
...❤️❤️❤️...
Semua mata para wanita di lokasi syuting itu terpana dan tertuju pada dua sosok pria yang berdiri di belakang Ariana. Meski mereka masih memakai baju rumahan dan terlihat kampungan, tapi tidak menutupi sinar dan vibes ketampanan mereka berdua.
Luna dan Stacy juga terpana melihat ketampanan Javier dan Asteorope. Mereka bahkan berpikir bahwa kedua pria itu berasal dari dunia lain karena ketampanannya yang luar biasa.
"Apa dia aktor baru? Oh...my...rahim ku menjadi hangat saat melihatnya." kata Stacy dengan genit. Matanya tak berkedip saat dia melihat Javier.
"Kau suka yang mana? Pria berambut merah itu atau pria yang berambut hitam, hah?" tanya Luna penasaran pada Stacy.
"Rambut merah."
"Baguslah karena aku menyukai rambut hitam! Dia akan menjadi milikku, lihat saja! Dia tidak akan tahan dengan pesonaku." Luna menyibakkan rambutnya ke belakang dengan gaya genitnya. Sorot matanya yang berwarna abu-abu itu terus tertuju pada Asteorope.
Kedua wanita itu mengangumi Asteorope dan Javier, memperebutkan mereka seolah mereka adalah permen manis atau undian berhadiah.
"Huh, tapi kenapa mereka bersama Ariana si wanita busuk itu?" tanya Luna ketus. Ia heran kenapa Asteorope dan Javier bisa turun dari mobil yang sama dengan Ariana.
"Kau benar juga, kenapa mereka bisa bersama dengannya dan juga pria setengah itu?" Stacy melirik pada Liam yang memang pria tapi kelakuannya tidak seperti pria.
Luna menatap iri pada Ariana yang bisa mengobrol bersama dua pria yang tampan itu. Dan karena rasa penasaran, Luna pun beranjak dari tempat duduknya lalu menghampiri Ariana. Stacy juga mengekor di belakang Luna, ia sangat menentukan drama apa lagi yang terjadi antara Ariana dan Luna.
"Hai Ariana, selamat pagi." sapa Luna sambil memainkan rambutnya.
Wanita ini...mau apa dia? Dia menyapaku, tapi tatapannya menuju kepada As ku.
Sebagai seorang wanita, Ariana memiliki insting dan firasat yang kuat ketika ada wanita lain juga menatap ke arah kekasihnya dan dia tak suka itu. Ariana merasakan ancaman dari tatapan genit Luna pada kekasihnya, Asteorope. Dan tumben sekali wanita itu menyapanya, pasti ada maksud terselubung.
"Pagi Luna." balas Ariana dengan senyuman sarkas di bibirnya pada gadis bernama Luna itu.
Ia ingat benar bagaimana caranya Luna untuk merebut Frans darinya. Tidak menutup kemungkinan, bahwa Luna akan melakukan cara yang sama untuk merebut kekasihnya. Dia tidak akan membiarkan Asteorope direbut darinya. Bukan karena Ariana tidak percaya pada Asteorope, hanya saja Ariana tak percaya pada rumah yang berwujud manusia ini, siapa lagi kalau bukan Luna.
Bukan hanya Ariana saja yang terkejut dengan sikap ramah Luna. Liam juga merasakan hal yang sama, ia merasa aneh. Sebab yang ia tau selama ini, Luna selalu bersikap arogan dan sombong. Lalu kali ini menyapa? Aneh kan.
"Oh ya, dalam syuting kali ini...mohon kerjasamanya ya. Di dalam syuting ini, kita kan jadi teman...semoga kita--" Luna berbicara sambil mengulurkan tangannya namun Ariana menepisnya.
Plakk!
"Tenang saja, tidak perlu seperti ini. Aku pasti akan bersikap profesional dalam berakting. Kau jangan cemas." jawab Ariana dengan senyuman tipis dibibirnya.
Asteorope dan Javier hanya diam, mereka bingung mau bicara apa karena mereka sendiri sedang menerka-nerka apa yang terjadi.
"Oh...baiklah...aku hanya ingin kita berteman lagi seperti dulu." ucap Luna dengan begitu lirih, tapi tatapan matanya tak beralih pada Asteorope.
"Busuk!" Ariana tersenyum sinis, kemudian dia mengajak Javier dan Asteorope pergi dari sana. "As, Jav, ayo pergi dari sini! Kalian harus berganti baju." Ariana tersenyum pada kedua pria itu.
"Baik," jawab Asteorope dan Javier patuh.
Kau pikir aku tidak tahu gelagatmu Luna. Aku tidak akan membiarkan kau dekat dengan As-ku. Ah...dengan Javier juga tidak boleh karena dia hanya boleh berpasangan dengan wanita baik.
__ADS_1
Ariana menatap Luna dan Stacy dengan tajam sebelum ia pergi bersama Liam dan kedua pria yang mencintainya itu.
"Sial! Kenapa pria-pria tampan itu begitu patuh padanya? Kenapa dia selalu saja mendapatkan apa yang dia inginkan! Sial!" gerutu Luna mendengus kesal.
"Iya, dia selalu saja disukai semua orang. Bahkan setelah skandal itu, mereka masih menyukainya." seloroh Stacy yang juga tidak senang dengan kehadiran Ariana. Dari dulu mereka berdua tak suka pada Ariana tapi pura-pura berteman dengan Ariana demi popularitas.
"Heh! Aku sudah tidak tahan lagi dengan kesombongannya. Lihat saja Ariana, kau bisa bangkit tapi kau bisa jatuh lagi." kata Luna sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
Entah apa kesalahan Ariana hingga membuat Luna dan Stacy membencinya. Padahal Ariana selalu bersikap baik pada kedua sahabatnya itu, salah mungkin sekarang jadi mantan sahabat.
****
Sebelum syuting, Ariana dan para artis lain harus berdandan terlebih dahulu. Seorang kru televisi mengatakan bahwa syuting akan dimulai 15 menit lagi.
"Ariana, apa aku dan Javier harus berdandan juga? Maksudku--ganti pakaian." tanya Asteorope bingung..
"Itu terserah pada kalian, kalau kalian mau ikut syuting bersamaku...maka kalian harus ganti baju. Jika tidak, tidak masalah." ucap Ariana pada kedua pria itu.
"Hey hey yu...apa yang yey katakan? Dua Maco man ini harus ikut syuting, eike suka bilang pak sutradara. Mereka harus ikut, jadi pemeran pembantu saja." sahut Liam menimpali. Kedua pria yang dibawanya itu wajib ikut syuting walau hanya sebagai pemeran pembantu karena mereka kekurangan pemain.
"Tapi Liam...mereka tidak berpengalaman."
"Aku percaya mereka bisa." kata Liam yakin. Liam lalu melirik ke arah Asteorope Javier. "Kalian mau kan membantu pekerjaan Ariana?"
"Ya, aku mau."
Sekalian mencari pengalaman, Javier dan Asteorope akan mengikuti syuting yang belum pernah mereka lakukan. Usai mengganti baju, Javier memakai baju hitam-hitam dan dia berperan sebagai pencopet. Sedangkan Asteorope berperan sebagai anggota polisi dan memakai seragam polisi.
"Kalian bagus juga memakai baju ini, hehe."
"Ini kan baju penjahat yang menahanku di kantor polisi!" gerutu Asteorope sambil melihat bajunya.
"Mereka bukan penjahat, tapi mereka petugas keamanan disini, As." jelas Ariana pada kekasihnya.
"Petugas keamanan itu jahat padaku dan juga yang lain." ucap Asteorope masih kesal karena pernah di penjara.
"Mereka melakukan itu untuk menjaga keamanan. Ya sudah lupakan, lebih baik sekarang kita pergi keluar karena syuting akan segera dimulai." ajak Ariana pada Asteorope dan Javier, mereka menjawabnya dengan anggukan.
Ariana keluar dari ruang make up bersama dua pria itu. Dia sendiri telah memakai setelan dress berwarna merah dan memakai tas berwarna merah, yang sepadan juga dengan sepatunya.
Gadis itu berperan sebagai pemeran utama dalam film kali ini. Sutradara film, begitu menghormati Ariana yang mau bermain dalam film kecil-kecilannya ini. Film pertamanya karena ia adalah sutradara baru.
"Nona Ariana, anda sangat cantik... terimakasih karena Nona sudah mau membintangi film pertama saya." ucap tuan Emerick sopan. Ia merasa sangat bersyukur karena Ariana Dewi Hollywood itu mau membintangi film pertamanya.
Ariana benar-benar baik hati dan tidak memandang seseorang berdasarkan statusnya. Dia tidak sombong seperti pada gosip yang beredar. Mereka yang mengatakan Ariana gadis sombong, adalah salah besar. Pikir Emerick dalam hati.
"Terima kasih kembali tuan Emerick, kebetulan saya melihat naskah film anda dan saya menyukainya. Anda memiliki potensi besar tuan Emerick." Ariana tersenyum Rama dan dia sangat mempercayai Emerick, suatu saat nanti pasti sutradara yang masih junior ini akan menjadi sutradara yang terkenal.
"Semoga saja nona Ariana... saya sangat senang beribu-ribu kali mengucapkan terima kasih pun rasanya tidak cukup." Emerick tersenyum lebar.
__ADS_1
"Tidak usah berterimakasih tuan. Oh ya, apa Thomas sudah datang?" Ariana menanyakan keberadaan pemeran utama pria yang akan beradu akting dengannya.
Seperti apa si Thomas itu pada aslinya. Aku penasaran kenapa dia menerima tawaran untuk bermain film di film ini.
"Katanya sebentar lagi dia datang."
Tak lama kemudian, sebuah mobil Porsche berwarna hitam terparkir didepan taman lokasi syuting. Terlihat beberapa orang menggelar karpet merah didepan mobil itu.
CEKLET!
Pintu mobil itu terbuka lebar, seorang pria berkacamata hitam dan tubuh tinggi tegap keluar dari sana. Dia disambut oleh para wanita cantik di lokasi syuting itu. Dialah Thomas Maverick, seseorang dengan julukan di raja film. Rata-rata film yang dibintanginya adalah film-film ternama dan pastinya mendapatkan penghargaan di dalam industri perfilman di negeri Paman Sam itu.
Lalu mengapa Thomas mau membintangi film pertama Emerick?
Ariana, Javier dan Asteorope mengernyitkan kening saat melihat sosok itu. Okaylah, pria itu memang tampan. Tapi terkesan kampungan.
"Norak sekali orang itu, Ariana apa dia seorang Raja?" tanya Javier seraya berbisik pada Ariana. Sudah bisa ditebak pikirannya kemana saat dia melihat Thomas, ia pikir yang menggelar karpet merah adalah raja.
"Raja...ya dia raja, tapi bukan raja seperti As. Dia adalah Raja film." jawab Ariana sambil manggut-manggut.
Asteorope dan Javier bertanya-tanya saat mendengarnya. "Raja film?"
"Nanti kalian juga paham." jawab Ariana.
Aduh bagaimana ini...aku memiliki adegan ciuman di episode pertama dengan pria ini. Semoga saja dia profesional dan tidak mencuri-curi kesempatan.
Setelah Thomas berganti baju dengan setelan CEO-nya dalam syuting kali ini. Dia datang menghampiri Ariana, Stacy dan Luna yang tengah duduk di atas kursi dekat taman.
"Hai Thom-- kau datang jug--" Stacy langsung beranjak dari tempat duduknya dan melambaikan tangan kepada Thomas. Akan tetapi, Thomas mengajukannya dan berjalan mendekat kepada Ariana.
"A-apa..." Stacy menahan kesal.
"Haha...kau juga diabaikan Stacy. Terima saja lah kalau memang si Ariana itu wanita penggoda." celetuk Luna Bu mana si sahabatnya untuk semakin membenci Ariana.
Ariana juga terheran-heran saat melihat sosok Thomas yang sama sekali tidak pernah ia kenal berjalan mendekat padanya. Mau apa?
Namun semua itu tidak penting karena, ia lebih takut bila Asteorope dan Javier melihat pria lain mendekat padanya. Bisa jadi perang dunia.
Ariana langsung beranjak dari tempat duduknya dan hendak melangkah pergi dari sana untuk menghindar. Namun tangan Thomas memeganginya.
"Nona Ariana, kau mau kemana? Kita belum berkenalan!" kata Thomas sok akrab. Ariana menatap pria itu dengan kesal.
Dari kejauhan tampak Asteorope dan Javier melihat Ariana dengan cemburu juga marah.
"Shitt! Aku tak membawa pedangku!"
"Aku pun tak membawa belatiku." gerutu Javier kesal.
...*****...
__ADS_1