
...πππ...
Nama Ariana Moane yang disebutkan oleh Asteorope sontak saja membuat polisi itu tercengang bukan main. Lalu sedetik kemudian, dia tertawa terbahak-bahak. "PFut...hahaha...Ariana Moane? Hahaha..."
Asteorope, Doris, Javier, Theo dan Peter mengerutkan kening mereka. Menatap pak polisi yang tertawa saat tidak ada yang lucu, menurut mereka.
"Apa yang kau tertawakan rakyat jelata! Beraninya kau menertawakan Yang Mulia!" hardik Peter pada polisi itu dan langsung mendapatkan pukulan di kepalanya oleh pentungan si polisi.
BUK!
"Hey! Apa yang kau--"
"Diam--atau kalian tidak akan pernah bisa bertemu dengan Ariana Moane...haha..." Lagi-lagi polisi itu tertawa meremehkan. Bagaimana tidak? Tiba-tiba saja ada 5 orang aneh yang datang entah dari mana, berpakaian seperti orang zaman dulu, rambut gondrong dan bahkan membawa pedang sungguhan. Belum lagi tingkah mereka yang konyol, membuat polisi yakin bahwa fiks orang-orang ini tak waras.
Asteorope akhirnya meledak juga, dia menarik baju si polisi hingga tubuh si polisi menyebalkan itu terbentur jeruji besi. Kesabarannya sudah habis.
"Katakan padaku! Dimana Ariana Moane! Dimana dia?!" Teriak Asteorope marah, atensinya begitu tajam pada si polisi yang berperawakan tinggi dsn besar itu. Tapi tetap lebih tinggi dirinya.
"Akhirnya dia meledak juga, kemarahan orang diam memang menyeramkan.... ckckck." gumam Javier sambil menggelengkan kepalanya.
"Apa kau sudah gila hah! Lepaskan aku!"
Astaga! Pria ini kuat sekali.
Cengkraman satu tangan ala Asteorope sangatlah kuat dan tidak berhasil membuat perlawanan polisi itu berhasil. "KATAKAN! Dimana Ariana Moane!"
Polisi itu gemetar, merasakan aura kuat seorang mafia didalam diri Asteorope. Mafia? Ya begitu pikir si polisi dalam hati.
Polisi itu pun menunjuk ke arah poster yang ada di dinding langit polisi tersebut. Asteorope, Doris, Javier dan Theo melihat poster seorang wanita cantik dengan rambut coklat panjang dan pakaian pendek alias kurang bahan. Tulisan di poster itu adalah dewi Ariana Moane.
Astaga....dia sangat cantik seperti Roselia si Bar-bar. gumam Javier membatin.
__ADS_1
"Dekatkan poster itu padaku!" titah Asteorope pada polisi.
"Tidak!"
"Kalau dia tidak mau, biar aku saja yang membawanya dengan kekuatan sihirku!" Javier bersiap dengan tangannya.
Sementara si polisi tercengang lagi dengan sikap konyol orang-orang di sekitarnya ini.
"Hentikan! Bukankah tuan Cain sudah mengingatkan kita untuk tidak menggunakan sihir selama berada disini!" cegah Asteorope pada Javier.
Javier pun terdiam dan baru ingat dengan nasihat Cain yang tidak boleh menggunakan sihir selama berada di dunia modern. Manusia lainnya tak boleh tau bahwa Javier dan Asteorope bisa menggunakan sihir. Mereka harus menyesuaikan diri dengan lingkungan mereka saat ini.
"Tuan, lebih baik kau katakan pada kami! Dimana Ariana Moane? Atau paling tidak kau pertemukan kami dengannya, dia adalah wa--wa apa?" lirik Asteorope pada Javier, Peter dan Theo yang ada dibelakangnya.
"Wali, yang Mulia!" jawab ketiga pria itu kompak.
"Ya benar, wali. Ariana Moane adalah wali kami, kalau kau tak percaya... tunjukkan ini padanya." kata Asteorope seraya menunjukkan gelang giok milik Roselia.
Polisi bernama George itu melihat gelang giok yang di tunjukkan oleh Asteorope. Jujur, pria itu tak yakin dengan pengakuan Asteorope bahwa walinya adalah seorang Dewi terkenal di negeri itu.
George mengambil ponselnya lalu memotret gelang itu dan terlihatlah Blitz dari kameranya.
CEKLET!
"Astaga! Yang Mulia, cahaya apa itu? Apa itu sihir?" Peter mengerutkan kening, dia terlihat waspada dan berdiri didepan Asteorope seolah ada bahaya yang akan menyerang. "Tetap dibelakang saya Yang mulia, negeri ini mungkin lebih berbahaya dari yang kita pikirkan!"
Javier, Theo dan Peter melihat pada benda pipih yang dipegang oleh polisi. Benda yang tadi mengeluarkan cahaya yang mereka sebut sihir.
"Nah! Aku sudah menandai akun media sosial Ariana, kalau dia merespon dan mengenalinya, maka kalian selamat!"
Kelima orang itu seperti orang linglung. Apa itu akun? Apa itu media sosial? Benda apa yang di pegang oleh George? Begitu banyak pertanyaan karena keanehan di dunia ini. Sungguh berbeda dengan dunia mereka.
__ADS_1
Tring! Tring!
πΆπΆπΆ
"Tuan! Benda itu---" Theo menelan ludah, dia panik mendengar suara dari ponsel George.
"Dunia ini benar-benar telah dikuasai oleh hawa jahat!" tukas Javier sambil menganggukkan kepalanya.
Dan yang lebih konyol lagi, Peter malah memukul dan menghancurkan ponsel George saat ponselnya berbunyi lagi.
Prak!
"Mati kau! Mati!" Peter menginjak-injak ponsel itu hingga hancur lebur.
Theo juga ikut-ikutan menginjak-injak ponselnya. "Mati kau roh jahat!" seru Theo.
"Dasar orang UDIK! kalian benar-benar membuat kesabaranku habis!" George geram, kini ponselnya hancur lebur oleh Theo dan Peter.
*****
Sementara itu di dalam kamar bernuansa merah muda, Ariana tengah merebahkan dirinya di atas ranjang. Ia hendak pergi tidur, namun sebelum itu ia ingin melihat akun medsosnya dulu.
"Hem..."
Saat Ariana melihat ada seseorang yang menandai dirinya dalam sebuah postingan. Biasanya Ariana akan mengabaikan semua itu karena artis tidak boleh terlalu dekat dengan penggemarnya.
Namun atensi Ariana tercuri pada gelang giok miliknya saat berada di dunia novel, ketika dirinya menjadi Roselia. "Oh my God! Gelang ini kan...." Gadis itu tercekat, dia pun melihat ada caption disana.
...Ada 5 orang gila di kantor polisi, mengaku bahwa wali mereka adalah Ariana Moane. Apakah itu benar? Ariana apa kau mengenal gelang ini? Kalau kau mengenalnya segeralah datang ke kantor polisi xxx, tapi pasti kau tidak mengenalnya....
"5 orang gila? As...ada disini?" gumam Ariana tak percaya dengan apa yang ia lihat dan tak percaya bahwa Asteorope bisa datang kemari. Rasanya impossible.
__ADS_1
...****...
Hai Readers, mohon kesabarannya ya guys...aku suka telat up untuk novel ini, aku kejar kata 3 novel bukan hanya ini saja...π mohon dimaklumi ya.