
...๐๐๐...
Keesokan harinya, pagi itu Ariana segera beringsut pelan-pelan dari tubuh kekar yang memeluknya dengan posesif. Namun Ariana tiba-tiba saja terdiam ketika dia melihat wajah tampan Asteorope, meraba-raba setiap lekuk wajah milik pria itu. Dari mulai kening, kedua kelopak mata, hidung lalu beralih ke bibir merahnya yang sudah merah tanpa pemerah bibir.
"Kau tampan sekali, As...aku pikir aku bermimpi melihatmu tidur disampingku." bisik Ariana kemudian dia mengecup pipi Asteorope dengan pelan. Kemudian gadis itu tersenyum dan beranjak dari ranjang.
Tapi begitu dia beranjak, satu tangan menghentikan langkahnya dan membuat gadis itu terjatuh menindih tubuh Asteorope. "Woah! Apa yang kau laku--"
Cup!
Sebuah kecupan mendarat dibibir Ariana dari sosok tampan di atas ranjang berukuran sedang itu.
"Dasar nakal, setelah menciumku dan memanggilku tampan...lalu kau mau kabur begitu saja? Hmmm?" tangan Asteorope memeluk gadis itu, netranya menatap ke dalam mata biru milik Ariana.
Ariana memalingkan wajahnya, menghindari tatapan itu. Wajahnya malu-malu, bersemu merah, ia mengigit bibir bagian bawahnya.
Ish...jadi As tau kalau aku mencium dan memujinya tampan? Hah! Bisa besar kepala dia!
"Hei...hei...jangan mengigit bibirmu seperti itu, mengigit bibirmu adalah tugasku! Paham?" ucap Asteorope seraya tersenyum dan membuat hati Ariana berdebar tidak karuan.
"A-apa?" gugupnya.
Kemudian Asteorope menekan tengkuk Ariana dan kembali mencium bibirnya. Ariana awalnya terkejut dengan ciuman yang tiba-tiba itu, namun lama kelamaan dia membalas ciuman Asteorope. Mereka bertukar saliva dengan penuh rindu, sudah lama mereka tidak melakukan ini.
Hanya beberapa detik saja, Ariana langsung mengurai ciumannya dan beranjak dari tubuh kekar Asteorope. "Su-sudah, aku mau memasak sarapan!" seru Ariana sambil merapikan rambutnya yang sedikit acak-acakan setelah bangun tidur.
"Apa aku boleh ikut?" tawar Asteorope pada Ariana.
"Nanti saja, kau pergilah ke kamar mandi yang ada di kamar ini... bersihkan tubuhmu dan nanti kau pakai pakaian yang ada di atas ranjang." jelas Ariana pada pria itu. "Aku akan menyiapkan sarapan."
"Baiklah, aku paham." jawab Asteorope sambil menganggukkan kepalanya.
Rasanya seperti suami istri saja. Ah...aku jadi tidak sabar untuk segera menyerahkan cincin ini padanya, menyematkan cincin ini dijari manisnya.
Asteorope masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar itu, hanya kamar itu yang memiliki fasilitas kamar mandi sendiri. Sedangkan kamar mandi diluar hanya 1 dan mereka berempat harus antri disana.
Terjadi kegaduhan tentang siapa yang akan masuk kedalam kamar mandi lebih dulu. Theo dan Peter lah yang ribut.
"Kau harus mendahulukan ibu hamil, tuan Theo yang terhormat!" kata Peter sarkas.
"Oh tidak bisa begitu, hukum status sosial mengatakan bahwa tuan Marquez yang boleh masuk duluan ke dalam kamar mandi!"
Theo dan Peter berdebat sementara dua orang yang menjadi perdebatan mereka malah diam dan cuek saja.
"Hey! Hey ada apa ini? Kenapa kalian ribut-ribut?" Ariana mencoba menengahi Theo dan Peter yang terlihat saling menatap tajam penuh kemarahan itu.
"Dia yang mulai, nona!" ujar Peter dan Theo kompak menunjuk pada wajah mereka masing-masing. Keduanya sama-sama tak mau kalah.
__ADS_1
"Fine, so what's problem?" tanya gadis itu dengan kedua tangan yang berada di pinggang, atensinya melirik ke arah dua pria yang merupakan ajudan dua orang besar di dunia novel.
"Nona! Biar saya saja yang menjelaskan!" Doris angkat tangan dan angkat bicara. Dia pun menjelaskan secara singkat apa yang membuat Theo dan Peter bertengkar.
Ariana menggeleng-gelengkan kepalanya setelah mendengar cerita dari Doris. "Dengar ya tuan tuan yang terhormat dan kau juga Javier....di dunia ini semua orang sama. Kita hanya menghormati dan tunduk pada orang yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda. Ah....aku juga lupa menjelaskan pada kalian untuk memanggilku nona, panggil saja aku Ariana." ungkap Ariana pada ke empat orang itu.
"Mana berani kami melakukan itu nona."
"Benar, anda adalah calon istri (Permaisuri) dari tuan (Raja)!" kata Theo dan Peter bersamaan namun bertolak belakang.
Deg...
Ariana tersentak kaget mendengar calon istri dan calon permaisuri dari dua orang ajudan itu. Ariana mendesah dan mengangkat baunya. "Itu belum tentu benar! Yang jelas disini kalian harus memanggilku Ariana tanpa panggilan nona." ucap Ariana tegas.
Apa maksudnya belum tentu benar? Apa Ariana belum menerima cinta Raja Albarca atau--
Javier menggarisbawahi kata-kata Ariana, dia jadi berpikir apakah dia masih punya kesempatan untuk menjalani hubungan dengan wanita itu. Ya, anggaplah ia tak tahu diri karena dia Roselia tiada. Tapi dia masih berharap pada Ariana/Roselia bar-barnya.
Menjadi guru dadakan lagi, Ariana pun menjelaskan tentang aturan dan kebiasaan di dunianya secara perlahan-lahan termasuk istilah ladies first.
Akhirnya perdebatan berakhir dengan masuknya Doris ke kamar mandi, ia menjadi orang pertama yang masuk ke dalam kamar mandi. Melihat Javier, Theo dan Peter yang antri disana, membuat Ariana meminta salah satu dari mereka pergi ke kamar Asteorope untuk ikut mandi disana.
Awalnya Javier ogah, tapi dia ingin sekalian bicara dengan Asteorope. "Kalau kau tidak mau mengantri--maka--"
"Aku akan masuk ke dalam sana, agar kamar mandinya tidak terlalu antri." ucap Javier memotong kata-kata Ariana.
"Baiklah, jangan lupa menggunakan sabun dan shower...semalam aku sudah mengajarkannya!" gadis itu memperingatinya.
"Javier! Apa yang kau lakukan?!" pekik Ariana kesal lalu menepis tangan Asteorope.
"Hehe." Javier hanya terkekeh melihat Ariana kesal padanya. Ia jadi teringat saat dia mengurung gadis itu di penjara sangkar emasnya. Betapa sering dia dan gadis itu berdebat, namun perdebatan itulah yang membuat Javier dekat dengan Roselia dan sembuh dari kelainan seksuallnya.
Javier pun menghilang dari pandangan Ariana, Theo dan Peter. Ya, dia masuk ke dalam kamar yang ada Asteorope disana.
Tak lama kemudian terdengar suara dering dari ponsel Ariana, sontak Theo dan Peter melihat benda yang dipegang Ariana.
๐ถ๐ถ
Kring...kring...
Melihat wajah kedua orang yang bingung itu, Ariana pun menjelaskan perihal ponsel pada Theo dan Peter. "Ini bukan benda roh jahat, sihir hitam atau apalah itu...tapi ini namanya ponsel, alat komunikasi di dunia ini." jelas Ariana sambil tersenyum dan hanya dijawab anggukan oleh kedua pria itu.
Kemudian Ariana pun mengangkat telpon itu tak jauh dari Theo dan Peter. "Benda benda disini sangat canggih, seperti sihir. Bukankah begitu Peter?"
"Aku sependapat denganmu untuk yang satu ini. Aku pikir kita harus mencoba untuk beradaptasi disini." Peter menyahuti ucapan Theo sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Iya Liam..... oh jadi syutingnya di undur jam 9?........kau tenang saja, aku akan sampai disana tepat waktu......ah, aku di rumahku......ya aku hanya sedang ingin saja menginap di rumah......baiklah nanti jemput aku di rumahku dan ada orang yang ingin aku kenalkan padamu."
__ADS_1
Tut...
Setelah itu Ariana mengakhiri panggilannya, kemudian dia segera menyiapkan sarapan di atas meja.
****
Di dalam kamar Asteorope, Javier berada tepat didepan pintu kamar mandi tersebut menunggu Asteorope ke luar dari sana.
Tak berapa lama kemudian, terdengar suara pintu terbuka. Terlihat Asteorope yang masih menggunakan handuk pendek dengan kondisi telanjang dada keluar dari sana. Matanya memicing menatap sosok pria yang berdiri didepan matanya.
Mereka bertatapan dengan aura penuh permusuhan. "Kau? Kenapa kau ada disini? Ah...apa kau mau minum air toilet lagi?" sindir Asteorope disertai senyuman sinis dibibirnya.
"Cih! Kekanakan! Jangan merasa menang dulu karena Ariana belum memilih." ucap Javier sambil tersenyum sinis dan menarik perhatian Asteorope.
"Apa maksudmu?" Asteorope menatap tajam pria itu, apa dia bermaksud memprovokasi Asteorope tentang Ariana?
"Ariana...masih belum jadi milik siapa-siapa jadi jangan mengklaim bahwa dia adalah milikmu."
"Hello orang gila, kenapa kau bicara begini sedangkan kau sendiri tau bahwa sejak awal kau sudah kalah dan dia mencintaiku!"
"Aku masih bisa merebutnya darimu."
Asteorope menarik baju Javier dengan emosi."Oh, kau berani? Jangan menjadi orang yang tidak tahu diri, jika bukan karena dirimu...Roselia tidak akan mati dan jika bukan karena dirimu yang menjadi kunci ke dunia ini, aku pasti sudah membunuhmu. Jangan bilang kau lupa....kalau begitu aku ingatkan lagi padamu, kejadian itu dan janjimu pada Tuan Cain."
Javier tersentak kaget, dia terlihat syok mendengar ucapan Asteorope.
#Flashback
Beberapa waktu yang lalu, saat Roselia di dunia novel meninggal dunia. Asteorope terlihat frustasi dan tidak menerima kematian gadis itu begitu saja.
Dan disisi lain, Theo kembali ke markas Javier dari kerajaan Albarca dengan wajah yang lesu dan tegang. Dia melihat Javier tengah menunggu kabar darinya.
"Theo, bagaimana?" tanyanya dengan atensi tegang pada pria itu.
Theo mendesah pelan kemudian dia pun buka suara. Ya, cepat atau lambat bukankah Javier akan tau tentang semua ini. "Tuan...nona Roselia sudah tiada."
"APA? Kau jangan main-main denganku Theo!" teriak Javier dengan rahang mengeras, dia menatap ajudannya dengan tatapan tajam. Tangannya menarik baju Theo dengan kasar.
"Nona Roselia...beliau...sudah akan dimakamkan, sa-saya tidak bercanda...saya mana mungkin beranda tuan." raut wajah Theo begitu pucat. Melihat raut wajah yang sama sekali tak ada bercandanya itu, membuat Javier lemas.
Tubuhnya ambruk seketika ke atas tanah, air matanya mengalir deras. Tatapan matanya kosong penuh kesedihan. Theo dan anak buah Javier yang lain sangat tertekuk ketika mereka melihat tuan mereka si pembunuh berdarah dingin, tengah menangis karena seorang wanita.
Ini tidak mungkin...tidak....aku harus memastikannya sendiri.
Tanpa bicara apapun, Javier pergi menuju ke istana Albarca. Meski di larang dan di hadang oleh beberapa pengawal istana disana. Namun bukan Javier namanya bila dia tidak bisa menerobos masuk ke dalam sana.
Pria itu seperti orang linglung, dia melihat beberapa orang berpakaian hitam-hitam disana. Tatapan Javier akhirnya tertuju pada sebuah ruangan besar dan dia melihat jenazah Roselia terbaring di atasnya. Tanpa peduli dengan tatapan orang-orang padanya, Javier masuk ke dalam ruangan itu dan berjalan menghampiri Roselia, namun sebilah pedang tertuju pada lehernya. "Maju selangkah lagi, KAU MATI! Aku bersumpah demi TUHAN!" suara Asteorope penuh kemarahan begitu melihat Javier berada disana. Pria yang ia anggap sebagai penyebab kematian kekasihnya.
__ADS_1
****
Flashback sedikit lagi lanjut bab berikutnya ya ๐คง๐คงjangan lupa vote dan gift nya ya kakak kakak dan adik adek Readers tersayang โค๏ธ