I'Ll Became A Villain'S Daughter

I'Ll Became A Villain'S Daughter
Bab 67. Ajari aku bahagia


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Terperosoklah gadis itu bersama dengan anak perempuan yang dia tolong itu. Bukannya menolong tapi dia malah menambah masalah dengan terjebak disana.


Bagian belakang tubuh Roselia terhimpit oleh reruntuhan rumah itu, tanah longsor itu menutupi jalan keluarnya. "Aih! Roselia kau benar-benar ceroboh...tapi ini aku yang ceroboh atau memang tanah itu akan runtuh?" gumam Roselia kesal.


"Huhu...Ibu...ibu..." anak perempuan itu terisak.


"Oh ya nak? Apa kau terluka?" tanya Roselia sambil berusaha untuk duduk setelah tubuhnya melindungi anak itu dari reruntuhan.


"Dalah...hiks...dalah...beldalah..." gumam anak perempuan itu sambil menatap punggung Roselia. Bicaranya cadel r menjadi l ya namanya juga anak kecil, lidahnya masih pendek dan belum bisa bicara jelas.


"Berdarah? Apa kau berdarah? Kau terluka?" tanyanya semakin cemas, ia memegangi tubuh anak perempuan itu dengan hati-hati. Memperhatikan wajah dan setiap tubuhnya tanpa peduli dengan keadaan dirinya sendiri.


"Dalah...punggung..." anak perempuan itu menunjuk pada punggung Roselia yang berdarah.


"Punggungku berdarah?" Roselia langsung paham dengan apa yang dikatakan oleh anak itu. "Astaga... ternyata aku yang terluka dan kau tidak? Maafkan aku ya, bukannya menolongmu tapi aku malah membuat kita terjebak di sini. Tapi kau tenang saja, aku akan membawamu kepada ibumu." ucap Roselia seraya menatap anak perempuan itu dengan lembut dan memeluknya.


"Nah... sekarang kau jangan menangis lagi ya? Aku punya coklat untukmu, apa kau suka coklat?"


"Cwoklatt!"


"Ya, coklat." Roselia merogoh sesuatu yang ada di dalam kantong kecil buatannya. Dia pun memberikan coklat yang ada di dalamnya kepada anak perempuan itu. Ia segera memakannya dengan lahap.


Anak ini sepertinya dia kelaparan, entah berapa lama dia terjebak di sini?. Muncul ras iba dan simpati pada anak perempuan yang terlihat lusuh dan kelaparan itu.


"Aku berharap supaya keluargamu dan ibumu mencarimu, jangan seperti aku... ibuku bahkan tidak pernah mencariku dan dia membiarkanku hidup sendirian." gumam Roselia sambil tersenyum pahit mengingat sosok ibu yang pergi meninggalkannya sendirian di taman hiburan dan membuat dia menjadi yatim piatu, ia bahkan tidak tau siapa ayahnya.


"Oh ya Tuhan, tolong kirimkanlah kekuatan sihir padaku! Kekuatan yang bisa mengeluarkan kami dari sini, atau kalau tidak... bagaimana dengan datangnya kstaria baja hitam atau iron man saja kesini? Mungkin dia bisa membantu mengelas besi-besi disini yang menahan pergerakan kami, ah...entahlah...yang penting KAU mengirimkan seseorang untuk menolong kami, maka akan ku anggap dia adalah malaikat!" racau gadis itu ditengah-tengah kebingungannya mencari cara keluar dari sana.


Lalu tak berselang lama kemudian terdengar suara cukup keras dari atas dan jatuh tepat didepan matanya.


Brak!


"Ya Tuhan! Terima kasih karena engkau telah mengirimkan malaikat yang--"


Perkataan Rosalia terhenti seketika dia melihat siapa pria yang dia sebut sebagai malaikat penolongnya. Alisnya terangkat dan matanya melebar melihat pria itu. "Tu-tuan Javier?"


"Aku sangat tersanjung, ternyata kau menanti kehadiranku untuk menolong dirimu." Javier percaya diri saat mengucapkannya.


"Hah?"


Bukannya mengirimkan malaikat, tapi Tuhan malah mengirimkanku iblis berwajah malaikat?


"Tampwan...pamwan...tampwan!" anak perempuan itu sepertinya terpesona melihat ketampanan Javier, dia langsung tersenyum lebar saat melihat sosoknya di sana.


"Tampan? Dia! Oh no!" serka Roselia kesal dan menampik ucapan si anak kecil itu. Namun Javier malah tersenyum melihat Roselia marah.

__ADS_1


Tanpa basa-basi, Roselia lalu meminta bantuan Javier untuk keluar dari sana. Namun Javier menjawab dengan enteng bahwa dia tidak bisa membantu Roselia dan anak itu keluar dari sana sebelum Javier bicara dengannya dan Roselia juga mengatakan apa yang ingin dia katakan.


"Bisakah kita keluar dulu dari sini? Bicaranya bisa nanti saja, apa kau tidak kasihan melihat anak itu?" tanya Roselia dengan nada sedikit kesal pada Javier.


"Anak itu baik-baik saja, dia malah sedang tidur dipangkuanku dan dia juga tidak terluka." kata Javier yakin dan santai.


Benar saja, anak perempuan itu tertidur pulas di pangkuan Javier, entah kapan. Dia bahkan terlihat nyaman di pangkuannya.


"Baiklah, kau dulu ya bicara!"


"Bukankah kau yang lebih dulu mengajakku bicara?" tanya Javier.


"Jadi aku dulu yang bicara? Baiklah, aku tidak akan berbasa-basi lagi padamu. Ambilah belatimu kembali, belati yang kau pakai untuk membunuh orang-orang. Dasar gay psikopat, menyebalkan!"


Astaga! Apa yang aku katakan? Kenapa tiba-tiba Aku mengatakan semua itu? Padahal Aku ingin mengatakan tentang belatinya saja tanpa menambahkan membunuh orang-orang.


Roselia terkejut manakala mendapati dirinya berbicara jujur dari dalam hati, padahal bukan itu yang sebenarnya dia ingin katakan pada Javier.


Rupanya Javier menggunakan sihir hitam yang dia gunakan sebagai pengakuan dari korbannya sebelum mati kepada Roselia.


"Aku sudah menduganya bahwa kau seperti sudah tahu semua tentang diriku. Tapi taukah kau? Apa yang membuatku menjadi pembunuh berdarah dingin dan juga membenci wanita?" Javier terdiam sejenak dengan tatapan sendu, sampai dia akhirnya jadi bercerita pada Roselia.


#Flashback


14 tahun yang lalu, saat usia Javier 5 tahun. Pada suatu malam, dia melihat pertengkaran hebat kedua orang tuanya. Bahkan dia pernah melihat ibunya berselingkuh dan melakukan hubungan intim dengan selingkuhannya.


Setelah kegiatan mesumnya diketahui oleh Javier, ibu Javier mengancam anak itu untuk tutup mulut. Clara, ibu Javier mengurung Javier tanpa makan dan minum selama beberapa hari di ruangan yang penuh dengan api hingga ia kepanasan. Berhari-hari ia meminta tolong pada orang-orang di ruang bawah tanah itu tapi tak ada yang menolongnya, bahkan orang-orang yang mau membantunya di bunuh oleh Clara dengan bengis.


Setelah 4 hari di kurung tanpa makan dan minum, Javier di keluarkan oleh ibunya dari penjara api yang dibuat ibunya. Clara juga penganut sihir hitam sama seperti Javier.


Anak itu tampan lemah dan beberapa bagian tubuhnya ada yang terbakar akibat ulah Clara.


KLEK!


Pintu jeruji besi itu terbuka lebar.


"Kau harus tutup mulut! Kau tidak boleh bicara apapun pada AYAHMU! Kalau tidak aku akan membunuhmu seperti mereka, PAHAM?" teriak Clara pada putranya yang masih kecil itu, matanya melotot seperti mau keluar.


"I-iya ibu," Javier menganggukkan kepalanya dengan lemas, lalu dia jatuh pingsan tidak berdaya. Tubuhnya kurus dan menyedihkan.


Selama 1 Minggu Javier tidak sadarkan diri, saat itulah ayahnya baru pulang dari perjalanan dinas ke luar negeri sebagai duta negara. Clara mengadu pada suaminya bahwa keadaan Javier seperti ini karena dia bermain dengan pengasuhnya dan jatuh ke perapian. Pengasuh dan pengawalnya juga tewas terbakar, padahal bukan itu kejadian yang sebenarnya. Mereka semua di bunuh oleh Clara karena tau rahasia perselingkuhannya.


Sakit hati dan terluka mental karena ditinggal pengasuh tersayangnya dan selalu disiksa ibunya, akhirnya Javier berontak.


"Ibu..." lirih Javier saat melihat ibunya sedang duduk di dekat perapian.


"Ada apa kau kemari? Bukankah sudah ku bilang padamu untuk tidur?" Tanya Clara dengan sinis pada putranya. Ketika berada didepan sang ayah, Clara sangatlah baik pada Javier tapi tidak saat ayahnya tidak ada di rumah, dia kejam pada Javier dengan alasan mendidik.

__ADS_1


"Ibu, aku ingin tidur dengan ibu...kumohon bu, malam ini saja." pinta Javier dengan pandangan mata yang kosong.


"Kau sudah biasa tidur sendiri? Mengapa masih ingin ditemani olehku?" tanya Clara sambil menyimpan cangkir di atas meja kecil disana. Dia melihat putranya yang sedang berjalan menghampirinya.


"Ayo kita tidur bersama Bu," ucap Javier dengan suara yang dingin.Tepat dibelakangnya dia menyembunyikan sebuah belati.


"Aku bilang tidak mau, kalau kau mau tidur ya tidur saja sendiri!" bentak Clara pada putranya.


Lalu tiba-tiba saja Javier tersenyum menyeringai, terlihat cahaya hitam di tubuhnya lalu dengan gerakan tangan tanpa menyentuh belati itu. Javier membuat belati itu menancap di dada ibunya. Kemampuan Javier seperti telekinetis.


Jleb!


Blesh!


Darah seketika mengalir dari dada ibunya, sepertinya tusukan belati itu menembus jantungnya.


"Anak sialan! Ternyata kau...memiliki sihir hitam?" Clara hendak menggunakan sihirnya, namun Javier mematahkan sihir Clara dengan mudahnya. Clara tercengang, bagaimana bisa dia kalah oleh anaknya sendiri?


"Bukankah aku sama seperti ibu, ah tidak! Aku jauh lebih kuat dari IBU." Javier tersenyum menyeringai, lalu dia menghabisi ibunya dengan tusukan berkali-kali memakai belati itu. Ia juga membakarnya seperti apa yang di lakukan oleh ibunya padanya.


Namun dia takut dengan api dan dia memilih untuk mengawetkan mayat ibunya menjadi patung. Ibunya adalah orang pertama yang dia bunuh dan sejak saat itu dia menjadi pembunuh dan membenci wanita.


#End Flashback.


"Aku ini monster kan? Aku manusia jahat, aku iblis dan--kau pasti benci padaku setelah mendengar semua ini kan?"


Pertama kalinya dia mencurahkan isi hatinya pada seseorang


tentang masa lalunya, yaitu pada Roselia.


Roselia mendengar cerita dari Javier tentang masa lalunya. Masa lalu yang tak pernah di tuliskan dalam novelnya dan Roselia tidak tahu. Ya, namanya juga pemeran sampingan dan bukan karakter utama. Jadi si penulis hanya menuliskan inti tentang Javier, tidak tentang sesuatu yang membuat Javier menjadi belok dan antagonis sebelum bertemu Stella.


Roselia merasa ia seperti mengetahui sebuah rahasia besar, ia merasa takut tapi ia mencoba untuk bicara dan memahami luka Javier. Akhirnya dia membuat Roselia buka mulut memberikan pendapat.


"Setiap orang memiliki luka Tuan Javier... aku tau ada sebabnya mengapa dirimu berbuat demikian. Tapi jangan sampai luka menjadikanmu sebagai orang jahat dan menyalahkan dunia ini. Bukan dunia yang salah tapi kau tidak mau berubah, jika kau mau berubah pasti kau akan menemukan kebahagiaanmu."


Javier tersenyum haru, pendapat Roselia berbeda dengan apa yang dia bayangkan. Dia pikir setelah gadis itu mendengar semua ini, maka Roselia akan membencinya tapi dia memberikan kata-kata penyemangat seolah dia punya kesempatan kedua untuk berubah menjadi manusia yang lebih baik.


Ya, kalau di dalam novel aslinya Javier akan berubah karena kelembutan hati Stella. Namun mungkin sekarang akan berbeda?


"Kau benar Putri Mahkota, mungkin aku bisa bahagia."


"Ya baguslah, jadi kau hiduplah bahagia mulai sekarang dan jangan membunuh lagi!" Roselia tersenyum senang mendengar jawaban Javier.


Ya, aku hanya bisa mendukungmu dengan kata-kata tidak bisa lebih.


"Kau yang harus mengajarkanku untuk bahagia. Tolong ajari aku bagaimana untuk bahagia," ucap Javier sambil menatap gadis itu dengan tatapan aneh yang tak dapat di tebak oleh Roselia.

__ADS_1


"A-apa?"


...****...


__ADS_2