
...🍀🍀🍀...
Ditengah kesedihan yang dirasakan oleh Doris dan Peter. Ariana dan Asteorope masih belum tau tentang menghilangnya Doris. Mereka masih asyik bermain berdua dan menjalani sepanjang malam bersama.
Kini pasangan kekasih yang baru saja lamaran itu, sedang berada di pantai. Menikmati desiran ombak dan semilir angin malam.
"Ariana, lebih baik kita kembali pergi sekarang." ajak Asteorope seraya memegang tangan Ariana dan menggenggamnya.
"Tidak mau! Aku masih mau disini, aku ingin menikmati angin malam di pantai,"
"Tapi disini dingin, kita pulang saja ke rumah ya?"
"Katanya kau mau menghabiskan semalaman bersamaku?" tanya Ariana dengan alis menaut ke atas.
Benar, bukankah Asteorope tadi sendiri yang mengatakan bahwa dia ingin menghabiskan sepanjang malam bersama Ariana. Lalu kenapa sekarang meminta pulang? Jarang-jarang Ariana bisa ke tempat sepi seperti ini, apalagi Taman hiburan itu sewanya di perpanjang sampai pagi.
Ternyata semua emas dan berlian yang dibawa Asteorope dan juga Javier, bernilai sangat besar. Hingga mereka berdua mampu menyewa taman bermain itu semalaman. Belum lagi menyiapkan kejutan untuk Ariana.
"Ah...ya baiklah, tapi pakai ini." Asteorope memakaikan jas hitam miliknya ke tubuh Ariana dengan begitu gentle.
__ADS_1
"Terimakasih As!" gadis itu tersenyum memandangi calon suaminya. Ia sangat senang kini cincin itu sudah tersemat di jarinya. Cincin yang menandakan bahwa hubungan mereka akan melangkah ke arah yang lebih serius.
"Dalam kata cinta tidak ada kata terima kasih atas maaf, apalagi kita akan segera menjadi keluarga."
"Hem....bicara tentang keluarga. Kau ingin punya anak berapa?" tanya Ariana penasaran.
"Aku tidak butuh anak."
Plakkk!
sontak saja jawaban Asteorope mengundang kekesalan Ariana. Gadis itu langsung melayangkan pukulan mautnya pada lengan bisep Asteorope. "Kenapa kau memukulku? Apa salahku?!" protesnya.
"Hidup bersamamu saja sudah cukup bagiku, aku tak butuh anak yang akan mencuri kasih sayangmu padaku." cetus Asteorope yang terdengar begitu kekanakan bagi Ariana.
Ariana mendesah, bahkan tak ragu menunjukkan kekesalannya. "Kalau misalkan aku hamil, apa kau tidak mau bertanggungjawab? Apa kau tidak mau mengakui anak kita? Kau akan menolaknya?" suara Ariana mulai meninggi, ia tak terima dengan Asteorope yang mengatakan tidak mau punya anak.
"Kalau kita punya anak, tentu aku akan senang."
"Kau seperti tidak ikhlas!"
__ADS_1
"Memangnya anak itu penting?" tanyanya santai seolah anak adalah perkara yang mudah.
Bugh!
Bugh!
Ariana kembali dengan sikap barbarnya kalau sudah marah. Tangannya melayangkan bogem mentah pada perut Asteorope sebanyak dua kali. "Aww.... ternyata tenaga Roselia dan Ariana tak jauh beda ya, sama-sama Jachan." dusta pria itu, sebenarnya pukulan Ariana lebih kuat saat gadis itu berada di dalam tubuh Roselia.
"Ah... baiklah....maafkan aku, aku salah. Aku mau punya anak!" ucapnya yang melihat raut wajah Ariana mulai serius.
"Kalau kau tidak mau punya anak, ya sudah jangan menikah denganku!" seru Ariana mengancam. Kedua tangannya menyilang di dada.
Kemudian Asteorope memeluk Ariana dan berusaha membujuk gadis yang tengah merajuk itu. "Jangan bicara begitu! Bukankah kita sudah berjanji akan menikah! Aku minta maaf ya....aku sudah salah bicara dan aku sudah bicara sembarangan. Aku hanya bercanda, aku pasti akan menerima anak kita dan menyayanginya sepenuh hatiku sama seperti aku menyayangimu, Ariana."
"Baiklah! Jadi kau mau anak berapa?"
"5 anak."
"What?" Ariana mendongak menatap wajah kekasihnya, tadi saja dia bilang tak mau punya anak. Lalu saat ditanya ingin anak berapa, dia ingin lima.
__ADS_1
...****...