
...🍁🍁🍁...
Raja negeri Albarca? Itu artinya As akan datang kesini? Jadi barusan dia mengatakan akan segera kembali karena dia sudah yakin akan datang kemari?
"Kau kenapa? Apa kau pusing lagi?"
"Tidak apa-apa...ehm...itu artinya aku harus menghadiri acara tersebut kan? Aku harus ikut menyambut kedatangan raja Albarca dan rombongannya?"
"Tidak perlu, kau baru saja siuman dan lebih baik kau beristirahat saja." ucapnya lembut.
Aneh.
Bingung.
Roselia sungguh kebingungan karena Michael yang selalu marah-marah padanya, sekarang tiba-tiba saja dia bersikap lembut padanya ketika dia sedang sakit.
"Apa anda sakit yang mulia?" Kening Roselia berkerut, dia memicing menatap pria itu.
"Apa maksudnya? Kau kan yang sakit, kenapa jadi tanya padaku?" Michael bertanya balik padanya.
"Anda tiba-tiba bersikap baik padaku, pasti anda sedang sakit! Atau...kau bersikap baik padaku karena aku sedang sakit dan kau kasihan padaku?" tebak Roselia pada sikap Michael saat ini.
"Apa kau pikir aku bersikap seperti ini karena aku kasihan padamu?"
"Aku pikir begitu, lagipula... Apa yang membuat pria keras kepala seperti dirimu peduli padaku?"
"Hah! Ya baiklah terserah padamu saja." Michael menghela nafas panjang lalu dia mengusap pelan rambut pirang Roselia. Gadis itu menampik tangan Michael, matanya terlihat tidak senang dengan sentuhan Michael.
Terlihat juga raut kekecewaan di wajah Michael saat Roselia menampik tangannya. "Sepertinya yang mulia lupa, bahwa kita hanya melakukan kontak fisik saat diperlukan. Dan saat ini kontak fisik tidak diperlukan, aku akan memaafkan kau yang sudah memelukku." ucap Roselia dingin.
Hati Michael terluka dengan sikap dingin gadis itu dan juga perkataannya. Padahal dulu dia sering berdebat dengan Roselia dan tidak masalah dengan semua sikap yang ditunjukkan oleh gadis itu dia tak peduli. Tapi kenapa sekarang rasanya sakit?
Setelah itu tabib datang dan memeriksa kondisi Roselia. Dia mengatakan bahwa Roselia perlu banyak istirahat dan meminum vitamin penambah darah, juga menghindari stress. Mendengar semua penjelasan tabib, Michael pun memerintahkan Pierre untuk membawa banyak vitamin penambah darah dan dia juga melarang Roselia untuk melakukan aktivitas berlebihan.
Bahkan ia juga melarang pada gadis itu untuk ikut menyambut raja Albarca dan beristirahat saja di dalam kamarnya. Sementara Roselia tertidur di ranjang Michael, pria yang memiliki status tinggi di kerajaan Gamarcus itu malah tidur di sofa kamar tersebut.
"Sebaiknya aku kembali saja ke kamarku," ucap Roselia seraya beranjak dari tempat duduknya.
Mana mungkin aku membiarkan calon penguasa negeri ini tidur di sofa. Yang ada aku dihukum mati nantinya.
Michael langsung beranjak dari sofanya lalu dia mendekati Roselia, matanya menatap tajam gadis itu. "Mau pergi kemana kau dengan kondisi seperti ini? Jangan membantah dan tidurlah dengan tenang!"
"Tapi kau bagaimana yang mulia? Masa kau harus tidur di sofa?" tanya Roselia dengan kening berkerut. Setahunya di dalam novel, Michael bukanlah orang yang mementingkan perasaan orang lain dan dia lebih cenderung egois. Dia hanya memikirkan perasaan Stella, wanita yang ia cintai dan ia junjung tinggi. Jadi, mana mungkin dia akan begitu peduli padanya yang bukan siapa-siapa.
"Jadi--kau mau aku tidur bersamamu diranjang ini?" tanya Michael seraya menunjuk pada ranjang yang sedang diduduki oleh gadis itu.
"Tidak! Jelas saja tidak mau!" Gadis itu menggelengkan kepala dan memberikan reaksi bantahan.
"Kalau begitu ya sudah ,tidur saja dengan tenang dan aku akan tidur disana! Paham?" kata Michael dengan suara meninggi, kemudian pria itu berjalan kembali ke arah sofa dan meninggalkan Roselia yang tampak bingung di sana.
Astaga... apa dia benar-benar Michael tempramental ya aku kenal? Mana mungkin dia mau menyerahkan ranjangnya untuk aku tiduri. Michael... tidak mungkin kau jatuh cinta kepadaku bukan?
__ADS_1
Kini dugaan Roselia tentang sikap Michael kepadanya mulai mengarah pada kata cinta. Mungkinkah pria itu telah jatuh cinta padanya dan bukan jatuh cinta kepada Stella si pemeran utama?
"Kenapa kau diam SAJA? TIDUR!" bentak Michael yang membuat Roselia tersadar dari lamunannya.
"Cih! Dasar temperamental!" gerutu Roselia lalu menarik selimutnya dengan kesal. Setelah melihat gadis itu tertidur, Michael tersenyum dan pergi tidur juga.
*****
Keesokan harinya, pagi itu Roselia terbangun dari tidurnya dengan kondisi tubuh yang segar. Dia terbangun sendirian dan dia tidak melihat Michael berada di sana. Kemudian dia pun mengambil kalung berbentuk hati berisi foto ibunya dan Ariana kecil disana.
"Bagaimana bisa kalung ini berada di dunia Novel? Kalung ini sudah lama aku buang, mengapa bisa ada disini? Apa yang sebenarnya terjadi?" gumam Roselia kebingungan tentang kalung itu yang berasal dari sana.
Tok, tok, tok!
"Yang mulia apa anda sudah bangun?" suara Doris terdengar dari depan pintu.
"Ya Doris, masuklah!" titah Roselia pada pelayan setianya itu.
Doris pun masuk ke dalam sana sambil membawa nampan berisi makanan dan segelas susu. "Yang mulia, bagaimana keadaan anda?"
"Aku sudah lebih baik Doris, terima kasih karena kau telah merawatku."
"Ini sudah tugas saya yang mulia...saya benar-benar sangat mencemaskan yang mulia, saya kira yang mulia tidak akan pernah sakit seperti ini lagi!"
"Hehe, aku juga kan manusia dan manusia itu bisa sakit."
"Ya, itulah yang dikatakan oleh yang mulia putra mahkota sebelumnya."
"Dia mengatakan hal itu juga?"
"Perhatiannya itu hanya formalitas saja, kau tahu benar bagaimana hubunganku dengannya, Doris." cetus Roselia sambil menghela nafas.
"Iya yang mulia, tapi saya merasa bahwa perhatiannya pada yang mulia bukanlah formalitas semata. Saya rasa yang mulia putra mahkota benar-benar telah menaruh hati kepada anda."
Roselia tercekat mendengarnya, dia sudah berusaha menyingkirkan pikiran itu dari tadi malam. Tapi ucapan nuris membuatnya semakin yakin bahwa Michael memiliki hati padanya dan sebelum semuanya semakin terlambat dia akan menegaskan pada Michael, tentang poin perjanjian kontrak mereka bahwa tidak boleh ada cinta disana dan Michael sendiri yang membuat peraturan itu.
Pagi itu setelah mandi, sarapan dan meminum obatnya. Roselia telah bersiap-siap memakai gaun kebesarannya karena dia akan ikut menyambut orang-orang dari Albarca. Dia berdandan secantik mungkin, padahal Michael telah melarangnya untuk tidak ikut menyambut tamu itu. Tapi Roselia tidak sabar ingin bertemu dengan Asteorope dan menunjukkan kecantikannya.
"Astaga... Roselia apa yang kau lakukan? Kenapa kau bersikap centil seperti ini? Ya ampun...apakah aku baik-baik saja? Apa aku masih demam? Mengapa wajahku masih merah?" gumam Roselia sambil melihat wajahnya sendiri di cermin. "Apa aku sudah cantik?"
"Kau sangat cantik, Roselia." ucap Asteorope yang tiba-tiba saja sudah berada di belakangnya dan memeluk tubuh mungil gadis itu.
"As... kau sudah ada disini?" Roselia melihat ke belakang dan tersenyum manis pada pria yang memeluknya itu.
"Iya, aku sudah disini...aku ingin menjadi orang pertama yang melihat kecantikanmu." Asteorope tersenyum seraya merayu gadis cantik itu.
"Kau.... Jangan mengatakan sesuatu yang bisa membuatmu menyesal!" kata Roselia sambil menunjukkan tangan yang terkepal bersiap untuk memukul.
"Apa yang harus aku sesalkan? Ini benar-benar pujian, kau memang cantik nona Jachan-ku." Asteorope mengurai pelukan yang lalu membalikkan tubuh Roselia hingga berhadapan dengannya. Dia menatap nanar gadis itu.
"Berhenti memanggilku Jachan, atau kau--"
__ADS_1
Cup!
Pria itu membungkam bibir Roselia yang telah diolesi lipstik berwarna merah muda itu dengan kecupan singkat yang mampu membuat Roselia kembali terdiam. Kedua matanya melebar seketika.
"Kau...."
"Kalau kau bicara lagi...tidak hanya sekedar kecupan saja yang mendarat disana tapi aku akan melakukan hal lain juga!" ancam Asteorope yang membuat Roselia langsung membungkam mulutnya dengan kedua tangan.
"Hehe..." Asteorope terkekeh melihat wajah lucu Roselia itu. Tiba-tiba mata Asteorope tertuju tajam pada seseorang yang berada di jendela itu.
Dia pasti pemilik bayangan sihir itu. Apa dia orang yang tinggal di istana ini juga? Kalau benar... maka aku harus segera membawa Roselia pergi dari sini.
"As, mengapa kau sudah berada di sini? Bukankah kau harusnya lewat pintu depan bersama rombongan kerajaan Albarca?" tanya Roselia heran. Namun beberapa saat kemudian, Roselia langsung menutup mulutnya.
Astaga! Aku keceplosan! Harusnya aku pura-pura tidak tahu tentang identitasnya.
Mendengar pertanyaan Roselia, Asteorope menatapnya dengan tajam dan keheranan.
"Siapa yang sudah memberitahumu tentang identitasku?"
Tiba-tiba Roselia merasakan aura dingin di depannya, melihat raut wajah Asteorope saat ini. Raut wajah yang penuh pertanyaan dan kecurigaan.
Sedangkan Roselia jadi panik sendiri bagaimana menjawabnya, bahwa dia tau identitas Asteorope dari novel yang ia baca.
Tidak ada cara lain lagi, aku harus mengalihkan perhatiannya.
"Ah....aduh...duh...kepalaku sakit sekali," ringis gadis itu sambil memegang kepalanya.
Melihat Roselia kesakitan, tentunya Asteorope tidak tega. Ia langsung memegangi tangannya. "A-ada apa? Kepalamu sakit lagi?"
"Iya As, tolong.. aku sangat pusing."
"Aku akan membantumu," pria itu menggendong Roselia seperti putri. Refleks Roselia mengalungkan tangan di leher pria itu.
Yes berhasil!
"Terima kasih As," lirih Roselia sambil mendesah pelan.
Asteorope membaringkan Roselia di atas ranjang berukuran king itu. Tiba-tiba terlihat ada kabut kemarahan di mata pria itu saat melihat ranjangnya. "Kau kenapa?"
Kenapa dia begitu lagi?
"Apa semalam kau tidur di sini bersama dengan pria itu?!"
Suara Asteorope memang tidak keras, malah cenderung pelan. Tapi suaranya penuh penekanan dan membuat Roselia seperti tercekik dengan pertanyaannya.
*****
Sementara itu Javier berada di atas atap kamar putra mahkota yang ditempati oleh Roselia. "Sial! Dia memiliki banyak kstaria pelindung. Semalam aku ingin menyerangnya, tapi ada putra mahkota di kamarnya semalaman. Lalu pagi ini aku mau menyerangnya, ada pria kuat yang melindunginya. Roselia Mariana Edenbell...kau hanya seorang putri penjahat. Kenapa kau memiliki banyak kstaria? Kau membuat jiwaku semakin tertantang dan aku juga jadi ingin bersaing dengan mereka. Hahahaa...ini sudah gila! Kenapa aku begitu penasaran denganmu? Haha...baiklah, aku akan kembali lagi nanti...Roselia Mariana Edenbell!"
Javier terkekeh kecil, terlihat senyum menyeringai dibibirnya. Lalu dia pun pergi menghilang dari sana, setelah rencananya gagal untuk mempermainkan Roselia dan mencelakainya.
__ADS_1
Javier merasa tertantang untuk semakin menghabisi Roselia, karena begitu banyak yang melindunginya.
...*****...