bahwa Roselia mungkin belum ditemukan.
"Peter, bagaimana dengan kabar nona? Apakah nona sudah ditemukan?" tanya Doris yang sangat mengkhawatirkan keadaan nonanya.
__ADS_1
"Nona Roselia masih belum ditemukan, bahkan para prajurit kerajaan Gamarcus juga sedang mencarinya dan masih belum ada kabar tentangnya." jelas Peter sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dia membantu Doris untuk minum dan makan, karena sudah lebih dari 24 jam Doris tidak memakan apapun. Peter cemas, bila Doris sampai sakit lagi.
Ketika mereka sedang berduaan dan dalam suasana yang hening, tiba-tiba saja Peter mengecup pipi Doris dsn membuat gadis itu tersentak kaget.
Doris memegang pipinya yang mendadak memanas karena kecupan dari Peter. Sepasang netra dua anak manusia itu pun bertemu dan saling bertukar pandangan dengan begitu dalam. "Peter...kau..."
Cup!
Kedua mata Doris terbuka lebar, manakala Peter mempertemukan dua bibir mereka sekilas. "P-peter..ka-kau..."
"Doris aku mencintaimu..."
Tiga kata itu lolos dengan mudahnya dari bibir Peter, tiga kata yang selama ini dia simpan untuk Doris. Kini dia tidak terlihat gugup seperti pertama kali saat dia akan mengatakannya. Mungkin ini karena rasa ingin memiliki Doris begitu kuat, membuat Peter tidak gelagapan lagi.
"Peter..."
Peter memegang tangan Doris dan menggenggamnya. "Doris, aku tau ini terlalu cepat...tapi aku sadar bahwa kau adalah yang pertama dan terakhir dalam hidupku, saat kemarin kau dalam keadaan terluka...aku tak dapat membayangkan jika sampai terjadi hal buruk denganmu, jadi aku tidak akan menundanya lagi. Aku mencintaimu, aku...ingin kau menjadi istriku!"
Deg!
Hati Doris berdebar seketika, darahnya berdesir begitu saja. Mendengar pernyataan dari Peter, bahwa pria itu memiliki niat menikahinya. Doris masih melihat dalamnya tatapan pria bernama Peter itu kepadanya.
"Aku... berjanji padamu, bahwa kau hanya satu-satunya dalam hidupku sampai akhir hayat."
"Benar, aku sungguh-sungguh mengatakannya Doris. Aku sungguh mencintaimu!" Peter merogoh sesuatu di saku celananya, lalu dia menunjukkan kotak cincin berwarna merah yang selalu dia simpan setiap saat. Tentunya itu semua untuk Doris.
Doris menangis, dia menutup mulutnya dengan satu tangan. Ia tak menyangka bahwa Peter akan melamarnya. "Doris...kenapa kau menangis?" tanya Peter cemas dan suara yang lembut.
"Peter...aku hanya seorang budak rendahan sedangkan kau adalah kstaria nomor 1 di negeri Albarca, apakah kau yakin akan memilihku yang banyak kekurangan dan berstatus rendahan ini sebagai calon istri?"
"Aku tidak pernah memandangmu seperti itu Doris, tolong jangan merendahkan dirimu lagi karena aku tidak suka calon istriku begini."
"Hehe...calon istri? Kau yakin sekali aku akan menerimamu," Doris terkekeh dengan kepercayaan diri Peter.
"Tentu karena aku tau kau mencintaiku juga!" kata Peter sambil tersenyum pada Doris. "Jadi bagaimana Doris?"
Doris menganggukkan kepalanya. "I said yes Peter."
Tanpa basa-basi lagi, Peter menyematkan cincin berlian itu di jari manis Doris. Keduanya terlihat bahagia setelah mengutarakan perasaan masing-masing. "Setelah nona Roselia ditemukan, aku akan meminta izin pada Baginda Raja untuk menikahkan kita berdua!"
"Iya Peter...aku ingin nona segera ditemukan dan dalam keadaan baik-baik saja." kata Doris sambil memeluk Peter.
"Nona Roselia masih hidup karena permata yang ada pada Yang Mulia Raja juga baik-baik saja. Tapi...belum ada yang tau bagaimana keadaannya. Aku berharap Tuan Cain dan Baginda segera menemukannya."
__ADS_1
"Peter, kau juga harus membantu Yang mulia dan tuan Cain untuk menemukan nona!"
"Iya, setelah kesehatanmu lebih baik...aku akan membantu Yang Mulia dan Tuan Cain. Bagaimanapun juga, aku berhutang banyak pada Nona yang sudah mempertemukan diriku dengan mahluk imut sepertimu!"
"Peter..." Doris tersenyum lebar mendengar candaan Peter. Namun hatinya gelisah memikirkan keadaan Roselia.
****
3 hari telah berlalu...sejak Roselia menghilang. Asteorope, Cain dan para prajurit istana masih mencarinya. "Roselia... sebenarnya dimana kau berada?" Asteorope mengacak-acak rambutnya.
"Yang Mulia, saya tidak punya pilihan lain lagi...saya akan meminta bantuan--"
"Tidak !Jangan katakan padaku kau akan meminta bantuan Aragon! Dia itu pria jahat!" tegas Asteorope yang melarang Cain meminta bantuan pada penyihir hitam itu.
"Hanya dia... satu-satunya yang bisa menemukan Roselia, Yang Mulia."kata pria paruh baya itu pasrah.
Asteorope juga terlihat bingung, apa yang dikatakan Cain memang benar. Hanya Aragon yang bisa membantu mereka menemukan Roselia jika benar gadis itu dibentengi sihir hitam. "Tuan Cain, apa mungkin kalau Aragon yang menculik Roselia?"
****
Roselia memang baik-baik saja dan saat ini dia sedang menghibur dirinya di dalam istana dengan pintu jeruji besi itu yang bak sangkar emas.
Terdengar tawa di kamar Roselia, dua pengawal penjaga ruangan itu tengah bermain dengan Roselia didalam sana. Bermain apa?
"Haha...aku memang lagi, sudah kuduga aku tidak akan kalah...ckckck... orang-orang di dunia ini benar-benar tidak bisa diajak bermain kartu!" Roselia tersenyum remeh pada kedua pria bertubuh besar didepannya itu, dia sama sekali tidak takut dengan mereka berdua.
Nah Roselia mending seperti ini saja sambil menunggu As dan Ayah datang. Aku tidak boleh stress, tidak boleh! Aku harus sehat lahir dan batin.
"Nona, anda benar-benar hebat! Apa anda adalah master judi?" kata seorang bawahan Javier terkagum-kagum dengan kehebatan Roselia berjudi.
"Wah benar-benar...nona bisa mengalahkan master judi yang ada di tempat bertaruh!" kata seorang pria lainnya sambil bertepuk tangan dan tersenyum pada Roselia.
"Ya...begitulah, jadi jangan remehkan aku hanya karena aku wanita ya. Jangan mengalah padaku! Aku tidak suka itu," kata Roselia sambil mengocok kartunya untuk kembali bermain. "Nah ayo kita mulai lagi--"
Wush~~
Tiba-tiba saja kartu yang dipegang oleh Roselia berterbangan kemana-mana karena angin yang datang berhembus tiba-tiba.
"Eh...eh...kenapa berterbangan seperti ini?"
Kedua penjaga itu langsung berdiri tegap ketika menyadari kehadiran ketua mereka, mendapatkan tatapan tajam dari Javier membuat mereka langsung melarikan diri. Seperti lari dari malaikat pencabut nyawa.
"Kau...kau memang selalu menganggu suasana ya, gay psikopat!" ketus Roselia menyambut Javier.
__ADS_1
...****...