I'Ll Became A Villain'S Daughter

I'Ll Became A Villain'S Daughter
Bab 113. Pria tampan ini milikku!


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Javier dan Theo memutuskan untuk pergi dari sana, mereka pergi mencari tempat hiburan malam yang ada di aplikasi YT. Mereka penasaran juga dengan tempat hiburan di dunia ini.


Tentu saja sebelum pergi kesana, Javier dan Theo mengganti pakaian terlebih dahulu karena pakaian mereka yang sebelumnya kurang cocok untuk dipakai kesana.


Jujur saja Javier sakit hati, lebih tepatnya patah hati karena gadis yang dia idamkan akan segera menikah dengan orang lain. Ya, tapi apa boleh dikata karena cinta tak bisa dipaksa.


"Woah...jadi seperti ini tempat hiburan di sini." decak kagum Theo saat memasuki tempat hiburan malam itu. Disana terlihat beberapa orang tengah joged joged ria, ada yang minum-minum dan ada juga yang bermain wanita.


"Sama saja seperti kasino di dunia kita!" Javier masih sibuk menelisik tempat itu. Rasanya sama dengan kasino di Gamarcus yang di kelola. Javier sudah pro bermain di tempat seperti ini karena selain berstatus sebagai ketua sindikat pembunuh bayaran, dia juga mengelola beberapa kasino di Gamarcus. Mengingat semua itu, Javier jadi rindu dengan dunianya.


Beberapa wanita malam menatap Javier dan Theo dengan nanar, mereka menunjukkan ketertarikan pada dua pria bertubuh bicep itu. Wajah menggoda, badan juga terlihat kokoh dan kuat.


Bagi para wanita malam itu, Javier dan Theo adalah mangsa yang empuk. Dan sepertinya kedua pria itu juga kaya.


"Hai tuan..." seorang wanita dengan tatapan genitnya, mendekati Theo dan langsung menggamit tangan pria itu.


Woah! Apa-apaan wanita ini? Theo mengerutkan keningnya dan mencoba melepaskan diri dari wanita yang Bimoli, bibir monyong lima senti itu.


"Apa tuan mau minum-minum? Atau langsung ke room 616?" tanya seorang wanita yang penampilannya lebih waras dari wanita yang menggamit Theo. Dia bertanya pada Javier, sambil memegang tangannya juga.


Javier terlihat dingin, dia tersenyum menyeringai kemudian mendorong wanita itu dengan kasar. Sama sekali dia tidak berhasrat melihat wanita cantik dan seksi itu. Bagaimana tidak? Pikirannya hanya ada pada Ariana saja.


"Kau galak sekali tuan!" pekik wanita seksi itu dengan dada yang membusung, tangannya memegang pantat. Ia pun berdiri dan pergi meninggalkan Javier Theo bersama temannya yang lain.


Para wanita itu yakin bahwa kini Javier dan Theo sama sekali tidak tertarik dengan mereka dan akhirnya mereka pun memilih untuk pergi mencari mangsa lain.


"Tuan, apa tuan masih takut pada wanita?"


"Aku tidak pernah takut pada wanita!"


"Lalu dulu?" tanya Theo penasaran. Dulu kan Javier tidak suka berdekatan dengan wanita dan memilih menjalin hubungan bersama pria.


"Bukan takut tapi tak suka dan sekarang kau tau sendiri." ucap Javier lalu duduk di salah satu kursi yang ada di dekat bartender.


Mereka berdua memesan minuman, tapi belum dibayar. Paras dan bentuk tubuh Javier menjadi sorotan semua wanita cantik disana, bahkan primadona di club malam itu tertarik pada Javier.


"Bukankah pria itu sangat tampan?" tanya si primadona di club malam itu.


"Yang disebelahnya juga tak kalah tampan." cetus seorang wanita berambut merah dengan atensi mengarah pada Theo.


"Mau coba menggodanya?" tawar si wanita berambut merah pada si primadona itu.


"Boleh." balas si primadona sambil berjalan lenggak-lenggok ke arah Javier.


Javier dan Theo yang sudah menyadari akan adanya bahaya. Theo segera melindungi tuannya. "Maaf nona nona, bisa kalian minggir."


"Tuan...tolong jangan bersikap seperti ini, atau tuan akan menyesal." kata si primadona dengan senyum sensual dibibirnya dan menyibakkan rambutnya yang panjang sampai mengenai wajah Theo.


"Astaga nona! Wangimu ini sangat..."


Wanita berdada besar itu mendorong Theo, lalu dia mendekati sasarannya yaitu Javier yang sudah seperti patung pahatan dewa Yunani. Sangat hot untuknya.

__ADS_1


"Tuan apa kau mau minum? Wine merah kurasa cocok untukmu." wanita itu duduk disamping Javier, ia tak peduli Javier menatapnya dengan dingin dan acuh. Baginya pria yang jual mahal seperti ini sangat menarik perhatiannya.


"Nona, tuan saya tidak mau digang--"


Wanita berambut merah menarik Javier untuk menjauh dari sana agar si primadona bisa menjalankan aksinya menggaet Javier.


"Tu-tuan..."


"Tidak apa Theo, badut ini biar aku yang menyelesaikannya." kata Javier pada anak buahnya itu. "Kau urus saja si merah." sambungnya sambil tersenyum sinis.


Melihat raut wajah tuannya yang menyeramkan dengan senyum psikonya. Theo merasa bahwa akan ada pertumpahan darah malam ini.


"Nona rambut blonde, aku berdoa agar kau masih ada di dunia ini!" teriak Theo sebelum dibawa pergi oleh si rambut merah.


Si primadona mengerutkan keningnya dengan bingung, ada apa dengan Theo? Ah bodoh amat dengan pria itu, dia fokus saja pada Javier.


"Biar saya yang menuangkan minuman untuk tuan," ucap si wanita sambil menuangkan minuman yang sudah dipesan Javier dari botol ke dalam gelas kosong didepan Javier.


Terlihat kentara sekali, Javier sangat terganggu dengan kehadiran si wanita yang katanya primadona disana itu. Javier sedang menunggu saat yang tepat untuk mematahkan tangannya.


"Tuan...saya..."


Byurr!!


Tiba-tiba saja air wine didalam gelas Javier sudah tumpah ruah tepat ke kepala si Primadona. Javier melirik siapa orang yang melakukannya.


"Oh my God! Shitt!! Siapa yang berani--" si primadona itu menoleh pada orang itu, wajah marahnya langsung berubah saat melihat siapa orang itu. "No-nona Sheila..." lirih si Primadona ketakutan saat melihat sosok wanita berambut hitam sebahu itu


Ayah Sheila Tommy Delano adalah pemilik tempat ini dan semua orang tau Sheila adalah putrinya. Tidak ada yang bisa menganggu Sheila disana.


"Ba-baik nona."


"Pergilah sebelum aku menamparmu, Bella!" titah Sheila dengan satu tangan yang terletak di pinggang. Alisnya terangkat saat melihat wanita gatal itu.


Bella pergi dari sana dan bergabung bersama pria hidung belang lainnya yang berusia paruh baya. Dia tak mau berurusan dengan Sheila.


"Hey! Kita bertemu lagi... sepertinya kita jodoh ya." kata Sheila sksd (sok kenal sok dekat). Gadis itu tersenyum semanis mungkin pada Javier.


Javier beranjak dari tempat duduknya, wajahnya terlihat dingin dan malas. Sheila mencebikkan bibirnya, kemudian dia memegang tangan Javier dan menahannya pergi. "Hey! Kau mau pergi begitu saja? Kau tidak akan berterimakasih padaku? Apa kau tidak akan meminta maaf juga karena tadi siang kau pergi begitu saja? Padahal aku ingin berkenal--"


Pria itu menepis tangan Sheila dan membuatnya berdiri tegang mematung. Sheila menelan ludahnya sendiri, lagi-lagi dia terpesona saat melihat Javier. Wajah tampan dan tubuh atletisnya, membuat Sheila geleng-geleng kepala. Ada beberapa yang mendekati Sheila, tapi tidak ada yang bisa menarik perhatiannya.


Degg!


Ah sial! Lagi-lagi jantung ini dag dig dug saat didekatnya. Seperti ada bom disana, pria tampan ini selalu membuatku terpikat.


Javier cuek saja dan pergi dari sana, Sheila yang tadi sempat tertegun. Langsung mengikuti Javier saat ia sadar bahwa pria itu berjalan pergi ke arah Theo.


"Tunggu! Aku ingin berkenalan denganmu, apa kau tidak dengar? Mengapa kau terus saja diam dan cuek padaku?"


"Berisik." hanya itu saja yang dikatakan oleh Javier agar Sheila diam dan berhenti mengikutinya.


"Hey! Kita harus berkenalan Javier." tukas gadis itu ngotot ingin berkenalan dengan Javier.

__ADS_1


Javier menoleh ke arah Sheila saat namanya disebut. "Siapa yang mengatakan padamu bahwa kau boleh memanggil namaku?" sorot mata Javier begitu tajam pada Sheila.


"I-itu..." Sheila gugup saat Javier menatapnya begitu. "Ti-tidak ada orang di dunia yang berani menatapku seperti itu, bahkan ayah ibuku juga tidak menatapku begitu. Kau... benar-benar menyebalkan!" Sheila marah.


"Kau yang menyebalkan, minggir lah dan jangan ganggu aku!" Javier menggeser sedikit tubuh Sheila yang berada didepannya.


"Javier, kau--"


"Kita tidak saling kenal, jadi kau tidak boleh memanggilku sembarangan nona! Camkan itu!" tunjuk Javier pada wajah Sheila. Gadis yang memiliki tinggi badan yang jauh dari tinggi badan Javier, ia terlihat kesal.


Ketika Javier hendak pergi meninggalkan Sheila, tiba-tiba saja ia melihat seseorang mendekati Sheila dan membawa pisau ditangannya, jarak orang itu sangat dekat dengan Sheila dan hanya tinggal beberapa senti lagi.


"Sial!" desis Javier.


Tanpa basa-basi, Javier menarik tubuh Sheila dan membalikkan posisi tubuhnya dengan Sheila.


Wow...lihat pria ini, dia terlihat cuek tapi sebenarnya dia juga terpesona padaku.


Jleb!!


"Aahhhh!!" beberapa pengunjung disana berteriak saat melihat Javier dan orang yang ingin mencelakai Sheilla. Seketika itu pun Sheila sadar apa yang terjadi.


Beberapa bodyguard Sheila datang dan menangkap orang itu dengan bantuan Javier yang sempat menyerangnya balik dengan bogem mentahnya.


"Nona Sheila, apa anda baik-baik saja?" tanya salah satu bodyguard Sheila, seorang wanita dengan tubuh tinggi dan berotot dibalik baju hitamnya ala-ala detektif itu.


"A-aku tidak apa-apa..." Sheila melihat Javier terlihat pucat, pria itu memegang punggungnya.


"Kau berdarah! Grace, ayo kita bawa dia ke rumah sakit!" seru Sheila sambil memegangi tangan Javier.


"Minggir!" tepis Javier kesal.


"Tuan, apa tuan baik-baik saja?" Theo memapah Javier yang terluka. Ia baru saja bebas dari sarang macan betina.


"Bawa aku pulang, Theo." pinta Javier pada bawahannya itu.


"Kau tidak boleh pulang, kau harus di obati." tegas Sheila yang tidak akan membiarkan penolongnya pergi begitu saja dari sana.


*****


Istana Albarca...


4 bulan telah berlalu di negeri itu sejak kepergian Asteorope, Theo, Doris dan Javier ke dunia Ariana. Cain dan beberapa orang kepercayaan Asteorope di minta untuk mengurus masalah Albarca juga istana.


Musim di Albarca saat ini memasuki musim dingin. Waktu 1 hari di dunia Ariana sama dengan 1 bulan di Albarca.


Terlihat Cain sedang duduk di kursi panjang istana kerajaan itu. Ia memandangi langit berbintang. "Bagaimana caranya agar aku bisa berkomunikasi dengan mereka? Aku harus memberitahu kepada mereka bahwa jika mereka berlama-lama di sana, akan menimbulkan bahaya. Tentang Ariana...aku juga tidak tahu bagaimana caranya agar dia bisa kembali kesini. Ya Tuhan, semoga mereka baik-baik saja di sana...."


Wush~~


Tiba-tiba saja muncul sebuah cahaya di taman kerajaan Albarca, bersamaan dengan munculnya seseorang. "Tuan Cain..."


"Doris?" Cain terkejut melihat Doris sedang terduduk di atas rerumputan tamat. Dia kembali sendirian.

__ADS_1


...****...


Hai Readers, mohon maaf kalau sudah mulai bosan atau tidak suka ceritanya jangan kasih rating jelek ya...🤧 author suka sedih kalau kalian kayak gitu...terus jangan di unfav ya, kan gak ada ruginya juga simpen di rak buku kalian...makasih ❤️❤️ buat yang masih bertahan, love you


__ADS_2