
...🔥🔥🔥...
Ratu negeri Albarca itu terkejut, pasalnya mengapa Michael tiba-tiba saja menuduhnya sebagai Roselia. Mungkinkah pria itu mengenalinya.
Tapi mana mungkin, wajah mereka berbeda dan hanya mata saja yang sama. Kalau berdasarkan insting? Rasanya tidak!
Asteorope dan Stella yang kesal melihat pasangan mereka menjadi pusat perhatian. Akhirnya Asteorope menarik tangan istrinya, hingga Ariana jatuh ke dalam pelukannya.
"Yang Mulia..."
Asteorope tidak bicara, ia kembali memposisikan dirinya untuk berdansa dan mencairkan suasana. Sebab atensi semua orang tadi tertuju kepadanya.
"As...kau jangan salah paham," sela Ariana saat berdansa dengan suaminya.
"Aku salah paham apa? Jelas-jelas aku melihatnya yang memelukmu, jadi aku tak punya alasan untuk marah padamu." Asteorope tersenyum tipis,pria itu sama sekali tak marah pada Ariana tapi kesal pada Michael yang seenaknya saja bertanya seperti itu pada Ariana didepan semua orang.
"Ah... syukurlah kalau kau tak marah padaku," Ariana tersenyum lega mendengarnya.
"Iya, tapi aku kesal padanya. Ternyata dia masih belum melupakanmu." desahh Asteorope pelan.
"Melupakan Roselia, bukan aku...aku kan Ariana." bisik Ariana pelan pada telinga suaminya, seraya mengecup pipinya.
Cup!
"Lihat saja...malam ini kau akan habis aku lahap!" seru Asteorope dengan semburat merah di wajahnya. Ariana hanya tersenyum menanggapi ucapan suaminya.
"Aku siap, silahkan saja makan aku sesukamu!" cetus gadis itu seraya tersenyum.
"Oke." balas Asteorope sembari tersenyum. Keduanya masih berpegangan tangan menikmati alunan musik di pesta dansa.
Tak jauh dari sana Stella juga sedang berdansa dengan suaminya. Stella kesal karena Michael terus saja memperhatikan Ariana, padahal ada dirinya yang cantik jelita seperti ini dan diabaikan.
"Kenapa kau memanggil Ratu Ariana dengan nama jalangg itu, Yang Mulia?" tanya Stella yang tak bisa menahan dirinya lagi untuk marah.
"Ratu, jaga bicaramu! Roselia bukan jalangg!" tegur Michael dengan atensi tajam pada istrinya.
"Dia memang jalangg yang selalu saja memenuhi hati dan pikiranmu, sampai mentalmu rusak!" ketus Stella kesal.
"Jangan bicara hal yang buruk lagi tentangnya, atau aku akan---"
Stella langsung memotong ucapan suaminya. "Akan apa?"
"Aku akan menceraikanmu!"
"Itu tidak akan mudah, kau tau aku adalah Saintess dan akan sulit untuk menceraikanku. Persetujuan akan sulit didapatkan dari para bangsawan, rakyat, kau tidak akan pernah bisa melepaskanku!"
Michael terdiam, sebab yang dikatakan oleh Stella memang benar adanya. Ia akan sulit menceraikan wanita itu karena posisi Stella sangatlah tinggi dan diagung-agungkan di Gamarcus. Stella dikenal sebagai saintess yang memiliki kemurahan hati dan juga penolong banyak orang. Bercerai dari Stella, sama saja menurunkan kredibilitas keluarga kerajaan.
Salah satu alasan kuat kenapa Michael, menerima pernikahan ini adalah karena status Stella dan untuk memperkuat posisinya sebagai seorang raja.
"Kenapa kau diam Yang Mulia?" tanya Stella dengan seringai dibibirnya, ia puas melihat Michael tersedak oleh ucapannya.
Huh, bercerai denganku? Kau tidak akan pernah bisa Michael. Selamanya kau hanya menjadi milikku!
Sementara pasangan itu tengah berdansa, si jomblo Javier melihat mereka dari kejauhan dengan tatapan datar. Dia bersama dengan Cain yang saat ini telah menjadi ayah baptisnya. Bisa dikatakan begitu.
"Kau baik-baik saja nak?" tanya Cain pada Javier yang tampak duduk sambil meneguk wine sendiri, ketika orang lain mereguk jus.
"Aku baik-baik saja ayah, jangan khawatirkan aku! Aku bukanlah Javier yang terobsesi seperti dulu," Javier menampilkan senyuman dengan satu sudut bibir yang terangkat. Bibir Javier terlihat seksi dan mempesona, tentu saja bisa dibilang begitu sebab ada beberapa wanita bangsawan disana yang memperhatikan Javier.
"Ya, ayah percaya padamu dan lagi disini ada banyak wanita cantik. Kau bisa memilih salah satu dari mereka," Cain tersenyum melihat beberapa wanita yang tengah menolak Javier dengan kagum. Siapa yang tidak akan tergoda dengan visual Javier yang memabukkan kaum hawa itu. Tampan, tinggi, kekar, kuat dan mempesona. Mempunyai aura misterius tersendiri, meski pria itu jarang tersenyum.
"Wanita? Ah tidak, ayah." tukas Javier menolak.
"Kenapa tidak? Kau lajang, nak!" seru Cain seraya menepuk pundak Javier. "Kau tampan, itu poin pentingnya untuk memikat wanita."
Sejujurnya Javier masih belum tertarik dan masih belum memiliki niat untuk menjalin hubungan dengan wanita lain. Mungkin kesendirian untuk saat ini adalah yang terbaik untuknya.
"Tampan saja tidak cukup ayah! Lihat saja bahkan Ariana juga tidak terpikat padaku!"
"Ck! Itu urusannya hati, apalagi menantuku lebih dulu bertemu dengan Ariana daripada dirimu kan?"
"Ya, ayah benar." Javier menghembuskan nafas panjangnya, tatapan matanya tertuju pada pasangan pengantin yang tengah berdansa dengan raut wajah bahagia.
Jika aku bertemu dengan Ariana lebih dulu apakah dia akan jatuh cinta padaku? Pikir Javier dalam hatinya.
Apa yang aku pikirkan? Doakan saja semuanya agar bahagia.
Javier yang suntuk, memutuskan untuk pergi ke balkon dan menenangkan dirinya. Tanpa sengaja ia melihat seorang wanita yang seorang pria di taman. Mereka terlihat seperti sedang berdebat dan ada masalah.
"Apa kau akan terus memperlakukanku seperti ini tuan Derrick? Kau tau benar bagaimana perasaanku padamu!" ucap Viona pada Derrick.
"Dan Yang Mulia juga tau kan? Bahwa saya tidak mencintai Anda," jawab Derrick tajam.
"Bohong! Kau berkata seperti ini karena kau kesal pada kakakku yang memperlakukan Ratu Stella dengan tidak baik. Jadi kau melampiaskan semuanya kepadaku!" seru Viona kesal lantaran Derrick tidak mau mengakui perasaannya, setelah Derrick sempat melakukan malam panas dengannya dan mengucapkan cinta kepada Viona.
Sekarang, Derrick malah menolak untuk bertanggung jawab setelah melakukan hal di luar batas kepada Viona. Derrick telah mengambil mahkota Viona sebagai seorang wanita untuk pertama kalinya. Viona juga mengakui bahwa ia mencintai Derrick, tapi sekarang sikap pria itu berubah. Mungkin karena Michael memperlakukan Stella dengan tidak baik, jadi dia berubah.
"Apa malam itu kau melakukannya padaku karena dendam? Malam dimana kita menghabiskan waktu bersama?" tanya Viona teriak.
"Kalau iya kenapa? Bukankah tubuhmu juga sudah pernah di jamah oleh pengawal istana dingin sebelumnya?!" sarkas Derrick pada wanita itu dan secara tidak langsung dia telah menghina Viona.
Tanpa sadar, Javier masih menyaksikan drama itu dan ia mendengar semua percakapan mereka berdua dari balkon.
Plakk!!
Viona menampar Derrick, hingga membuat wajah pria itu terhuyung ke samping. Satu tangan Derrick memegang pipinya yang terkena tamparan keras itu.
__ADS_1
"Kau pikir aku wanita seperti itu? Darimana bisa kau mendapatkan asumsi seperti itu? Kalau kau tidak mau bertanggungjawab, baiklah...tidak usah! Aku juga tidak mau meminta pertanggungjawaban pada pria brengsek sepertimu. Aku juga tak mau kalau anak ini mempunyai ayah sepertimu. Tapi jangan pernah menghinaku seperti itu! Kau juga tau sendiri dengan siapa pertama kali aku melakukannya!" tunjuk Viona dengan emosi pada Derrick. Dadanya naik turun bersamaan dengan gemuruh didalam dirinya. Gemuruh kemarahan yang besar pada Derrick.
Kecewa, sakit hati, murka, ia tunjukkan semua itu pada Derrick yang tak mau bertanggungjawab karena telah mengambil mahkotanya. Jika hal ini diketahui oleh orang banyak, bahwa seorang putri bermalam sebelum menikah dan hamil. Reputasi Viona akan hancur, terlebih lagi posisinya hanya sebagai anak haram. Meski Michael telah mengangkatnya menjadi putri secara resmi.
"Baguslah kalau Anda tidak meminta pertanggungjawaban pada saya. Jadi saya tidak kepikiran lagi hal ini, terimakasih putri Viona!" Derrick malah tersenyum puas sebab Viona berkata begitu. Bukannya merasa bersalah.
Habis manis sepah dibuang. Itulah yang dirasakan Viona saat ini. Derrick selalu lembut, mengucapkan kata cinta padanya, ia juga mencintai Derrick. Tapi nyatanya Viona hanya dijadikan pelampiasan saja dari kemarahan Derrick pada Michael kakaknya.
"Oh ya, sebagai ucapan terima kasihku karena kau melepaskanku dari tanggung jawab itu. Aku akan merahasiakan bahwa kita pernah bermalam bersama dari semua orang, agar reputasimu tetap terjaga." cetus Derrick sinis.
"Hah? APA?!" bentak Viona marah, sambil menangis.
Derrick pergi begitu saja tanpa perasaan, namun bulir air mata jatuh membasahi wajahnya. "Ini pasti sangat menyakitkan bagimu Viona, tapi tidak sebanding dengan adikku Stella. Kita lihat saja apa yang akan kau lakukan dengan bayi itu?"
Tubuh Viona ambruk ke tanah, beruntung taman itu sepi dari pengawal dan tidak ada orang berlalu lalang disana. Viona menangis sejadinya sambil memegangi perutnya yang masih datar.
"Arggggh! Kau jahat sekali padaku Derrick, kenapa...hiks...."
Javier masih menatapnya, dia berusaha untuk tidak peduli pada urusan orang lain. Javier pun melangkah pergi dari sana. Namun langkahnya terhenti ketika Viona berteriak dan memecahkan sesuatu ditaman.
Prang!
"UNTUK apa aku hidup?! Lebih baik aku akhiri semuanya!" Viona mengambil pecahan vas bunga yang ada di taman itu, lalu mengarahkan pada pergelangan tangan. Dia tidak berpikir panjang.
Apa yang akan dilakukan oleh wanita itu? Pikir Javier dalam hatinya.
Javier membalikkan badannya, lalu ia turun dari balkon dengan cepat untuk menolong Viona.
Brugh!
Tak butuh waktu lama untuk pecahan vas bunga itu berpindah tangan pada Javier. "Aku tidak mau pesta pernikahan adikku hancur hanya karena kematian seorang putri dari Gamarcus!" seru Javier tegas.
"Marquez Martinez? Kau..." Viona menatap Javier dengan lekat, ia masih berada dalam posisi terduduk dan menangis.
"Bodoh! Dia hanya akan menertawakanmu kalau kau begini, mengakhiri hidup bukanlah solusi!"
Jika itu adalah Ariana, dia pasti tidak akan menangis dan malah menghajar pria itu.
Viona tidak menanggapi ucapan Javier, ia berdiri dengan lemah. Tubuhnya gemetar dan membuatnya gontai, hingga beberapa saat kemudian. Viona jatuh didalam dekapan Javier, tanpa sengaja kedua atensi mereka bertemu satu sama lain.
"Ma-maafkan aku...jika aku tau sikapku akan membuat keributan di pesta ini, aku seharusnya bunuh diri di tempat lain saja."
Javier mendelik ke arah Viona, konyol menurutnya. Setelah percobaan bunuh dirinya dihentikan. Viona malah berencana untuk bunuh diri ditempat lain.
"Dasar wanita konyol!" desis Javier tak habis pikir dengan pemikiran Viona. Entah polos atau bodohkah dirinya itu.
"Setidaknya pikirkan bayi yang ada didalam kandunganmu!" serka Javier kesal, seraya menatap Viona dengan sinis.
"Ta-tapi untuk apa aku dan bayiku hidup, kalau ayahnya saja tidak mau mengakui keberadaannya! Untuk apa...hiks..."
Viona menangis tersedu-sedu, setelah melepaskan pelukannya dari Javier. Javier jadi tak tega melihatnya, tangannya terlalu ingin menghibur gadis itu. Akan tetapi, ia mengurungkan niatnya itu.
"Ta-tapi...hiks..."
"Haaihhh...baiklah, aku akan menemanimu hanya karena aku takut kamu melakukan sesuatu yang bodoh di acara pesta pernikahan adikku ini." ucap Javier sambil menghela nafas panjang kemudian dia memapah Viona yang masih lemas. Javier bermaksud membawa Viona ke tempat yang aman dan bisa merilekskan dirinya.
Tanpa mereka berdua sadari, Ariana, Cain, Theo dan Asteorope, melihat Javier sedang bersama dengan Viona. Mereka senang, mungkin saja ini awal yang bagus untuk Javier bisa melupakan Ariana dan lebih bagusnya lagi pria itu bisa mendapatkan pasangan hidupnya.
******
Usai pesta resepsi pernikahan Raja dan Ratu Albarca selesai. Para tamu undangan yang hadir ada yang memilih pulang dan ada yang menginap di istana karena hari sudah larut dan jarak dari kerajaan mereka sangatlah jauh.
Michelle, Stella, mereka menginap di istana itu karena jarak antara kerajaan Albarca ke Gamarcus cukup jauh. Mereka tinggal di istana tempat para tamu kerajaan dan tamu terhormat ditempatkan.
❤️❤️❤️
Pasangan pengantin baru itu, memasuki kamar mereka yang luas. Kamar pengantin yang sudah didekorasi sedemikian rupa indahnya. Lantai yang bertaburan dengan kelopak bunga mawar berwarna merah, ranjang kelambu yang tampak seperti ranjang tuan putri. Mewah, memiliki kesan romantis sebab ada bunga-bunga dan lilin aromatik yang dinyalakan di sana.
Suasana kamar tersebut terlihat cocok untuk melakukan malam pertama, bahkan indra penciuman mereka menangkap harum yang menyeruak, mendukung untuk eksekusi malam ini.
Dengan tidak sabaran pria itu menggendong istrinya ala bridal. "As!"
"Ratuku, Aku sudah lama menunggu untuk saat-saat ini."
"Aku juga Rajaku, tapi kita sama-sama belum membersihkan diri. Tubuh kita masih sama-sama berkeringat," Ariana mengendus bau tubuhnya yang masam karena keringat.
Bagaimana tidak berkeringat, sepanjang hari ini dari pagi sampai malam mereka berdua aktif dalam pesta pernikahan mereka.
"Tapi--aku tidak sabar." ucap Asteorope seraya memenangkan wajahnya pada bahu Ariana. Penuh gairah dan hasrat membara malam pertama.
"As...kita mandi dulu, mana mungkin kita melakukannya dalam kondisi berkeringat."
"Tak apa, sekalian berkeringat kan?" goda Asteorope dengan mata yang nanar, seakan ingin melahapnya.
"As..." Ariana mulai merasa kegelian karena bibir Asteorope menjelajah ceruk lehernya.
"Panggil aku sayang," bisik Asteorope pelan.
"Sa-sayang... aahhh!"
Ariana terkejut karena merasakan tubuhnya sudah ada di atas ranjang kelambu penuh bunga itu. Sepasang mata berwarna hitam itu menatap Ariana dengan nanar, seakan tak sabar ingin melakukan something.
"As...mandi dulu."
"Yang bawah tidak bisa menunggu lebih lama lagi, sayangku." bisik Asteorope seraya mengusap lembut rambut Ariana, kemudian beralih pada wajah, leher, lalu...
Srek!
__ADS_1
Asteorope melepaskan dress merah yang dipakai oleh Ariana dengan gerakan tak sabar dan ia melempar dress itu ke sembarang tempat. Ia ingin segera menyatu bersama istrinya. Malam ini sudah lama ia tunggu-tunggu.
"Curang!" tukas Ariana begitu melihat bagian atas tubuhnya telah polos, sementara tubuh suaminya masih ditutupi baju setelan tuxedonya.
"Apa yang curang?"tanya Asteorope seraya menghujani wajah si cantik dengan ciuman.
"Aku sudah polos begini dan kau masih memakai pakaianmu," Ariana mencebikkan bibirnya sambil menutupi bagian aset yang ada di atas tubuhnya.
Seringai terlihat di wajah Asteorope, ia pun melepaskan bajunya dan membuat dirinya bertelanjang dada agar adil.
Ariana terpana dan terpesona melihat tubuh suaminya yang sixpack itu. Ternyata memang sangat indah dan Ariana kagum. Bahkan tanpa sadar tangannya yang tadi menutupi kedua aset kembarnya, mulai meraba-raba dada bidang itu.
"Sa-sayang..." lenguhan lolos dari bibir merah Asteorope.
"Ma-maaf aku..."
Ketika sepasang mata berwarna biru nan cantik menatapnya, Asteorope seperti dibuat mabuk kepayang. Tanpa aba-aba, ia kembali memagut bibir cantik Ariana dengan intens. Tangannya tak diam saja, mulai meraba dua aset favoritnya.
Ciuman yang semula lembut kini berubah menjadi ciuman yang panas dan memabukkan keduanya. Hingga mereka berdua sama-sama polos di atas ranjang.
"As..." lirih Ariana yang baru saja dihujani ciuman panas di tubuhnya dari bibir sang suami. Terlihat beberapa tanda cinta di leher dan dadanya.
Sementara itu Asteorope mulai memposisikan dirinya dan senjata Laras panjang itu untuk segara menerobos sang istri. "Kata orang-orang malam pertama itu menyakitkan bagi wanita, aku harap kau mengatakan padaku kalau kau sakit...saat itu juga aku akan berhenti."
Glek!
Keduanya sama-sama menelan saliva, ini pertama kalinya bagi mereka melakukan ini.
Akhirnya mereka pun menyatu, suara ketipak ketipuk syahdu mengiringi penyatuan mereka malam itu. Ariana dan Asteorope sama-sama telah pergi ke surga tujuh bersamaan, hingga mereka terlelap dalam keadaan tubuh yang penuh peluh keringat.
Diakhiri dengan kata aku mencintaimu dari keduanya. Mereka sangat bahagia bahkan Asteorope dan Ariana berdoa agar mereka bisa secepatnya memiliki seorang anak.
****
Dini hari itu, seorang pria berpakaian pelayan dengan memakai masker tampak berada di sebuah lorong istana utama. Pria itu tersenyum menyeringai sambil membawa sebuah barang yang entah apa.
"Kau akan mati, orang rendahan!"
Pria itu melempar benda tersebut ke istana utama, kemudian beberapa detik kemudian.
DUARR!!
Terdengar suara ledakan keras disana, ledakan itu bahkan menghancurkan sebagian dari istana utama. Kemudian pria itu pergi dari sana dan memutuskan untuk memantau dari jauh.
Tak berapa lama kemudian, Cain, Javier dan penghuni istana yang lainnya. Terdiri dari pengawal, dayang istana pergi keluar dari istana. Terlihat asap berwarna ungu yang mencurigakan disana.
"Cepat pergi keluar! Ini gas monster!" teriak Cain pada semua orang dengan panik.
Siapa orang yang sudah melakukan semua ini?
"Saya akan mengevakuasi yang lainnya!" kata Theo dan Peter kompak.
Setelah Peter mengamankan istrinya yang sedang hamil dan beberapa wanita lainnya ke tempat aman. Peter membantu Theo dan prajurit lainnya untuk mengevakuasi korban lainnya.
Asteorope dan Ariana juga terbangun dan pergi dari istana mereka menuju ke istana utama yang telah hancur. "Apa yang terjadi?" gumam Ariana bingung.
"Ariana pergilah ke tempat aman bersama yang lainnya!" ujar Cain pada putrinya.
"A-ayah...."
Tiba-tiba saja muncul makhluk bertubuh besar, seperti monster didepan mereka. Monster itu tidak hanya berjumlah satu, tapi banyak.
Sial! Jelas monster ini bangkit karena di perintahkan oleh seseorang. Aragon!
Cain menyesalkan kenapa bencana harus datang disaat kekuatannya lemah seperti ini.
Monster itu menyerang membabi-buta bahkan memakan beberapa pengawal dan dayang istana. Dalam sekejap istana Albarca menjadi penuh darah dan jerit tangis.
Asteorope dan Cain yang berada dibarisan terdepan, sudah terluka karena menggunakan kekuatan mereka untuk menghalau monster dengan sihir pelindung.
Sementara Ariana berada dibelakang, ia tidak bisa berbuat lebih dengan pedangnya sebab ia tak bisa menggunakan sihirnya. Padahal Cain pernah mengatakan bahwa dia memiliki sihir di tubuhnya.
"Hahaha... bagaimana anak haram? Apa kau puas dengan kejutan ini?"tanya Liam yang muncul di dalam salah satu monster itu.
Deg!
Asteorope berdebar saat melihatnya, ia tercengang tak percaya melihat kakak tirinya mantan raja terdahulu adalah dalang dibalik semuanya.
"Kau masih hidup?!" desis Asteorope seraya menatap tajam pada Liam.
Tiba-tiba saja Cain berucap.
"Javier, aku mohon...bawa pergi Ariana dari sini!" pinta Cain pada Javier yang berada tak jauh dari Ariana.
"TIDAK! Aku tidak meninggalkan ayah!" teriak Ariana menolak.
"Javier, KUMOHON! Bawa dia PERGI!" teriak Asteorope yang kali ini ikut bicara, tubuhnya sudah terluka parah. "Ariana kumohon...." lirihnya lagi.
Berada disini hanya akan membuat Ariana dalam bahaya.
Tanpa basa-basi Javier membopong tubuh Ariana dengan paksa. "TIDAK! AYAH! AS!"
"LEPASKAN AKU JAVIER!" teriak Ariana panik melihat dua orang yang ia cintai tengah bertarung dengan makhluk-makhluk mengerikan itu.
****
Spoiler....
__ADS_1
"TIDAK! JANGAN TINGGALKAN AKU...hiks..." Ariana memeluk jasad yang sudah tidak bernyawa itu dengan histeris. Ariana tak percaya bahwa orang yang ia cintai meninggalkannya secepat ini.