I'Ll Became A Villain'S Daughter

I'Ll Became A Villain'S Daughter
Bab 90. Tinggal kenangan ( S1 End)


__ADS_3

Warning! Bab ini mengandung banyak flashback, tapi mohon jangan di skip skip ya...soalnya bisa pengaruh sama retensi baca...πŸ€§πŸ™πŸ™ author mohon dengan sangat..


...🍁🍁🍁...


Penyiksaan masih berlangsung, Javier tidak segan-segan untuk memotong tangan Darius dan itu sudah dia lakukan dengan memotong dua jari kanan Darius. Pria itu masih tak mau mengaku siapa yang sudah meracuni Roselia, atau mungkin dia benar-benar tidak tahu.


"KATAKAN! Atau kau akan benar-benar mati ditanganku Darius! Kau tau kan aku orangnya seperti apa? Aku tidak suka kau meremehkan diriku seperti ini! Aku tidak main-main." kedua mata Javier menatap Darius dengan nyalang, berusaha mendesak pria itu untuk mengatakan siapa musuhnya yang mencelakai Roselia. "Atau kau yang bekerja sama dengan orang itu?" tuduhnya kemudian.


"Meski tuan membunuhku sekalipun, saya tidak tau siapa itu! Yang saya lakukan hanya membawa wanita j*lang itu keluar dari sini karena memang itu yang ia inginkan. Keluar dari tempat ini dari cengkraman tuan!"


Javier emosi karena Darius menghina Roselia. Lalu ia menusukkan besi panas ke perut Darius dan membuat pria itu meringis kesakitan hingga air matanya keluar. "Aaaahhhh!!! Panas!!"


"KAU tidak mau berkata jujur! Hah!" Javier semakin menekan besi panas itu pada perut Darius.


"AKHHH! Tuan....saya mohon...jangan lakukan ini!!" jerit Javier kesakitan.


Namun beberapa saat kemudian dia melihat bayangan Roselia berdiri di belakang Darius, pria yang sedang ia siksa. Roselia menatapnya dengan nyalang dan matanya berair. Membuat Javier menghentikan kegiatannya menyiksa Darius.


"Bar...bar..." gumam Javier pelan, seraya memanggil Roselia yang selalu ia panggil dengan panggilan barbar.


"Aku sungguh kecewa, ternyata kau belum menjadi manusia yang sesungguhnya. Dasar bodoh!" maki Roselia pada Javier dengan raut wajah sedih dan kecewa yang mendalam.


Semua anak buah Javier terkejut melihat Javier tiba-tiba saja diam dan menatap ke belakang Darius. Matanya berkaca-kaca menatap angin disana.


"Tuan Theo, apa yang tuan Javier lakukan?" bisik salah seorang anak buahnya pada Theo.


Theo tak menjawab, namun dia merasakan ada yang tidak beres dengan tuannya ini. Baru saja 3 jam ditinggalkan Roselia, apa Javier sudah menjadi lebih gila?


"Kau harus hidup dengan baik Javier, kau adalah manusia...maka kau harus hidup seperti itu. Aku percaya kau bisa," Roselia tersenyum pada Javier. "Selamat tinggal." gadis itu melambaikan tangannya seraya berpamitan pada Javier.


"Kau...kau mau kemana? Barbar!" teriak Javier entah pada siapa dan pada apa. Dia seperti linglung dan syok. Bayangan Roselia menghilang didepan matanya setelah dia mengucapkan kata selamat tinggal padanya. Tubuh Javier ambruk, dia memegang dadanya. Entah kenapa dia merasakan firasat buruk tentang Roselia.


Pertanda apa ini? Kenapa kau berkata seolah kau akan pergi jauh? Mengapa hatiku tidak nyaman begini? Roselia...apa terjadi sesuatu--ah tidak! Kau pasti baik-baik saja bukan?


"Tuan! Apa anda baik-baik saja?" Theo membantu Javier untuk kembali berdiri.


"Theo, kau pergilah ke istana Albarca! Pergilah dan cari informasi tentang Roselia padaku, CEPAT!" titah Javier sambil memegang dadanya.


Dia bisa saja pergi sendiri kesana, namun dia tidak sanggup dan malu berhadapan dengan Roselia. Karena dialah penyebab wanita itu terluka parah.


"Baik Tuan, saya akan pergi kesana!" sahut Theo patuh pada tuannya itu.


Sungguh, Javier dilanda kepanikan dan kegelisahan yang tak jelas setelah melihat bayangan Roselia. Kini suara gadis itu terngiang-ngiang di kepalanya.


...Kau harus hidup dengan baik Javier, kau adalah manusia...maka kau harus hidup seperti itu. Aku percaya kau bisa. Selamat tinggal....


*****


β›ͺIstana Albraca, istana Roseβ›ͺ

__ADS_1


Terdengar isak tangis di dalam kamar yang menjadi tempat terakhir Roselia menutup matanya 2 jam yang lalu. Para tabib juga sudah pergi meninggalkan kamar itu.


Asteorope masih memeluk gadis yang sudah tidak bernyawa itu selama 2 jam. Dia masih berharap Roselia akan bangun.


Peter tidak tega melihat Asteorope seperti orang tidak waras. Cain juga sama sedihnya dengan Asteorope, tapi dia masih bisa berfikir dengan baik.


"Yang Mulia, anda harus merelakan--"


"Doris! Cepat kau siapkan coklat panas dan juga cake coklat, Roselia ingin menikmatinya. Dia selalu mengatakan padaku bahwa suatu saat nanti dia akan minum coklat panas dan makan cake coklat di Albarca. Sekarang keinginannya akan terwujud, iya kan sayang?" ucap Asteorope seraya tersenyum lalu mengecup kening Roselia dengan lembut. Matanya kosong, namun berair.


Pria itu seperti sudah hilang setengah akal sehatnya, orang mati dia ajak bicara. Hati siapa yang tak akan hancur, bila satu-satunya cinta pertamanya tiada.


"Yang Mulia...hiks..." Doris terisak, dia tidak sanggup melihat nona yang selalu bersamanya selama ini ternyata telah meninggalkan dunia selamanya.


"Cepat Doris! Dia harus merasakan cokelat panas dan kue coklat itu!" ujarnya pada Doris.


Ketika semua orang meninggalkan Asteorope berdua saja dengan Roselia, bayangan kenangan-kenangan pertemuan antara dirinya dan Roselia kembali terlintas di kepalanya.


#Flashback


Kenangan saat Asteorope pertama berkenalan dengan Roselia. Wanita yang menarik perhatiannya.


Roselia tidak fokus, ketika Asteorope menyebutkan namanya. Dia bahkan terdiam saat bibir pria itu mencium punggung tangannya.


"Siapa namamu tadi?" Roselia mengulang pertanyaannya.


"Asteorope, kau bisa memanggilku As." jawab pria itu seraya tersenyum ramah.


Asteorope Galvan Albarca, apakah dia adalah orang itu? Salah satu pemeran pendukung yang juga mencintai Stella! Pangeran kedua yang tidak dianggap berasal dari Albarca. Tapi jika itu benar dia, kenapa dia malah bertemu denganku dan bukan dengan Stella? Harusnya dia bertemu dengan Stella di tempat ini.


"Hey nona! Apa kau baik-baik saja?" Tanya Asteorope, ia heran melihat gadis itu tiba-tiba saja terdiam dengan wajah bingungnya.


"Minggir! Kau menghalangi jalanku!" Roselia menyingkirkan tubuh Asteorope dengan cara mendorongnya ke sisi kiri. Dia bersikap jutek pada pria itu.


Lebih baik aku tidak berurusan dengan pemeran pendukung yang bisa membuatku mati di masa depan. Itu pun jika dia benar-benar Asteorope dalam novel.


Melihat sikap jutek gadis itu padanya, membuat Asteorope semakin tertarik dengan Roselia. Tak peduli dengan status Roselia sebagai putri penjahat. Dia merasa Roselia senasib dengannya, pangeran tak dianggap dan juga putri penjahat yang dikucilkan.


"Hey...hey nona, tunggu dulu! Kita masih belum berkenalan dengan benar!" Asteorope masih mengikuti Roselia, kali ini Dia berjalan bersampingan dengan Roselia.


"Apa penting bagi kita untuk berkenalan?" tanya Roselia ketus sambil melanjutkan langkahnya.


Ada apa dengan pemeran pendukung ini? Kenapa dia tidak bertingkah sesuai dengan karakter aslinya?


"Tentu saja, karena aku ingin berteman denganmu." jawabnya masih dengan senyuman yang sama.


"Maaf ya tuan, tapi aku tak mau berkenalan denganmu." kata Roselia ketus.


Wanita ini semakin menarik kalau dia bersikap semakin ketus begini. Dia cantik kalau marah, dia juga tangguh dan mandiri.

__ADS_1


Asteorope semakin menunjukkan ketertarikannya pada sosok Roselia. Sosok wanita tangguh, tegas, mandiri dan kuat walau semua orang di negri itu membencinya karena kesalahan mendiang ayahnya.


"Apa alasannya kau tidak mau berteman denganku?"


"Tidak mau saja." Gadis itu bicara tanpa melihat ke arah Asteorope, bahkan raut wajahnya begitu datar.


"Tuan, maaf...nona saya sudah mengatakan bahwa dia tidak mau tuan mengganggunya." kata Doris pada Asteorope, namun pria itu tetap saja bicara pada Roselia. Mengajukan pertanyaan pertanyaan yang tidak penting untuk Roselia.


Bahkan Asteorope mengikuti Roselia dan Doris berbelanja, lalu mereka berakhir di restoran. Asteorope ikut makan bersama kedua wanita itu.


"Nona Roselia, kau tinggal dimana? Apa boleh aku berkunjung ke rumahmu? Lalu apakah aku--"


"Dari tadi aku sudah menahan kesabaranku padamu! Kau mau pergi sekarang dari sini dengan cara baik-baik, atau ku usir dari sini dengan kasar!" ancam Roselia kesal, dia tidak bisa makan enak karena keberadaan pria itu disana.


"Tenanglah nona, aku kesini hanya untuk makan...jangan marah-marah, nanti kau cepat tua." Tanpa tau malu, Asteorope memakan makanannya di meja tempat Roselia dan pelayannya duduk.


"Hey kamu--hmph---"


Asteorope langsung membungkam mulut Roselia dengan daging goreng yang ada di atas piring milik gadis itu. "Makanlah! Atau makanannya akan segera dingin!"


Gadis itu mengunyah daging yang disuapkan ke mulutnya. "Katanya daging disini enak, bagaimana?"


"Ehm...enak." jawab Roselia jujur.


"Sudah kuduga kalau Peter tidak salah memilih tempat makan, hahaha."


Apa-apaan dia? Kenapa dia terus menganggu nona?. Doris mendelik sinis ke arah Asteorope yang terus menganggu nonanya.


#End Flashback


Sakit rasanya mengingat satu persatu kenangan yang akhirnya menyisakan luka di hati Asteorope, bahkan mungkin membuat lubang besar di dalam hatinya.


"TIDAK! Kau tidak boleh pergi seperti ini! Bagaimana dengan janji-janji kita, Roselia? Bagaimana?!!" teriak Asteorope histeris saat menangisi Roselia.


Raut wajahnya tiba-tiba berubah menjadi marah ketika mengingat Javier. "Javier Salvarion Martinez! Kau akan MATI!" geram Asteorope dengan penuh amarah dan mata menyala.


πŸ€πŸ€πŸ€


Di sebuah ruangan yang didominasi warna putih, terlihat seorang gadis berambut coklat tengah terbaring diatas ranjang dengan selang infus terpasang di tubuhnya. Suara medis menggema di ruangan itu, belum lagi tercium bau obat-obatan khas rumah sakit.


Gadis bermata biru itu membuka matanya dan menggerakkan jari jari tangannya. Seorang pria berkumis tipis yang tadinya duduk di sofa buru-buru beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri gadis itu.


"Oh... God! Ariana, kau sudah siuman? Aku...akan panggil dokter!" kata pria itu penuh rasa lega didalam hatinya. Dia meninggalkan Ariana di ruangan itu dan bergegas memanggil dokter.


"As..." lirih Ariana dengan bulir air mata yang jatuh membasahi wajahnya.


...End...


...****...

__ADS_1


Hai Readers... author mau tanya nih, apa kalian puas sama endingnya kayak gini aja? Atau mau ada tambahan season 2 nya...β˜ΊοΈπŸ™ please komennya....nanti author lanjutkan kalau masih banyak peminat πŸ˜‰


__ADS_2