
...🍁🍁🍁...
Asteorope menghela nafas berat, mencoba untuk memahami kekasihnya saat ini. Meski sebenarnya dia memiliki banyak pertanyaan tentangnya.
"Baiklah, mungkin kau butuh waktu untuk sendiri. Tapi__aku sendiri bukan untuk memikirkan pria lain, atau menangisi pria lain."
"Tidak! Aku tidak menangisi pria lain ataupun memikirkan pria lain, bukan itu! As... aku mohon pengertianmu, aku akan jelaskan semuanya nanti." Roselia menatap kekasihnya dengan tatapan sendu.
Sebenarnya As ingin berada disisi Roselia saat ini, mendengarkan semua ceritanya dan memeluknya seraya menerangkan kekasihnya itu. Akan tetapi Roselia mengatakan bahwa dia ingin sendiri dulu. Asteorope percaya dengan kata-kata gadis itu, bahwa dia memang tidak memikirkan ataupun menangis karena pria lain.
Pria itu mencoba untuk mengerti dan lebih bijaksana menghadapi Roselia, walaupun sebenarnya dia sangat cemas karena biasanya Roselia tidak menangis seperti ini. Asteorope pun mengantarkan Roselia ke kamarnya, bersamaan dengan itu Doris dan Peter pun datang.
Doris langsung meratap tajam ke arah Asteorope dengan curiga begitu melihat mata sembab Roselia. "Kau jangan salah paham padaku dan kalau kau penasaran, tanyakanlah padanya apa yang membuat dia menangis karena aku juga tidak tahu." ucap Asteorope dengan datarnya pada Doris.
Ada apa ini? Apa Raja bertengkar dengan Putri mahkota?
"Peter, ayo pergi!" ujar Asteorope pada orang kepercayaannya itu. Peter hanya menganggukkan kepalanya, lalu mengikuti Asteorope pergi dari sana dengan patuh.
Dalam hati Asteorope merasa sedih, dia merasa seperti selingkuhan saja. Bertemu dan bersama dengan kekasihnya pun harus sembunyi-sembunyi. Ia bisa saja membawa kabur Roselia dari sana tanpa memperdulikan apapun juga. Tapi Roselia menolaknya dan meminta untuk tinggal lebih dulu di kerajaan ini sampai kontrak pertunangannya selesai. Asteorope menghargai itu dan dia akan bersabar sebentar lagi.
*****
Sementara itu Roselia tenggelam dalam pikirannya sendiri, ia termenung didalam kamarnya memikirkan apa yang dikatakan oleh Roselia yang asli. "Astaga...apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Roselia memintaku untuk__" Roselia tidak melanjutkan kata-katanya, ia mengepalkan tangannya dengan kuat. "Benarkah aku bisa kembali ke duniaku? Seandainya jika aku bisa kembali, tapi__kenapa aku ragu? Bukankah selama ini aku selalu ingin pulang? Ke duniaku yang sebenarnya." gumam gadis itu sambil memegang dadanya dengan rasa yang berkecamuk disana.
Keinginannya untuk kembali selalu ada didalam hati, namun kenapa dia ragu untuk menerima tawaran Roselia yang asli? Dan dia juga tak tahu bagaimana cara menghubungi Roselia yang saat ini menghilang begitu saja.
"Apakah aku harus pulang? Atau berada disini? Tuhan...kenapa aku bingung? Haruskah aku memenuhi keinginan Roselia."
Tiba-tiba saja bayangan Roselia kembali muncul dan duduk didepannya. "Kau... sebenarnya apa yang kau inginkan?"
__ADS_1
Keinginanku sederhana, kau harus menyingkirkan Stella, kau harus membalaskan dendam ku. Jangan biarkan dia menjadi penguasa negeri ini atau tubuhku yang ada padamu akan MATI.
"Tunggu...dendam? Aku tidak paham apa maksudmu? Bukankah kau belum pernah bertemu dengan Stella sebelumnya?" Roselia semakin bingung dengan apa yang dikatakan Roselia yang asli.
Dia tau benar isi novelnya, bahwa Roselia tenggelam di kolam bukan karena Stella karena pada saat itu mereka belum bertemu. Lalu mengapa tiba-tiba Roselia membahas dendam?
******Aku sudah hidup 2 kali dan kedua kalinya juga aku dibunuh oleh orang yang sama yang mengaku sahabatku. Jiwaku menjadi tidak tenang...kumohon Ariana, bantu aku******....kumohon pisahkan putra mahkota dengan Stella, jika putra mahkota bersama wanita lain aku rela tapi jika dia bersama Stella lagi, aku tidak mau.
"Roselia ternyata kau benar-benar mencintai putra mahkota." gumam Roselia pelan.
Meski tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh bayangan Roselia padanya, tapi dia menganggukkan kepalanya dan berkata akan membantu Roselia yang asli.
"Aku membantumu karena aku juga tidak menyukai Stella."
Terimakasih.... setelah kau selesai memikirkan Stella, aku akan membuatmu kembali ke dunia asalmu....itupun jika kau mau.
Dan aku tau Ariana, bahwa kau ingin aku bahagia.
****
Malam itu, semua anggota keluarga kerajaan akan berkumpul di ruangan tertutup. Michael menjemput Roselia di istana Dahlia, dari tadi siang Roselia tidak keluar dari kamarnya. Saat dipanggil Raja, barulah Roselia keluar dari kamarnya.
"Kau...kenapa anda ada disini yang mulia?" tanya Roselia dengan bahasa yang formal dan sopan, tidak seperti biasanya menggunakan kata aku-kau.
Michael tercekat mendengar gaya bicara Roselia yang formal dan datar itu, tidak santai seperti biasanya. Pria itu pun jadi mengambil kesimpulan bahwa Roselia sedang marah padanya.
"Roselia, kau marah?" Ketika Michael akan menyentuh wajah gadis itu, Roselia dengan cepat menepisnya.
"Untuk apa saya marah, saya hanya tunangan kontrak anda." jawab Roselia ketus.
__ADS_1
"Lalu kenapa kau terlihat sedih? Itu artinya kau memiliki perasaan padaku dan kau CEMBURU." Serka Michael yakin dan percaya diri bahwa wanita itu cemburu dan artinya ia memiliki perasaan yang sama dengannya, yaitu cinta.
"Tidak pernah saya cemburu kepada anda, mau anda dekat dengan siapapun juga...saya tidak peduli dan justru saya senang karena dengan ini kontrak kita akan berakhir." Roselia menyunggingkan senyuman tipis dibibirnya.
"Kontrak? Ti-tidak!" Seketika wajah Michael menjadi panik.
"Poin nomor 5, jika salah satu pihak terdapat pengkhianatan maka pihak yang dikhianati berhak memutuskan apapun saja termasuk kematian atau pengasingan. Itu adalah kontrak yang anda buat yang mulia."
"Tapi aku tidak berkhianat!" tegas Michael sambil menggelengkan kepalanya. "Dia yang menggodaku,"
Ya aku tau dan aku akan menolongmu.
"Lebih baik kita pergi sekarang, Baginda raja dan yang lainnya pasti sudah menunggu." Roselia.
"Roselia dengarkan aku!" Michael memegang kedua tangan Roselia dengan erat, membuat tubuh mereka saling berhadapan.
"Lepaskan SAYA!"
"Dengarkan aku dulu!" bentak Michael pada Roselia. Dia ingin gadis itu mendengarkan penjelasannya.
Beberapa pengawal disana melihat bahkan mendengar teriakan Michael. Jika dilihat dari kejauhan, Michael dan Roselia seperti pasangan kekasih yang sedang bertengkar.
"Kita akan terlambat, tolong hentikan semua ini yang mulia." Roselia mencoba melepaskan dirinya dari cengkraman Michael.
Bodoh! Lepaskan aku Michael bodoh, aku akan pergi untuk menyelamatkanmu darinya.
"Yang mulia putra---hmph---"
Bibir Roselia seketika bungkam dan terkejut saat Michael menyentuh bibirnya dengan bibir pria itu. Tak hanya itu, Michael juga memeluk erat Roselia. Bahkan beberapa pengawal melihatnya, mata mereka langsung melebar.
__ADS_1
Tak jauh dari sana Asteorope tersenyum getir, air matanya luruh saat melihat pemandangan menyakitkan itu.
...*****...