I'Ll Became A Villain'S Daughter

I'Ll Became A Villain'S Daughter
Bab 88. Cinta tidak egois


__ADS_3

...πŸ€πŸ€πŸ€...


Setelah mendapatkan pesan dari Peter, lewat burung pengantar pesan tentang keberadaan Roselia. Cain dan Asteorope langsung turun dari gunung dan kini tujuan mereka adalah daerah perbatasan.


"Yang Mulia, bagaimana bisa anda yakin bahwa Roselia berada disana?" tanya Cain yang sedari tadi bingung, mengapa Asteorope sangat yakin dengan pesan itu.


"Saya yakin, sebab saya pernah melihat pria itu memandangi Roselia dengan tatapan yang aneh dan Doris sempat mengatakan bahwa pria itu beberapa kali menemuinya. Jadi aku yakin itu adalah dia."


"Baiklah, saya percaya pada Yang mulia." kata Cain seraya tersenyum.


Dan kini mereka dalam perjalanan menuju ke daerah yang dimasudkan itu. Sebenarnya Peter mengirimkan pesan berdasarkan surat misterius yang dia dapatkan tentang keberadaan Roselia. Bahkan alamatnya begitu detail, katanya orang itu ingin berniat baik menyelamatkan Roselia. Dan orang itu adalah Darius.


****


Kerajaan Gamarcus.


Stella masih berada di penjara karena kebohongannya. Pakaiannya begitu lusuh, namun wajah cantiknya tidak tertutupi, dia tetaplah cantik apalagi dengan rambut peraknya.


Beberapa pengawal bahkan jatuh cinta pada kecantikannya. Sayangnya dia seorang tahanan dan belum bisa dibebaskan karena Michael memerintahkannya begitu. Tidak ada rasa iba dari Michael pada wanita yang telah bermain tipu muslihat dengannya itu.


Hari itu Derrick kembali mengunjungi adiknya di penjara. "Kakak! Hiks...kakak kenapa aku belum bisa keluar dari sini?" Stella memelas dan memegang jeruji besi itu, matanya berkaca-kaca melihat kehadiran Derrick disana.


"Tunggu sebentar lagi ya, aku pasti akan membebaskanmu dari sini. Aku telah lulus dalam ujian negara dengan nilai tertinggi dan aku akan memohon pada putra mahkota untuk membebaskanmu." Derrick mengusap air mata yang membasahi pipi adiknya dengan penuh kasih sayang.


"Kenapa tidak sekarang memohonnya kak? Aku tidak tahan tinggal disini lagi...hiks..." Stella terisak.


Sialan! Semua ini gara-gara anak penjahat itu. Kalau bukan karena dirinya, aku pasti sudah hidup bahagia. Awas saja kau....kalau aku keluar dari sini. Maka orang pertama yang akan aku kejar adalah KAU.


"Sabarlah, dua hari lagi kupastikan kau akan keluar dari sini Stella. Jaga dirimu baik-baik karena kakakmu ini juga akan memohon pada Raja dan Ratu juga." jelas Derrick seraya membelai lembut pipi Stella.


"Dua hari lagi ya kak? Kau harus tepati janjimu itu!" lugas Stella dengan penuh harapan pada kakaknya.


Derrick menganggukan kepalanya, lalu dia pergi meninggalkan adiknya sendiri di penjara yang dingin itu walaupun sebenarnya ia tak tega untuk meninggalkan Stella di sana.


Dia sudah meminta pada Michael untuk memaafkan kesalahan Stella, namun pria itu begitu dingin kepada adiknya dan tidak mau memberikan pintu maaf. Akhirnya Derrick berencana akan menemui raja dan ratu pada hari ini, untuk mengajukan permintaan yang sama yaitu membebaskan adiknya.


Di dalam perjalanan menuju ke istana Raja, Derrick berpapasan dengan Viona yang tengah duduk sendirian dengan wajah sedih. Dia kesepian karena tidak ada Roselia lagi di istana itu, selama ini hanya Roselia yang baik padanya dan selalu membelanya. Kini gadis itu pergi entah kemana, teman pertamanya.


Bagaimana keadaan kakak Rose? Apa dia baik-baik saja? Aku rindu padanya...oh tuhan, dimanapun dia berada, tolong lindungi dia. Dia adalah temanku satu-satunya. Batin Viona mendoakan keselamatan Roselia.


"Hormat saya Yang Mulia Putri."


Sudah menjadi adat dan suatu keharusan, bila seseorang yang statusnya lebih rendah harus menyapa seseorang yang statusnya lebih tinggi darinya. Dan disini Derrick statusnya lebih rendah dari Viona yang notabenenya adalah seorang putri Raja meski statusnya adalah anak haram, namun ia tetaplah anak Raja. Mengalir darah biru di tubuhnya.


Viona beranjak dari tempat duduknya begitu dia mendengar suara dari pria yang selalu membuatnya berdebar dan kagum. Entah sejak kapan Viona menjadi kagum pada Derrick. Bagi Viona, Derrick adalah pria yang memiliki pesona luar biasa. Walau tidak mahir berpedang, pria itu cerdas dan memiliki intelektual yang tinggi.


Pernah dengar bahwa orang cerdas akan selalu di dekati wanita dengan sendirinya?


"Sa-salam tuan Derrick." Viona gugup, hingga dia lupa bagaimana statusnya saat ini dan menundukkan kepala dihadapan pria itu.


Sontak Derrick terkejut. "Yang Mulia, jangan menundukkan kepala anda seperti itu...anda adalah seorang putri Raja, anda tidak pantas untuk menundukkan kepala anda pada saya yang rendah ini."


"Ta-tapi...bagi saya status tuan Derrick tidaklah rendah, tuan Derrick adalah pria yang terhormat." sahut Viona memuji Derrick. Bahkan dengan kata-kata formal, harusnya Putri tidak perlu begitu sopan pada Derrick.


"Terima kasih atas pujian anda Yang Mulia." ucap Derrick sembari tersenyum.

__ADS_1


"Ini bukan pujian tuan Derrick, tapi fakta. Anda memang orang yang cerdas dan saya kagum pada anda." Viona tersenyum, namun Derrick hanya menanggapi Viona dengan dingin.


Dia menyadari bahwa sang putri memiliki rasa padanya, tapi dia juga tau bahwa hatinya masih untuk Roselia yang sekarang entah dimana.


"Sekali lagi terima kasih, kalau begitu saya permisi dulu tuan putri." kata Derrick berpamitan pada Viona dengan cueknya.


"Tu-tunggu tuan Derrick!" Viona mengejar Derrick yang sudah berjalan pergi meninggalkannya. Langkah Viona terhenti saat tubuhnya menabrak punggung Derrick.


"Ack!"


"Tuan putri!"


Saat tubuh Viona oleng, disitulah Derrick dengan sigap membalikan tubuhnya lalu menarik tubuh Viona ke dalam pelukannya agar tidak jatuh.


Lagi-lagi jantungku seperti berpesta. Aku...selalu seperti ini ketika berada didekat tuan Derrick.


Derrick pun menjauhkan dirinya dari Viona secara perlahan. Kedua netra mereka tak sengaja bertemu pandang. Tanpa sadar Raja dan Ratu sedang berjalan keluar dari istana Raja.


Raja tersenyum begitu melihat Derrick dan Viona yang begitu dekat, dia seperti berpikir tapi tak tau memikirkan apa.


*****


Malam itu....


Di penjara emas,Roselia masih lumpuh dan dia tidak bisa pergi kemana-mana. Dia terus menggerutu karena si gila Javier membuatnya lumpuh, saking tak mau Roselia pergi dari sana.


"Sialan kau JAVIER! Aku membencimu! Tadinya aku mulai respect padamu, aku pikir kau sudah waras ternyata kau masih gila. Aku masih tidak bisa merasakan kakiku, aku...akan bisa berjalan besok hari kan?" gumam Roselia sambil memegangi kakinya yang mati rasa dan tak bisa digerakkan.


Dia juga dendam pada Darius yang sudah menjebaknya. Di dalam kamar itu dia marah-marah mengutuk Darius dan Javier, mengatakan bahwa mereka adalah pasangan serasi dan memang telah ditakdirkan untuk bersama. "Sama-sama gila! Psikopat! Bajingan! Brengsek! Kalian memang pasangan yang di takdirkan oleh neraka."


"Salah! Kau lah pasangan yang ditakdirkan Tuhan untukku dan membawaku pada jalan kebenaran."


Bau anyir? Apa dia habis membunuh orang?


Roselia mencium bau aneh saat Javier mendekat padanya. "Kau sudah makan malam?" tanya Javier perhatian sembari meletakkan bunga dan coklat itu diatas ranjang. "Ini untukmu."


Srek!


Roselia membuang bunga dan coklat itu hingga jatuh ke lantai. "Aku tidak butuh!"


Javier tersenyum sabar. "Baiklah, lalu kau mau apa? Jangan-jangan kau tak suka mawar?" tawar Javier.


"Aku hanya ingin kau memulihkan kakiku dan juga melepaskanku dari sini!"


"Maaf, itu tidak bisa. Sampai kau setuju menikah denganku, aku tidak akan melepaskanmu."


"Kau..."


Malas bicara dengan Roselia dia memutuskan untuk pergi dari sana dan membersihkan tubuhnya yang bau amis karena habis menyiksa Darius.


Javier meninggalkan Roselia bersama dua orang penjaga yang biasa menjaganya. Tak lama kemudian salah seorang penjaga datang membawakan makanan dan minuman untuk Roselia.


"Terima kasih tuan Ilios," kata Roselia sambil memakan makanan itu. Dia memang kelaparan sejak tadi siang mogok makan karena marah pada Javier.


Roselia menangkap gerak-gerik aneh dari Ilios, salah satu penjaga yang menjaganya di sana tidak terlihat seperti biasanya. Ilios biasanya ceria, tapi kenapa pria itu seperti patung?

__ADS_1


"Ada apa tuan Ilios? Apa kau baik-baik saja? Apa kau sakit? Atau...tuanmu itu menyiksamu?" tuduh Roselia sambil meminum air putih di dalam gelas dan menghabiskannya. Piring makanan itu juga sudah kosong.


Ilios hanya tersenyum menyeringai, dia senang melihat Roselia telah menghabiskan semuanya.


Kenapa dia tidak jawab?


Tak berselang lama kemudian, Roselia memegang dadanya yang terasa sesak tiba-tiba. "Akkh...ada apa ini? kenapa dadaku terasa begitu sesak? Kenapa...." Roselia pun memuntahkan darah. "Tuan Ilios....tuan..."


Roselia melihat Ilios yang masih berada didepan pintu kamarnya. Ilios membalikkan tubuhnya, terlihat wajah makhluk menyeramkan disana dan bukan Ilios. "Si mesin pembunuh itu pasti akan berduka bila kehilangan dirimu, akhirnya...aku menemukan kelemahannya..haha."


Mahluk dengan wajah bersisik ular itu tersenyum menyeringai dan puas melihat Roselia terkapar di lantai dengan kondisi mulut berdarah.


Roselia sempat lupa, bahwa di dalam novel Javier memiliki banyak musuh. Lebih banyak dari musuh Asteorope dan Michael. Harusnya dia lebih hati-hati.


Tepat saat itu, dia melihat bayangan Asteorope dan Cain didepannya. Muncul dari cahaya. "Oh...apa ini surga?" gumamnya pelan dengan senyuman miris di bibirnya.


"Roselia! Roselia..." panggil Asteorope, lalu menopang tubuh gadis itu ke dalam dekapannya. Asteorope merasa lemas melihat wanitanya tidak berdaya. Begitu bertemu, niatnya ingin melepas rindu. Tapi malah seperti ini.


"Jika ini mimpi...tolong jangan bangunkan aku, jika ini surga...maka aku tidak mau pergi." racau Roselia seraya melihat Asteorope dan Cain.


"PUTRIKU! Ini aku ayahmu dan juga--baginda Raja ada disini. Kau tidak bermimpi!" Cain memegang tangan Roselia yang dingin.


"Ayah....As....uhuk..." Roselia masih memuntahkan darah. "Apa aku mati lagi? Sialan sekali." batinnya.


"Siapa yang sudah melakukan ini kepadamu? Siapa!"


Terdengar suara langkah kaki berlari menghampiri mereka bertiga. Lebih dari satu orang dan itu adalah Javier juga beberapa anak buahnya.


"Ternyata KAU!" Asteorope gemetar, dia pun menitipkan Roselia pada Cain. Dia bersiap membawa pedangnya dan bersiap sedia menebas leher Javier, bahkan pedang itu sudah mengarah pada lehernya.


"Apa yang terjadi?" tanya Javier seraya menatap Roselia yang tidak berdaya berada di dekapan Cain.


"Hey! Seharusnya itu adalah pertanyaanku padamu!" teriak Asteorope marah, lalu menggores sedikit pedangnya pada leher Javier.


Leher Javier berdarah. Kemudian Ilios dan Regan terbangun, setelah tadi mereka di rasuki sesuatu yang kuat. "Tuan Javier..."


Apa ini ulah salah satu musuhku? Astaga! Aku pikir tempat ini adalah tempat teraman, nyatanya aku yang menyakitinya.


"Yang Mulia! Kita harus segera membawa Roselia pergi dari sini! Keadaannya tidak baik!" teriak Cain begitu merasakan denyut nadi Roselia semakin melemah.


Asteorope berbalik arah dan dia menggendong Roselia. "Jika terjadi sesuatu padanya, KAU AKAN MERASAKAN APA YANG NAMANYA NERAKA SEBELUM MATI!" dengus Asteorope marah.


"A-aku...aku melakukan ini karena aku..." Javier merasa bersalah.


"Cinta? Bullshitt! Asal kau tau, cinta itu tidak egois....kau bukan cinta tapi OBSESI." kata Asteorope emosi.


"Sekarang lepaskan kami, biarkan saya membawa Putri saya dan menyelamatkan nyawanya." tegas Cain dengan tatapan penuh kebencian pada Javier.


Jika bukan karena keadaan Roselia yang darurat, mungkin saja Cain dan Asteorope sudah menghabisi pria penculik itu.


...****...


Mohon bersabar dengan alurnya ☺️ author mau kasih bawang dulu, terus nanti kasih gula...sekian dan terimakasih...😍 jangan lupa ini hari Senin loh, vote sama gift nya ditunggu guys...


Thanks buat komen kalian, walau komen cuma kehitung jari...tapi aku tetap semangat.. ❀️

__ADS_1


Sambil nunggu up lagi novelku, mampir kesini yuk...karya Tihat Basti, keren banget deh pokoknya πŸ—‘οΈπŸ—‘οΈ



__ADS_2