I'Ll Became A Villain'S Daughter

I'Ll Became A Villain'S Daughter
Bab 95. Go to supermarket


__ADS_3

...πŸ€πŸ€πŸ€...


Ariana tercengang, jantungnya seakan berhenti disana saat melihat barang-barang di rumahnya rusak berantakan seperti kapal pecah. "Hah! What the hell! Apa yang kalian lakukan pada barang-barangku?"


Ariana syok melihat beberapa piala penghargaan bahkan piagam di rumahnya sebagai artis, hancur di atas lantai. Matanya berkaca-kaca, melihat semua barang itu.


"Ah....pialaku, piagamku, astaga... televisiku!" gadis itu lemas melihat barang-barang kesayangannya didalam rumah kenangan itu hancur lebur.


"Nona...tenang saja, kami sudah menyingkirkan bahaya!" kata Peter bangga, tangannya memegang sapu.


"Ya, jangan marah! Kami melakukan ini demi kebaikan nona, atau sihir itu akan membuat rumah nona hancur." ucap Theo sambil mengangguk-nganggukan kepalanya seolah dia telah melakukan sesuatu yang besar.


"Sihir?" gumam Ariana sambil mengepalkan tangannya dengan erat. Dia mendengus, matanya nyalang menatap Theo dan Peter.


"Benar nona, di dalam rumah ini banyak benda-benda yang mengandung sihir hitam." ucap Doris menimpali dengan wajah polosnya.


"Kalian....sihir hitam....?? DUDUK kalian semua!!" Ariana berteriak marah, tak hentinya dia mendengus marah.


Kini semua orang duduk di sofa, kecuali Theo, Peter dan Doris yang memiliki posisi sebagai bawahan. Mereka bertiga duduk di lantai.


"Tuan Peter, Doris, tuan Theo, kalian duduk lah di sofa juga." ucap Ariana pada ketiga orang itu.


Theo angkat bicara. "Kami yang bawahan ini tidak pantas untuk duduk bersama dengan Baginda raja dan Marquez--"


"Di dunia ini, semua derajat manusia sama. Mereka dihormati dengan cara yang berbeda, semuanya setara disini. Cepatlah kalian duduk, aku ingin bicara sesuatu pada kalian." ujar Ariana tegas.


Dengan ragu-ragu, Theo, Peter dan Doris duduk di sofa yang berbeda dengan sofa yang diduduki Javier dan Asteorope. Kemudian Ariana pun mulai bicara.


"Okay! Sekarang aku akan mulai bicara, sebenarnya kenapa kalian merusak rumahku? Ceritakan semuanya satu persatu!" Ariana melirik tajam ke arah mereka berlima.


#Flashback


Beberapa menit sebelumnya, Javier, Doris, Peter dan Theo memasuki rumah Ariana. Mereka melihat barang-barang disana, piala, piagam, foto-foto Ariana dari waktu dia menjadi artis cilik sampai dewasa.


"Nona Roselia--eh maksud ku nona Ariana sangat cantik, kudengar dari pria yang bernama polisi itu bahwa nona Ariana adalah seorang Dewi." ucap Doris sambil melihat foto Ariana yang sedang meraih penghargaan artis terbaik. Gadis itu terlihat cantik dengan gaun berwarna rose gold.


"Benar, nona Roselia dan nona Ariana sama saja cantiknya hehe. Ngomong-ngomong dunia ini sangat berbeda dengan dunia kita ya?" gumam Peter sambil melihat-lihat isi rumah itu.


Pasangan suami-istri itu sedang bicara, sedangkan Javier masih melihat-lihat isi rumah itu dengan waspada.


"Tuan Javier apa anda haus?" tawar Theo pada Javier yang terlihat lelah.


"Oh ya, aku rasa aku haus."


"Ayo ikut saya yang mulia, ada sumur di ruangan sana!" tunjuk Theo pada sebuah pintu kayu berwarna merah.


"Kenapa kau tidak mengambilkannya? Apa aku harus kesana?" tanya Javier dengan tatapan dinginnya seperti biasa.


"Maafkan saya tuan, tapi tidak ada gelas...dan lebih enak kalau meminum dari sumbernya." ucap Theo seraya tersenyum pada tuannya.


"Tunjukkan padaku sumur itu!"


Melihat Javier dan Theo beranjak pergi dari sana, Peter dan Doris ikut-ikutan juga. Mereka juga haus ingin minum.


Lalu tibalah mereka di kamar mandi, Theo langsung membuka toilet duduk di kamar mandi itu. "Ini sumurnya Tuan,"


"Kecil sekali, sumurnya." Javier mengerutkan keningnya, tak yakin bahwa toilet itu adalah sumur.


"Tapi ini benar-benar sumur, mungkin sumur di dunia ini dan dunia kita berbeda." kata Theo menjelaskan.


"Hah! Jangan sok menjelaskan padaku, aku lebih pintar darimu tahu? Aku juga tau ini sumur. Ya sudah ayo kita minum."


Empat orang itu menangkupkan tangan mereka dan mengambil air dari dalam toilet, lalu meneguknya. "Haahh...segarnya."


Setelah itu mereka pun kembali ke ruang tengah, Javier duduk di sofa dan dia merasakan bahwa ada benda dibawah bokongnyaa. "Apa ini?" gumam Javier sambil memegang remote yang ia duduki tadi.


Tiba-tiba saja persegi layar datar di depan mereka menyala. Menampilkan sebuah film aksi, dua pria tengah beradu pedang.


"A-apa itu tuan?"tanya Theo bingung.


"Apa benda sihir hitam lainnya?" gumam Doris terkejut melihat televisi itu menyala.


🎢🎢🎢

__ADS_1


"Mati kau Ferguson!" kata pria itu sambil berlari pergi setelah meninggalkan musuhnya di Medan perang.


"Jangan lari, jika kau benar-benar pria! Hadapi aku Zaragoza!" Ferguson mengejar Zaragoza lalu mereka pun beradu pedang.


Syat...syat!!


🎢🎢🎢


"Oh! Oh! Si Zaragoza akan membunuh Ferguson!" Doris terhanyut melihat adegan itu, dia terbelalak.


"Cepat kau matikan kotak laknat itu! Ini pasti salah satu tipuan sihir!" seru Javier pada Theo anak buahnya.


Theo dan Peter pun mulai bergerak mengambil sesuatu untuk membuat televisi itu mati. Mereka pun menemukan sapu, lalu memukul mukul televisi itu.


Bruk! Bruk!


"Mati kau! Mati!"


Televisi itu masih menampilkan layar si Ferguson dan Zaragoza. Mati-matian Theo dan Peter berusaha membuat televisi itu mati. Alhasil kecerobohan mereka malah menghancurkan barang-barang lain di rumah itu, termasuk piala, piagam, foto-foto Ariana dan bahkan vas bunga.


Beberapa saat kemudian, televisi itu pun mati. Theo dan Peter saling melempar senyum lalu bertepuk tangan. "Hahaha...kau hebat juga ajudan Raja Albarca."


"Kau juga hebat, ajudan tuan Marquez!" keduanya saling melemparkan pujian satu sama lain.


Setelah itu Asteorope dan Ariana datang ke dalam rumah dan selanjutnya, inilah ceritanya.


#Endflashback


Ariana menggelengkan kepalanya begitu mendengar cerita dari Doris, sudut pandang orang ketiga dan buka pelaku utama dari insiden rumah kapal pecah itu.


"Astaga....kalian...haaahh..." Ariana mendesah kesal, namun dia tak bisa berbuat apa-apa karena mereka baru disini. Tidak seperti saat dia berada dunia mereka, di dunia ini mereka sulit beradaptasi.


"Baiklah, kalau begitu...apa kalian lapar?" tawar Ariana pada mereka berlima dari dunia lain itu.


"Nona...Doris sedang hamil, dia belum makan." Peter angkat bicara, ia kasihan melihat istrinya belum makan sejak berada di dunia ini.


"Benarkah itu Doris? Kau sedang hamil?" tanya Ariana dengan mata berbinar. Dia ikut bahagia mendengar kabar itu.


"Iya nona." jawab Doris sambil tersenyum.


Javier dan Asteorope juga ikut beranjak dari tempat duduknya. "Aku akan membantumu!" seru kedua pria itu kompak.


"Tidak perlu, aku akan lakukan sendiri." tolak Ariana.


"AKU bantu." kata Asteorope dan Javier, lagi-lagi bersamaan.


"Baiklah, tapi kalian harus janji padaku kalian tidak boleh mengacaukan apalagi menghancurkan dapurku! Paham?" tegas Ariana pada kedua pria itu dan mendapatkan balasan anggukan dari mereka berdua.


"Doris, tuan Theo dan tuan Peter...lebih baik kalian disini saja dan tolong bantu aku rapikan barang-barang yang kalian rusak."


"Maafkan kami nona, kami sudah membuat barang-barang di rumah nona rusak." kata Theo dan Peter merasa bersalah.


"Kalian tidak sepenuhnya salah karena ada satu orang lagi yang lebih bersalah dan dia tidak mau meminta maaf." ucapnya seraya melirik ke arah Javier yang sedari tadi diam saja, padahal dia lah orang yang memerintahkan Javier dan Theo untuk menghancurkan televisi.


"Ehem..." Javier berdehem.


"Kau tidak akan meminta maaf?" tanya Ariana dengan kedua tangan yang berada di pinggang. Atensinya begitu tajam kepada pria itu.


"Ehm...iya maaf, maafkan aku." kata Javier.


"Ya sudah, ayo pergi ke dapur. Kalian berdua!" ajak Ariana pada kedua orang itu.


Sementara Ariana, Javier dan Asteorope berada di dapur. Theo dan Peter membereskan barang-barang yang tadi sempat mereka hancurkan.


Di dapur, terlihat Ariana membuka lemari es dan melihat bahan-bahan makanan yang ada disana.


"Ah...aku lupa, aku jarang ke rumah ini dan pastinya tidak ada bahan makanan."


"Ariana, benda ini begitu dingin tapi panas. Benda apa ini? Tempat apa?" tanya Asteorope penasaran.


"Oh...ini namanya lemari es, tempat menyimpan makanan dan mengawetkan makanan."


"Oh..." Javier dan Asteorope mengangguk-angguk. Mereka sebenarnya cukup tanggap dengan penjelasan yang dikatakan Ariana. Pada dasarnya mereka memang cerdas, hanya dalam sekali penjelasan mereka langsung paham.

__ADS_1


"Tapi--ada masalah disini. Kita tak punya makanan." kata Ariana sambil menaikkan bahunya.


"Kalau begitu kita harus berbelanja ke pasar." saran Javier.


"Ya, itu benar." sahut Asteorope setuju. "Tapi apakah disini masih ada pasar yang buka?"


"Ada supermarket yang buka 24 jam, aku akan pergi kesana. Kalian disini saja."


"Mana mungkin aku membiarkanmu seorang diri, aku ikut." Asteorope tidak mau berpisah barang sedetikpun dengan Ariana, apalagi mereka baru bertemu.


"Aku juga ikut."


"Kau disini saja! Apa kau lupa siapa yang membuatnya selalu celaka?" tegur Asteorope pada Javier dengan tegas dan matanya menatap marah.


"Tapi kau jangan lupa, bahwa aku yang membawamu kemari untuk bertemu lagi dengannya!" Javier memegang dadanya dan mengatakan bahwa karena dirinya, semua bisa kembali bertemu dengan Roselia alias Ariana.


"Hah! Jadi kau mau jadi sok pahlawan, begitu? Kau pikir siapa penyebab semua ini? Siapa yang membuat wanitaku diracuni sampai mati?" Asteorope menarik baju Javier, kedua netral mereka bertemu dan bertukar pandang dengan tajamnya. Di dalam tatapan mereka seperti ada aliran listrik yang saling bertolak belakang.


Ariana berada di tengah-tengah mereka dan terlihat kebingungan bagaimana cara menghentikan kedua pria yang berkelahi karena dirinya itu. Dia tidak tahu apa yang terjadi setelah dirinya meninggalkan dunia novel tersebut. Dia hanya tau, bahwa dirinya mati di tangan seseorang yang tidak dikenal.


Dia mati di dalam pelukan kekasihnya. Setelah itu dia kembali ke dunia asalnya.


"Hentikan! Kenapa kalian malah berkelahi? Apa kalian ingin saling membunuh? Baiklah kalau begitu...aku akan bawakan pisau untuk kalian, silakan kalian saling bunuh! Aku tak peduli, aku hanya lapar dan aku ingin pergi ke supermarket, paham?" Ariana mengambil 2 pisau dapur dan menyerahkannya kepada kedua pria itu. "Silahkan saling membunuh! Aku akan pergi!" gadis itu dan dia melangkah pergi dari sana, namun tangannya di tahan oleh Asteorope dan Javier.


"Jangan pergi!"


"Apa kalian mau saling membunuh?" tanya Ariana sarkas. Sebenarnya dari dulu dia merasa bahwa Javier dan Asteorope bisa menjadi teman baik. Di dunia ini dia akan mewujudkannya.


"Iya, kami tidak akan saling membunuh."


"Kalau aku ingin membunuhnya, mungkin dia sudah mati sejak lama. Sebelum kami berada di dunia ini dan bertemu denganmu." kata Asteorope.


Kalau bukan karena dia adalah kunci untuk membuka portal dunia ini, aku pasti sudah melenyapkannya.


"Baiklah, kalau kalian mau ikut denganku ke supermarket...mari kita pergi tapi jangan bertengkar!" hardik Ariana dengan galaknya membuat kedua pria itu menunduk padanya.


*****


Di depan Supermarket.


Ariana, Asteorope dan Javier berada didepan supermarket yang masih buka pukul 11 malam. Beruntungnya di supermarket itu tidak banyak yang datang karena tempatnya terpencil dan tidak ada yang mengenali Ariana disana. Ariana juga sekalian membelikan baju untuk Asteorope, Javier, Theo dsn Peter. Untuk Doris rasanya tidak perlu karena Ariana punya banyak baju dan bisa ia pinjamkan kepada Doris.


"Ini namanya supermarket?" tanya Javier dan Asteorope seraya menatap tulisan supermarket di gedung yang besar itu.


"Ya, inilah tempatku berbelanja di dunia ini! Sama dengan pasar di Albarca maupun Gamarcus." terang Ariana dengan sabar. "Nah ayo kita belanja, aku sudah lapar dan aku sangat ngantuk. Ini sudah larut, kasihan juga Doris." gumam Ariana.


"Baiklah, ayo kita masuk." kata Asteorope sambil memberikan jubahnya pada Ariana.


"Terima kasih As." gadis itu tersenyum dan amat dekat dengan Asteorope.


Asteorope dan Ariana berjalan bersama ke dalam supermarket, sedangkan Javier masih mematung disana. Dia sakit hati melihat Asteorope dan Ariana berduaan. "Apakah aku memang tidak punya kesempatan untuk menempati ruang di hatimu? Apakah... aku memang terlahir menjadi pria menyedihkan? Ya sudahlah, asalkan kau bahagia dan asalkan kau masih hidup. Aku akan mencoba bahagia juga, walaupun hati ini pedih." gumam pria itu sambil memegang dadanya yang terasa sesak. Rupanya dia masih memiliki rasa cemburu ketika Ariana berdekatan dengan kekasihnya sendiri.


Ketiga orang itu masuk ke supermarket, Ariana mengambil troli belanjaan. Asteorope dan Javier melihat troli itu dengan bingung. "Ini namanya troli, tempat seseorang meletakkan barang belanjaannya bila barang belanjaannya itu banyak." tanpa ditanya oleh kedua pria yang bingung itu. Ariana berinisiatif menjelaskannya sebelum mereka membuat kekacauan.


"Oh begitu, seperti keranjang belanja?" Javier bertanya.


"Ya, hanya saja troli ini bisa di dorong dan lebih nyaman." jawab Ariana sambil tersenyum.


Benar apa kata tuan Cain, dunia ini benar-benar berbeda dengan duniaku. batin Asteorope bingung.


Selagi Ariana memilih bahan-bahan makanan dan juga pakaian disana, Asteorope dan Javier terlihat sedang bermain dengan timbangan digital khusus barang disana.


"Hey! Hey! Kenapa kalian berada disana? Nanti timbangannya rusak!" tegur salah satu petugas supermarket tersebut, begitu melihat kedua orang berpakaian aneh sedang bermain-main dengan timbangan barang. Mereka berdua menaiki timbangan itu secara bergantian.


"Lihatlah! Ada angka-angka disini, apa kau melihatnya?" tanya Asteorope pada Javier, seraya menunjuk pada angka-angka yang terlihat di dalam timbangan itu. "Ini pasti mesin ramalan!"


"Ya, benda-benda ini benar-benar ajaib. Kita harus meminta Ariana untuk membelinya!" sahut Javier setuju.


"Hey tuan-tuan....tolong turun dari sini, jangan jadikan benda ini sebagai mainan!" tegur pria itu pada Asteorope dan Javier.


Javier yang emosian, langsung mengangkat tubuh si pria itu dan menatapnya dengan tajam. "Kau! Beraninya kau membentakku!"


"Javier STOP!" teriak seorang wanita sambil membawa trolinya.

__ADS_1


...****...


__ADS_2