I'Ll Became A Villain'S Daughter

I'Ll Became A Villain'S Daughter
Bab 137. Jangan tinggalkan aku


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Dini hari itu, seorang pria berpakaian pelayan dengan memakai masker tampak berada di sebuah lorong istana utama. Pria itu tersenyum menyeringai sambil membawa sebuah barang yang entah apa.


"Kau akan mati, orang rendahan!"


Pria itu melempar benda tersebut ke istana utama, kemudian beberapa detik kemudian.


DUARR!!


Terdengar suara ledakan keras disana, ledakan itu bahkan menghancurkan sebagian dari istana utama. Kemudian pria itu pergi dari sana dan memutuskan untuk memantau dari jauh.


Tak berapa lama kemudian, Cain, Javier dan penghuni istana yang lainnya. Terdiri dari pengawal, dayang istana pergi keluar dari istana. Terlihat asap berwarna ungu yang mencurigakan disana.


"Cepat pergi keluar! Ini gas monster!" teriak Cain pada semua orang dengan panik.


Siapa orang yang sudah melakukan semua ini?


"Saya akan mengevakuasi yang lainnya!" kata Theo dan Peter kompak.


Setelah Peter mengamankan istrinya yang sedang hamil dan beberapa wanita lainnya ke tempat aman. Peter membantu Theo dan prajurit lainnya untuk mengevakuasi korban lainnya.


Asteorope dan Ariana juga terbangun dan pergi dari istana mereka menuju ke istana utama yang telah hancur. "Apa yang terjadi?" gumam Ariana bingung.


"Ariana pergilah ke tempat aman bersama yang lainnya!" ujar Cain pada putrinya.


"A-ayah...."


Tiba-tiba saja muncul makhluk bertubuh besar, seperti monster didepan mereka. Monster itu tidak hanya berjumlah satu, tapi banyak.


Sial! Jelas monster ini bangkit karena di perintahkan oleh seseorang. Aragon!


Cain menyesalkan kenapa bencana harus datang disaat kekuatannya lemah seperti ini.


Monster itu menyerang membabi-buta bahkan memakan beberapa pengawal dan dayang istana. Dalam sekejap istana Albarca menjadi penuh darah dan jerit tangis.


Asteorope dan Cain yang berada dibarisan terdepan, sudah terluka karena menggunakan kekuatan mereka untuk menghalau monster dengan sihir pelindung.


Sementara Ariana berada dibelakang, ia tidak bisa berbuat lebih dengan pedangnya sebab ia tak bisa menggunakan sihirnya. Padahal Cain pernah mengatakan bahwa dia memiliki sihir di tubuhnya.


"Hahaha... bagaimana anak haram? Apa kau puas dengan kejutan ini?"tanya Liam yang muncul di dalam salah satu monster itu.


Deg!


Asteorope berdebar saat melihatnya, ia tercengang tak percaya melihat kakak tirinya mantan raja terdahulu adalah dalang dibalik semuanya.


"Kau masih hidup?!" desis Asteorope seraya menatap tajam pada Liam.


Tiba-tiba saja Cain berucap.


"Javier, aku mohon...bawa pergi Ariana dari sini!" pinta Cain pada Javier yang berada tak jauh dari Ariana.


"TIDAK! Aku tidak meninggalkan ayah!" teriak Ariana menolak.


"Javier, KUMOHON! Bawa dia PERGI!" teriak Asteorope yang kali ini ikut bicara, tubuhnya sudah terluka parah. "Ariana kumohon...." lirihnya lagi.


Berada disini hanya akan membuat Ariana dalam bahaya.


Tanpa basa-basi Javier membopong tubuh Ariana dengan paksa. "TIDAK! AYAH! AS!"


"LEPASKAN AKU JAVIER!" teriak Ariana panik melihat dua orang yang ia cintai tengah bertarung dengan makhluk-makhluk mengerikan itu.


Ariana mencoba memberontak, ia tidak mau pergi meninggalkan suami dan ayahnya disana. Gadis itu ingin ikut bertarung bersama Asteorope dan Cain.


"Javier! Aku mohon lepaskan aku, harus berada disana." pinta Ariana sambil memukuli punggung Javier yang kekar itu. Tapi JAVIER tetap menggendongnya seperti karung beras.


"Ariana sadarlah, bahwa keberadaanmu disana hanya akan membuat posisi mereka semakin sulit. Kau adalah sasaran empuk bagi mereka! Dengan kepergian mereka ,kau sudah cukup membantu, apa kau paham apa maksud ucapanku ini Ariana?"

__ADS_1


Ariana terdiam sejenak lalu dia berpikir apa yang dikatakan oleh Javier memang benar. "Aku akan ikut denganmu ke tempat yang aman, tapi kau harus bantu ayah dan As."


"Kau tenang saja, tidak perlu kau minta pun, aku akan melakukan itu. Sekarang patuh Ariana," ucap Javier lembut dan membujuk Ariana. Javier berhasil membuat gadis itu luluh.


Javier akhirnya membawa Ariana ke tempat yang aman bersama para wanita lainnya di istana Rose yang masih aman. Disana juga ada Stella, Annie dan Viona. Ariana sebal melihat Stella disana, tapi dia mencoba tahan diri karena dia adalah Ariana bukan lagi Roselia.


****


Sementara itu di istana utama, perang sengit masih terjadi. Liam kakak Asteorope yang dulu pernah ia musnahkan ternyata masih hidup.


Asteorope heran kenapa Liam masih hidup sedangkan dirinya yang sudah memastikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa pria itu sudah mati.


"Kau yakin sudah benar-benar membunuhnya saat itu? Dari yang ku lihat, dia mempunyai ilmu hitam dan bangkit dengan sihir hitam." kata Cain ditengah-tengah pertarungan itu, ia bicara pada Asteorope.


"Sial! Jadi saat itu dia memang mati tapi dia bangkit kembali menggunakan sihir hitam?" kata Asteorope sambil mendengus kesal.


"Benar, Aragon adalah dalang dari semua ini." ucap Cain.


Asteorope melirik pada Cain, yang terlihat gelisah saat menyebut nama Aragon. Bukannya Cain tidak percaya diri atau bagaimana, sebab setengah kekuatannya telah hilang dan secara logisnya dia tidak mungkin bisa mengalahkan Liam.


Siapa yang akan menyangka bahwa petaka akan terjadi dimalam pernikahan Asteorope dan Ariana.


Pertarungan masih sengit, antara Asteorope dan Liam, Cain dan Aragon yang telah muncul disana.


"Katakan apa maumu LIAM?!"


"Apa kau ingin tahta? Harta? Silahkan ambil." kata Asteorope pada kakak seayah namun beda ibu itu.


Liam menggelengkan kepalanya, lalu tersenyum menyeringai begitu melihat darah mengalir deras di tangan Asteorope. "Daripada semua itu, aku lebih menginginkan NYAWAMU, ASTEOROPE SI ANAK HARAM!" hardik Liam sambil mengarahkan tangannya yang dipenuhi cahaya hitam ke arah Asteorope.


Tubuh si Raja Albarca itu, melayang di udara dengan posisi seperti terikat. "Liam, kau hanya akan menderita bila kau terus menerus menggunakan sihir itu!"


"Aku tidak peduli yang penting aku bisa mengambil NYAWAMU!" seru Liam sambil menyerang Asteorope dengan sihirnya yang tidak bisa dilawan dengan mudah.


Dalam ramalannya, Cain melihat Asteorope dan nasib Albarca bila Liam dan Aragon yang menang. Ramalan itu terlihat mengerikan, bahkan sampai membuat kepala pria paruh baya itu sakit.


"Cain, aku tak bisa...aku dan orang gila disana itu sudah terikat kontrak. Aku harus membantunya!" Aragon melirik ke arah Liam yang tengah bertarung dengan Asteorope dan raja Albarca itu semakin tersudut.


"ARAGON! Negeri ini akan hancur bila kau membantunya, rakyat akan menderita dan--"


"Aku tidak peduli, dia sudah memberikan jiwanya kepadaku dan aku akan melakukan apa yang dia minta." ucap Aragon memangkas peringatan dari Cain.


Pertarungan sengit semakin berlarut-larut, sudah hampir 1 jam lamanya pertarungan belum berakhir. Kondisi Cain dan Asteorope sudah semakin melemah, bahkan kekuatan Asteorope semakin terkuras oleh Liam yang menggunakan sihir hitamnya.


Belum lagi banyak korban berjatuhan. Asteorope tak bisa membiarkannya lagi. Apalagi fenomena alam yang aneh tiba-tiba muncul. Ada darah dari langit dan ini bukan pertanda baik.


Liam berubah menjadi monster mengerikan, lidahnya panjang, tubuhnya menjadi besar, rambutnya gondrong dan tubuh berbulu hitam lebat.


"Lapar...lapar..." Liam yang sosoknya sudah berubah itu terlihat kelaparan. Ia melihat Derrick tengah berlari ke tempat yang aman. Mereka berdua di cekal oleh tangan Liam yang besar.


"Lepas! Lepaskan kami!" jerit Derrick ketakutan.


Liam langsung memakan Derrick begitu saja dan Derrick pun mati.


Disisi lain Cain dan Asteorope terlihat bingung dengan semua yang terjadi.


"Astaga! Yang Mulia, pria itu sudah berada di luar batas. Dia bisa membuat semua negeri terkena bencana besar." ucap Cain pada Asteorope.


"Lalu kita harus bagaimana?" tanya Asteorope.


Cain menghela nafas, kemudian dari arah belakang Asteorope. Cain melihat ada tombak yang diarahkan pada pria itu. Dengan sigap Cain mendorong tombak ke arah lain.


"Ayah..."


"Pergilah dari sini Yang Mulia, putriku akan sedih bila terjadi sesuatu padamu. Aku mohon, bahagiakan dia..."


Kata-kata Cain seperti kata-kata terakhir yang membuat Asteorope takut. "Ayah...kenapa ayah bicara begitu?"

__ADS_1


"Pergilah Yang Mulia! Biarkan aku yang mengurus sisanya!" kata Cain tegas.


Sekalipun harus mengerahkan semua kekuatanku sampai mati, aku akan menyelamatkan semuanya.


Namun Asteorope tetap tidak mau meninggalkan Cain seorang diri. Mereka menyatukan kekuatan mereka untuk melindungi istana dan menyerang Aragon juga Liam.


Namun ditengah-tengah penyatuan kekuatan, Cain memuntahkan darah berkali-kali. Asteorope menyuruh Cain mundur, tapi pria itu menolak. Cain mengerahkan semua kekuatannya untuk menyerang Liam lebih dulu. Akhirnya Liam limbung beberapa saat, tapi Aragon menyerangnya dari belakang.


Jleb!


Cain terjatuh tak berdaya dan lemah, Asteorope menangkap' tubuhnya.


"AYAH!" teriak Ariana sambil berlari mendekat ke arah ayahnya. Javier ada dibelakangnya.


Aragon terganggu saat melihat Ariana, ada rasa takut didalam dirinya saat melihat sosok putri dari si penyihir agung itu.


"Ayah...hiks...ayah..."


"Jangan menangis nak, ayah tidak apa-apa..." Cain membelai lembut pipi Ariana, dia tersenyum dan meyakinkan gadis itu seolah dia baik-baik saja.


"Ayah," Ariana menggenggam erat kedua tangan ayahnya sambil menangis.


Keadaan Cain semakin buruk, hingga ia pun melemah. Matanya terbuka tertutup, ia tidak tahan lagi dengan rasa sakit didalam tubuhnya.


"Yang Mulia Raja, Javier...tolong jaga Ariana untukku...aku...uhuk...uhuk...aku tidak bisa hidup lebih lama lagi." Cain melirik ke arah Javier dan Asteorope yang sedari tadi diam saja karena sedih melihat kondisi Cain.


"Aku dan Javier akan menjaga Ariana, ayah. Kami janji." ucap Asteorope dengan berat hati. Javier hanya menganggukkan kepalanya.


"Ayah! JANGAN PERNAH MENGATAKAN HAL SEPERTI ITU!" Ariana menggeleng-gelengkan kepalanya dan dia tidak mau Cain bicara seperti orang yang akan pergi selamanya.


"Ariana, nak...hiduplah dengan baik. Kau harus bahagia nak, jadilah ratu, ibu dan istri yang baik...maaf, ayah tidak bisa menepati janji Ayah untuk melihat cucu-cucu ayah. Tapi--ayah akan selalu mendoakanmu dari atas sana, nak."


Ariana semakin terisak, ia memegang wajah sang ayah yang berlumuran darah. Sungguh ia tak rela bila Cain pergi meninggalkannya secepat ini.


"Tidak! Kumohon ayah, jangan katakan itu! Ayah akan hidup bersamaku lebih lama dan melihat cucu-cucu ayah tumbuh dewasa. Bukankah usia penyihir itu ratusan tahun? Ayah pasti akan hidup lebih lama!" seru Ariana dengan tubuh gemetar ketakutan. Ia sudah kehilangan ibu dan dia baru merasakan kasih sayang seorang ayah. Dia tidak mau kehilangan itu.


Ariana tidak tahu saja, bahwa Cain telah merelakan umurnya demi membawa Ariana ke dunia ini dengan aman. Tapi biarlah ini menjadi rahasia antara Cain, Javier, Theo dan Asteorope saja.


"Jangan menangis...kau harus kuat...kau akan menjadi Ratu yang hebat di negri ini. Kelak anak-anakmu juga akan menjadi anak yang hebat. Ayah menyayangimu Ariana, ayah menyayangimu..."


Cain menata putrinya dengan mata yang berkaca-kaca, tangannya yang semula membelai pipi Ariana. Kini terkulai lemah tak berdaya bersamaan dengan matanya yang terpejam.


""TIDAK! JANGAN TINGGALKAN AKU...hiks..." Ariana memeluk jasad yang sudah tidak bernyawa itu dengan histeris. Ariana tak percaya bahwa orang yang ia cintai meninggalkannya secepat ini. "AYAH! AYAH!!"


Asteorope dan Javier juga ikut menangis melihat Cain telah tiada. Apalagi Ariana, dia sampai menjerit histeris.


"Baru sebentar saja bertemu, kenapa...kenapa kau meninggalkanku, ayah?! KENAPA kau mengingkari semua janjimu untuk tetap bersamaku?!" hardik Ariana sambil memeluk jasad sang ayah yang telah terbujur kaku tak bernyawa.


"Hahaha...jadi dia sudah mati ya? Selamat Penyihir agung sudah mati!" kata Aragon seraya tertawa puas melihat Cain mati.


Tiba-tiba saja sorot mata Ariana tertuju pada Aragon dengan tajam. Ariana berdiri dan menatap Aragon seolah akan membunuhnya.


"KAU juga akan menyusulnya, tapi bedanya kau pergi ke neraka!" suara Ariana terdengar dingin tapi tegas. Matanya yang semula berwarna biru, kini berubah menjadi putih, begitu pula rambutnya yang berubah menjadi warna perak.


Sebuah cahaya terang menjalar di tubuhnya, entah dari mana. Asteorope dan Javier tersentak kaget melihat itu.


"A-APA?!"


Semua orang yang ada disana terkejut melihat perubahan Ariana. "KAU AKAN MATI ARAGON!"


Tiba-tiba saja Aragon ketakutan melihatnya, ia jadi teringat saat Ariana masih kecil dulu. Awal kekuatan Ariana.


Apakah kekuatan Ariana kembali bangkit? Tidak! Aku tidak boleh kalah oleh-nya! Pikir Aragon dalam hati. Inilah tiba saatnya dia melawan Ariana.


Apa ini kekuatan besar yang dimaksud oleh ayah?


...****...

__ADS_1


__ADS_2