I'Ll Became A Villain'S Daughter

I'Ll Became A Villain'S Daughter
Bab 85. Kesabaran Javier


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Javier panik begitu melihat Roselia tidak sadarkan diri di bawah lantai dekat tempat tidurnya. Pria itu menghampiri Roselia dan mencoba membangunkan gadis itu. "Hei! Apa kau berpura-pura?" tanya Javier sambil menepuk-nepuk pipi gadis itu. "Roselia!" panggilnya pada Roselia, namun tak kunjung ada jawaban juga. Ya, gadis itu memang sudah tidak sadarkan diri.


"Shitt!" umpatnya, lalu dia menggendong Roselia dan membaringkannya di atas ranjang empuk itu.


Setelah itu Javier memanggil tabib untuk memeriksa kondisi Roselia. Kenapa dia memanggil tapi padahal dia sendiri bisa mengobatinya dengan kekuatan sihir? Ya, memang bisa tapi dia sengaja tidak menggunakan kekuatannya karena jika dia menggunakan kekuatannya maka akan ada seseorang yang mungkin bisa melacak dirinya.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Javier kepada tabib wanita yang berusia sekitar setengah abad itu. Tabib itu adalah tabib yang diperintahkan oleh Javier untuk selalu berada di sekitar istana penjara tempat Roselia di kurung. Dia bernama Risha.


"Jangan khawatir Tuan, menurut diagnosa saya...saat ini Nona baik-baik saja. Kita harus menunggu nona Roselia bangunan terlebih dahulu untuk mengetahui kondisinya."


"Baik, sekarang kau pergilah dari sini. Begitu aku memanggilmu kau harus datang."


"Ya tuan." Risha menundukkan kepalanya dengan penuh hormat di depan pria itu.


"Darius, antarkan dia pergi ke tempatnya!" Titah Javier kepada Darius yang sudah dari tadi berdiri di ambang pintu jeruji besi tersebut.


"Baik Tuan," jawab Darius patuh, namun tatapannya penuh kebencian kepada gadis yang sedang terbaring lemah itu.


Wanita sialan! Kau selalu membuat tuanku kerepotan, kau juga sudah merebut perhatian Tuan Javier kepadaku.


Setelah semua orang pergi dari sana, Javier duduk di atas ranjang tepat di dekat Roselia terbaring. Ia melihat perban yang ada di kening Roselia. "Ini pasti sakit kan? Maka dari itu, kau jangan paksa aku untuk melakukan ini...aku tidak mau menyakitimu, sungguh. Tapi kau yang membuatku emosi dan membuatku menyakitimu." gumam Javier, dengan jari-jari yang membelai wajah cantik itu. Terkadang Javier memandanginya dengan mata yang sendu dan terkadang juga memandanginya dengan tatapan mata yang tajam.


Javier menunggu Roselia disana sampai dia sadarkan diri. Dua jam berlalu, Roselia akhirnya siuman. Dia merasakan kepalanya begitu sakit dan perutnya mual. "Ugh..."


"Kau sudah siuman?" tanya Javier dengan sikap dia mendekati Roselia. Gadis itu terlihat berusaha beranjak bangun dan Javier akan membantunya. Namun dengan cepat Roselia menepis tangan Javier.


"Minggir kau bajingan! Jangan sentuh aku!" ketus Roselia.


Terlihat kilatan amarah yang ada di dalam pandangan Roselia terhadap pria itu. Dia ingat benar bagaimana pria itu mencekik dan membantingnya dengan kasar seolah dia adalah barang tidak berharga. Wajar dia marah, wajar dia menatap Javier dengan sinis. Namun agaknya Javier tidak menerima semua itu.


Javier tetap sabar menahan amarah, dia kembali memegang tangan Roselia. Tapi Roselia menepisnya kembali. "Lepaskan aku bajingan!"


"Kau mau kemana? Kau mau apa? Mau ku ambilkan sesuatu?" tawar Javier dengan lembut dan perhatian, sungguh berbeda dengan sikap Javier yang tadi.


"Alah... BERISIK!" teriak Roselia dengan segala kekuatan yang masih dimilikinya. "Uwekk....uwekk..."

__ADS_1


Byur!


Roselia muntah, dia memuntahkan semua yang ia makan ke baju Javier. "Shitt! Kau memuntahiku!" umpat Javier yang sangat cinta dengan kebersihan.


"Kenapa? Kau mau mencekikku lagi?" tanya Roselia sinis. Lalu sedetik kemudian dia kembali muntah, kali ini muntah disertai dengan rasa pusing dan membuat gadis itu memegang kepalanya. "Uhh..."


"Astaga! Kau kenapa?" tanya Javier cemas melihat gadis itu kesakitan.


Tanpa mempedulikan muntahan dibajunya, Javier berteriak pada Darius dan memintanya untuk memanggil Risha. Butuh waktu sekitar 3 menit untuk Risha sampai di kamar itu. Risha segera memeriksa kondisi Roselia yang lemah.


"Bagaimana?" tanya Javier seraya melirik ke arah Risha dan Roselia.


"Tuan, saya rasa nona Roselia memiliki cedera kepala."


Javier tersentak kaget, sementara Darius yang ada dibelakangnya tersenyum menyeringai sepertinya ia senang mendengar kabar ini.


"Apakah parah?" tanya Javier pada sang tabib.


"Tidak usah sok peduli keadaanku, kau tak berhak!" ketus Roselia pada Javier kesal.


"Huh!" Roselia membuang muka dari pria itu.


"Tuan...dalam beberapa hari, mungkin nona Roselia akan muntah-muntah dan mual. Tapi tuan tenang saja karena saya sudah menyiapkan obat untuk nona."


"Mana obatnya?"


Javier mendengar perkataan Risha dengan seksama, dia memperhatikan detail setiap obat yang akan diminum oleh Roselia. Setelah itu, Javier membantu Roselia untuk makan dan minum obat.


Berkali-kali gadis itu melempar makanan yang dibawa oleh Javier. Namun pria itu tetap sabar menghadapinya.


Roselia juga sudah mulai kesal karena sudah satu Minggu dia berada disana. Sikap Javier seperti roller coaster selalu membuat Roselia waspada. Dia bisa baik dan melukainya kapan saja. Apa begini orang psikopat dan gay bila jatuh cinta? Roselia ragu, ini cinta atau obsesi.


Prang!


Lagi-lagi untuk ke sekian kalinya, Roselia melempar makanan yang dibawa oleh Javier. Berharap pria itu marah saja padanya dan mengusirnya dari sana. Karena entah kenapa Roselia yakin, bahwa Javier tidak akan membunuhnya.Tak tahu darimana datangnya keyakinan itu.


"Darius! Bawakan yang baru!" titahnya pada Darius.

__ADS_1


Melihat dari sikap tuan, seharusnya wanita itu sudah mati sekarang.Tapi kenapa tuan begitu sabar menghadapinya?


"DARIUS! Apa kau TULI?"


"Ah...ya tuan, saya akan segera ambilkan." Darius pergi dari sana buru-buru untuk mengambil makanan.


Kini hanya tinggal Roselia dan Javier disana, Roselia masih betah dengan wajah marahnya. Javier mendekati Roselia dan duduk disamping, gadis itu bergeser menjauh.


"Sebenarnya kau mau apa? Kau harus makan, supaya kau bisa minum obat dan sembuh. Aku benar-benar tidak paham dengan dirimu, wahai gadis bar-bar!"


"Aku lebih tidak mengerti dirimu, bajingan." umpat Roselia memaki pria itu.


"Berhentilah membuatku kesal dan makan makananmu!" teriak Javier yang sudah habis kesabarannya.


"Kalau kau sudah tidak sabar denganku, kenapa kau tidak lepaskan aku saja? Biarkan aku pergi bersama orang-orang yang kucintai, aku hanya ingin pergi dari sini. Itu saja!" secara gamblang Roselia mengutarakan keinginannya.


"Aku bisa melakukan apapun, aku bisa mengabulkan permintaan apapun untukmu, tapi tidak untuk yang satu itu."


"Javier..."


Javier meraih rahang gadis itu dengan satu tangannya. "Roselia...dengar...kau akan tetap berada disini sebelum kau setuju menikah denganku, TITIK!"


"Aku tidak MAU, aku hanya akan menikah dengan satu orang. Dan orang itu adalah--"


BRAK!


Javier melempar barang-barang diatas meja, ya dia kambuh lagi keras kepala dan temperamentalnya. Roselia hanya cukup melihatnya, seolah telah terbiasa.


"CUKUP! Jangan membuatku gila dengan menyebut nama pria lain! Atau aku akan---" Javier menggantung ucapannya disana.


Tak lama kemudian, Darius datang dan membawakan makanan yang baru untuk Roselia. Namun Roselia kaget saat melihat ada secarik kertas dibawah piring. Dia terkejut melihat Darius memberikan kode melalui matanya.


****


Tidak tahan lagi untuk mengetahui keberadaan Roselia, akhirnya Asteorope dan Cain mengambil langkah besar untuk menemui Aragon yang katanya sedang bertapa di sebuah gunung larangan yang cukup jauh dari Gamarcus dan Albarca.


...****...

__ADS_1


__ADS_2