I'Ll Became A Villain'S Daughter

I'Ll Became A Villain'S Daughter
Bab 112. Javier patah hati, Ariana otw nikah


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Asteorope begitu bahagia mendengar jawaban yes dari Ariana. Padahal sebelumnya Ariana menolak dengan mengatakan tidak. Eh, ternyata gadis itu hanya mengerjainya saja. Asteorope kesal, tapi dia lupa akan kesalnya itu dan memilih menikmati momen ini.


"Kau serius? Kau mau menikah denganku?" tanya Asteorope sekali lagi, untuk meyakinkan dirinya bahwa yang dia dengar ini tidak salah.


"Tidak ada siaran ulang As, aku sudah mengatakannya barusan!" seru Ariana sambil tersenyum, tangannya mengusap air mata haru pria itu.


"Dasar kau ini...kau buat aku jantungan!" Asteorope memegang dadanya yang tadi terasa sesak. Bahkan jantungnya seakan berhenti saat itu juga ketika Ariana mengatakan tidak bisa. "Ya-ya sudah, ini cincinnya...silahkan di pakai." kemudian pria itu membuka kotak cincinnya kembali. Terlihat cincin berlian berbentuk bunga mawar berwarna merah muda.


"Kau sangat tidak romantis, masa aku disuruh untuk memakai cincinnya sendiri? Dimana-mana, pemeran utama pria pasti akan menyematkan cincin itu disaat seperti ini." protes Ariana yang meminta Asteorope untuk peka.


Ah, sebenarnya pria itu memang ingin menyematkan cincin di jari kekasihnya. Namun karena dia gugup dia jadi lupa semua itu.


Ah, padahal tadi dia menonton film drama Korea dulu sebelum ini. Bahkan menyewa taman hiburan pun adalah ide dari drama Korea komedi romantis, what's wrong with secretary Kim.


"Oh iya ya, aku ya harusnya memakaikan cincin itu di jarimu." Asteorope terlihat gugup saat mengambil cincin itu dari kotak cincinnya.


Bukan hanya Riana saja yang melihat pria itu gugup, tapi Javier, Doris, Peter dan Theo juga melihatnya.


Asteorope pun memakaikan cincin di jari manis Ariana pada tangan sebelah kirinya. Cincin itu sangat pas dengan ukuran Ariana dan membuat Ariana takjub. Mengapa cincinnya bisa pas begini?


Sepertinya, As sudah menyiapkan cincin ini dari jauh-jauh hari. Tapi kenapa bisa pas begini? Dulu aku kan masih berada di dalam tubuh Roselia.


Asteorope menatap Ariana dengan tatapan nanar. Kemudian dia memegang tangan gadis itu dengan lembut. "Aku mencintaimu..."


"Aku juga As, aku mencintaimu."

__ADS_1


Mereka berdua pun berpelukan dengan mesra. Hal ini yang selalu dinantikan oleh Ariana dan Asteorope sejak masih berada di dunia novel. Tapi semuanya terwujud di dunia modern, alias dunia Ariana. Butuh waktu lama bagi hubungan mereka berdua untuk sampai ke titik ini.


Aku tidak akan melepaskanmu As, aku harap kita akan bersama-sama selamanya. Aku tidak mau kisah kita cinta berakhir seperti orang tuaku, berbeda dunia dan mereka tidak bisa bersama.


Kata-kata ini diucapkan Ariana dalam hatinya, satu hal penting yang menjadi ganjalan selama ini dalam hubungan Ariana dan Asteorope yaitu fakta bahwa mereka berdua berasal dari dunia yang berbeda. Ariana takut, cemas, kalau seandainya bila suatu saat nanti mereka berpisah ketika sedang sayang-sayangnya. Ariana tidak mau Asteorope meninggalkannya sendirian di dunia ini.


Jika ia memang harus ikut ke dunianya, ia rela masakan bisa bersama dengan kekasihnya itu. Tapi, ia kembali teringat kata-kata ayahnya. Bahwa alasan Ariana berpindah tubuh pada tubuh Roselia, adalah karena tubuhnya tak bisa pergi ke dunia novel itu.


Asteorope juga merasakan kecemasan yang sama dengan apa yang dicemaskan oleh Ariana dalam hatinya. Ia sangat cemas karena takut berpisah dengan Ariana. Tapi dia kembali menekankan dalam hatinya, bahwa dia dan Ariana akan selamanya bersama.


Disisi lain...


Theo, Javier, Peter dan Doris sontak bertepuk tangan melihat keduanya telah bersama-sama dan akan menuju ke pernikahan. Mereka ikut bahagia dengan kebahagiaan Ariana dan juga Raja Albarca itu.


Prok...prok...prok....


"Syukurlah... akhirnya kita bisa segera pulang ke dunia kita." gumam Doris yang sudah merindukan kerajaan Albarca dan istananya yang kini sudah menjadi rumahnya dan Peter.


"Selamat..." Theo juga ikut memberikan selamat kepada pasangan yang mungkin akan segera menikah secepatnya Karena pada saat ini mereka telah melalui prosesi lamaran. Bahkan restu pun sudah dikantongi dari Cain, saat mereka masih berada di dunia lain.


Sementara semua orang ikut bahagia dan tersenyum melihat Asteorope dan Ariana, lain halnya dengan Javier. Pria itu memang tersenyum, namun tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari bibirnya. Senyumnya bahkan begitu datar dan kecut, seperti senyuman yang menutupi sejuta luka.


Ariana, sejak aku jatuh cinta padamu, aku menyadari sesuatu...bahwa cinta itu tidak egois, cinta tidak harus memiliki. Tapi nyatanya ini sangat menyakitkan untukku. Dari kata cinta itu, aku merasakan sakit ini.


Benar juga, tidak selamanya cinta itu indah. Inilah yang dirasakan oleh Javier saat ini, ketika cintanya hanya bertepuk sebelah tangan. Sekuat apapun dipaksakan, perasaan dan hati tidak bisa diganggu gugat.


Cinta Ariana hanyalah untuk Asteorope dan begitu pula sebaliknya. Lalu Javier? Siapakah dia dalam kisah cinta ini? Dia bisa diibaratkan dengan orang ketiga.

__ADS_1


Mencoba ikhlas, rela dan menerima kenyataan. Ternyata tidak semudah membalikan telapak tangan, kalau berurusan dengan hati manusia memang sulit. Javier benar-benar patah hati dan bahagia di saat bersamaan.


Sulit pastinya untuk Javier, melupakan Cinta pertamanya yang telah mengubah dirinya menjadi manusia. Dirinya yang pernah menjadi psikopat dan gay, telah sembuh karena jatuh cinta pafa gadis itu.


Ariana... sungguh tidak ada seorang pun yang bisa membolak-balikkan hatiku seperti ini. Tidak ada seorang pun yang bisa memporak-porandakan hatiku, kecuali kau. Kau membuatku merasakan beragam macam rasa. Luka, senang dan cinta. tapi, Aku harus merelakanmu... asalkan kau bahagia.


Javier menatap pasangan kekasih itu dengan mata yang berkaca-kaca. Tangannya memegang dada yang terasa sesak.


"Tuan, Anda--" Theo melirik ke arah Javier yang sudah berjalan memunggunginya, Theo melihat tuannya berjalan sangat gontai. Pasti rasanya sakit sekali, melihat orang yang dicintai bersama dengan pria lain.


Theo, tidak bisa diam saja melihat tuannya sendirian di saat seperti ini. Ia pun menyusul Javier yang berjalan belum jauh dari sana.


"Tuan! Anda adalah orang yang hebat," Theo tersenyum pada tuannya itu.


"Kenapa kau ada disini? Sana pergi!" usir Javier pada bawahannya itu.


"Tuan, kebebasan hati anda begitu lapang...saya yakin bahkan suatu saat nanti tuan akan mendapatkan cinta sejati tuan." ucap Theo menyemangati.


"Bicara sekali lagi, kubunuh kau!" ancam Javier dengan mata elangnya.


"Ampun tuan...ampun...hehe." Theo yang dulunya selalu takut dengan ancaman Javier, kini terlihat santai.


"Kau sekarang mulai berani padaku, hah?" Javier kali ini tidak main-main, bahkan ia mengeluarkan belatinya. Theo langsung berdiri tegap, menghilangkan senyumannya.


"Maafkan saya tuan, saya telah lancang. Tapi--apakah tuan mau minum-minum dengan saya?" Theo mengajak Javier minum-minum untuk mengurangi rasa patah hatinya saat ini.


Javier terlihat berpikir, apakah ia pergi saja?

__ADS_1


...****...


__ADS_2