
...πππ...
"Apa kau yakin ini akan berhasil Javier?" tanya Asteorope sambil melihat-lihat hiasan di taman itu. Bertaburan bunga dan juga alat musik gitar disana.
"Tergantung bagaimana caramu meminta maaf." jawab Javier cuek dan sebenarnya dia juga tidak tahu menahu tentang percintaan. Tapi dia sok sok memberikan saran pada Asteorope.
"Tapi siapa yang akan memainkan alat itu? Aku tidak bisa!" tangan Asteorope menunjuk pada gitar berwarna coklat yang mereka beli tadi dari sebuah toko.
"Oh...itu aku juga tak tau, aku juga tak bisa main musik. Tapi aku baca sekilas dalam buku yang kita beli di supermarket, perempuan akan luluh ketika seorang pria bermain musik untuknya!" tutur Javier polos.
Sebenarnya semua kejutan untuk Ariana ini mereka baca dalam buku.
"Tapi aku tak bisa."
"Ya sudah jangan pakai musik, kau menyanyi saja dengan suaramu."
"A-apa?"
"Tuan Javier, yang mulia Raja, daripada kalian bingung di sana ayo lebih baik kalian ikut dengan saya ke dalam! Ada yang ingin saya tunjukkan pada kalian berdua dan mungkin ini bisa menjadi solusi." Theo tiba-tiba saja muncul dan mengatakan semua itu. Asteorope dan Javier pun mengikutinya masuk ke dalam rumah.
Theo menunjukkan video di dalam ponsel yang sebelumnya mereka sangka sebagai alat sihir hitam. Theo menekan aplikasi berwarna merah yang ada tombol play di tengahnya. Lalu Theo menekan tombol pencarian tentang kencan romantis. Terlihat ada beberapa opsi video di sana.
"Woah.... benda ini benar-benar ajaib." Javier berdecak kagum melihat aplikasi tersebut.
"Ya kau benar. Selain bercahaya benda ini juga bisa digunakan untuk mencari informasi." ucap Asteorope.
"Ngomong-ngomong, dari mana kalian mendapatkan benda ini?" tanya Javier penasaran.
"Kami mendapatkannya dari nona Ariana tadi pagi. Benda ini namanya ponsel dan bisa digunakan sebagai alat komunikasi juga mencari informasi!" jelas Theo bangga karena dia lebih tahu ponsel dibandingkan dengan raja dan tuannya itu.
"Jangan merasa bangga dan pintar ya! Ingat tentang air sumur." celetuk Peter yang membuat Theo kembali malu teringat insiden air toilet sebagai sumur.
"Ehem! Sudahlah, lebih baik kau jelaskan apa yang mau kau tunjukkan?"
"Ini Yang Mulia raja, bukankah yang mulia Raja ingin membuat kejutan untuk nona Ariana? Nah...kita bisa lihat contohnya dari sini." Theo membuka salah satu video yang ada di aplikasi merah itu.
__ADS_1
Javier dan Asteorope berada disisi Theo untuk melihat video tersebut. Kemudian terlihatlah sepasang kekasih berada di taman hiburan, pria di dalam video itu menyewa seluruh taman hiburan untuk kekasihnya. Bahkan semua orang sampai ikut campur menyiapkan kejutan itu.
Satu kata untuk video itu, so sweet dan expensive, jelas saja sebab menyewa taman hiburan itu pasti menghabiskan banyak uang. Sebenarnya kalau Asteorope masih berada di Albarca, mungkin dia mampu menyewa apapun juga atau bahkan membelinya.
Tapi posisinya sekarang, dia berada di dunia ini dan tidak punya uang.
"Ey...ini pasti menghabiskan banyak uang! Sampai menyewa taman hiburan segala!" cetus Javier sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan tidak setuju dengan video di aplikasi itu.
"Tapi ini sangat bagus kan, tuan? Nona Ariana pasti akan merasa sangat senang!" seru Theo yakin.
"Ya, ini bagus. Tapi aku tak punya uang." kata Asteorope bingung.
Javier tiba-tiba saja terdiam seperti memikirkan sesuatu. Kemudian ia pun mengatakan pada Asteorope untuk menjual emas yang dia bawa dari Albarca agar bisa dapat uang.
Mereka berdua pun pergi keluar rumah dengan kompak. Theo, Peter dan Doris merasakan adanya perubahan hubungan diantara kedua pria yang semula bermusuhan dan ingin saling membunuh itu.
"Theo, aku pikir ada sesuatu di antara Yang Mulia Raja dan tuan Javier." ucap Peter sambil menyuapi istrinya makan buah-buahan.
"Aku pikir sekarang mungkin mereka sudah menjalin hubungan pertemanan." sahut Theo.
"Ya, apapun itu bukankah ini bagus?" Peter tersenyum senang melihat rajanya akur dengan Javier. Kalau menjadi sekutu, kedua orang itu akan menjadi lebih kuat.
****
Sore itu Ariana keluar dari kamarnya dengan mata sembab, tapi raut wajahnya terlihat lebih baik dari sebelumnya. Tadi dia terlihat kacau dan galau.
Rupanya galau membuat di kelaparan, namun dia heran ketika sedang mencari makanan di dapur. Ia tak melihat seorang pun di rumah.
"Kemana mereka? Apa mereka pergi keluar?" gumam Ariana sambil menunggu air minum dingin yang ada di dalam botol.
Ariana mencari-cari semua orang ke setiap sudut rumah, namun dia tidak menemukan siapapun juga di sana. Ariana mulai panik, pikirannya mulai meracau kemana-mana.
"Mereka...mereka tak mungkin kembali ke dunia itu dan meninggalkanku sendirian lagi, kan?" gumam Ariana ketakutan bayangkan jika benar apa yang ada di pikirannya itu benar-benar terjadi. Ariana tak mau sendirian lagi setelah berpisah dengan kedua orang tuanya.
Ia pun segera mengambil jaket, topi dan kacamata untuk pergi keluar dengan penyamarannya. Buru-buru ia pergi keluar dari rumah. Baru saja ia langkahkan kakinya beberapa langkah ke luar rumah, sebuah dering telepon menghentikan langkahnya.
__ADS_1
Ariana mengangkat telpon itu dengan cepat karena yang menelpon itu adalah nomornya yang lain. Nomor di ponsel yang dia berikan pada Theo dan Peter.
"Halo..."
"Ah...ini bersuara...ada suara nona Ariana disini!" kata Theo pada Peter
"Kau benar Theo, benda ini benar-benar ajaib." suara Peter di sebrang sana.
"Tuan Peter, tuan Theo! Kalian ada dimana? Kenapa kalian tidak ada di rumah? Aku... mencari kalian ke mana-mana." suara Ariana terdengar terisak dan cemas.
"Nona! Terjadi sesuatu pada Yang mulia raja dan juga tuan Javier, kami tidak bisa mengatasinya! Cepat nona kemari!" kata Peter dengan suara panik, padahal di seberang sana dia sedang menahan tawa.
"Ada apa dengan mereka? Apa---" Ariana panik, takut terjadi sesuatu pada mereka berdua terutama kekasihnya.
"Yang Mulia, dia terluka parah! Sampai kepalanya berdarah-darah....nona cepatlah kau datang ke taman hiburan di jalan Ave--ave...ave apa Theo?" Peter bertanya pada Theo.
"Avenue."
"Ya, taman hiburan di jalan Avenue!"
Tut....tut...
Telpon itu terputus begitu saja dan membuat Ariana tambah panik. Bahkan ia tak ngeh kalau tingkah Theo dan Peter sangatlah aneh.
"Aku harus kesana sekarang! As...kau tidak boleh kenapa-napa, kau tidak boleh meninggalkan aku!" buliran bening jatuh membasahi pipi gadis itu.
Ia pun pergi dari rumah itu setelah mengunci pintunya rapat-rapat. Tanpa peduli dia berpenampilan seperti apa saat ini, dia pergi menaiki taksi menuju ke taman hiburan. Di sepanjang perjalanan ia gelisah dan resah.
...****...
Hai Readers, makasih yang udah kasih vote sama giftnya...βΊοΈ author akan up 3 bab hari ini, jangan lupa komennya yes!
Oh ya, btw author ada rekomendasi novel bagus banget nih! Karya Weny Hida, wajib mampir!
β€οΈβ€οΈ
__ADS_1