I'Ll Became A Villain'S Daughter

I'Ll Became A Villain'S Daughter
Bab 80. Maafkan ayah, nak


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


"Tuan... tolong jangan bicara sembarangan pada saya! Ayah saya...ayah saya sudah tiada, ayah saya..." Roselia gemetar, dia menggantung ucapannya di sana karena tak sanggup membicarakan soal ayahnya yang bahkan tak pernah dia ketahui.


Matanya mulai berkaca-kaca. Dalam hati ia bertanya kenapa Cain tau tentang dirinya yang adalah Ariana dan bahkan nama ibunya. Lalu pria itu mengaku sebagai ayahnya? Darimana hal itu berawal?


Ini dunia novel, bagaimana mungkin Ariana berasal dari dunia novel karena ia adalah anak Cain? Jika itu benar, rasanya ini benar-benar plot yang gila. Pikir Roselia dalam hatinya.


"Apa ibumu bilang begitu? Bahwa aku sudah tiada?" tanya Cain dengan tatapan mata yang terluka. Dia tidak percaya bahwa Anika mengatakan pada Ariana bahwa dirinya telah tiada.


"Iya, ayahku sudah tiada dari aku lahir. Itulah yang ibuku katakan kepadaku! Dan aku tidak peduli kepadanya, mau dia hidup atau mati... aku benar-benar tidak peduli!"


Tiba-tiba saja gadis itu berubah menjadi emosional ketika membahas soal ayahnya. Ya, Ariana sedari kecil hidup susah bersama dengan ibunya di sebuah kota padat penduduk. Tanpa kehadiran seorang ayah, Ariana dan Anika hidup menderita serba kekurangan. Ketika ditanya soal sosok ayahnya, sang Ibu hanya menjawab bahwa ayahnya setelah tiada dari dia lahir. Sejak itu Ariana tidak pernah lagi menanyakan soal ayahnya dan dia juga tidak mau peduli.


Setelah ibunya meninggalkannya di taman hiburan sendirian, sejak saat itulah dia berjanji pada dirinya sendiri untuk hidup mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Perlahan dia mulai membenci kedua orang tuanya.


Cain terhenyak melihat Roselia yang tiba-tiba menangis dan berubah menjadi emosional ketika membahas soal orang tuanya. Apa mungkin terjadi sesuatu pada Ariana dan Anika selama di dunia modern?


"Ariana...apa ibumu baik-baik saja?" Tanya Cain yang tidak dapat lagi menahan rasa penasarannya.


"Jangan bicarakan tentang wanita jahat itu! Jangan...kumohon jangan katakan...ibu...ibu...jahat..."


Gadis itu menangis histeris, Iya memegang kepalanya seperti kesakitan. Kemudian Cain mendekat kepadanya dan berusaha menenangkan Roselia. "Tenanglah Ariana...katakan pada Ayah, apa yang terjadi dengan kalian selama Ayah tidak ada bersama kalian?" tanya Cain seraya memegang kedua tangan putrinya.


"LEPASKAN AKU! Aku tidak punya ayah dan aku tidak punya ibu, mereka berdua sudah mati!" teriak Roselia diiringi isak tangis pilu, gadis itu tampak sakit hati ketika membicarakan kedua orang tuanya yang telah meninggalkannya begitu saja dan menjadikannya anak yatim piatu.


"Ariana...."


"TOLONG.... jangan bicara sepatah kata pun tentang wanita jahat itu! Jangan...hiks..." Roselia pun jatuh tidak sadarkan diri, di dalam dekapan tubuh Cain.


"Ariana! Ariana!"


Cain panik melihat Roselia jatuh pingsan. Setelah itu Cain menggendong Roselia ke atas sofa empuk disana dan membaringkannya. Tak lama kemudian, Asteorope masuk ke ruangan itu untuk melihat keadaan Roselia.


"Apa yang terjadi Tuan Cain? Kenapa Roselia bisa pingsan?" ucap Asteorope sambil memegang tangan Roselia yang terasa dingin. Dia menatap wanita itu dengan cemas.


Pria paruh baya itu tidak langsung menjawab. Sebenarnya ia juga bingung dengan apa yang terjadi pada Roselia kenapa gadis itu begitu syok membicarakan kedua orang tuanya. Sebenarnya apa yang terjadi padanya selama berada di dunia modern?


Apa aku harus coba melihat masa lalunya dengan ilmu penerawanganku?


Rasa penasaran membuat Cain nekad menggunakan sihir terlarang, sihir yang tidak pernah ia gunakan sejak lama. Yaitu menerawang dunia lain, dia hampir mati saat melakukannya. Entah sekarang bagaimana nasibnya, namun apapun yang terjadi dia akan menerima konsekuensinya, asalkan dia mengetahui apa yang terjadi pada istri dan anaknya selama tidak ada dirinya.


Cain mengambil nafas dalam-dalam, kemudian dia meletakkan tangannya di kening Roselia. Cain menutup mata, dia mulai menerawang dunia lain yang bisa menyingkap masa lalu Ariana dan Anika.


Asteorope hanya memandang Cain dengan bingung, dia tidak tahu apa yang terjadi diantara mereka. Dia hanya mencemaskan keadaan Roselia yang saat ini belum sadarkan diri.

__ADS_1


****


Sementara itu Doris dan Peter masih berada di luar ruang istirahat Putri Mahkota, mereka bertugas untuk menjaga apabila ada orang yang akan kesana lalu melaporkannya kepada orang-orang yang ada di dalam ruangan tersebut.


Peter, lalu memanfaatkan situasi Itu untuk melaksanakan aksinya melamar Doris yang tadi sempat tertunda karena kehadiran rajanya. "Doris..."


"Ya Peter?" tanya Doris sambil menggeser rambutnya yang agak terurai ke belakang telinga. Tatapan matanya tertuju pada Peter yang kini terlihat gugup.


Ada apa dengan Peter? Kenapa dia terlihat begitu gugup? Apa dia sakit?


"Se-sebenarnya a-aku..."


Mendadak pria itu terkena serangan gugup dan bingung. Padahal sebelum dia sampai ke kerajaan Albarca, dia sudah menyiapkan kata-kata di kepalanya untuk melamar gadis itu. Akan tetapi, saat dia berhadapan dengan gadis itu semuanya malah menjadi kacau. Kata-kata yang ia rangkai sedemikian rupa, menjadi hilang begitu saja seolah diterpa angin.


Astaga! Peter, kenapa kau menjadi bodoh? Kenapa kata-kata yang kau rancang di kepalamu mendadak hilang?


"Peter, Apa kau baik-baik saja? Sedari tadi, aku perhatikan kau terlihat banyak melamun. Mungkinkah kau sedang sakit?" tanya Doris, dengan tangan yang menempel di kening pria itu. Ia memeriksa mungkin pria itu demam, atau mengalami sakit yang lain sebab kepalanya berkeringat.


"A-aku....eh...itu...." Peter menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dengan bingung. Tubuhnya tiba-tiba saja gemetar tidak karuan.


Astaga ya Tuhan! Mengapa semua jadi seperti ini?


Saat Peter akan merogoh saku jasnya dan menunjukkan kotak cincin yang selalu dia bawa, tiba-tiba saja ia melihat sosok Michael berjalan ke arah ruang istirahat Putri mahkota sepertinya dia mencari Roselia.


"Peter! Lihat itu.... putra mahkota sedang berjalan kemari, dia pasti mencari yang mulia!" kata Doris dengan wajah panik, begitu melihat sosok Michael dan juga Pierre yang semakin mendekat ke arah mereka.


Doris menganggukkan kepalanya lalu dia bergegas masuk ke dalam ruang istirahat Putri mahkota. Dia bahkan lupa untuk mengetuk pintu dan langsung masuk begitu saja ke dalam ruangan tersebut.


Terlihat Cain sedang berpelukan dengan Roselia yang sudah sadarkan diri. Wajah gadis itu masih terlihat sangat pucat dengan matanya yang sembab.


"Ayah...ternyata kau adalah ayahku, aku pikir Ayah setelah tiada... aku pikir aku hanya sendirian di dunia ini." Roselia terisak sambil memeluk ayahnya dengan erat. Dia sudah tidak sok seperti tadi, keadaannya menjadi lebih tenang sesudah Cain menceritakan pria masa lalunya dengan Anika.


"Maafkan ayah nak, maafkan ayah karena selama ini ayah tidak menemuimu..."


"Tidak Ayah, jangan meminta maaf kepadaku...aku bahkan tidak tahu bahwa ayah ada di dunia ini, aku pikir apa yang dikatakan oleh ibu semuanya benar. Ayah sudah tiada dan aku hanya punya ibu saja. Tapi sekarang aku senang karena di dunia ini aku memiliki seseorang...orang yang memiliki hubungan darah denganku." Gadis itu menangis haru dan memeluk ayahnya semakin erat seakan tak mau melepaskannya. Selama ini Ariana selalu bertanya kepada Anika, dimana ayahnya. Dan wanita itu selalu menjawab bahwa ayahnya telah meninggal dunia saat dia melahirkan Ariana. Tapi nyatanya Cain berasal dari dunia lain dan tidak pernah berniat meninggalkan Ariana dan ibunya begitu saja.


Semua punya alasan dan alasannya karena takdir.


Doris terpaksa menyela pembicaraan harus diantara ayah dan anak itu, dia memberitahukan bahwa putra mahkota dan juga ajudannya berjalan menuju ke ruang istirahat. Asteorope dan Cain terpaksa bersembunyi terlebih dahulu karena mereka tidak mungkin menunjukkan wajah mereka sementara waktu didepan Michael. Apalagi menunjukkan kedekatannya dengan Roselia.


"Kenapa kita bersembunyi disini Yang Mulia? Kenapa tidak keluar saja?"


"Tuan Cain maafkan aku, aku ingin mendengar apa yang dibicarakan oleh Roselia dan Putra Mahkota Gamarcus." bisik Asteorope pada Cain.


"Uhuk..."

__ADS_1


Tiba-tiba saja Cain muntah darah dan membuat Asteorope sangat terkejut. "Tuan Ca--" saat Asteorope akan berteriak, suaranya tertahan manakala Cain menutup mulutnya.


"Yang Mulia, saya baik-baik saja...anda tidak perlu khawatir." ucap Cain lalu ia mengusap darah dibibirnya.


Mungkin ini cara Tuhan untuk mempertemukannya kembali dengan Ariana, ada maksud mengapa Ariana berpindah jiwa ke dalam tubuh Roselia. Dan kini Roselia juga menyadari bahwa ternyata dunia yang ia tempati sekarang bukan hanya dunia novel tapi dunia fantasi. Alam yang berbeda dengan dunia yang ia tempati.


Cain, sudah tidak bisa pergi ke dunia modern lagi. Maka dari itu Ariana-lah yang pergi ke dunia ini dengan cara menempati tubuh Roselia. Sekarang Roselia jadi bimbang untuk kembali ke dunianya karena ada sang ayah, Doris dan juga Asteorope.


*****


Michael menemui Roselia dan mereka bicara berdua didalam ruangan itu. Roselia dan Michael sama-sama menjaga jarak terutama dengan kejadian tadi pagi.


"Putri Mahkota, aku min--"


"Sudah, mau berapa kali lagi kau meminta maaf? Kalau kau terus meminta maaf, aku malah semakin teringat dengan kejadian tadi pagi." ucap Roselia memangkas ucapan Michael.


Pria itu terlihat sendu, dia merasa bersalah pada Roselia karena sudah terbawa nafsu. Dia menghembuskan nafasnya dengan berat, lalu dia menatap manik mata yang sembab itu. "Baiklah, aku tidak akan minta maaf lagi kalau kau memang sudah memaafkanku. Tapi kumohon jangan menangis lagi karena ku."


Apa? Dia pikir aku menangis karenanya?


Roselia hanya menaikkan satu alis sebagai respon dari ucapan percaya diri Michael. Salah besar Michael berpikir Roselia menangis karena dirinya karena sebenarnya gadis itu menangis haru, setelah bertemu ayah kandungnya.


"Jadi...jangan meminta berpisah lagi dariku, karena selamanya kau akan berada di istana ini sampai kita resmi menikah dan bahkan sampai kita tua nanti, memiliki cucu cucu yang lucu."


"Saya pikir Anda terlalu banyak berhayal, jangan berdelusi seperti itu Yang Mulia Putra Mahkota." Gadis itu berdecih pada Michael, ia jadi jijik padanya sejak pria itu menyentuh tubuhnya. "Dasar pria tidak tahu malu dan menyebalkan!"


Michael sungguh ingin marah, tapi dia menahannya karena merasa bersalah dengan kejadian tadi pagi. "Roselia...kau akan tetap disini karena Raja tidak akan menyetujui perpisahan kita. Sudahlah, aku tidak akan bicara denganmu dulu untuk saat ini. Nikmati saja hari-harimu selamanya di istana ini." katanya tegas seraya beranjak dari tempat duduknya lalu pergi meninggalkan Roselia begitu saja disana.


Gadis itu masih kesal dan ingin sekali memukul Michael tapi ia menahannya karena ada Cain dan Asteorope disana. Dia tidak mungkin menunjukkan sisi barbarnya pada mereka berdua.


"Kenapa ya tidak kau pukul saja dia? Tunjukkan kekuatan Jachan-mu?" tanya Asteorope seraya menghampiri Roselia dan keluar dari persembunyiannya.


"Aku tidak mungkin menunjukkan serangan Jachan-ku didepan kalian berdua." cicit gadis itu pelan dengan tangan terkepal.


"Haha...aku kan sudah pernah melihatnya, kau tidak usah malu." Asteorope terkekeh, lalu mengusap kepala gadis itu dengan penuh kasih sayang.


Tiba-tiba saja tawa Roselia berhenti saat atensinya tertuju pada pakaian Cain yang berdarah.


...****...


Spoiler bab selanjutnya....


Seseorang membekap mulut Roselia dan menutup matanya dengan kain. Tak hanya itu tangan dan kakinya juga di ikat. Dia dibawa ke sebuah tempat seperti kereta.


Siapa sebenarnya yang menculikku? Aku mau dibawa kemana?

__ADS_1


"Kau tidak akan bisa pergi kemanapun ROSELIA! Kau hanya milikku seorang!"


...****...


__ADS_2