
...🍀🍀🍀...
"Javier STOP!" Ariana berlari menghampiri Javier yang akan mencekik petugas keamanan di supermarket itu.
"Nona! Apa kau kenal orang ini? Dia sudah gila, dia mau membunuhku!" seru si petugas keamanan panik, tubuhnya yang terbilang tinggi itu. Bisa dengan mudahnya diangkat ke atas oleh Javier. Seakan-akan dia hanyalah kapas yang ringan.
"Javier, lepaskan dia!" ujar Ariana pada Javier yang masih mencengkram erat baju si petugas keamanan itu.
"Tapi dia sudah berani membentakku dan juga tidak sopan pada si Asteorope!"
Asteorope kesal, namanya dipanggil begitu saja tanpa embel-embel kata yang mulia di sana. Dia kan seorang Raja dinegrinya, tapi Javier sama sekali tidak menghormati posisinya sebagai seorang raja.
"Lepaskan dia...atau aku akan membencimu selamanya, Javier." kata Ariana dengan tatapan mata tajam pada pria itu dan membuat pria itu tunduk.
Javier melepaskan pria itu sampai ia terjatuh ke lantai. "Haih...dasar keterlaluan!" dengus petugas keamanan itu marah. "Nona, tolong nasehati temanmu itu untuk tidak merusak barang-barang disini!" tegur petugas kemanan itu kepada Ariana karena ia berpikir hanya Ariana saja yang normal saja disana.
Ariana mendesah panjang. "Iya pak, saya mewakili teman-teman saya... mengucapkan maaf pak."
"Ya, lain kali jangan diulangi." tegur
Melihat Ariana menundukkan kepalanya dan memohon maaf pada petugas keamanan supermarket itu, membuat Javier dan Asteorope marah.
"Hey! kenapa kau meminta maaf padanya?" Asteorope akhirnya angkat bicara, dia tidak suka wanitanya menundukkan kepalanya pada orang lain.
"As, diam!" tegur Ariana pada Asteorope. Matanya mendelik tajam pada pria itu.
Setelah masalah dengan petugas keamanan di supermarket itu, Ariana meminta agar Asteorope dan Javier tetap tenang dan tidak melakukan hal yang bisa membuat mereka kesulitan.
Saat selesai berbelanja, Ariana pergi ke meja kasir untuk menghitung berapa banyak dia belanja dan apa saja yang dibelinya. Ya, yang dibelinya beragam dari mulai bahan-bahan makanan yang mudah disimpan di kulkas, baju, sepatu dan tak lupa juga dalamann.
Asteorope dan Javier, lagi-lagi terdiam dengan wajah polos mereka. Atensi keduanya tertuju pada mesin kasir yang berbunyi, mereka masih menganggap bahwa sesuatu yang berbunyi dan menyala itu adalah benda yang berasal dari iblis atau roh jahat dan semacamnya.
"Raja Albarca, apa kau tau itu apa?" tanya Javier setengah berbisik pada pria yang ada di sampingnya. Tangannya menunjuk pada alat pemindai harga di dekat meja kasir.
"I-itu..." Asteorope tidak mampu menjawabnya karena dia memang tidak tahu benda apa itu dan baru pertama kali dia melihat benda itu. Benda yang menyala ketika barang-barang belanjaan di periksa.
__ADS_1
"Cih! Aku kira kau benar-benar pandai seperti rumor yang beredar, nyatanya kau sama sekali tidak pintar dan otak udang." ejek Javier dengan kedua tangan yang menyilang tidak ada dan jangan lupakan juga senyumannya yang mengejek. Bibirnya memanyun dan meremehkan Asteorope.
"Apa? Apa kau sedang mengejek seorang raja? Hey! Dulu... Aku adalah sarjana termuda di angkatanku! Aku juga--"
"Hah! Kalau kau memang sangat pintar seperti apa yang kau ucapkan, lalu kenapa kau tidak tahu tentang benda itu?" tanya Javier, lagi-lagi ia memancing amarah pria itu.
"Hey--"
"Kalian kemarilah! Aku akan tunjukkan, bagaimana caranya membayar belanjaan di duniaku." ujar Ariana yang membuat kedua pria itu akhirnya terdiam dan memperhatikannya.
Ariana mengeluarkan sesuatu dari dompetnya, ya dia mengeluarkan kartu ATM untuk membayar barang belanjaannya karena dia tidak punya uang cash dalam jumlah yang besar. "Ini namanya kartu ATM, dengan kartu ATM ini kita bisa membayar belanjaan kita. Dan ini uang cash." Ariana bersikap seperti seorang guru yang sedang mengajarkan anak-anaknya. Ia mengeluarkan selembar uang dolar dan menunjukkannya kepada kedua pria itu.
"Oh aku paham, jika di Albarca dan Gamarcus... melakukan pembayaran dengan emas atau perak, kalau di sini melakukan pembayarannya dengan kartu ATM juga uang." jelas Asteorope yang langsung paham dengan penjelasan Ariana.
"Aku juga paham." Javier menganggukan kepalanya.
"Bagus! Itu benar." Ariana memuji kedua pria itu sambil tersenyum.
Usai membayar barang belanjaan, Ariana dan kedua pria yang berasal dari dunia lain itu pun pergi dari supermarket. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 5 menit, mereka telah sampai di rumah Ariana.
Langsung saja gadis itu memasak di dapur, ditemani oleh Javier dan Asteorope. Sementara Doris, Theo dsn Peter yang baru saja selesai beres-beres rumah. Kini mereka sedang berganti baju dengan pakaian yang diberikan oleh Ariana.
Javier dan Asteorope mengangguk kompak. Mereka berdua seperti anak yang patuh pada orang tuanya.
"Baiklah, sekedar tes biasa...ini namanya apa?" tanya Ariana seraya menunjuk pada spatula yang dipegangnya.
"Spa--tula--" Asteorope dan Javier mengeja nama benda itu.
Ariana tersenyum bangga, kemudian tangan yang menunjuk ke arah kompor. "Lalu ini apa?"
"Kompor!" jawab Javier dan Asteorope kompak.
Gadis itu kembali mengganggukan kepala, memang benar bahwa kedua pria itu memiliki IQ tinggi dan cepat tanggap. Hanya saja agak primitif, ya wajar saja kan mereka berasal dari dunia lain dan sangat kesulitan beradaptasi dengan dunia modern yang penuh kecanggihan.
Oh, sepertinya aku menjadi seorang guru.
__ADS_1
"Pintar! Baiklah, sekian dulu untuk tesnya. Sekarang kalian bantu aku untuk menyajikan makanan ini...kalian mau kan?" tawar Ariana seraya tersenyum pada kedua pria didepannya itu.
"Ya."
Mereka berdua pun membantu Ariana untuk menyajikan makanan ke meja makan yang ada di ruang tengah. Theo, Peter dan Doris takjub melihat dua pria yang memiliki status tinggi itu, begitu patuh pada Ariana dan melakukan pekerjaan pelayan.
"Nona...lihat ini! Apakah begini memasang bajunya?" Doris memperlihatkan dirinya yang telah memakai piyama miliki Ariana.
"Bagus untukmu, Doris... ternyata kita satu ukuran ya." Ariana tersenyum melihat Doris memakai piyamanya.
"Oh ya nona, dimana tempat buang air disini?" tanya Theo yang sedari tadi kebelet ingin buang air kecil.
Benar juga, mereka pasti belum tahu tempat buang air di sini. Ya sudah, aku akan menunjukkannya.
"Oh ya! Akan aku tunjukkan, kalian semua ikutlah denganku!" kata Ariana sambil memandu mereka berlima masuk ke dalam kamar mandi.
Mereka mengekor di belakang seperti anak ayam. Kemudian, Ariana kembali menjadi guru dadakan lagi. "Nah...ini tempat kalian buang air, kalian duduk saja disini kalau mau buang air...lalu tekan ini." gadis itu menekan ke bawah tuas yang menjadi tombol membersihkan toilet.
"I-ini bukannya sumur?" tanya Peter tergagap.
"Ya, ini sumur tempat minum kan?" tanya JAVIER yang tadi sempat minum dari air toilet itu.
"Hah? Bukan! Bukan! Ini tempat buang air bukan sumur! Air ini kotor dan--"
"Uwekkk...uwekkk!!"
Ariana terheran-heran melihat Javier, Theo, Peter dan Doris tiba-tiba saja mual-mual dan wajah mereka juga pucat. Sementara Asteorope melihat mereka semua dengan heran.
"Kalian kenapa?" tanya Ariana dengan kening berkerut.
"Jadi air yang tadi kita minum adalah---"
UWEKKK!!!
...***...
__ADS_1
Hei Readers jangan lupa bantu Fav novel baruku dong 🤧🤧🤧 kasih like dan komen juga ya ...masih sepi ,❤️❤️