I'Ll Became A Villain'S Daughter

I'Ll Became A Villain'S Daughter
Bab 97. Tidur bersama


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Hanya Asteorope dan Ariana saja yang tidak mual-mual, mereka berdua melihat Theo, Peter, Doris dan Javier dengan bingung. Kenapa mereka mendadak muntah-muntah begitu?


Pertanyaan mereka terjawab saat tiba-tiba saja Javier menarik kerah baju Theo dengan marah. Semua tatapan tajam tertuju pada Theo.


"Kau bilang ini air sumur, hah? Beraninya kau membuatku meminum air kotor ini! Dasar kau ajudan laknat!" seru Javier mendengus marah, bahkan sampai saat ini dia masih merasakan mual-mual di lidahnya. Membayangkan dia meminum air kotoran.


Tak hanya Javier yang marah pada Theo, Doris dan Peter juga. "Hey bodoh! Kalau sampai terjadi sesuatu pada istri dan calon anakku, aku akan membunuhmu!" ancam Peter sambil mengelus ngelus perut Doris yang masih datar dengan cemas.


"Ma-maaf, saya tidak tahu tuan...saya tidak tahu bahwa sumur--eh toilet itu adalah tempat buang air! Saya pikir toilet itu adalah sumur sumber air minum." kata Theo merasa bersalah, wajahnya terlihat polos.


"APA?!!" Asteorope dan Ariana kompak terkejut mendengar ucapan


"Jadi kalian meminumnya?!" tanya Ariana dengan mata yang terbelalak seakan tak percaya.


Kemudian mereka semua duduk di kursi ruang makan, yang kebetulan pas sekali ada 6 kursi disana. Lalu Theo mulai menceritakan tentang insiden sumur toilet pada Ariana karena gadis itu menanyakannya.


#Flashback


"Tuan Javier apa anda haus?" tawar Theo pada Javier yang terlihat lelah.


"Oh ya, aku rasa aku haus."


"Ayo ikut saya yang mulia, ada sumur di ruangan sana!" tunjuk Theo pada sebuah pintu kayu berwarna merah.


"Kenapa kau tidak mengambilkannya? Apa aku harus kesana?" tanya Javier dengan tatapan dinginnya seperti biasa.


"Maafkan saya tuan, tapi tidak ada gelas...dan lebih enak kalau meminum dari sumbernya." ucap Theo seraya tersenyum pada tuannya.


"Tunjukkan padaku sumur itu!"


Melihat Javier dan Theo beranjak pergi dari sana, Peter dan Doris ikut-ikutan juga. Mereka juga haus ingin minum.


Lalu tibalah mereka di kamar mandi, Theo langsung membuka toilet duduk di kamar mandi itu. "Ini sumurnya Tuan,"


"Kecil sekali, sumurnya." Javier mengerutkan keningnya, tak yakin bahwa toilet itu adalah sumur.


"Tapi ini benar-benar sumur, mungkin sumur di dunia ini dan dunia kita berbeda." kata Theo menjelaskan.


"Hah! Jangan sok menjelaskan padaku, aku lebih pintar darimu tahu? Aku juga tau ini sumur. Ya sudah ayo kita minum."


Empat orang itu menangkupkan tangan mereka dan mengambil air dari dalam toilet, lalu meneguknya. "Haahh...segarnya."


#End Flashback


Sontak saja Asteorope dan Ariana langsung tertawa usai mendengarkan cerita dari Theo.


"Jadi kau meminumnya? Hahaha...gila!"


"PFut...jadi begitu ceritanya? Ya sudah...yang lah biarlah berlalu, sekarang mari kita makan." kata Ariana menyudahi semua percakapan itu karena perut sudah lapar dan hari semakin larut.

__ADS_1


Besok, Ariana juga ada syuting dan dia harus bangun pagi. Sedangkan ini sudah mau Jan 12 malam. Semua orang memuji masakan Ariana yang enak, Doris menanyakan apa nama makanan tersebut. .


"Nona, masakan nona benar-benar enak! Apa nama makanan ini nona? Bahan-bahannya dan cara membuatnya?" Doris mencecar Ariana dengan banyak pertanyaan seputar makanan yang baru saja mereka makan.


"Ini nasi goreng, bahan-bahannya mudah saja. Nanti aku akan mengajarkanmu untuk membuatnya. Nah sekarang mari kita semua tidur! Tapi--hanya ada 3 kamar tidur di rumah ini." gumam Ariana bingung karena hanya ada 3 kamar di rumah sederhananya itu, sedangkan penghuninya ada 6 orang termasuk dirinya. Ya, walaupun nanti ia akan tinggal di apartemennya lagi.


Ariana memutar otak, dia pun mengatur tempat tidur mereka berlima. "Doris dan tuan Peter tidur di kamar nomor 1 karena mereka suami-istri, tuan Theo dan Javier di kamar nomor 2 dan As... kau tidur di kamar nomor 3,"


"Baik nona!" sahut Peter dan Doris tanpa protes.


Javier dan Theo juga tampaknya tak masalah dengan aturan yang diberikan oleh Ariana. Apa boleh buat? Daripada mereka tidur di jalan, di dunia yang tidak mereka kenal. Peter dan Doris pamit lebih dulu untuk tidur ke kamar mereka.


"Ayo kita tidur juga!" Asteorope memegang tangan Roselia dan mengajaknya ke kamar nomor 3 yang dimaksud.


Theo dan Javier masih berdiri disana, setelah mendengar Asteorope mengajak Ariana untuk tidur bersama.


"Ke-kenapa kau mengajakku juga? Kau tidur sendiri saja." ekor mata gadis itu melihat Javier dengan tatapan sakit hatinya.


Sadarlah Javier...cintanya bukan untukmu. Kau datang kesini untuk mempertemukan mereka. Kau datang kesini untuk menebus dosamu.


Ya, tujuan Javier datang ke dunia ini dan menjadi portal penghubung. Untuk menebus dosanya karena telah membuat Roselia tiada.


"Kalau aku tidur sendiri di kamar, lalu kau tidur dimana?" tanya Asteorope dengan wajah bingung.


"Aku bisa tidur di sofa!"


"Sofa? No...kau tidak boleh tidur disana, kau tidur denganku, BERDUA." ucapnya seraya menekankan kata berdua dan menatap Javier dengan tajam, yang masih membatu disana.


"Aku pergi, selamat malam dan selamat tidur." ucap Javier dingin pada Asteorope dan Ariana. Bibirnya tersungging senyum kecut, taulah bagaimana hatinya saat ini. Ia masih berharap pada Ariana yang sudah jelas hatinya hanya untuk Asteorope.


"As...aku akan tidur di sofa saja." Ariana menolak ajakan pria itu untuk tidur bersama di kamar.


"Mana bisa begitu! Aku merindukanmu dan ada banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu, Ariana." ucap Asteorope dengan wajah memelas yang tak dapat ditolak oleh Ariana.


Wanita itu mendesah pelan. "Baiklah, tapi kita hanya tidur bersama... tidak untuk melakukan hal yang macam-macam." ucap Ariana pada Asteorope mengingatkan.


"I'm promise." pria itu tersenyum kemudian menggandeng tangan Ariana. Lalu mereka berdua masuk ke dalam kamar.


Ariana merasa lucu dengan penampilan Asteorope saat ini, memakai baju tidur yang baru saja dia beli. Ah sepertinya mulai besok dia harus berbelanja banyak baju untuk mereka berlima yang numpang tinggal di rumahnya.


Keduanya kini berbaring di atas ranjang yang sama, mereka berpelukan. Berbagi rindu yang selama ini tertahan, apalagi Asteorope. Tak hentinya dia mengucapkan syukur kepada Tuhan karena telah kembali dipertemukan dengan Ariana.


"Aku masih merasa ini adalah mimpi...bertemu denganmu lagi... ternyata Tuhan masih mengizinkannya." lirih pria itu sembari mempererat pelukannya pada Ariana.


"Aku juga, aku pikir dunia dimana aku bertemu denganmu itu hanyalah mimpi panjangku."


"Mimpi panjang?" Asteorope mengurai sedikit pelukannya pada Ariana dan menatap kekasihnya itu.


"Ya, aku kira semuanya hanya mimpi karena aku terlalu banyak membaca novel." ucap Ariana.


"Novel? Apa maksudnya?"

__ADS_1


Ariana tersenyum lalu menangkup wajah tampan kekasihnya dengan kedua tangan. Ditatapnya mata hitam milik Asteorope dengan dalam.


"Bukankah aku pernah mengatakan padamu, bahwa duniamu adalah dunia novel. Dunia yang berbeda dengan duniaku. Tapi aku rasa sekarang...duniamu bukan hanya sekedar dunia novel saja, tapi benaran ada. Seperti aku yang melihatmu disini." jelas Ariana.


"Mau dunia apapun itu, dimanapun kita berada, kita harus tetap bersama Ariana..." ucap Asteorope lirih. "Jangan pernah meninggalkanku lagi, kumohon..."


"Maafkan aku As, apa aku membuatmu bersedih? Kenapa aku merasa kau lebih kurus?" Ariana menyadari bahwa Asteorope semakin kurus, terlihat jelas pada rahangnya yang tipis.


Asteorope berkaca-kaca, dia menatap sedih pada kekasihnya. Namun tatapan itu bercampur dengan rindu. Ariana tak tahu saja bagaimana dia hampir gila karena kehilangan dirinya.


"Mulai sekarang, aku akan gemuk karena kau ada disisiku."


"Ya, aku akan membuatmu makan banyak..." Ariana mengembangkan senyumnya. "Tapi... bagaimana caranya kau bisa datang kemari? Bisakah kau menceritakan kepadaku?"


"Bisa, tapi sekarang sudah malam. Lebih baik kita tidur dulu, aku tidak mau kau sakit..." Asteorope mengelus lembut rambut Ariana.


Keduanya pun tertidur lelap dalam posisi berpelukan, dengan kaki Ariana yang bertindih pada kaki pria itu. Asteorope membiarkannya begitu saja karena ia ingin Ariana nyaman tidur dalam pelukannya.


"Tidak tahu berapa lama waktu yang kita habiskan untuk bersama...aku tidak tahu Ariana, benar-benar tidak tahu. Tapi yang jelas aku ingin menikmati momen ini. I love you Ariana...so much."


*****


Di sebuah apartemen mewah, terlihat seorang wanita sedang memadu kasih di ruang tengah bersama seorang pria. Wanita itu memiliki warna rambut pirang dan panjang sebahu.


Ketika dua sejoli yang sedang asyik memadu kasih, tiba-tiba saja terdengar suara pintu apartemen yang terbuka.


Sepasang muda-mudi itu langsung menghentikan ritual penyatuan mereka. "Siapa itu sayang? Siapa yang datang ke apartemen mu larut malam begini?" tanya si pria bule bingung.


Apa itu Frans?


Wanita itu terlihat sangat panik, ia segera menghentikan penyatuannya dan menjauh dari si pria. Namun tiba-tiba saja dia terdiam wajah tegang saat melihat sosok pria yang berdiri tak jauh dari mereka berdua dan atensinya begitu tajam.


"Fra-Frans..."


"Tega sekali kau mengkhianati ku Luna!" seru Frans dengan mata yang tajam dan wajah memerah, begitu dia melihat kekasihnya sedang memadu kasih dengan pria lain.


"Frans...kau salah paham, apa yang kau lihat tidak seperti apa yang kau pikirkan!" Luna bangkit dari tempat Sofanya, tak lupa ia menutupi tubuh telanjangnya dengan selimut tipis.


"Sudahlah honey, karena dia sudah tahu semuanya...kita tidak perlu bersembunyi lagi." kata pria bertubuh kurus itu yang dengan tidak tahu malu, duduk di sofa dalam keadaan telanjang.


Frans menatap nyalang pada keduanya dan akhirnya Frans melayangkan tinjunya pada wajah pria itu. "Brengsek! Damnn!!"


"Frans!" Luna segera menolong pria yang memadu kasih dengannya itu.


"Ariana dan Liam benar, ternyata kaulah yang jahat....kau yang ular! Aku bodoh karena aku telah mempercayaimu dan salah paham pada Ariana. Aku bahkan meninggalkannya di saat dia sedang koma!" ucap Frans sambil meremass tangannya. Ia menyesal percaya dengan Luna bahwa Ariana berselingkuh. Bahkan ia juga menjalin hubungan dengan Luna selama Ariana koma.


"Lalu kau menyalahkanku atas semua kelakuanmu sendiri?" tentunya, Luna tidak mau disalahkan. "Dan aku mendekatimu hanya untuk merebut apa yang menjadi milik Ariana, sejujurnya aku sama sekali tidak menyukaimu. Kau saja yang bodoh, percaya dengan ucapanku." kata Luna sinis.


Plakkk!


Frans menampar Luna dengan sakit hati. Lalu ia pun pergi dari apartemen itu dengan hati yang kecewa dan marah.

__ADS_1


"Maafkan aku Ariana, maafkan aku karena aku sudah berdosa...maaf Ariana. Aku akan mendapatkanmu kembali, mendapatkan maafmu." gumam Frans sedih dan menyesal karena telah melukai Ariana.


...***...


__ADS_2