
Tubuh Ariana terpental dan melayang setelah mobil yang menabraknya dengan keras itu. Gadis itu jatuh di atas aspal dengan tubuh berlumuran darah.
Semua orang yang ada di dekat sana langsung berhambur untuk melihat siapa yang tertabrak mobil itu. "Astaga! Kasihan sekali gadis itu,"
"Demi menyelamatkan nyawa si ibu itu, dia sampai tertabrak!" kata seorang pria yang miris melihat kondisi Ariana tergeletak di aspal.
"Cepat telpon ambulan, rumah sakit! Polisi!' celetuk seorang wanita heboh. Hingga membuat salah seorang pria disana menelpon pihak kepolisian dan seorang wanita disana menelpon pihak rumah sakit.
Orang-orang mendekat ke tengah jalan, ada beberapa dari mereka yang menangkap si pelaku penabrakan dan yang lainnya memilih melihat Ariana.
Theo, Javier dan Asteorope yang berada di pinggir jalan melihat seseorang dengan pakaian tak asing tergeletak di tengah jalan, bersimbah darah. Sheila juga terkejut melihat ibunya yang terduduk tak jauh dari Ariana.
"ARIANA!" teriak Asteorope dan Javier bersamaan dengan raut wajah yang tidak usah ditanyakan lagi. Mereka panik melihat Ariana disana.
"Nona!"
Ketiga pria itu menghampiri Ariana, Asteorope lebih dulu menghampirinya dan mendekap gadis itu ke dalam pelukannya. Jangan ditanyakan lagi bagaimana perasaan mereka saat ini, jantung mereka berdegup begitu kencang seperti sedang diserang sesuatu yang berat dan menyakitkan.
Apalagi Asteorope, menyaksikan Ariana terluka untuk kedua kalinya sangatlah menyakitkan.
"Ariana...buka matamu kumohon! Buka MATAMU!" Asteorope menggoyang-goyangkan pipi Ariana, mata gadis itu terpejam. Dengan kepala dan tangan yang penuh darah.
"ARIANA! Buka matamu kumohon....tetap sadar!" Asteorope benar-benar ketakutan ketika melihat gadis itu terpejam. Dia takut akan kematiannya lagi.
"Ambulan akan segera datang, kau tenanglah tuan!" ujar seorang wanita yang sama sekali tidak dihiraukan oleh Asteorope. Sementara itu Anika menangis dan ia syok melihat Ariana terluka, tapi dia tetap diam bersama Sheila disana dan tak berani mendekat.
"Ariana? Apakah dia Ariana si Dewi Hollywood?" gumam seorang wanita dan beberapa orang disana yang sudah menyadari bahwa Ariana Dewi Hollywood mengalami kecelakaan dan beberapa orang disana mengabadikan momen itu dengan kamera. Padahal hal ini tidak boleh dilakukan.
"Ariana... kumohon...buka matamu..." pinta Asteorope bersamaan dengan buliran benih yang jatuh dari matanya, sampai membasahi pipi gadis itu yang berlumuran darah.
"A-as..."
"Ariana?"
"Ja-jangan...me-nangis.." ucap gadis itu terbata-bata dengan suara lemahnya. Matanya terbuka pelan, terlihat sayu dan lemah. Ariana melirik Anika dan terlihat lega setelah melihat ibunya baik-baik saja bersama Sheila.
Syukurlah ibu baik-baik saja.
Ariana kembali menutup matanya dan tubuhnya terkulai lemah tak berdaya. "Ariana! Ariana! Bangunlah! Jangan tutup matamu, JANGAN!"
Tidak! Tidak akan terjadi sesuatu pada Ariana, dia akan baik-baik saja.
Tak lama kemudian, mobil ambulan datang dan membawa Ariana pergi dari sana. Javier, Asteorope dan Theo juga ikut pergi ke rumah sakit bersama dengan mobil ambulan itu.
Terlihat dua orang petugas medis berusaha memberikan pertolongan pertama untuk Arina. Gadis itu terbaring lemas diatas brankar.
"Pasang selang infusnya, aku akan mengecek kondisinya!" kata seorang petugas medis perempuan kepada rekannya.
"Baik,"
Mereka diberi tugas masing-masing untuk memberikan pertolongan pertama pada Ariana. Salah seorang mengecek, ada satu orang yang mengobati luka luar dan satu orangnya lagi memasangkan selang infus.
"Pasien tidak merespon," kata seorang wanita petugas medis dengan kening berkerut, cemas. "Dia tidak bernafas!" lanjutnya dengan wajah panik.
"Apa maksudnya tidak bernafas? APA?!" sentak Asteorope emosional. Sudah cukup dengan semua rasa takut kehilangan itu, dia menyusul Ariana kesini untuk bahagia bersamanya bukan untuk melihatnya begini.
Tidak! Asteorope tidak mau kehilangan lagi Ariana, tidak kedua kalinya.
"Yang Mulia Raja, tenanglah!" Theo yang masih sadar, berusaha untuk menyadarkan Asteorope dan Javier.
Terlihat Javier hanya diam mematung dengan tatapan kosong yang dipenuhi air mata. Pria itu memang tidak bicara apa-apa, tapi diamnya ini pertanda cemas.
Ia jadi teringat saat Ariana berada di dalam kurungannya.
#FLASHBACK
Di penjara emas, Roselia masih lumpuh dan dia tidak bisa pergi kemana-mana. Dia terus menggerutu karena si gila Javier membuatnya lumpuh, saking tak mau Roselia pergi dari sana.
"Sialan kau JAVIER! Aku membencimu! Tadinya aku mulai respect padamu, aku pikir kau sudah waras ternyata kau masih gila. Aku masih tidak bisa merasakan kakiku, aku...akan bisa berjalan besok hari kan?" gumam Roselia sambil memegangi kakinya yang mati rasa dan tak bisa digerakkan.
Dia juga dendam pada Darius yang sudah menjebaknya. Di dalam kamar itu dia marah-marah mengutuk Darius dan Javier, mengatakan bahwa mereka adalah pasangan serasi dan memang telah ditakdirkan untuk bersama. "Sama-sama gila! Psikopat! Bajingan! Brengsek! Kalian memang pasangan yang di takdirkan oleh neraka."
__ADS_1
"Salah! Kau lah pasangan yang ditakdirkan Tuhan untukku dan membawaku pada jalan kebenaran."
"Kau?" sontak Roselia menoleh ke asal suara pria yang menyebalkan itu. Javier berjalan menghampirinya sambil membawa sebuket bunga mawar merah dan juga sekotak coklat besar.
Bau anyir? Apa dia habis membunuh orang?
Roselia mencium bau aneh saat Javier mendekat padanya. "Kau sudah makan malam?" tanya Javier perhatian sembari meletakkan bunga dan coklat itu diatas ranjang. "Ini untukmu."
Srek!
Roselia membuang bunga dan coklat itu hingga jatuh ke lantai. "Aku tidak butuh!"
Javier tersenyum sabar. "Baiklah, lalu kau mau apa? Jangan-jangan kau tak suka mawar?" tawar Javier.
"Aku hanya ingin kau memulihkan kakiku dan juga melepaskanku dari sini!"
"Maaf, itu tidak bisa. Sampai kau setuju menikah denganku, aku tidak akan melepaskanmu."
"Kau..."
Malas bicara dengan Roselia dia memutuskan untuk pergi dari sana dan membersihkan tubuhnya yang bau amis karena habis menyiksa Darius.
Javier meninggalkan Roselia bersama dua orang penjaga yang biasa menjaganya. Tak lama kemudian salah seorang penjaga datang membawakan makanan dan minuman untuk Roselia.
"Terima kasih tuan Ilios," kata Roselia sambil memakan makanan itu. Dia memang kelaparan sejak tadi siang mogok makan karena marah pada Javier.
Roselia menangkap gerak-gerik aneh dari Ilios, salah satu penjaga yang menjaganya di sana tidak terlihat seperti biasanya. Ilios biasanya ceria, tapi kenapa pria itu seperti patung?
"Ada apa tuan Ilios? Apa kau baik-baik saja? Apa kau sakit? Atau...tuanmu itu menyiksamu?" tuduh Roselia sambil meminum air putih di dalam gelas dan menghabiskannya. Piring makanan itu juga sudah kosong.
Ilios hanya tersenyum menyeringai, dia senang melihat Roselia telah menghabiskan semuanya.
Kenapa dia tidak jawab?
Tak berselang lama kemudian, Roselia memegang dadanya yang terasa sesak tiba-tiba. "Akkh...ada apa ini? kenapa dadaku terasa begitu sesak? Kenapa...." Roselia pun memuntahkan darah. "Tuan Ilios....tuan..."
Roselia melihat Ilios yang masih berada didepan pintu kamarnya. Ilios membalikkan tubuhnya, terlihat wajah makhluk menyeramkan disana dan bukan Ilios. "Si mesin pembunuh itu pasti akan berduka bila kehilangan dirimu, akhirnya...aku menemukan kelemahannya..haha."
Mahluk dengan wajah bersisik ular itu tersenyum menyeringai dan puas melihat Roselia terkapar di lantai dengan kondisi mulut berdarah.
Tepat saat itu, dia melihat bayangan Asteorope dan Cain didepannya. Muncul dari cahaya. "Oh...apa ini surga?" gumamnya pelan dengan senyuman miris di bibirnya.
"Roselia! Roselia..." panggil Asteorope, lalu menopang tubuh gadis itu ke dalam dekapannya. Asteorope merasa lemas melihat wanitanya tidak berdaya. Begitu bertemu, niatnya ingin melepas rindu. Tapi malah seperti ini.
"Jika ini mimpi...tolong jangan bangunkan aku, jika ini surga...maka aku tidak mau pergi." racau Roselia seraya melihat Asteorope dan Cain.
"PUTRIKU! Ini aku ayahmu dan juga--baginda Raja ada disini. Kau tidak bermimpi!" Cain memegang tangan Roselia yang dingin.
"Ayah....As....uhuk..." Roselia masih memuntahkan darah. "Apa aku mati lagi? Sialan sekali." batinnya.
"Siapa yang sudah melakukan ini kepadamu? Siapa!"
Terdengar suara langkah kaki berlari menghampiri mereka bertiga. Lebih dari satu orang dan itu adalah Javier juga beberapa anak buahnya.
"Ternyata KAU!" Asteorope gemetar, dia pun menitipkan Roselia pada Cain. Dia bersiap membawa pedangnya dan bersiap sedia menebas leher Javier, bahkan pedang itu sudah mengarah pada lehernya.
"Apa yang terjadi?" tanya Javier seraya menatap Roselia yang tidak berdaya berada di dekapan Cain.
"Hey! Seharusnya itu adalah pertanyaanku padamu!" teriak Asteorope marah, lalu menggores sedikit pedangnya pada leher Javier.
Leher Javier berdarah. Kemudian Ilios dan Regan terbangun, setelah tadi mereka di rasuki sesuatu yang kuat. "Tuan Javier..."
Apa ini ulah salah satu musuhku? Astaga! Aku pikir tempat ini adalah tempat teraman, nyatanya aku yang menyakitinya.
"Yang Mulia! Kita harus segera membawa Roselia pergi dari sini! Keadaannya tidak baik!" teriak Cain begitu merasakan denyut nadi Roselia semakin melemah.
Asteorope berbalik arah dan dia menggendong Roselia. "Jika terjadi sesuatu padanya, KAU AKAN MERASAKAN APA YANG NAMANYA NERAKA SEBELUM MATI!" dengus Asteorope marah.
"A-aku...aku melakukan ini karena aku..." Javier merasa bersalah.
"Cinta? Bullshitt! Asal kau tau, cinta itu tidak egois....kau bukan cinta tapi OBSESI." kata Asteorope emosi.
__ADS_1
"Sekarang lepaskan kami, biarkan saya membawa Putri saya dan menyelamatkan nyawanya." tegas Cain dengan tatapan penuh kebencian pada Javier.
Jika bukan karena keadaan Roselia yang darurat, mungkin saja Cain dan Asteorope sudah menghabisi pria penculik itu.
Setelah itu Roselia dibawa ke istana Albarca dan tak lama kemudian Javier mendengar berita kematian Roselia yang sangat membuatnya terluka.
#END Flashback
Sesampainya di rumah sakit, Ariana langsung dibawa ke ruang UGD. Asteorope ingin masuk ke dalam sana dan menemani Ariana, namun dokter dan beberapa petugas medis tidak memperbolehkannya.
"Maaf tuan, izinkan kami melakukan tugas kami!" seru seorang petugas medis pada Asteorope yang memaksa masuk.
"Tapi aku--"
Theo menahan Asteorope untuk tidak masuk ke dalam sana, hanya dia saat ini yang masih berada dalam posisi agak waras. Sebab Javier hanya diam saja dengan tangan gemetar, seolah dia menjadi gila.
Theo paham mengapa kedua pria itu menggila, jawabannya adalah pada Ariana. Wanita yang mereka cintai dan mereka telah melihat Roselia mati sebelumnya. Taukah bahwa hal itu adalah lebih buruk dari kematian mereka sendiri? Melihat orang yang dicintai tiada, rasanya sangat menyakitkan dan saat mereka diberikan kesempatan kedua untuk melihat kembali wanita yang mereka cinta.
Kenapa sekarang malah begini? Jika Theo jadi mereka, pasti ia juga akan sakit dan terluka.
"Yang Mulia, tuan Javier, nona Ariana pasti akan baik-baik saja! Saya yakin beliau adalah orang yang kuat!" hanya itu yang bisa Theo katakan untuk menenangkan kedua pria yang terlihat gusar dan sedih, duduk di kursi tunggu.
"Saya yakin nona akan baik-baik saja, tenanglah!" seru Theo seraya melihat kedua pria yang terlihat kacau itu. Apalagi Asteorope yang baju dan tangannya penuh darah.
"Dia tidak akan mati... tidak akan...tidak...dia akan bersamaku selamanya, kami sudah berjanji untuk selalu bersama..." gumam Asteorope dengan tubuh gemetar ketakutan.
Theo menepuk-nepuk pundak Asteorope, dia merasa kasihan pada kedua pria itu.
Tak lama kemudian, Tommy, Anika dan Sheila datang ke rumah sakit setelah mengetahui bahwa Ariana masuk rumah sakit demi menyelamatkan Anika.
Berkat kekuasaan yang dimiliki Tommy, tidak satupun wartawan yang bisa masuk ke dalam rumah sakit untuk meliput Ariana, karena Tommy berkata bahwa ia akan memenjarakan siapa saja yang mencoba memberitakan tentang Ariana.
"Javier, Asteorope, Theo, bagaimana keadaan Ariana? Apa dia baik-baik saja?" tanya Sheila pada ketiga pria itu. Tapi hanya Theo saja yang menjawabnya.
"Dokter masih memeriksanya,"
Anika dan Tommy mendengar jawaban dari Theo. Mereka berdoa agar Ariana baik-baik saja di dalam sana.
Anika juga terlihat syok saat tadi melihat Ariana terkapar beberapa saat yang lalu di jalan. Sampai ia tak bisa berbuat apa-apa dan bicara apa-apa.
Tiba-tiba saha Asteorope menghampiri Anika dan menatapnya dengan tajam.
"Apa yang kau lakukan ketika putrimu sedang berada dalam keadaan gawat? Kenapa kau malah diam saja? HAH?!" hardik Asteorope tepat didepan wajah Anika.
Anika terlihat gemetar ketakutan. Sementara Tommy langsung marah dan membela istrinya. "Beraninya kau berteriak seperti itu pada istriku?! Dan apa kau bilang barusan? Putri siapa?" tanya Tommy terheran-heran dengan kata 'putrimu' yang dimaksud oleh Asteorope.
Entah apa yang dipikirkan oleh Anika, ia malah meminta izin suaminya untuk bicara dengan Asteorope. Anika dan Asteorope bicara di dekat lorong sepi rumah sakit itu.
Mata Asteorope menatap tajam pada Anika yang beraninya mengabaikan Ariana saat gadis itu terluka demi menyelamatkannya.
"Kau--siapa kau? Kenapa kau bisa tau kalau aku adalah ibu Ariana?" tanya Anika tanpa basa-basi lebih dulu.
"Jadi--anda sadar diri bahwa anda adalah ibu Ariana tapi anda diam saja saat melihat anak anda terluka?!" Asteorope tersenyum sinis, matanya merah karena menangis.
"Jangan pernah memberitahukan kepada siapapun bahwa Ariana adalah anakku.Terutama pada suami dan anakku, Sheila."
"Cih! Ternyata seperti ini tampilan ibu kandung yang selalu Ariana agung agungkan itu. Sama sekali tidak berakhlak!"
"Apa?"
"Kau ibu yang tidak punya hati," ucap Asteorope dingin. Dia tau benar kekasihnya itu sangat merindukan sosok ibunya dan selalu memuji ibunya karena rela melakukan apapun untuknya.
"Beraninya KAU--"
Ketika Anika akan mengangkat tangannya untuk menampar Asteorope. Pipinya sudah ditampar lebih dulu oleh seseorang yang tiba-tiba muncul disana bersamaan dengan sebuah cahaya.
Plakk!
"Kau sungguh ibu yang jahat, ANIKA!"
Asteorope dan Anika kaget melihat sosok pria itu tiba-tiba berada disana. Namun Asteorope tersenyum lega saat eksistensinya berada disana.
__ADS_1
****
Hai Readers, aku up 1 chapter tapi Panjang kan? 😍😍